LUPAKAN TRIO ARIEL-LUNA-TARI! Lupakan saja persoalan
dunia hiburan dan gosip yang kerap dangkal dan tak
bergizi. Lupakan polemik media dan akurasi dingin
pakar
teknologi soal video heboh, serta perilaku caper-nya
organisasi radikal nan fundamentalis dengan dalih
ayat-ayat suci.
Lupakan juga demokrasi. Buang jauh-jauh dulu itu
definisi globalisasi, terminologi hukum
internasional, kesenjangan Dunia Ketiga, bencana
alam, dan perubahan iklim, serta tetek bengek lipstik
ideologi dunia berserta kemajuan teknologi mutakhir
yang terus memesonakan kita.
Lupakan juga aturan moral, etika, dan norma sosial
serta kaidah agama yang meruap sesak di sekeliling
kita berdua. Lupakan dulu semuanya untuk sekali ini
saja, sayang. Karena apa yang akan kutulis di sini
jauh mundur melampaui itu semua. Kali ini aku akan
mengajakmu menyusuri tonggak penting kehidupan yang
bermula ratusan juta tahun ke belakang.
YANG HIDUP DALAM MATI,
KURT COBAIN
Suatu hari, sekitar 9 April 1994, di pulau
Kalimantan. Seorang kawan berangkat ke sekolahnya,
sebuah Sekolah Menengah Atas. Seperti pagi yang
biasa, ia berangkat bersama udara pagi yang berembun.
Tak ada yang istimewa.
Sesaat setelah memasuki gerbang sekolah, ia mulai
merasakan ada yang ganjil. Tiang bendera yang selalu
tegak kokoh di tengah lapangan seakan menjadi layu.
Tak ada suara-suara riuh-rendah remaja tanggung yang
biasa membahana di kelas-kelas SMA. Saat dilihatnya
kawan-kawannya, semua tampak lesu.
“Ada
apa sih? Kok semua lesu?” Dia bertanya pada seorang
kawannya.
“Kurt Cobain meninggal.”
Kawan saya langsung terkejut mendengar jawaban itu.
Tanpa sadar, ia pun terbawa pada situasi muram yang
baru ia sadari apa sebabnya.
Saya
mendengar pengakuan kawan saya itu setelah dia
berusia lewat 30 tahun, tahun lalu di Jakarta.
Menurut dia, kematian Kurt Cobain menyebabkan remaja
seusianya kehilangan idola. “Generasi waktu itu
seperti kehilangan orang yang diidolakan. Kami
generasi yang kacau, dan Kurt Cobain menyuarakan itu,”
kata dia.
Bagi siapapun yang ingin berkontribusi tulisan berupa Artikel, Opini, Literatur, dsb, silahkan kirim ke
redaksi via surat elektronik: info@jurnallica.com