Nama Punkasila belakangan muncul lagi ke publik pendengar Indonesia setelah album debutnya Acronym Wars (2006) dirilis ulang dalam format free digital download oleh Yes No Wave 14 Juni kemarin. Istimewanya, rilisan netlabel lokal ini ternyata sebagai pemanasan dari album kedua bertajuk Crash Nation yang bakal dilepas 28 Juni mendatang.
Sebagai gabungan seniman kolektif Indonesia - Australia, Punkasila sejatinya adalah proyek seni Danius Kesminas yang dimulai sejak 2006 lewat sebuah pameran kelompok di Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta. Minat Danius pada kultur sosial politik budaya Indonesia dan pertemuannya dengan Samuel Bagas Wiraseta a.k.a Gentong sukses membaptis personil Black Ribbon turut bergabung dalam project seni mereka dan membentuk band punk yang namanya dicomot dari permainan kata 'Punk' dan 'Pancasila'.
Upaya berkesenian main-main ini lantas diperkuat dengan visualiasi yang cukup provokatif; logo burung garuda menengok ke kanan dan cakarnya memegang replika gitar berbentuk senapan, serta kostum panggung bergaya tentara gerilya.
Well, sebelum berburuk sangka dengan kreativitas nyeleneh mereka, kami cukup beruntung dapat menyimak preview album kedua yang diputar streaming secara terbatas pada Selasa malam lalu (19/06) lewat akun soundcloud Punkasila mulai jam 17.00 hingga 21.00 waktu setempat, yang kemudian diperpanjang hingga tengah malam. Tercatat ada 13 track berdurasi rata-rata satu setengah menit dipasang rapih dan padat.
Menyimak rangkaian track pada Crash Nation dengan konsep story telling tentang daftar 'bencana alam-sosial-politik' yang terjadi di Indonesia, tak heran bila nomor Tsunami (3.04) didapuk jadi track pembuka dramatis, lengkap dengan pembacaan ayat suci dan vokal latar bersahut-sahutan mengikuti ritme menekan-nekan. Track Lapindo (2.28) pun jadi nomor gloomy yang dibawakan cukup emosional. Sedangkan di beberapa nomor lain seperti Sukhoi, Korupsi, Tanah Longsor dan Suramadu, pengaruh Dead Kennedys terasa kental mendominasi warna punk rock yang mereka usung.
Sementara track Sumber Kencono (1.36) mengembalikan semangat alternative music era 90an dengan vokal meledak-ledak, track Gempa Bumi (1.28) segera jadi nomor favorit kami; dua nomor yang mengingatkan kami pada corak musik sesepuh Seattle Sound semisal TAD atau Mudhoney yang memang doyan memadukan punk rock kental dengan heavymetal. Sebagai penutup, track Molimo (1.11) jadi nomor instrumental sempurna yang menuntaskan penasaran.
Dibandingkan rilisan album terdahulunya, Crash Nation harus diakui punya pattern sound lebih kaya. Rentang waktu 5 tahun terakhir proses kreatif yang mereka lewati sambil wara-wiri di panggung Internasional mulai dari Havanna sampai Sydney, tampaknya cukup terbayar dengan manis. Yang jelas, kami memandang bahwa dua album tersebut punya benang merah sama di mana lirik lagu dan kata-kata dicabut dari tempat sakralnya sebagai pembawa pesan menjadi sekedar wahana plesetan dan olok-olok yang simpang siur maknanya, dan kerap tanpa makna apa-apa.
Simak saja penggunaan akronim dalam Acronym Wars antara lain TNI, JIL, Manikebu, PKI, ISI, FPI sebagai judul lagu. Alih-alih menyingkap masing-masing wacana dibaliknya, penggunaan akronim tersebut tidak mampu merujuk pada realita 'akronim' yang diangkat tersebut kecuali sekedar jadi satu-satunya lirik yang dinyanyikan berulang-ulang. Strategi yang sayangnya diulangi lagi pada Crash Nation dengan sedikit 'kosmetik' lewat rap vokal sebagai orasi dalam bahasa Jawa pada sejumlah track.
Berbeda dengan Acronym Wars yang ketika dirilis memang cukup segar bermain-main dengan gambaran keblingeran masyarakat modern pada institusi, lembaga dan ormas, kami agak curiga Crash Nation latah mengekor rilisan album Filastine dengan Colony Collapse-nya yang mengumbar wajah Indonesia terkini sebagai contoh bencana kemanusiaan; yakni sebuah ungkapan klise bahwa 'bumi ini sudah rusak, zaman sekarang ini zaman yang edan kawan' ala Ronggowasito 200 tahun lalu yang lucunya diulang-ulang oleh semua orang tua dan 'panic generation' di segala masa.
Walhasil, meski secara musikalitas cukup menjanjikan, album ini secara tematik memang cukup terbelakang, gagal menyajikan kebaruan, dan tak mampu menciptakan kedalaman refleksi dari tema yang diangkat.
Lewat kreasi logo band, kostum panggung, replika alat musik, materi lagu, artwork album dan segala tetek bengek lainnya dari band ini, Punkasila juga tampaknya cukup berhasil mendistorsi acuan sosialbudaya, mengacaukan struktur bahasa dan meleburkan seni bukan lagi sebagai representasi visual yang mapan. Hal ini memantapkan posisi Punkasila sebagai mutasi sesat dari subkultur punk yang pada prinsipnya sangat kental ideologi, kritisisme dan perlawanannya pada kemapanan sistem masyarakat dengan membentuk nilai-nilai punk itu sendiri, bukan malah menjadikannya antisosial pada hal apapun.
Dan jujur saja kami agak sulit membaca hendak diarahkan kemana selera dan praktik estetika Kesminas cs yang centang perenang ini selain ajakan untuk berjingkrak lebih keras, menenggak bir lebih banyak lagi sambil mengutuk-ngutuki setiap berita terkini yang jadi headline di media massa.
Jika saja Punkasila lebih jujur wanna have some fun, bermain-main dengan istilah, makna dan ungkapan tanpa ideologi dan pretensi apa-apa, mereka tampaknya harus banyak berkaca pada band parodi sekelas TeamLo yang piawai memancing tawa satir penontonnya. Kalaupun disebut dalam situs resmi mereka bahwa humor sekaligus provokatif adalah kesan yang hendak mereka sasar dengan menjadi band punk abad 21 yang kick ass, kami justru melihat bahwa they are kicking their own ass lewat sebuah dagelan intelektual yang haus kontroversi.
Wajar bila pernyataan 'if we play in front of the wrong audience, we could be killed' dalam teaser videoklip-nya tahun 2007 di Youtube, kami tafsirkan mirip-mirip dengan ungkapan provokatif Dewi Persik ketika resmi menyatakan perang dengan Julia Perez demi mengejar sensasi dan bombastisme media infotainment. Sejauh inikah kultur punk mutakhir kita tersesat? Well, ironinya mungkin baru saja dimulai kawan.




