Seorang
kawan-dan mungkin banyak orang akan berlaku seperti kawan saya
ini-datang kepada saya setelah beberapa bulan saya dinyatakan lulus
sarjana S1. Ia bertanya kepada saya: “udah kerja belum?”
atau “udah kerja di mana?”
Pertanyaan
ini menyesakkan saya. Sebab bagi saya, sungguhkah ada korelasi langsung
antara kegiatan akademis yang dituntaskan dan berujung kepada pekerjaan?
Apakah memang sudah ghalibnya bahwa seseorang yang sudah menyelesaikan
kuliahnya harus bekerja?
Kemudian
saya telaah pertanyaan-pertanyaan kawan saya ini. Yang saya
dapatkan adalah, betapa kegiatan akademis yang seharusnya memicu
perkembangan keilmuan telah disimpangkan sedemikian rupa menjadi sebuah
kegiatan yang mengarahkan kita untuk menjadi manusia-manusia pekerja.
Dengan kata lain, kegiatan akademis yang dilakukan dalam sekian waktu
tersebut hanyalah perpanjangan tangan dari produksi manusia sebagai alat
produksi untuk melangsungkan kegiatan produksi.
Sampai
saya bertemu dengan esei Louis Althusser yang terkenal, “Ideology
and Ideological State Aparatus “, saya menemukan jawaban-meski pun
sangat terlambat-dari apa yang telah menguasai alam pikiran banyak
makhluk-makhluk kampus yang ternyata mempersiapkan dirinya untuk menjadi
alat produksi. Pendek kata, kampus telah menjadi pabrik penghasil
alat-alat produksi sebagai salah satu instrumen proses produksi bernama
tenaga kerja.
Bayangkan,
betapa kampus pada dasarnya mirip kursus keahlian dalam waktu yang lebih
panjang dan teoritik. Sementara kita mempermaklumkannya tanpa curiga dan
tak sadar.
Reproduksi
Alat-alat Produksi
Sebagai
seorang Marxis, Louis Althusser mencoba membicarakan realitas mengenai
alam pikiran manusia yang diarahkan untuk menjadi pekerja (baca:buruh)
dalam kerangka teori Marx yang fundamental, yaitu basis struktur dan
super struktur.
Menurut
Marx, basis struktur adalah fondasi yang di atasnya berdiri dua
‘fakta’ unsur superstruktur: politiko-legal (hukum dan negara) dan
ideologi (ideologi-ideologi, agama, etika, politik, legal, dan
sebagainya yang berbeda-beda). Sedangkan determinan utama yang
menentukan kedua fakta super struktur adalah basis struktur, yakni
proses produksi dengan segenap variabelnya.
Yang
menarik adalah bagaimana Althusser mengaitkan proses produksi (basis
struktur) mendeterminasi super strukturnya serta efek-efek yang
dimunculkannya. Proses determinasi ini dijelaskannya dalam fenomena
reproduksi alat-alat produksi.
Bahwa
demikian penting untuk mereproduksi alat-alat produksi dengan meramalkan
kebutuhan-kebutuhan alat produksi sebagai sebuah hal yang mutlak untuk
tetap melangsungkan proses produksi pada waktu bersamaan, tentu saja
disadari oleh rata-rata ahli ekonomi. Bahkan kapitalis sekali pun. Namun
Marx masih melihat kesadaran akan hal ini masih dalam sudut pandang
perusahaan yang tak menyentuh kondisi riil perusahaan.
Althusser
memberikan ilustrasi yang cukup gampang dimengerti: andaikan seorang X
memiliki pabrik wol, ia tentu akan membutuhkan bulu domba dari si O yang
memiliki peternakan domba. Wol yang dihasilkan si X akan berjalin dengan
kebutuhan si Z yang memiliki pabrik tekstil. Satu kapitalis, akan
mengundang kapitalis-kapitalis lain untuk memproduksi alat-alat produksi.
Kenyataan ini demikian menjadi nyata di era kapitalis mutakhir dengan
perusahaan-perusahaan multinasional.
Dari
sini kita bisa memahami bahwa betapa pentingnya mereproduksi alat-alat
produksi. Namun pada titik inilah penghancuran kemanusiaan buruh
demikian tampak. Sebab buruh adalah salah satu dari alat produksi.
Bayangkan,
sebuah pabrik garmen mempekerjakan seribu orang buruh proletar dengan
gaji kita andaikan Rp 700.000,-. Setiap hari pabrik memperoleh
keuntungan seandainya Rp 100.000.000,-. Sekian persen dari keuntungan
tersebut diambil untuk mereproduksi alat-alat produksi (bahan bakar,
peremajaan mesin, bahan mentah), dan keuntungan yang diambil tadi
menjadi modal.
Selanjutnya
adalah buruh (buruh manual), sebagai alat produksi yang berupa manusia,
yang tentu saja tak bisa disamakan dengan mesin. Upah buruh proletar
sejumlah Rp 700.000,- tersebut, pada realitanya hanyalah dapat menutupi
kebutuhan primer dalam hidupnya (pangan, sandang, papan). Sedangkan
kebutuhan lain sebagai aspek kemanusiaannya seperti rekreasi, membeli
kaset (film atau musik), menonton bioskop dan pertunjukan atau
pertandingan sepakbola, bahkan pacaran (makan malam dan sebagainya),
menjadi sulit untuk dipenuhi dengan upah yang tak rasional di atas.
Perusahaan
(baca:kapitalis), dalam hal ini memperlakukan buruh layaknya mesin,
bahkan lebih parah dari pada mesin. Sebab upah yang diberikan kepada
buruh hanyalah cukup untuk membiarkan buruh mengisi perut dan segenap
kebutuhan primer lainnya untuk esok harinya kembali datang ke pabrik
menunaikan ketertindasannya.
Pemberian
upah yang menindas itu adalah upaya kapitalisme mereproduksi buruh
sebagai alat produksi yang hampa. Di sinilah gagasan Marx mengenai
humanisme dan alienasi bertempat tinggal.
Perkembangan
teknologi kemudian meningkatkan tuntutan keahlian buruh yang mengacu
kepada spesifikasi keahlian buruh demi peningkatan (efektivitas dan
efisiensi) produksi. Kapitalisme kemudian membangun sekolah untuk
anak-anak buruh. Sepintas pembangunan sekolah untuk buruh merupakan
pekerjaan yang terlihat mulia. Namun sekolah-sekolah itu mengajarkan
hal-hal yang bersifat teknis yang akan mengarahkan mereka sebagai
generasi masa depan instrumen alat-alat produksi seperti ayah dan ibu
mereka.
Apa yang
dipelajari anak-anak di sekolah? Mereka belajar beraneka ragam, namun
secara rata-rata mereka belajar membaca, menulis dan menghitung, dengan
kata lain belajar sejumlah teknik, dan sejumlah hal lain, termasuk
unsur-unsur (yang mungkin saja bersifat dasar atau sangat dasar) dari
‘kultur saintifik’ atau ‘kultur literer’, yang secara langsung
berguna untuk berbagai pekerjaan yang berbeda-beda dalam proses produksi
(satu pelajaran untuk buruh manual, pelajaran yang lain untuk teknisi,
pelajaran yang ketiga untuk insinyur, dan yang terakhir manajemen
tingkat tinggi, dan sebagainya). Jadi, mereka belajar ‘pengetahuan
praktis’ (know-how).
Namun
di samping teknik-teknik dan pengetahuan tersebut...anak-anak di sekolah
juga mempelajari ‘aturan-aturan’ tentang perilaku yang baik, yaitu
sikap yang harus ditunjukkan oleh setiap agen dalam pembagian kerja
sesuai dengan pekerjaan yang ’ditakdirkan’.., belajar menangani
buruh-buruh secara tepat dalam artian secara nyata (demi masa depan para
kapitalis dan abdi-abdi mereka) untuk mengatur buruh-buruh secara tepat
atau (secara ideal) ‘berbicara kepada mereka dengan cara tepat dan
sebagainya.[3]
Dengan
demikian, bahkan dimensi etik yang diajarkan dan ditanamkan di
sekolah-sekolah tersebut merupakan kepentingan kapitalisme untuk
membentuk embrio-embrio pekerja yang sesuai dengan kebutuhan proses
produksi.
Dan
tentu saja fenomena ini menjalar lebih luas, yakni sekolah-sekolah yang
bukan dibangun langsung oleh kapitalis, namun paradigma yang telah
dimapankan dalam kepala pengelola sekolah dan murid menuju kepada
kepentingan proses produksi kapitalisme. Sehingga misalnya, dalam kepala
seorang mahasiswa jurnalistik, sejak awal telah terbangun pemikiran
bahwa ia nantinya akan bekerja menjadi jurnalis (dalam artian pekerja)
pada sebuah media alih-alih menciptakan eksplorasi praktik yang akan
berimplikasi kepada kajian kelimuan jurnalistik itu sendiri. Dan menurut
saya, pemikiran untuk mempersiapkan diri sebagai pekerja telah mengisi
kepala banyak orang Indonesia.
Ideologi
Tesis
Althusser yang utama memang ditekankan pada sudut pandang reproduksi
alat-alat produksi. Dengan demikian, menurut Althusser, sebagian besar
superstruktur ditentukan oleh basis strukturnya, yaitu proses (re)produksi
(alat-alat produksi).
Sampai
di sini, dapat dicermati bahwa sekolah-sekolah yang terideologikan oleh
ideologi penguasa (kapitalis) tidak saja sekedar mengajarkan ilmu-ilmu
teknis (know-how) sebagai bentuk reproduksi buruh sebagai alat
produksi, namun juga mereproduksi “ketertundukkan” terhadap ideologi
kelas penguasa. Ketertundukkan ini memunculkan sebuah realitas baru: ideologi.
Dalam
kerangka Marxis, Althusser membicarakan ideologi dengan memulainya
melalui perbincangan mengenai negara.
Negara,
sebagai legal-formal yang menguasai berjalannya suatu wilayah politik
memiliki kekuasaan untuk meregulasi dan menindak setiap warga negara
yang melanggar regulasi tersebut.
Kekuasaan
Althusser ini diistilahkan olehnya dengan Repressive State Aparatus
(RSA). Represif di sini, menurut Althusser, “Aparatus Negara
menjalankan fungsinya dengan kekerasan-paling tidak pada akhirnya
menggunakan kekerasan (karena ada represi, sebagai misal represi
administratif, yang mengambil bentuk-bentuk non-fisik).”[4]RSA terdiri dari pemerintahan, birokrasi, tentara, polisi,
penjara, dsb.
Di
lain pihak, Althusser mengajukan sebuah konsep yang menjadi konsep
penting selain RSA, yaitu Ideological State Aparatus (ISA).
ISA menjalankan fungsinya dengan ideologi. ISA terdiri dari:
-
ISA keagamaan (gereja, mesjid/pengajian)
-
ISA pendidikan
-
ISA hukum
-
ISA keluarga
-
ISA politik (sistem politik, termasuk partai politik)
-
ISA komunikasi (pers dsb.)
-
ISA serikat buruh
Perlu
dicermati, ideologi yang dibicarakan oleh Althusser adalah ideologi
dalam kerangka Marxis, yakni ideologi kelas penguasa. Lebih ekstrem lagi,
ideologi kelas penindas atau kapitalis.
Ia
mengungkapkan, bahwa ideologi bekerja dalam penyapaan individu-individu
sebagai subyek. Penyapaan-penyapaan ini diistilahkan oleh Althusser
dengan interpellation (interpelasi). Subyek dalam hal ini adalah,
manusia memiliki subyektivitasnya yang seolah-olah otonom.
Salah
satu contoh yang amat sederhana:
Seorang
dosen mengajar di depan kelas. Kemudian ia memanggil nama seseorang
mahasiswanya dan mengajukan pertanyaan, “Kamu, Badu, apa yang dimaksud
dengan ‘isi pernyataan’?” Dengan serta merta sapaan sang
dosen akan membuat sang mahasiwa menjadi subyek.
Gaya
bicara sang mahasiswa biasanya akan memosisikan dirinya sebagai subjek
yang diakui dan disapa oleh sang dosen, yaitu sebagai mahasiswa yang
tunduk kepada aturan bahwa yang berkuasa adalah dosen sehingga tiada
alasan baginya untuk menolak menjawab pertanyaan sang dosen. Namun si
mahasiswa tidak sadar akan penyapaan yang seolah-olah membiarkan dirinya
(dan merasa berkuasa atas tindakannya sendiri) diakui sebagai subyek
yang menggerakkan dirinya untuk menjawab sebagai bentuk kekuasaan dosen
di kelas melalui konvensi dan norma yang telah dikukuhkan oleh institusi
yang berkuasa.
Apa
yang terjadi antara sang dosen dan sang mahasiswa di atas adalah salah
satu wujud dari operasi ideologi yang mengandung praktik kekuasaan yang
mungkin si dosen dan mahasiswa tak pernah menyadarinya.
Ketika
operasi ideologi itu dihela oleh Althusser ke dalam kerangka Marxis,
maka tak pelak ia harus menggiringnya ke dalam sudut pandang pihak yang
tereksploitasi, yaitu buruh. Sehingga negara dipandang sebagai salah
satu institusi yang paling aktif dalam praktik ideologi untuk
mengeksploitasi buruh.
Selain
itu, sepanjang pengetahuannya, tak ada sebuah kekuasaan yang mampu
menguasai negara dalam jangka waktu yang panjang tanpa pada saat
bersamaan menghegemoni secara ideologis.
Di
sinilah ISA melaksanakan perannya. Dalam lintasan sejarah, ISA yang
kelihatannya paling berperan dan menarik perhatian pada bangunan sosial
kapitalis adalah ISA pada bidang politik yang termanifestasi dalam
kombinasi perjuangan melalui pemilihan umum dan partai politik dalam
demokrasi parlementer. Namun Althusser malah mengatakan bahwa ISA pada
bidang pendidikanlah yang merupakan ISA yang paling dominan setelah
menggantikan ISA keagamaan (gereja, mesjid, pengajian), selain ISA
keluarga sebagai dominan di masa lampau.
Mengapa
Althusser sampai pada ISA pendidikan? Secara logis, bagi saya, ISA
pendidikanlah yang akan menentukan seseorang
“berada-menjadi-bertindak” sebagai sesuatu di dunia. Jika seseorang
akan berada pada ISA politik seperti parlemen, ia akan ditempa sejak
kanaknya di sekolah selain di keluarga.
Sekolah
sebagai ISA pendidikan, telah memperoleh hak istimewa sebagai ruang suci
yang cenderung dianggap netral dan memiliki norma yang dianggap
universal. Coba saja, kita bahkan sering mendengar istilah “kampus
adalah ruang yang kebal militer”. Istilah ini menunjukkan bahwa memang
kampus memiliki otonomi khusus sebagai tempat di mana guru dalam
gambaran umum sebagai pengayom yang teladan dan murid sebagai
pejuang-pejuang muda yang berniat mulia dengan mencari
sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan. Hubungan antar guru dan murid dalam
kompleks sekolah ini adalah salah satu hal yang menjadikan sekolah
menjadi “suci.”
Dan
“kesucian” sekolah ini, tegas Althusser, adalah ideologi kelas
borjuis. Di mana sekolah mengajarkan ilmu-ilmu praktis dan melatih
anak-anak dengan model disiplin serta ketertundukan yang mengacu kepada
ideologi kelas berkuasa. Dan betapa “kesucian” sekolah melekat pada
guru yang dianggap menghormati hati nurani serta memelihara kebebasan
anak-anak dengan kepercayaan yang diberikan orang tua kepada mereka.[5]
Bayangkan
seorang anak dalam sebuah negara yang menganggap sekolah adalah penting
untuk keutuhan diri sang anak untuk memahami dunia, yang memulai
sekolahnya sejak kanak-kanak. Seorang anak tersebut disekolahkan sejak
Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah pertama, jika ia dilanda
kemiskinan dan keterbelakangan sehingga ia tak melanjutkannya ke Sekolah
Menengah Atas (SMA), maka sang anak akan terlempar ke dalam proses
produksi sebagai alat produksi yang kasar akibat pendidikannya yang
rendah.
Sebagian
lagi yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke SMA namun tidak punya
kemampuan melanjutkan ke perguruan tinggi akan menjadi buruh manual pada
pabrik-pabrik dalam skala besar. Sebagian yang memiliki kesempatan
mengecap perguruan tinggi akan menduduki posisi teknisi rendahan dan
menengah, buruh-buruh kerah putih, eksekutif-eksekutif kecil dan
menengah, dan borjuis kecil sejenisnya (posisi ini pada sebagian jumlah
juga diisi oleh lulusan SMA). Pada tingkatan yang lebih lanjut, anak
muda-anak muda yang mengalami puncak semi-intelektual akan bekerja
sebagai “intelektual-intelektual dari pekerja koletif”.
Mereka-mereka inilah yang nantinya aka menjadi agen-agen eksploitasi
buruh rendahan sebagai manajer-manajer atau pun menjadi agen-agen
represi (polisi, tentara, birokrat, politisi, dsb.). Serta akan menjadi
intelektual-intelektual dan panutan yang dipercaya untuk bertugas
memberikan pengertian-pengertian yang dianggap lebih baik kepada orang
awam (pendeta, dosen, dsb.).
Serangkaian
penjelasan mengenai ISA pendidikan di atas dijelaskan dalam kerangka
hegemoni ideologi kapitalisme. Sehingga sekolah-sekolah yang kita geluti
sejak masa kanak kita telah terjangkit racun kapitalisme sebagai bentuk
usaha kapitalisme mereproduksi alat-alat produksi yang berupa manusia.
Sekolah menciptakan pengabdi-pengabdi yang tunduk kepada mekanisme kerja
yang mereka ciptakan tanpa harus memerintahkan secara nyata bahwa mereka
menundukkan murid-murid. Itulah ideologi!
Epilog
Lalu,
apa kabar kita? Yang sudah makan norma kapitalisme yang menundukkan kita
tanpa kita sadar bahwa sejak dalam pikiran kita ditundukkan? Sehingga
kita menganggap pertanyaan kawan selepas kita lulus kuliah dengan
pertanyaan, “sudahkah mendapatkan kerja?” sebagai sesuatu yang
memang alamiah dan memang begitu adanya? Atau keengganan meminta
uang belanja kepada orang tua akibat kesadaran sebagai manusia dewasa
yang sudah waktunya “mencari nafkah” sehingga mengarahkan kita untuk
menjadi sekrup-sekrup kapitalisme? Atau bahkan orang tua yang menuntut
kita untuk segera lulus dan mencari kerja dan menafkahi diri sendiri?
Louis
Althusser sendiri, seperti dijelaskan Bagus Takwin, mengatakan, sejak
kehadiran kita dinanti waktu janin kita pelan-pelan menjadi pada rahim,
ada sebuah realita yang akan menunggu dan membentuk kita sebagai
individu dan subyek di dunia, yaitu ideologi.
Jadi
memang ideologi itu sudah melingkungi kehidupan kita yang masuk dan
menjalar-jalar pada segenap tubuh, pikiran, dan perasaan yang kita
miliki. Dengan kata lain, kita tak mungkin hidup tanpa ideologi, sadar
atau pun tak sadar.
Masalahnya
adalah, ideologi macam apakah yang patut kita peluk? Pertanyaan ini
adalah pertanyaan yang privat, yang hanya mampu dijawab berdasarkan
samudera terdalam pada jiwa masing-masing manusia. Tetapi setidaknya,
dalam jawaban yang memiliki makna relatif, saya berpendapat bahwa
ideologi yang patut dipeluk adalah ideologi yang mengabdi kepada
kehidupan kemanusiaan.
Dan
sekarang, setidaknya kita sudah menyadari (bagi yang setuju) bahwa kita
sudah dijerat oleh jaring-jaring ideologi kapitalisme sejak kita lahir.
Dengan kata lain, KITA DIJEBAK! Sehingga kita mau tak mau harus mengabdi
kepada dunia yang kapitalistik dengan bekerja pada institusi-institusi
yang juga dijebak dalam alam yang kapitalistik, karena kita butuh jajan,
butuh makan, butuh pacaran!
Keuntungan
kita adalah, kita sadar bahwa kita dijebak, sehingga setidaknya kita
punya hasrat untuk mengekspresikan kegelisahan kita dalam bentuk yang
kita mampu, misalnya dengan berkarya, apa pun itu.
Dan
pada akhirnya, saya hanya mengelus dada ketika masih saja saya bersua
dengan kawan yang bertanya: “karena anda sudah sarjana, sudahkah anda
bekerja?” Atau mau tidak mau saya harus melemparkan sebanyak-banyaknya
lamaran pekerjaan ke tempat di mana barangkali saya akan memperoleh
“jatah” saya untuk melanjutkan hidup ketika ayah-bunda bertanya,
“Nak, carilah pekerjaan! Tuntas tugas kami membiayai pendidikanmu.
Semoga kau sukses, kemudian menikah, dan didiklah anak-anakmu supaya
bahagia jiwa dan harta.”
Ungkapan-ungkapan
itu adalah ungkapan-ungkapan yang ideologis, hidup dalam struktur
pikiran kawan-kawan kita, ayah bunda, bahkan diri kita sendiri, sebagai
akibat kejayaan kapitalisme yang mengerikan dan sungguh kejam! Sebab
mereka tak sadar bahwa mereka telah dihegemoni secara ideologis oleh
kapitalisme. Saya teringat ucapan Yesus Kristus ketika merasakan perih
pada kayu salib waktu berbicara kepada Tuhan, kira-kira seperti ini:
“Ya Bapa, ampuni mereka! Sebab mereka tidak tahu.”
Barangkali
kepada kawan-kawan dan ayah bunda kita yang tertundukkan oleh ideologi
kapitalisme sehingga bertanya tentang pekerjaan selepas masa kuliah (sungguh
menyebalkan!), kita dapat berkata dalam nada yang sama seperti Yesus:
“ya, hati nurani, maafkan mereka, karena mereka tidak tahu kalau
mereka terideologikan.”
Puah!
Tai kucing! Aku dijebak!
[1]Pada penjelasan
mengenai Reproduksi Alat-alat Produksi dan ideologi, hampir
seluruhnya bersumber dari esei Louis Althusser, Ideology
and Ideological State Aparatus, Ideologi
dan Aparatus Ideologi Negara, Resist Book, Yogyakarta, 2007. Penulis
hanya merisalahkan atau melaporkan kembali secara singkat dan
sederhana dengan bahasa penulis sendiri, dan memberikan
penjelas-penjelas tambahan untuk kepentingan kemudahan diskusi.
Catatan kaki ini adalah catatan kaki mengenai penjelasan mengenai
konsep-konsep Althusser dalam pembahasan mengenai Reproduksi
Alat-alat Produksi dan Ideologi secara keseluruhan pada tulisan ini.
[2]Penulis adalah
penganggur.
[3]Louis
Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, Resist
Book, Yogyakarta, 2007, h. 153-154.
[4]Ibid,
h. 167.
[5]Dalam
hal ini Althusser membuat perkecualian dengan meminta maaf kepada
guru-guru kritis yang mengajarkan muridnya dengan memberikan senjata
untuk melawan ideologi yang mengungkung murid. Namun jumlah guru
demikian amatlah sedikit. Althusser menyebut mereka sebagai pahlawan.
Sedangkan mayoritas guru adalah yang terjebak dengan mekanisme
akal-akalan pemilik modal tanpa menyadarinya. Padahal mereka
mencurahkan segenap tenaga dan kecerdasannya dengan niat mulia.