LUPAKAN TRIO ARIEL-LUNA-TARI! Lupakan saja persoalan
dunia hiburan dan gosip yang kerap dangkal dan tak
bergizi. Lupakan polemik media dan akurasi dingin
pakar
teknologi soal video heboh, serta perilaku caper-nya
organisasi radikal nan fundamentalis dengan dalih
ayat-ayat suci.
Lupakan juga demokrasi. Buang jauh-jauh dulu itu
definisi globalisasi, terminologi hukum
internasional, kesenjangan Dunia Ketiga, bencana
alam, dan perubahan iklim, serta tetek bengek lipstik
ideologi dunia berserta kemajuan teknologi mutakhir
yang terus memesonakan kita.
Lupakan juga aturan moral, etika, dan norma sosial
serta kaidah agama yang meruap sesak di sekeliling
kita berdua. Lupakan dulu semuanya untuk sekali ini
saja, sayang. Karena apa yang akan kutulis di sini
jauh mundur melampaui itu semua. Kali ini aku akan
mengajakmu menyusuri tonggak penting kehidupan yang
bermula ratusan juta tahun ke belakang.
Ayo sayang, tutup mata dan tarik nafasmu perlahan.
Sini dekatkan liang telingamu ke tipis bibirku, biar
kubisikkan rahasia yang membuat segala aspek sosial,
politik, ekonomi, dan budaya terus melaju kencang
bersama peliknya peradaban dunia dewasa ini.
Rahasia peradaban yang menggerakkan semua orangtua
di segala zaman untuk menikah, berketurunan, dan
melahirkan begitu banyak keturunannya dengan efektif
dan sukses. Rahasia yang juga menjadi penyebab
sekaligus alasan kita berdua mengada, hidup dan
tumbuh dewasa seperti sekarang.
Yaitu rahasia berupa 4 huruf yang terletak di antara
desir dadamu dan dadaku tiap kali kita mulai
berdekatan, saling menghela nafas berhadap-hadapan
dipayungi langit bebintangan dan rembulan manis lagi
juga romantis seperti malam dulu itu (masih
ingatkah?).
Maka sebelum kulanjutkan lebih dalam, ayo dekatkan
tubuhmu ke tubuhku. Agak bisa kutatap jelas kerling
matamu, rona merah madu di pipimu, ikal wangi
rambutmu, busung dadamu yang lembut itu (ingin
kugenggam telapak tanganmu yang cepat lembab itu,
bolehkah?).
Sebab rahasia peradaban tadi itu, hanya bisa kamu
pahami bila kita berdua sudah se-intim ini. Rahasia
dalam empat huruf yang bakal kubisikkan seiring
naiknya afrodisiak dan deru nafas kita berdua yang
mulai selaras sekarang; ialah empat huruf dalam
bahasa paling purba yang kita punya: S-E-K-S.
Kini rebahkan tubuh dan pejamkan matamu, sayang.
Kita mulai saja persetubuhannya.
Foreplay
Tak ada yang lebih indah dibandingkan dengan upaya
para biolog dan kajian psikologi mutakhir saat
menyadari fakta bahwa seks memainkan peran utama
dalam membentuk perilaku dan budaya manusia di
berbagai tingkat peradaban. Bisa dibilang, tindakan
seksual manusia berjalan seiring gerak sejarah
manusia itu sendiri.
Kegiatan seksual sudah terjadi sejak manusia
prasejarah belum mengenal apa yang disebut
diferensiasi seksual, hingga di abad teknologi
informasi belakangan ini manusia paska modern
mengenal apa yang disebut cybersex dan
teledildonik.
Seks bahkan menjadi ritual jauh sebelum agama
menciptakan konsep pernikahan dan monogami, seks
juga dipercaya mampu membangkitkan jalan mencapai
Tuhan; Oidos; Spirit; Sang Transenden; atau dalam
simbol matematika tak berhingga (~) sebagai Dia Yang
Tidak Diketahui. Seks yang kini juga menjelma dengan
banalnya sebagai ekstase one night stand
sesaat di hotel berbintang, hingga ke sudut-sudut
pesta orgy di komunitas hedonis yang eksklusif.
Kita tentu penasaran kenapa manusia memiliki
dorongan seksual yang demikian kuat. Sampai-sampai
seorang direktur perusahaan bersedia mempertaruhkan
jabatannya daripada melewatkan kesempatan
berhubungan seks dengan sekretarisnya (yang mungkin
kelak menjadi istrinya di masa depan). Sampai-sampai
seorang perempuan memilih dilecehkan dan menikmati
jadi istri kedua daripada kehilangan bapak
anak-anaknya.
Sampai-sampai tokoh santri paling alim hingga
aktivis LSM paling kritis sekalipun rela melupakan
isi khutbah dan hasil diskusinya untuk sekedar
bergosip ria tentang siapa yang paling seksi di
lingkungannya. Sampai-sampai jutaan muda-mudi di
dunia ketagihan bermain-main dengan kelaminnya untuk
bercinta, terpaksa kawin muda dan menjalani
rumah tangga meski belum siap secara rohani dan
materinya.
Jawabannya tentu bisa bermacam-macam. Mari sayang,
bantu aku merunutinya satu persatu, sambil
pelan-pelan kita lucuti segala penghalang di
masing-masing tubuh kita berdua sampai telanjang.
Ayo jangan malu-malu.
Oral
Sementara kita saling menyentuh bagian mana saja
dari sepasang tubuh yang pasrah ini. Coba kamu
bayangkan juga gambaran kondisi planet Bumi ketika
hujan teresterial turun, lautan luas tercipta,
gunung api melontarkan inti bumi ke permukaan dan
sub purba memunculkan protein pertama di dunia
ratusan juta tahun yang lalu.
Agak lama berselang setelahnya, muncul bask dalam
asam sulfat di sungai-sungai kuno, mikroba dan
cacing tabung yang hidup di sistem teras hidrotermal
dasar laut, serta bakteri metan yang dapat hidup
tanpa oksigen bahkan. Kisah kehidupan awal di bumi
pun sedikit lebih tinggi sampai keanekaragaman
hayati pertama bersel satu merebak dan bakteri mulai
melimpah ruah.
Lewat proses yang kompleks, tambal sulam dan acak
sembarangan, species, genus dan ordo tertentu dari
mata rantai perubahan seturut waktu memungkinkan
klimaks itu datang sektar satu juta tahun yang lalu:
cikal bakal manusia lahir, yakni manusia prasejarah
paling campin menyebar dan lolos dai seleksi
kekuatan alam (bukan lewat kesadaran, karena rasio
belum muncul saat itu) dari segala bentuk kehidupan
pada masanya.
Intercourse
Hubungan seks merupakan dorongan alamiah untuk bisa
survive for the fittest yang didapat manusia
prasejarah dari warisan genetika mahluk hidup yang
pernah ada sebelumnya.
Ketika itu, hubungan seks dilakukan secara acak
dengan siapa saja yang ditemuinya.
Ketika mereka belum mampu membedakan jenis kelamin,
sang jantan kerap berhubungan seks dengan sesama
jantan, dan betina dengan sesama betina. Bahkan
beberapa species primitif diduga juga mencoba
berkelamin dengan batu, pohon, jamur dan species
lain yang dijumpainya.
Tapi sayangku, apa semua yang mereka lakukan itu
efektif? Tentu saja tidak. Karena jelas bahwa hanya
mereka yang diwarisi ketajaman penginderaan, naluri
dan kecerdasan genetika saja yang bisa survival for
the fittest.
Maka mereka pun mengabaikan batu, pohon, species
lain atau sesama jenis saat berhubungan seks. Dengan
alasan itu pula mereka cenderung berkembang jadi
lebih pemilih dalam melakukan hubungan seks.
Mereka kemudian mulai menggunakan ketajaman
inderanya untuk mencari pasangan kawin, salah
satunya lewat penciuman. Adalah sang betina (dengan
kandungan hormon yang tidak dimiliki jantan)
mengeluarkan bebauan untuk bisa dikenali dan memikat
sebanyak mungkin jantan (atau dalam beberapa kasus,
hal ini juga bisa terjadi sebaliknya).
Selain itu mereka juga mengembangkan ciri-ciri lain
semisal ukuran dan bentuk tubuh mereka. Semakin ia
menonjol dan memperkuat ciri-ciri itu, semakin
memikat pula mereka secara seksual. Ini berarti
mereka bakal punya banyak kesempatan untuk melakukan
hubungan seks; semakin banyak pula kemungkinan
betina untuk mengandung dan semakin banyak pula
peluang sang jantan kembali bertualang menyebarkan
gen-nya ke sebanyak mungkin betina lain.
Proses ini berlangsung setapak demi setapak. Proses
yang membuat kita paham ada makna indah di baliknya;
hubungan seks di masa primitif itu membuat manusia
prasejarah berhasil selamat dari seleksi alam dan
kepunahan, untuk kemudian berubah lagi seturut waktu
dan mewariskan gen yang lebih sempurna bagi anak
cucunya kelak.
Menuju Orgasme
Berhubung kita sudah masuk ke bagian penting paling
mengasyikkan berikut ini, kamu mesti paham dulu
bahwa rangkaian deskripsi yang kubeberkan sejak
awal, semuanya ini baru spekulasi. Kita belum punya
banyak data yang mampu melaporkan secara akurat
bagaimana kegiatan seks terjadi di masa prasejarah.
Maka kalau kamu tak keberatan, kumohon tetap dekap
erat tubuh polosku, kulum bibirku dalam-dalam dengan
lidahmu, arahkan tubuhmu bergoyang perlahan seiring
rasa ini terherah hendak diarahkan kemana.
Sebab di bagian inilah kita mulai mengira-ngira
kemunculan mahluk berpikir pertama (Homo Sapiens?)
yang banyak disebut-sebut dalam kitab suci sebagai
Adam; ialah manusia prasejarah yang menjelma jadi
manusia modern sejak 'memakan buah pengetahuan' dan
terlempar menyadari eksistensinya di dunia untuk
pertama kalinya.
Orgasme
Perkembangan sains saat ini telah sampai pada
spekulasi bahwa kegiatan seksual manusia prasejarah
dilakukan bukan atas dasar motif tertentu si
pelakunya. Kegiatan seksual pada masa itu lebih
didasari motif penggandaan genetika bukan demi
kemanusiaan, tapi demi kepentingan gen itu sendiri:
menggandakan diri sebanyak mungkin.
Manusia primitif dengan gen yang berhasil mengatasi
ganasnya alam, dan campin menggandakan diri akan
mampu bertahan, sementara mahluk lain yang tak mampu
beradaptasi akan punah begitu saja.
Orgasme Kedua
Kini kita tak bisa memungkiri bahwa Adam sebagai
mahluk berpikir pertama telah melakukan hubungan
seksnya (bersama Hawa?) dengan sangat gemilang.
Sejak saat itu pula Adam dan Hawa menghasilkan
banyak keturunan lelaki dengan sperma yang kecil,
murah dan bandel, serta banyak keturunan perempuan
dengan sel telur yang besar, relatif mahal dan
hangat.
Tak heran bila ribuan tahun kemudian, kisah-kisah
Kamasutra atau Seks Trantra banyak dipelajari, pusat
kebugaran dan salon kecantikan menjamur di
perkotaan, buku seputar seksualitas laris dijual,
operasi plastik dan payudara implant ditemukan,
short pants dan tank top jadi trend di mana-mana.
Kita pun mulai bisa menyimpulkan sekarang: ini semua
tentang bagaimana kita jadi lebih memikat secara
seksual bagi pasangan.
Orgasme Ketiga dan Seterusnya
Dan sekarang inilah kita: Aku mencapai klimaks
karena terbakar nyalamu yang terbakar juga akibat
nyalaku padamu dalam satu orgasme teoritis yang
indah ini:
"Kita berdua adalah hasil rangkaian tak berujung
ribuan generasi lelaki dan perempuan yang semuanya
berhasil memperoleh pasangan kawin."
Maka atas nama kelangsungan peradaban dan keturunan
umat manusia di masa depan, izinkan aku sayang untuk
menyemburkan spermaku yang melesat cepat menuju sel
telur di rahim hangatmu.
Atas nama kebaikan umat manusia di masa depan juga,
mari kita penuhi bumi dengan anak cucu yang mewarisi
keindahan fisik dan kecerdasan intelektualitas kita
berdua. Semoga ia berhasil menjadi janin yang sehat
dan tumbuh dewasa sebagai warga dunia yang istimewa.
Kita tidak bisa terus-terusan membiarkan gen manusia
yang bodoh, boros, dan korup terus-terusan menjadi
pemimpin dunia, khan sayang?!
Afterplay
HUUFFFFF... Kalau kau letih dan mengira persetubuhan
ini selesai sampai kita lepaskan orgasme terakhir
tadi, boleh jadi kau keliru.
Inilah hebatnya manusia modern yang tak hanya
memaknai seks sebagai wahana penganda paling
efektif, tapi juga sebagai cara manusia meningkatkan
kualitas hidup, menemukan cinta di binar mata
pasangannya, sambil merancang agenda bersama di masa
depan.
Jadi, sayang, kumohon jangan buru-buru beranjak dari
ranjang agung ini.
Mari kita manfaatkan sisa menit-menit penting
sebagai penutup persetubuhan kita yang berkesan ini.
Lalu, ehm...bagaimana dengan 'permainanku' barusan?
Ada yang kurang atau salahkah dengan caraku
bercinta? Apa kau sudah cukup puas atau mau kita
lanjutkan lagi besok malam?
* * *
RUJUKAN UTAMA:
1.
Richard Brodie, Virus of The Mind, KPG, 2005
2.
Joel D. Block, Secrets of Better Sex,
Proffesional Books, 1997
Catatan Belakang:
Paska kasus video heboh Ariel, kita tengah
menghadapi fenomena tumpang tindihnya domain ekonomi,
politik, agama, seni hiburan dan gosip, serta etika
dan moral masyarakat yang dibangun oleh
hipokritisasi massal dan sinisme media akan
seksualitas. Seksualitas kian dianggap sama dengan
kecabulan.
Esai ini dibuat bukan untuk memperkeruh wacana
tersebut dengan membela Ariel ataupun menghujatnya.
Tapi mengambil kontekstualnya dengan niat
menyelamatkan nilai-nilai luhur seksualitas berikut
moral judgement, kesubtilan estetika, jouissance,
dan kandungan humanistiknya.
Dibuat dengan teknik memetika, esai ini sekedar
eksperimentasi sebagai analogi dari persetubuhan
pembaca dengan sebuah teks panjang yang khusus
dimuat secara online.
Sebab di sisi lain, kita juga melihat fenomena
kalangan pengguna internet yang mulai kesulitan
membaca online. Konsentrasi mereka biasanya langsung
buyar setelah paragraf ketiga.
Gejala seperti layaknya ejekulasi dini ini juga
tengah menggejala sebagai ancaman deintelektualisasi
di kalangan muda-mudi Amerika sebagai negara dengan
pengguna internet terbesar di dunia.
Untuk rangsangan lebih lanjut, silakan baca: