Hidup cuma sekali.
Tapi, apakah kamu akan memanfaatkan hidup sebaik mungkin? Apa
aplikasinya?... Beribadah dengan taat, belajar sungguh-sungguh, atau
have fun adalah prioritas pertama? By the way, hidup itu
pilihan kok. Ada baik-buruk, benar-salah, tuhan-setan, surga-neraka, dll.
Tinggal pilih aja mana yang kamu suka.
Tapi, kalau hidup
berbuat “benar” terus, kita ngga tau dong yang namanya “salah”? Yaa
bukan berarti kita mengajak kamu berbuat salah atau sengaja melakukan
kesalahan. Tapi, bagaimana kesalahan yang telah terjadi bisa mendidik
kamu menjadi jauh lebih baik. Maka bersyukurlah karena Tuhan Maha Pemaaf.
Karena sampai mati pun hidup kita ini belajar. Sejak bayi sampai punya
bayi lagi. Dan proses belajar akan menemukan kesalahan.
Hidup itu sejarah.
Dan sejarah itu akan terulang. Maka, barang siapa yang tidak mempelajari
sejarah, maka dia harus menerima kesalahan terulang lagi. Tapi, dalam
menuju pencerahan, bukankah kesalahan akan memberi kepahaman? Yaa,
lagi-lagi bukan mengajak kamu terus berbuat salah. Silahkan saja buat
kamu yang mau ambil resiko. Kata guru saya, keajaiban datang pada orang
yang berani, bukan pada orang yang pintar. Jadi, beranikan dirimu!
Namun disisi lain,
kita selalu mengikuti hal-hal berkesan abstrak yang biasa dikenal
prasangka, yang belum tau jelas kebenarannya. Dan yang seperti itu harus
segera dihilangkan. Karena kita belum tau hasilnya sebelum mencoba. Ini
baru namanya kesalahan.
- - - - -
Berawal rencana saya
untuk ke tempat percetakan. Setelah cari-cari, akhirnya menemukan tempat/toko
yang sekiranya cocok. Singkat cerita... Sambil menunggu hasil cetakan,
tiba-tiba salah seorang tukang cetak menyodorkan beberapa tiket nite
event yang berlangsung pada malam harinya. Awalnya sih saya sok jual
mahal, tapi dalam hati sih mau juga karena tiketnya juga mahal Rp
70.000,-. Apalagi dapet 10 tiket. Lumayan kan kalo diduitin. Coba kalo
dijual versi calo, bisa dapet beberapa mangkok baso?!. Lagipula jarang
kan
anak punk mau beli tiket semahal itu.
Tanpa pikir panjang, saya
langsung SMS temen-temen untuk mengajak ke event tersebut.
Setelah selesai cetak, baru deh basa-basi minta tiket tadi. Ok, semua
beres.
Namun ada beberapa
hal yang mengganjal dan akhirnya membuat saya resah. Apakah tiket tadi
yang saya dapat benar-benar berlaku? Takutnya pas di acara ada stempel
lain yang tidak tercap. Lagi-lagi saya harus melawan prasangka. Sebab
dari beberapa refrensi, seperti saya nonton konser Napalm Death (dengan
harga lebih murah, atau acara lain yang jauh lebih murah) dicek dengan
teliti, malah pake laser segala. Alah, saya aja pernah dapet “tiket
undangan” (invitation) tapi masih ditanya-tanya.
Bahkan
acara-acara punk yang murah pun bersikap hal yang sama. Apalagi event
yang terkesan eksklusif ini.
Hari mulai larut
malam, dan teman-teman yang saya ajak tadi hampir semua batal nonton
dengan berbagai macam alasan ngga jelas, atau takut? Dasar pengecut!
Kenapa juga ya saya pake bilang kondisi tiket tadi? Tapi, saya tetap
jalan juga walau akhirnya cuma bertiga. Ngga apa-apa deh, asal jangan
sendirian aja. Nanti seperti domba tersesat, kalo dimangsa serigala kan
bahaya. Eh, tapi serigala Seringai itu ngga ada bahaya-bahayanya sama
sekali ya?! Uppff!!! Apa ini prasangka saya lagi???
Sebenarnya hal
seperti ini mungkin sudah biasa terjadi, atau kamu sering ngelakuinnya.
Cuma emang saya aja ngga biasa atau mungkin pernah trauma pada kasus
yang serupa. Tapi saya terkesan dengan kalimat teman saya, “kapan
lagi kita melakukan hal-hal bodoh dan nekat?” Yah, walau nanti
berujung apes sih. Saya pun siap crime think aja. Kan hidup cuma
sekali. Dan itu bisa jadi cerita untuk keesok harinya sampai anak cucu
kita nanti. Well, sepertinya menarik. Mari kita coba!
Naiklah kendaraan
angkot menuju tujuan. Tapi kok firasat saya semakin lama semakin nggak
enak dengan jarak yang semakin dekat menuju tempat. Hati semakin kalut
dan resah. Anjing! Apa saya benar-benar melakukan suatu kesalahan?
Karena kami kemungkinan besar ditolak masuk: 80%, nggak jelas: 10%, dan
sisanya 10% bisa masuk. Jadi harapan bisa masuk itu kecil sekali. Seakan
saya menyelami lautan kesialan.
Tapi, lagi-lagi itu
semua masih prasangka yang mendramatisir kondisi saya saat itu. Toh,
saya belum mendapat jawabannya. Sialnya, ditengah perjalanan kita sempet
salah turun. Yang seharusnya di café, eh ini malah turun di kuburan.
Terpaksalah berjalan santai-santai sialan.
Setiba di tempat,
datang tepat waktu. Saya coba menenangkan diri, fiuhh! Di dalam juga
masih cek sound dan sepi. Pengunjung belum ramai. Teman yang memegang
ketiga tiket tadi langsung aja masuk duluan dengan santainya. Woy,
tungguin dong! Saya sih ngebuntutin aja. Ok, sekarang saatnya dimulai
momentum berkesan sekaligus mengakhiri tulisan ini... Abrakadabra!
Ternyata lolos begitu aja. Waaa…begitu doang!!! Inikah akhir jawaban
nasib kami tadi yang seperti telur di ujung taring babi??? Ya udah,
buru-buru kita langsung ke toilet.
MORAL CERITA
Jadi kalau begitu,
selama ini dari detik demi detik saya hanya dihantui ketakutan bernama
prasangka?! Coba kalau kamu pernah (atau sering) merasakan kejadian
demikian... Dan itu masih berlaku sampai hidup kamu saat ini. Berapa
lama kamu ditipu hidup-hidup dengan yang namanya prasangka?
Berarti bener juga
ya kata salah satu band hardcore yang udah mampus; “Hantam Prasangka
Buruk!”. Sepertinya prasangka adalah kebiasaan buruk. Ternyata
ajaran alam menjawab. Terimakasih pengalaman! Kau merubah hidup dan pola
pikirku.
Tapi tunggu! Penjaga
tiket tadi nyamperin kita ke toilet juga. Nah lho! Sial, kayanya ketauan!
“Mas, ini potongan tiket untuk soft drink? Tadi salah robek.”
Anjing untuk kedua kalinya! Hampir saja… Dan baru ketipu dengan
prasangka lagi. “Oh ya, makasih!”, jawab saya.