TULISAN

[Vicious Penis]

 

Its Not Your Fault,

Cause You Always Wrong

 

Hidup cuma sekali. Tapi, apakah kamu akan memanfaatkan hidup sebaik mungkin? Apa aplikasinya?... Beribadah dengan taat, belajar sungguh-sungguh, atau have fun adalah prioritas pertama? By the way, hidup itu pilihan kok. Ada baik-buruk, benar-salah, tuhan-setan, surga-neraka, dll. Tinggal pilih aja mana yang kamu suka.

Tapi, kalau hidup berbuat “benar” terus, kita ngga tau dong yang namanya “salah”? Yaa bukan berarti kita mengajak kamu berbuat salah atau sengaja melakukan kesalahan. Tapi, bagaimana kesalahan yang telah terjadi bisa mendidik kamu menjadi jauh lebih baik. Maka bersyukurlah karena Tuhan Maha Pemaaf. Karena sampai mati pun hidup kita ini belajar. Sejak bayi sampai punya bayi lagi. Dan proses belajar akan menemukan kesalahan.

Hidup itu sejarah. Dan sejarah itu akan terulang. Maka, barang siapa yang tidak mempelajari sejarah, maka dia harus menerima kesalahan terulang lagi. Tapi, dalam menuju pencerahan, bukankah kesalahan akan memberi kepahaman? Yaa, lagi-lagi bukan mengajak kamu terus berbuat salah. Silahkan saja buat kamu yang mau ambil resiko. Kata guru saya, keajaiban datang pada orang yang berani, bukan pada orang yang pintar. Jadi, beranikan dirimu!

Namun disisi lain, kita selalu mengikuti hal-hal berkesan abstrak yang biasa dikenal prasangka, yang belum tau jelas kebenarannya. Dan yang seperti itu harus segera dihilangkan. Karena kita belum tau hasilnya sebelum mencoba. Ini baru namanya kesalahan.

- - - - -

 

Berawal rencana saya untuk ke tempat percetakan. Setelah cari-cari, akhirnya menemukan tempat/toko yang sekiranya cocok. Singkat cerita... Sambil menunggu hasil cetakan, tiba-tiba salah seorang tukang cetak menyodorkan beberapa tiket nite event yang berlangsung pada malam harinya. Awalnya sih saya sok jual mahal, tapi dalam hati sih mau juga karena tiketnya juga mahal Rp 70.000,-. Apalagi dapet 10 tiket. Lumayan kan kalo diduitin. Coba kalo dijual versi calo, bisa dapet beberapa mangkok baso?!. Lagipula jarang kan anak punk mau beli tiket semahal itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung SMS temen-temen untuk mengajak ke event tersebut. Setelah selesai cetak, baru deh basa-basi minta tiket tadi. Ok, semua beres.

Namun ada beberapa hal yang mengganjal dan akhirnya membuat saya resah. Apakah tiket tadi yang saya dapat benar-benar berlaku? Takutnya pas di acara ada stempel lain yang tidak tercap. Lagi-lagi saya harus melawan prasangka. Sebab dari beberapa refrensi, seperti saya nonton konser Napalm Death (dengan harga lebih murah, atau acara lain yang jauh lebih murah) dicek dengan teliti, malah pake laser segala. Alah, saya aja pernah dapet “tiket undangan” (invitation) tapi masih ditanya-tanya. Bahkan acara-acara punk yang murah pun bersikap hal yang sama. Apalagi event yang terkesan eksklusif ini.

Hari mulai larut malam, dan teman-teman yang saya ajak tadi hampir semua batal nonton dengan berbagai macam alasan ngga jelas, atau takut? Dasar pengecut! Kenapa juga ya saya pake bilang kondisi tiket tadi? Tapi, saya tetap jalan juga walau akhirnya cuma bertiga. Ngga apa-apa deh, asal jangan sendirian aja. Nanti seperti domba tersesat, kalo dimangsa serigala kan bahaya. Eh, tapi serigala Seringai itu ngga ada bahaya-bahayanya sama sekali ya?! Uppff!!! Apa ini prasangka saya lagi???

Sebenarnya hal seperti ini mungkin sudah biasa terjadi, atau kamu sering ngelakuinnya. Cuma emang saya aja ngga biasa atau mungkin pernah trauma pada kasus yang serupa. Tapi saya terkesan dengan kalimat teman saya, “kapan lagi kita melakukan hal-hal bodoh dan nekat?” Yah, walau nanti berujung apes sih. Saya pun siap crime think aja. Kan hidup cuma sekali. Dan itu bisa jadi cerita untuk keesok harinya sampai anak cucu kita nanti. Well, sepertinya menarik. Mari kita coba!

 

Naiklah kendaraan angkot menuju tujuan. Tapi kok firasat saya semakin lama semakin nggak enak dengan jarak yang semakin dekat menuju tempat. Hati semakin kalut dan resah. Anjing! Apa saya benar-benar melakukan suatu kesalahan? Karena kami kemungkinan besar ditolak masuk: 80%, nggak jelas: 10%, dan sisanya 10% bisa masuk. Jadi harapan bisa masuk itu kecil sekali. Seakan saya menyelami lautan kesialan.

Tapi, lagi-lagi itu semua masih prasangka yang mendramatisir kondisi saya saat itu. Toh, saya belum mendapat jawabannya. Sialnya, ditengah perjalanan kita sempet salah turun. Yang seharusnya di café, eh ini malah turun di kuburan. Terpaksalah berjalan santai-santai sialan.

Setiba di tempat, datang tepat waktu. Saya coba menenangkan diri, fiuhh! Di dalam juga masih cek sound dan sepi. Pengunjung belum ramai. Teman yang memegang ketiga tiket tadi langsung aja masuk duluan dengan santainya. Woy, tungguin dong! Saya sih ngebuntutin aja. Ok, sekarang saatnya dimulai momentum berkesan sekaligus mengakhiri tulisan ini... Abrakadabra! Ternyata lolos begitu aja. Waaa…begitu doang!!! Inikah akhir jawaban nasib kami tadi yang seperti telur di ujung taring babi??? Ya udah, buru-buru kita langsung ke toilet.

 

MORAL CERITA

Jadi kalau begitu, selama ini dari detik demi detik saya hanya dihantui ketakutan bernama prasangka?! Coba kalau kamu pernah (atau sering) merasakan kejadian demikian... Dan itu masih berlaku sampai hidup kamu saat ini. Berapa lama kamu ditipu hidup-hidup dengan yang namanya prasangka?

Berarti bener juga ya kata salah satu band hardcore yang udah mampus; “Hantam Prasangka Buruk!”. Sepertinya prasangka adalah kebiasaan buruk. Ternyata ajaran alam menjawab. Terimakasih pengalaman! Kau merubah hidup dan pola pikirku.

Tapi tunggu! Penjaga tiket tadi nyamperin kita ke toilet juga. Nah lho! Sial, kayanya ketauan! “Mas, ini potongan tiket untuk soft drink? Tadi salah robek.” Anjing untuk kedua kalinya! Hampir saja… Dan baru ketipu dengan prasangka lagi. “Oh ya, makasih!”, jawab saya.

.