Dunia itu bulat. Jika kamu mencari ujung Barat dan Timur, apakah kamu
akan menemukannya? Tentu tidak. Apakah ini pertanda bahwa dunia memang
ngga ada “habis”nya?... Mungkin ada benarnya bacot “mereka” yang
berkhotbah di atas mimbar tempat ibadah, kalau dunia itu memang ngga ada
habisnya. (???)
Namun, ada pula yang merasa kalau dunia itu sempit, karena kesempitan
ruang jiwanya. Begitu juga sebaliknya, ada yang menganggap kepuasan di
dunia itu ngga ada habisnya. Atau “kepuasan” itu memang tidak ada?
Setidaknya hal tersebut dapat menyempurnakan pencarian kehidupan kami.
Dunia ini terlalu banyak ruang untuk mereka yang ingin menikmatinya.
Tapi banyak pilihan akan membuat kamu bingung dan ngga jelas arahnya.
Bahkan menjadikan dirimu sebagai orang yang serakah. Memang, hidup ini dibawa
enjoy aja. Kalau perlu melebihi ekspektasi
slogan Starmild “bikin hidup lebih hidup”. Namun saya sadar, mencari
“sesuatu yang baru” belum tentu suatu kenikmatan. Tapi lain halnya jika
“sesuatu yang baru”nya itu ada pada apa yang kamu jalani. Inovasi dalam
pilihan sendiri. Justru itu memaksimalkan kepuasan kamu.
Seperti yang sudah saya tulis tadi, saya menganalogikan dunia ini
seperti terdiri ruang yang banyak. Dan kalau kamu ingin menikmati
semuanya, sejak lahir sampai mampus pun kamu ngga akan merasakan atau
sedikit pun menjamahi semuanya. "Kamu bakal ketipu sama permainan dunia".
Yah, (kurang lebih) begitulah kalau bahasa khotbah relijinya.
Buat saya, sedikit pun sudah mencukupi asal maniak. Saya merasa cukup
dengan apa yang saya nikmati dalam “ruang” saya pilih. Walau, memang
sih masih ada beberapa pilihan ruang lainnya. Pencarian ruang
merupakan proses penemuan jati diri. Bukankah orang yang sejati itu mati bersama apa yang dicintainya…?
Seorang seniman mati bersama dengan keseniannya. Pecinta balap motor
mati dalam kecelakaan balap motornya. Bahkan seorang begajulan mati
dengan ketololannya hahaha. Itulah saya baru mengerti mengapa kaum sufistik dapat menikmati hidupnya,
walau secara kasat mata mereka kosong akan dunia. Karena berfokus pada
satu, menuju kecintaan yang sejati.
So Pure - Alanis
Morisette
Buat saya, menyelam (atau tenggelam) dalam dunia hingar bingar (baca:
undeground) sudah sedikit cukup menikmati bagian dunia yang fana ini.
Memang, ruang yang saya nikmati ini belum tentu bisa dinikmati orang
lain, visce vera. Sampai-sampai saya sendiri bingung kalau ada
pertanyaan: “apa enaknya sih musik setan kaya 'gitu?”. Memang,
bingung juga ngejawabnya dan cukup tersinggung. Yahh, ngga taulah! Sama
halnya kaya saya tanya kamu yang ngerokok; “apa enaknya sih rokok?”,
sedang saya sendiri bukan perokok. Bingung kan para perokok ngejawabnya.
Meskipun kita ngerokok bareng juga belum tentu rasanya sama. Jadi,
jatuhnya selera kali ya… Yahh, asal jangan sampe tanya aja: “kapan
sih kamu bakal BERHENTI dengan dunia berisik itu?!”, seperti yang
dialami teman saya dengan pacarnya hahaha… Suck my dick, babe!
Seandainya saya dalam posisi yang sama, tentu saya juga malas
ngejawabnya. Saya sendiri juga ngga tau sampai kapan saya akan berhenti
menikmati alunan irama-irama cadas. Bermodal ini saja terkadang saya
berharap agar jangan terlalu cepat untuk mati. Saya pun juga berharap
agar tidak seperti kebanyakan orang yang gara-gara udah punya anak-istri,
trus berhenti.
Saya hidup dibesarkan dengan musik. Sebagian hidup, atau hampir sepenuh
hidup. Itulah mengapa saya sulit terlepas darinya. Dan Tuhan pun tau.
Dan lebih menarik lagi, kalau kita bisa aktif/turut serta di dalamnya;
bikin band, menulis fanzine, mengerjakan label rekaman, dan segala
bentuk aktifitas yang bersangkutan. Saya ngga terlalu perhitungan dengan
berapa banyak “pengeluaran” (biaya, waktu, tenaga, dll) untuk dunia yang
saya cintai. Toh, selama ini kepuasan kami memang tidak bisa
dibeli dengan angka (finansial). Bukankah itu semahal-mahal kebahagiaan?
Mungkin orang lain bisa menilai kalau hidup saya ini pathetic (menyedihkan).
Karena mereka pikir hidup ini cuma sekali, jadi kenapa ngga puas-puasin
ngelakuin apa yang bisa dilakuin selagi masih bisa bernafas. Untungnya
saya akan hidup kekal dan punya banyak dunia, jadi ngga perlu mikir
seperti itu.
Memang, cerita cinta saya ngga banyak, hal-hal berbau otomotif saya ngga
ngerti, olahraga pun saya ngga suka. Tapi kalau ngobrol soal musik,
lihat lidah siapa yang paling banyak bergerak hahaha... Saya ngga perlu
maruk kok
untuk ngerasain variasi hidup di dunia fana ini. Biar tinggalkan saya sendiri dalam ruang yang sudah saya pilih. Dan ngga
usah takut statis, kan dunia itu ngga ada ujung/habisnya. Hahaha…