Sejak
keruntuhan Uni Soviet sebagai negara induk “sosialis”, yang kemudian
diikuti juga oleh keruntuhan negara-negara sosialis lainnya di kawasan
Eropa Timur dan kawasan-kawasan lainnya, membuat kalangan
borjuis-borjuis pendukung pasar bebas meyakini bahwa tak ada jalan lain
selain kapitalisme yang dapat menjawab kemampuan dan kesejahteraan bagi
rakyat. Keyakinan bahwa “pasar bebas” adlah jalan terbaik khususnya bagi
rakyat-rakyat miskin di negara Dunia Ke Tiga semakin mendapat tempat dan
momentum yang tepat. Pemasukan modal-modal kapitalis internasional ke
negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia semakin menentukan
lahan subur untuk “menggali” segala sumber kekayaan alam dan tenaga
manusia, melakukan represi dan eksploitasi bagi kelas buruh di
negara-negara berkembang.
Namun, dapat
pula kita cermati dan kita saksikan mulai meluasnya perlawanan terhadap
ekspansi sistem pasar bebas khususnya yang terjadi di negara-negara
Dunia Ke Tiga. Dan dampaknya pertumbuhan ekonomi dunia pun mengalami
penurunan yang sangat signifikan. Krisis-krisis ekonomi melanda
negara-negara berkembang, bahkan krisis ini menghamtam pula
negara-negara maju. Krisis ekonomi menghantam Asia pada 1997 yang
dimulai dengan jatuhnya bath Thailand terhadap dollar Amerika dan
kemudian menghantam Asia. Amerika mulai terkena imbas krisis pada 2000.
Angka pengangguran di Amerika pada 2000 mencatat sebesar 3,9%. Sementara
paska serangan ke gedung WTC pada September, angka pengangguran
meningkat sebesar 1,4% - angka tertinggi dalam sejarah Amerika sebagai
“negara impian” di dunia. Hal ini juga terjadi di Eropa dan Jepang yang
juga dikenal sebagai salah satu negara maju.
Bagaimana
dengan kawasan Amerika Latin? Kawasan ini pun terkena dampak dengan
penurunan angka pertumbuhan ekonomi karena disebabkan oleh menurunnya
stilitasi bidang ekonomi di sejumlah negara-negara penting di kawasan
tersebut. Peru dan Uruguay tidak akan mengalami pertumbuhan ekonomi.
Brazil mengalami gangguan ekonomi akibat naiknya harga minyak yang
menghantam aktivitas produksi negara tersebut dan berakibat devaluasi
mata uangnya sebesar 40%. Ketergantungan kawasan-kawasan Asia terhadap
Amerika dan Jepang juga membuat kawasan-kawasan tersebut sulit untuk
dapat melakukan pemulihan ekonomi.
Krisis
internal kapitalisme memang menjadi hukum sejarah yang tidak dapat lagi
kita pungkiri. Kapitalisme, sejak kelahirannya selalu mengandung hukum
kontradiksi internal. Bila kita melihat kembali ke belakang, krisis
kapitalisme pada era 1930-an diselesaikan dengan Perang Dunia I. Perang
yang mengadu kekuatan antara negara-negara imperialis itu sendiri. Pada
1945 dijawb dengan Perang Dunia II dan Amerika Serikat sebagai
pemenangnya. Amerika yang dengan bangganya menyatakan diri sebagai 'polisi
dunia' sejak kejatuhan rezim Soviet melakukan segala daya upaya untuk
mencari jalan keluar. Apalagi setelah mendapat legitimasi politik paska
serangan teroris ke gedung WTC. Amerika tanpa malu mengincar berbagai
negara yang dirasa menghambat dan mengganggu stabilitas modalnya apalagi
bagi pembakang. Afghanistan seperti yang kita ketahui, menjadi negara
pertama yang menjadi korban ancaman dan serangan dari negara Paman Sam
ini. Di bawah propaganda “membasmi terorisme” dengan sekutu-sekutunya,
Amerika melancarkan serangan-serangan tapi hal ini dijawab dengan
perlawanan dari Afghanistan sendiri. Muncullah berbagai macam bentuk
perlawanan!
Negara-negara
maju yang melakukan ekspansi ekonomi lewat kaki tangan IMF dan WB,
selalu mendapat tekanan dan perlawanan. Dan ini merupakan sebuah bentuk
momentum perlawanan yang sangat “mengagumkan” yang dilakukan oleh buruh,
tani, mahasiswa, organisasi-organisasi kiri, kawan-kawan sosialis
libertarian (baca: anarkisme), dan kelas-kelas menengah lainnya, baik
yang ada di negara maju maupun negara berkembang. Kita dapat kembali
mengingat dan mencermati berbagai aksi perlawanan, diantaranya aksi di
Kolombia. Perlawanan terhadap neo-liberalisme yang mengambil dua bentuk
perlawanan, yakni dalam bentuk perjuangan politik dan bentuk perlawanan
bersenjata. Dua kekuatan bersenjata terbesar di Kolombia merupakan dua
kekuatan bersenjata 'sayap kiri' terbesar di dunia itu. Kekuatan
bersenjata Tentara Revolusioner Rakyat Kolombia (FARCEP) dan Tentara
Pembebasan Nasional (ELN) yang sudah tentu keduanya menentang neo-liberalisme.
Pemberontakan petani di Meksiko, Chiapas, atau yang lebih dikenal dengan
Zapatista merupakan salah satu bentuk perlawanan yang terkenal. Salah
satu aksi terbesar yang masih kita ingat adalah apa yang terjadi di
Seattle, Amerika pada Desember 1999 yang melibatkan ratusan ribu orang
yang diikuti oleh ratusan demonstran besar di belahan bumi lainnya,
hanya untuk melawan musuh yang sama, yaitu: neo-liberalisme!
Tetapi sudah
tentu apa yang terjadi di Seattle bukanlah aksi “pelopor”. Sebelumnya
banyak aksi-aksi dengan isu yang sama terjadi di berbagai penjuru muka
bumi. Yang terpenting apa yang terjadi di Seattle adalah aksi tersebut
justru dilakukan dan meledak di negara-negara maju yang lebih mapan
secara ekonomi dibanding negara-negara terbelakang dan itu berarti
adanya peningkatan bentuk perlawanan yang tersu berlangsung di
negara-negara maju.
Tampaknya
jelas sudah bagaimana kepercayaan massa terhadap sistem kapitalisme yang
diagung-agungkan kaum borjuis memang sudah semakin tidak mendapat tempat
dan mukai mendapat kritikan-kritikan yang sangat tajam. Apa yang terjadi
akhir-akhir ini dan merupakan ancaman terbesar bagi negara-negara
pendukung neo-liberalisme adalah pembentukan “Poros Kebaikan”, yang
merupakan anti-tesis dari “Poros Setan” versi presiden Bush.
Hal ini
terjadi di Amerika Latin dimana gaung anti-Amerika semakin kuat. Lihat,
apa yang terjadi di Bolivia? Pemerintahan baru Bolivia pimpinan presiden
Evo Morales bersatu dengan Venezuela dan Kuba, melakukan perjuangan 'sayap
kiri-baru' yang dikenal dengan EVISM, yang merupakan bagian dari Axis of
Good (Poros Kebaikan). Istilah Evism ini berasal dari nama Evo Morales,
nama depan keturunan Axmora Indian. Evism bergabung dengan FIDELISM (dari
nama pimpinan Kuba, Fidel Castro) dan CHAVISM (dari nama pimpinan
Venezuela, Hugo Chavez). Ketiganya masuk dalam daftar 'isme' di Amerika
Latin. Munculnya ide Poros Kebaikan ketika tiga pimpinan sayap kiri
Amerika Latin ini bertemu sebelum Morales dilantik menjadi presiden.
Poros Kebaikan ini ditujukan untuk mengkonter propaganda presiden George
W. Bush empat tahun lalu yang menyebut Korea Utara, Iran, dan Irak
sebagai 'Poros Setan'. Hasil dari terbentuknya Poros Kebaikan ini para
mahasiswa dan petinggi partai gerakan Morales menuju sosialisme (MAS)
membuat kesepakatan bersama antara Kuba dan Venezuela dengan
memfasilitasi dokter-dokter Kuba untuk mendirikan klinik kesehatan di
Bolivia. Sedangkan para guru-guru yang ada di Kuba ditugaskan menyapu
bersih buta huruf (hal ini setidaknya mewujudkan impian terbesar Ernesto
Che Guevara yang dibunuh di Bolivia pada 1967). Tapi di mata Amerika
Serikat (donor utama Bolivia) prilaku Morales ini dapat memperburuk
hubungan AS dengan ketiga kutub sayap kiri Amerika Latin (Bolivia,
Venezuela, dan Kuba). Reaksi pun dilakukan AS atas hal ini dengan
menyerukan pembentukan “Front Persatuan Internasional” untuk menghadapi
Venezuela yang semakin erat hubungannya dengan Bolivia dan Kuba. Hal ini
disampaikan Menlu AS Condoleeza Rice. Yang terlihat dalam hal ini bahwa
AS begitu “gerah” dengan gerakan tiga negara berbasis sayap kiri ini.
Rice menyatakan bahwa bersatunya tiga negara sayap kiri ini jelas-jelas
akan menjadi bahaya lingkungan hidup yang sudah aman dan terjamin (?).
Ketakutan AS ini sebenarnya semakin menjadi-jadi saat dilakukan KTT PBB
(15/09/05) di New York. Chavez dengan lantang menyebut AS sebagai negara
teroris karena memulai perang dengan Irak. Dan Chavez pun menuduh AS
menyembunyikan pelaku teroris; “AS melindungi Luis Posada Carriles,
bapak semua teroris di benua ini”, ucap Chavez. Dan Chavez mengecam AS
tidak melakukan tindakan apapun terhadap penginjil Pat Robertson dari
kelompok konservatif AS yang menyerukan pembunuhan terhadap Chavez
karena dianggap membahayakan kepentingan AS di Amerika Latin. Bahkan
Chavez juga mengusulkan PBB dipindahkan ke Yerussalem; “markas PBB
seharusnya berada di Selatan yang menjadi rumah bagi kebanyakan
negara-negara berkembang”, ucap Chavez. Presiden Belarusia, Alexander
Lukashenko pun mengecam AS sebagai pembuat “keonaran” di dunia dan
Alexander menggambarkan Bush seperti terakhir di Eropa.
Hal ini
menjadi jelas, bahwa gerakan-gerakan sayap kiri di dunia tidak atau (setidaknya)
belumlah mati! Dan isu-isu neo-liberalisme, globalisasi, apapun namanya
yang memberi “mimpi” bagi rakyat di dunia memang harus dipertanyakan
kembali dan menjadi wacana yang selalu menarik untuk diperdebatkan.
Situasi-situasi ini yang disebabkan oleh pemerintahan borjuis memang
bila dilihat dari sisi ekonomidan politik dapat menciptakan perubahan di
dunia. Banyak sekali potensi dan varian pemikiran/ide yang berkembang
untuk membuka apa yang terjadi sesungguhnya dan apa yang harus dilakukan
untuk menentang kapitalis internasional.
Apa yang saya
tulis di atas, setidaknya menggambarkan bahwa masih ada berbagai macam
bentuk perlawanan untuk menentang ketidakadilan dan argumen yang
dirangkum dalam tesis Francis Fukuyama tentang kapitalisme pasar bebas
global sebagai “akhir sejarah” menunjukkan segala tipu dayanya.
Intensifikasi kapitalis menyebabkan ketimpangan yang sangat dalam dan
semakin membuat terperosoknya kemerdekaan bagi rakyat di dunia. Salam
pembebasan!