Knowledge is Weapon... Use Your Minda!

 TULISAN

UNTUK 17 TAHUN KE ATAS

LUPAKAN TRIO ARIEL-LUNA-TARI! Lupakan saja persoalan dunia hiburan dan gosip yang kerap dangkal dan tak bergizi. Lupakan polemik media dan akurasi dingin pakar teknologi soal video heboh, serta perilaku caper-nya organisasi radikal nan fundamentalis dengan dalih ayat-ayat suci.

Lupakan juga demokrasi. Buang jauh-jauh dulu itu definisi globalisasi, terminologi hukum internasional, kesenjangan Dunia Ketiga, bencana alam, dan perubahan iklim, serta tetek bengek lipstik ideologi dunia berserta kemajuan teknologi mutakhir yang terus memesonakan kita.

Lupakan juga aturan moral, etika, dan norma sosial serta kaidah agama yang meruap sesak di sekeliling kita berdua. Lupakan dulu semuanya untuk sekali ini saja, sayang. Karena apa yang akan kutulis di sini jauh mundur melampaui itu semua. Kali ini aku akan mengajakmu menyusuri tonggak penting kehidupan yang bermula ratusan juta tahun ke belakang.

YANG HIDUP DALAM MATI, KURT COBAIN

Suatu hari, sekitar 9 April 1994, di pulau Kalimantan. Seorang kawan berangkat ke sekolahnya, sebuah Sekolah Menengah Atas. Seperti pagi yang biasa, ia berangkat bersama udara pagi yang berembun. Tak ada yang istimewa.

Sesaat setelah memasuki gerbang sekolah, ia mulai merasakan ada yang ganjil. Tiang bendera yang selalu tegak kokoh di tengah lapangan seakan menjadi layu. Tak ada suara-suara riuh-rendah remaja tanggung yang biasa membahana di kelas-kelas SMA. Saat dilihatnya kawan-kawannya, semua tampak lesu.

“Ada apa sih? Kok semua lesu?” Dia bertanya pada seorang kawannya.

“Kurt Cobain meninggal.”

Kawan saya langsung terkejut mendengar jawaban itu. Tanpa sadar, ia pun terbawa pada situasi muram yang baru ia sadari apa sebabnya.

Saya mendengar pengakuan kawan saya itu setelah dia berusia lewat 30 tahun, tahun lalu di Jakarta. Menurut dia, kematian Kurt Cobain menyebabkan remaja seusianya kehilangan idola. “Generasi waktu itu seperti kehilangan orang yang diidolakan. Kami generasi yang kacau, dan Kurt Cobain menyuarakan itu,” kata dia.

Bagi siapapun yang ingin berkontribusi tulisan berupa Artikel, Opini, Literatur, dsb, silahkan kirim ke redaksi via surat elektronik: info@jurnallica.com

(Tulis "WRITING" pada subject imel)