TULISAN

[Hervin Kumbang]

 

Kita Ditundukkan Sejak Dalam Pikiran Risalah atas Esei Louis Althusser:

Ideology And Ideological State Aparatus (ISA)[1]

oleh: Hervin Kumbang[2]

 

Prolog

       Seorang kawan-dan mungkin banyak orang akan berlaku seperti kawan saya ini-datang kepada saya setelah beberapa bulan saya dinyatakan lulus sarjana S1.  Ia bertanya kepada saya: “udah kerja belum?” atau “udah kerja di mana?”

       Pertanyaan ini menyesakkan saya. Sebab bagi saya, sungguhkah ada korelasi langsung antara kegiatan akademis yang dituntaskan dan berujung kepada pekerjaan? Apakah memang sudah ghalibnya bahwa seseorang yang sudah menyelesaikan kuliahnya harus bekerja?

       Kemudian saya telaah pertanyaan-pertanyaan  kawan saya ini. Yang saya dapatkan adalah, betapa kegiatan akademis yang seharusnya memicu perkembangan keilmuan telah disimpangkan sedemikian rupa menjadi sebuah kegiatan yang mengarahkan kita untuk menjadi manusia-manusia pekerja. Dengan kata lain, kegiatan akademis yang dilakukan dalam sekian waktu tersebut hanyalah perpanjangan tangan dari produksi manusia sebagai alat produksi untuk melangsungkan kegiatan produksi.

       Sampai saya bertemu dengan esei Louis Althusser yang terkenal, “Ideology and Ideological State Aparatus “, saya menemukan jawaban-meski pun sangat terlambat-dari apa yang telah menguasai alam pikiran banyak makhluk-makhluk kampus yang ternyata mempersiapkan dirinya untuk menjadi alat produksi.  Pendek kata, kampus telah menjadi pabrik penghasil alat-alat produksi sebagai salah satu instrumen proses produksi bernama tenaga kerja.

       Bayangkan, betapa kampus pada dasarnya mirip kursus keahlian dalam waktu yang lebih panjang dan teoritik. Sementara kita mempermaklumkannya tanpa curiga dan tak sadar.

 

Reproduksi Alat-alat Produksi

       Sebagai seorang Marxis, Louis Althusser mencoba membicarakan realitas mengenai alam pikiran manusia yang diarahkan untuk menjadi pekerja (baca:buruh) dalam kerangka teori Marx yang fundamental, yaitu basis struktur dan super struktur.

       Menurut Marx, basis struktur adalah fondasi yang di atasnya berdiri dua ‘fakta’ unsur superstruktur: politiko-legal (hukum dan negara) dan ideologi (ideologi-ideologi, agama, etika, politik, legal, dan sebagainya yang berbeda-beda). Sedangkan determinan utama yang menentukan kedua fakta super struktur adalah basis struktur, yakni proses produksi dengan segenap variabelnya.

       Yang menarik adalah bagaimana Althusser mengaitkan proses produksi (basis struktur) mendeterminasi super strukturnya serta efek-efek yang dimunculkannya. Proses determinasi ini dijelaskannya dalam fenomena reproduksi alat-alat produksi.

       Bahwa demikian penting untuk mereproduksi alat-alat produksi dengan meramalkan kebutuhan-kebutuhan alat produksi sebagai sebuah hal yang mutlak untuk tetap melangsungkan proses produksi pada waktu bersamaan, tentu saja disadari oleh rata-rata ahli ekonomi. Bahkan kapitalis sekali pun. Namun Marx masih melihat kesadaran akan hal ini masih dalam sudut pandang perusahaan yang tak menyentuh kondisi riil perusahaan.    

       Althusser memberikan ilustrasi yang cukup gampang dimengerti: andaikan seorang X memiliki pabrik wol, ia tentu akan membutuhkan bulu domba dari si O yang memiliki peternakan domba. Wol yang dihasilkan si X akan berjalin dengan kebutuhan si Z yang memiliki pabrik tekstil. Satu kapitalis, akan mengundang kapitalis-kapitalis lain untuk memproduksi alat-alat produksi. Kenyataan ini demikian menjadi nyata di era kapitalis mutakhir dengan perusahaan-perusahaan multinasional.

       Dari sini kita bisa memahami bahwa betapa pentingnya mereproduksi alat-alat produksi. Namun pada titik inilah penghancuran kemanusiaan buruh demikian tampak. Sebab buruh adalah salah satu dari alat produksi.

       Bayangkan, sebuah pabrik garmen mempekerjakan seribu orang buruh proletar dengan gaji kita andaikan Rp 700.000,-. Setiap hari pabrik memperoleh keuntungan seandainya Rp 100.000.000,-. Sekian persen dari keuntungan tersebut diambil untuk mereproduksi alat-alat produksi (bahan bakar, peremajaan mesin, bahan mentah), dan keuntungan yang diambil tadi menjadi modal.

       Selanjutnya adalah buruh (buruh manual), sebagai alat produksi yang berupa manusia, yang tentu saja tak bisa disamakan dengan mesin. Upah buruh proletar sejumlah Rp 700.000,- tersebut, pada realitanya hanyalah dapat menutupi kebutuhan primer dalam hidupnya (pangan, sandang, papan). Sedangkan kebutuhan lain sebagai aspek kemanusiaannya seperti rekreasi, membeli kaset (film atau musik), menonton bioskop dan pertunjukan atau pertandingan sepakbola, bahkan pacaran (makan malam dan sebagainya), menjadi sulit untuk dipenuhi dengan upah yang tak rasional di atas.

       Perusahaan (baca:kapitalis), dalam hal ini memperlakukan buruh layaknya mesin, bahkan lebih parah dari pada mesin. Sebab upah yang diberikan kepada buruh hanyalah cukup untuk membiarkan buruh mengisi perut dan segenap kebutuhan primer lainnya untuk esok harinya kembali datang ke pabrik menunaikan ketertindasannya.

       Pemberian upah yang menindas itu adalah upaya kapitalisme mereproduksi buruh sebagai alat produksi yang hampa. Di sinilah gagasan Marx mengenai humanisme  dan alienasi bertempat tinggal.

       Perkembangan teknologi kemudian meningkatkan tuntutan keahlian buruh yang mengacu kepada spesifikasi keahlian buruh demi peningkatan (efektivitas dan efisiensi) produksi. Kapitalisme kemudian membangun sekolah untuk anak-anak buruh. Sepintas pembangunan sekolah untuk buruh merupakan pekerjaan yang terlihat mulia. Namun sekolah-sekolah itu mengajarkan hal-hal yang bersifat teknis yang akan mengarahkan mereka sebagai generasi masa depan instrumen alat-alat produksi seperti ayah dan ibu mereka.

 

       Apa yang dipelajari anak-anak di sekolah? Mereka belajar beraneka ragam, namun secara rata-rata mereka belajar membaca, menulis dan menghitung, dengan kata lain belajar sejumlah teknik, dan sejumlah hal lain, termasuk unsur-unsur (yang mungkin saja bersifat dasar atau sangat dasar) dari ‘kultur saintifik’ atau ‘kultur literer’, yang secara langsung berguna untuk berbagai pekerjaan yang berbeda-beda dalam proses produksi (satu pelajaran untuk buruh manual, pelajaran yang lain untuk teknisi, pelajaran yang ketiga untuk insinyur, dan yang terakhir manajemen tingkat tinggi, dan sebagainya). Jadi, mereka belajar ‘pengetahuan praktis’ (know-how).

       Namun di samping teknik-teknik dan pengetahuan tersebut...anak-anak di sekolah juga mempelajari ‘aturan-aturan’ tentang perilaku yang baik, yaitu sikap yang harus ditunjukkan oleh setiap agen dalam pembagian kerja sesuai dengan pekerjaan yang ’ditakdirkan’.., belajar menangani buruh-buruh secara tepat dalam artian secara nyata (demi masa depan para kapitalis dan abdi-abdi mereka) untuk mengatur buruh-buruh secara tepat atau (secara ideal) ‘berbicara kepada mereka dengan cara tepat dan sebagainya.[3]    

 

       Dengan demikian, bahkan dimensi etik yang diajarkan dan ditanamkan di sekolah-sekolah tersebut merupakan kepentingan kapitalisme untuk membentuk embrio-embrio pekerja yang sesuai dengan kebutuhan proses produksi.  

       Dan tentu saja fenomena ini menjalar lebih luas, yakni sekolah-sekolah yang bukan dibangun langsung oleh kapitalis, namun paradigma yang telah dimapankan dalam kepala pengelola sekolah dan murid menuju kepada kepentingan proses produksi kapitalisme. Sehingga misalnya, dalam kepala seorang mahasiswa jurnalistik, sejak awal telah terbangun pemikiran bahwa ia nantinya akan bekerja menjadi jurnalis (dalam artian pekerja) pada sebuah media alih-alih menciptakan eksplorasi praktik yang akan berimplikasi kepada kajian kelimuan jurnalistik itu sendiri. Dan menurut saya, pemikiran untuk mempersiapkan diri sebagai pekerja telah mengisi kepala banyak orang Indonesia.

 

Ideologi

       Tesis Althusser yang utama memang ditekankan pada sudut pandang reproduksi alat-alat produksi. Dengan demikian, menurut Althusser, sebagian besar superstruktur ditentukan oleh basis strukturnya, yaitu proses (re)produksi (alat-alat produksi).

       Sampai di sini, dapat dicermati bahwa sekolah-sekolah yang terideologikan oleh ideologi penguasa (kapitalis) tidak saja sekedar mengajarkan ilmu-ilmu teknis (know-how) sebagai bentuk reproduksi buruh sebagai alat produksi, namun juga mereproduksi “ketertundukkan” terhadap ideologi kelas penguasa. Ketertundukkan ini memunculkan sebuah realitas baru: ideologi.

       Dalam kerangka Marxis, Althusser membicarakan ideologi dengan memulainya melalui perbincangan mengenai negara.

       Negara, sebagai legal-formal yang menguasai berjalannya suatu wilayah politik memiliki kekuasaan untuk meregulasi dan menindak setiap warga negara yang melanggar regulasi tersebut.

       Kekuasaan Althusser ini diistilahkan olehnya dengan Repressive State Aparatus (RSA). Represif di sini, menurut Althusser, “Aparatus Negara menjalankan fungsinya dengan kekerasan-paling tidak pada akhirnya menggunakan kekerasan (karena ada represi, sebagai misal represi administratif, yang mengambil bentuk-bentuk non-fisik).”[4] RSA terdiri dari pemerintahan, birokrasi, tentara, polisi, penjara, dsb.

       Di lain pihak, Althusser mengajukan sebuah konsep yang menjadi konsep penting selain RSA, yaitu Ideological State Aparatus (ISA). ISA menjalankan fungsinya dengan ideologi. ISA terdiri dari:

- ISA keagamaan (gereja, mesjid/pengajian)

- ISA pendidikan

- ISA hukum

- ISA keluarga

- ISA politik (sistem politik, termasuk partai politik)

- ISA komunikasi (pers dsb.)

- ISA serikat buruh

       Perlu dicermati, ideologi yang dibicarakan oleh Althusser adalah ideologi dalam kerangka Marxis, yakni ideologi kelas penguasa. Lebih ekstrem lagi, ideologi kelas penindas atau kapitalis.

       Ia mengungkapkan, bahwa ideologi bekerja dalam penyapaan individu-individu sebagai subyek. Penyapaan-penyapaan ini diistilahkan oleh Althusser dengan interpellation (interpelasi). Subyek dalam hal ini adalah, manusia memiliki subyektivitasnya yang seolah-olah otonom.

       Salah satu contoh yang amat sederhana:

       Seorang dosen mengajar di depan kelas. Kemudian ia memanggil nama seseorang mahasiswanya dan mengajukan pertanyaan, “Kamu, Badu, apa yang dimaksud dengan ‘isi pernyataan’?”  Dengan serta merta sapaan sang dosen akan membuat sang mahasiwa menjadi subyek.

       Gaya bicara sang mahasiswa biasanya akan memosisikan dirinya sebagai subjek yang diakui dan disapa oleh sang dosen, yaitu sebagai mahasiswa yang tunduk kepada aturan bahwa yang berkuasa adalah dosen sehingga tiada alasan baginya untuk menolak menjawab pertanyaan sang dosen. Namun si mahasiswa tidak sadar akan penyapaan yang seolah-olah membiarkan dirinya (dan merasa berkuasa atas tindakannya sendiri) diakui sebagai subyek yang menggerakkan dirinya untuk menjawab sebagai bentuk kekuasaan dosen di kelas melalui konvensi dan norma yang telah dikukuhkan oleh institusi yang berkuasa.

       Apa yang terjadi antara sang dosen dan sang mahasiswa di atas adalah salah satu wujud dari operasi ideologi yang mengandung praktik kekuasaan yang mungkin si dosen dan mahasiswa tak pernah menyadarinya.

       Ketika operasi ideologi itu dihela oleh Althusser ke dalam kerangka Marxis, maka tak pelak ia harus menggiringnya ke dalam sudut pandang pihak yang tereksploitasi, yaitu buruh. Sehingga negara dipandang sebagai salah satu institusi yang paling aktif dalam praktik ideologi untuk mengeksploitasi buruh.

       Selain itu, sepanjang pengetahuannya, tak ada sebuah kekuasaan yang mampu menguasai negara dalam jangka waktu yang panjang tanpa pada saat bersamaan menghegemoni secara ideologis.

       Di sinilah ISA melaksanakan perannya. Dalam lintasan sejarah, ISA yang kelihatannya paling berperan dan menarik perhatian pada bangunan sosial kapitalis adalah ISA pada bidang politik yang termanifestasi dalam kombinasi perjuangan melalui pemilihan umum dan partai politik dalam demokrasi parlementer. Namun Althusser malah mengatakan bahwa ISA pada bidang pendidikanlah yang merupakan ISA yang paling dominan setelah menggantikan ISA keagamaan (gereja, mesjid, pengajian), selain ISA keluarga sebagai dominan di masa lampau.

       Mengapa Althusser sampai pada ISA pendidikan? Secara logis, bagi saya, ISA pendidikanlah yang akan menentukan seseorang “berada-menjadi-bertindak” sebagai sesuatu di dunia. Jika seseorang akan berada pada ISA politik seperti parlemen, ia akan ditempa sejak kanaknya di sekolah selain di keluarga. 

       Sekolah sebagai ISA pendidikan, telah memperoleh hak istimewa sebagai ruang suci yang cenderung dianggap netral dan memiliki norma yang dianggap universal. Coba saja, kita bahkan sering mendengar istilah “kampus adalah ruang yang kebal militer”. Istilah ini menunjukkan bahwa memang kampus memiliki otonomi khusus sebagai tempat di mana guru dalam gambaran umum sebagai pengayom yang teladan dan murid sebagai pejuang-pejuang muda yang berniat mulia dengan mencari sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan. Hubungan antar guru dan murid dalam kompleks sekolah ini adalah salah satu hal yang menjadikan sekolah menjadi “suci.”

       Dan “kesucian” sekolah ini, tegas Althusser, adalah ideologi kelas borjuis. Di mana sekolah mengajarkan ilmu-ilmu praktis dan melatih anak-anak dengan model disiplin serta ketertundukan yang mengacu kepada ideologi kelas berkuasa. Dan betapa “kesucian” sekolah melekat pada guru yang dianggap menghormati hati nurani serta memelihara kebebasan anak-anak dengan kepercayaan yang diberikan orang tua kepada mereka.[5]   

       Bayangkan seorang anak dalam sebuah negara yang menganggap sekolah adalah penting untuk keutuhan diri sang anak untuk memahami dunia, yang memulai sekolahnya sejak kanak-kanak. Seorang anak tersebut disekolahkan sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah pertama, jika ia dilanda kemiskinan dan keterbelakangan sehingga ia tak melanjutkannya ke Sekolah Menengah Atas (SMA), maka sang anak akan terlempar ke dalam proses produksi sebagai alat produksi yang kasar akibat pendidikannya yang rendah.  

       Sebagian lagi yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke SMA namun tidak punya kemampuan melanjutkan ke perguruan tinggi akan menjadi buruh manual pada pabrik-pabrik dalam skala besar. Sebagian yang memiliki kesempatan mengecap perguruan tinggi akan menduduki posisi teknisi rendahan dan menengah, buruh-buruh kerah putih, eksekutif-eksekutif kecil dan menengah, dan borjuis kecil sejenisnya (posisi ini pada sebagian jumlah juga diisi oleh lulusan SMA). Pada tingkatan yang lebih lanjut, anak muda-anak muda yang mengalami puncak semi-intelektual akan bekerja sebagai “intelektual-intelektual  dari pekerja koletif”. Mereka-mereka inilah yang nantinya aka menjadi agen-agen eksploitasi buruh rendahan sebagai manajer-manajer atau pun menjadi agen-agen represi (polisi, tentara, birokrat, politisi, dsb.). Serta akan menjadi intelektual-intelektual dan panutan yang dipercaya untuk bertugas memberikan pengertian-pengertian yang dianggap lebih baik kepada orang awam (pendeta, dosen, dsb.).

       Serangkaian penjelasan mengenai ISA pendidikan di atas dijelaskan dalam kerangka hegemoni ideologi kapitalisme. Sehingga sekolah-sekolah yang kita geluti sejak masa kanak kita telah terjangkit racun kapitalisme sebagai bentuk usaha kapitalisme mereproduksi alat-alat produksi yang berupa manusia. Sekolah menciptakan pengabdi-pengabdi yang tunduk kepada mekanisme kerja yang mereka ciptakan tanpa harus memerintahkan secara nyata bahwa mereka menundukkan murid-murid. Itulah ideologi!

 

Epilog

       Lalu, apa kabar kita? Yang sudah makan norma kapitalisme yang menundukkan kita tanpa kita sadar bahwa sejak dalam pikiran kita ditundukkan? Sehingga kita menganggap pertanyaan kawan selepas kita lulus kuliah dengan pertanyaan, “sudahkah mendapatkan kerja?” sebagai sesuatu yang memang alamiah dan memang begitu adanya?  Atau keengganan meminta uang belanja kepada orang tua akibat kesadaran sebagai manusia dewasa yang sudah waktunya “mencari nafkah” sehingga mengarahkan kita untuk menjadi sekrup-sekrup kapitalisme? Atau bahkan orang tua yang menuntut kita untuk segera lulus dan mencari kerja dan menafkahi diri sendiri?

       Louis Althusser sendiri, seperti dijelaskan Bagus Takwin, mengatakan, sejak kehadiran kita dinanti waktu janin kita pelan-pelan menjadi pada rahim, ada sebuah realita yang akan menunggu dan membentuk kita sebagai individu dan subyek di dunia, yaitu ideologi.

       Jadi memang ideologi itu sudah melingkungi kehidupan kita yang masuk dan menjalar-jalar pada segenap tubuh, pikiran, dan perasaan yang kita miliki. Dengan kata lain, kita tak mungkin hidup tanpa ideologi, sadar atau pun tak sadar.

       Masalahnya adalah, ideologi macam apakah yang patut kita peluk? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang privat, yang hanya mampu dijawab berdasarkan samudera terdalam pada jiwa masing-masing manusia. Tetapi setidaknya, dalam jawaban yang memiliki makna relatif, saya berpendapat bahwa ideologi yang patut dipeluk adalah ideologi yang mengabdi kepada kehidupan kemanusiaan.

       Dan sekarang, setidaknya kita sudah menyadari (bagi yang setuju) bahwa kita sudah dijerat oleh jaring-jaring ideologi kapitalisme sejak kita lahir. Dengan kata lain, KITA DIJEBAK! Sehingga kita mau tak mau harus mengabdi kepada dunia yang kapitalistik dengan bekerja pada institusi-institusi yang juga dijebak dalam alam yang kapitalistik, karena kita butuh jajan, butuh makan, butuh pacaran!

       Keuntungan kita adalah, kita sadar bahwa kita dijebak, sehingga setidaknya kita punya hasrat untuk mengekspresikan kegelisahan kita dalam bentuk yang kita mampu, misalnya dengan berkarya, apa pun itu.

       Dan pada akhirnya, saya hanya mengelus dada ketika masih saja saya bersua dengan kawan yang bertanya: “karena anda sudah sarjana, sudahkah anda bekerja?” Atau mau tidak mau saya harus melemparkan sebanyak-banyaknya lamaran pekerjaan ke tempat di mana barangkali saya akan memperoleh “jatah” saya untuk melanjutkan hidup ketika ayah-bunda bertanya, “Nak, carilah pekerjaan! Tuntas tugas kami membiayai pendidikanmu. Semoga kau sukses, kemudian menikah, dan didiklah anak-anakmu supaya bahagia jiwa dan harta.”

       Ungkapan-ungkapan itu adalah ungkapan-ungkapan yang ideologis, hidup dalam struktur pikiran kawan-kawan kita, ayah bunda, bahkan diri kita sendiri, sebagai akibat kejayaan kapitalisme yang mengerikan dan sungguh kejam! Sebab mereka tak sadar bahwa mereka telah dihegemoni secara ideologis oleh kapitalisme. Saya teringat ucapan Yesus Kristus ketika merasakan perih pada kayu salib waktu berbicara kepada Tuhan, kira-kira seperti ini: “Ya Bapa, ampuni mereka! Sebab mereka tidak tahu.”

       Barangkali kepada kawan-kawan dan ayah bunda kita yang tertundukkan oleh ideologi kapitalisme sehingga bertanya tentang pekerjaan selepas masa kuliah (sungguh menyebalkan!), kita dapat berkata dalam nada yang sama seperti Yesus: “ya, hati nurani, maafkan mereka, karena mereka tidak tahu kalau mereka terideologikan.”

       Puah! Tai kucing! Aku dijebak!        


 

       [1]Pada penjelasan mengenai Reproduksi Alat-alat Produksi dan ideologi, hampir seluruhnya bersumber dari esei Louis Althusser, Ideology  and Ideological State Aparatus, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, Resist Book, Yogyakarta, 2007. Penulis  hanya merisalahkan atau melaporkan kembali secara singkat dan sederhana dengan bahasa penulis sendiri, dan memberikan penjelas-penjelas tambahan untuk kepentingan kemudahan diskusi. Catatan kaki ini adalah catatan kaki mengenai penjelasan mengenai konsep-konsep Althusser dalam pembahasan mengenai Reproduksi Alat-alat Produksi dan Ideologi secara keseluruhan pada tulisan ini. 

       [2]Penulis adalah penganggur.

       [3]Louis Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, Resist Book, Yogyakarta, 2007, h. 153-154.

       [4]Ibid, h. 167.

       [5]Dalam hal ini Althusser membuat perkecualian dengan meminta maaf kepada guru-guru kritis yang mengajarkan muridnya dengan memberikan senjata untuk melawan ideologi yang mengungkung murid. Namun jumlah guru demikian amatlah sedikit. Althusser menyebut mereka sebagai pahlawan. Sedangkan mayoritas guru adalah yang terjebak dengan mekanisme akal-akalan pemilik modal tanpa menyadarinya. Padahal mereka mencurahkan segenap tenaga dan kecerdasannya dengan niat mulia.

.