TULISAN

[SITI JENAR is BACK!]

 

Sedikit Tapi Maniak

  

            Dunia itu bulat. Jika kamu mencari ujung Barat dan Timur, apakah kamu akan menemukannya? Tentu tidak. Apakah ini pertanda bahwa dunia memang ngga ada “habis”nya?... Mungkin ada benarnya bacot “mereka” yang berkhotbah di atas mimbar tempat ibadah, kalau dunia itu memang ngga ada habisnya. (???)

            Namun, ada pula yang merasa kalau dunia itu sempit, karena kesempitan ruang jiwanya. Begitu juga sebaliknya, ada yang menganggap kepuasan di dunia itu ngga ada habisnya. Atau “kepuasan” itu memang tidak ada? Setidaknya hal tersebut dapat menyempurnakan pencarian kehidupan kami.

            Dunia ini terlalu banyak ruang untuk mereka yang ingin menikmatinya. Tapi banyak pilihan akan membuat kamu bingung dan ngga jelas arahnya. Bahkan menjadikan dirimu sebagai orang yang serakah. Memang, hidup ini dibawa enjoy aja. Kalau perlu melebihi ekspektasi slogan Starmild “bikin hidup lebih hidup”. Namun saya sadar, mencari “sesuatu yang baru” belum tentu suatu kenikmatan. Tapi lain halnya jika “sesuatu yang baru”nya itu ada pada apa yang kamu jalani. Inovasi dalam pilihan sendiri. Justru itu memaksimalkan kepuasan kamu.

            Seperti yang sudah saya tulis tadi, saya menganalogikan dunia ini seperti terdiri ruang yang banyak. Dan kalau kamu ingin menikmati semuanya, sejak lahir sampai mampus pun kamu ngga akan merasakan atau sedikit pun menjamahi semuanya. "Kamu bakal ketipu sama permainan dunia". Yah, (kurang lebih) begitulah kalau bahasa khotbah relijinya.

            Buat saya, sedikit pun sudah mencukupi asal maniak. Saya merasa cukup dengan apa yang saya nikmati dalam “ruang” saya pilih. Walau, memang sih masih ada beberapa pilihan ruang lainnya. Pencarian ruang merupakan proses penemuan jati diri. Bukankah orang yang sejati itu mati bersama apa yang dicintainya…? Seorang seniman mati bersama dengan keseniannya. Pecinta balap motor mati dalam kecelakaan balap motornya. Bahkan seorang begajulan mati dengan ketololannya hahaha. Itulah saya baru mengerti mengapa kaum sufistik dapat menikmati hidupnya, walau secara kasat mata mereka kosong akan dunia. Karena berfokus pada satu, menuju kecintaan yang sejati.

So Pure - Alanis Morisette

 

            Buat saya, menyelam (atau tenggelam) dalam dunia hingar bingar (baca: undeground) sudah sedikit cukup menikmati bagian dunia yang fana ini. Memang, ruang yang saya nikmati ini belum tentu bisa dinikmati orang lain, visce vera. Sampai-sampai saya sendiri bingung kalau ada pertanyaan: “apa enaknya sih musik setan kaya 'gitu?”. Memang, bingung juga ngejawabnya dan cukup tersinggung. Yahh, ngga taulah! Sama halnya kaya saya tanya kamu yang ngerokok; “apa enaknya sih rokok?”, sedang saya sendiri bukan perokok. Bingung kan para perokok ngejawabnya. Meskipun kita ngerokok bareng juga belum tentu rasanya sama. Jadi, jatuhnya selera kali ya… Yahh, asal jangan sampe tanya aja: “kapan sih kamu bakal BERHENTI dengan dunia berisik itu?!”, seperti yang dialami teman saya dengan pacarnya hahaha… Suck my dick, babe!

            Seandainya saya dalam posisi yang sama, tentu saya juga malas ngejawabnya. Saya sendiri juga ngga tau sampai kapan saya akan berhenti menikmati alunan irama-irama cadas. Bermodal ini saja terkadang saya berharap agar jangan terlalu cepat untuk mati. Saya pun juga berharap agar tidak seperti kebanyakan orang yang gara-gara udah punya anak-istri, trus berhenti.

            Saya hidup dibesarkan dengan musik. Sebagian hidup, atau hampir sepenuh hidup. Itulah mengapa saya sulit terlepas darinya. Dan Tuhan pun tau. Dan lebih menarik lagi, kalau kita bisa aktif/turut serta di dalamnya; bikin band, menulis fanzine, mengerjakan label rekaman, dan segala bentuk aktifitas yang bersangkutan. Saya ngga terlalu perhitungan dengan berapa banyak “pengeluaran” (biaya, waktu, tenaga, dll) untuk dunia yang saya cintai. Toh, selama ini kepuasan kami memang tidak bisa dibeli dengan angka (finansial). Bukankah itu semahal-mahal kebahagiaan?

            Mungkin orang lain bisa menilai kalau hidup saya ini pathetic (menyedihkan). Karena mereka pikir hidup ini cuma sekali, jadi kenapa ngga puas-puasin ngelakuin apa yang bisa dilakuin selagi masih bisa bernafas. Untungnya saya akan hidup kekal dan punya banyak dunia, jadi ngga perlu mikir seperti itu.

            Memang, cerita cinta saya ngga banyak, hal-hal berbau otomotif saya ngga ngerti, olahraga pun saya ngga suka. Tapi kalau ngobrol soal musik, lihat lidah siapa yang paling banyak bergerak hahaha... Saya ngga perlu maruk kok untuk ngerasain variasi hidup di dunia fana ini. Biar tinggalkan saya sendiri dalam ruang yang sudah saya pilih. Dan ngga usah takut statis, kan dunia itu ngga ada ujung/habisnya. Hahaha…

.