TULISAN

[Gendhut]

 

HARI-HARI...

DENGAN MATAHARI YANG SAMA

 

Hal yang menyebalkan saat ini adalah, saat pulang dari gawean dan emak gue sudah berhadapan dengan segala sinetron striping aka “tayang jajar”. (EYD memang jelek banget bikin istilah, “tayang jajar” hehehe…maksa banget! Kalo striping kan masih bersinkronisasi dengan striptease, yang jelas mengundang minat). Ya, gue tau sinetron emang sucxxx (baca: nyebelin banget!) dari dulu. Tapi, dulu khan kadarnya belum sampe seperti sekarang. Meski Tersanjung udah sampe 13 (dan bermutasi menjadi grindcore), tapi khan tayangnya tiap minggu doank, ngga kayak sekarang yang muncul tiap hari.

 

Gue ngga tau persis apa yang ada di benak banyak orang yang pada suka sekali melihat tayangan macam itu…cerita jelas sucks banget, ngga inovatif. Coba ada threesome bersama Sandra Dewi, khan lebih seru dan tentu saja saru. Tapi khan lebih jelas sensasinya, dan ada suspensenya serta melibatkan adrenalin serta serotonin. Ngga kaya sekarang yang isinya apaan... Dari dulu trik berebut warisan, tetap saja klise, nggak inovatif. Dan ampun, karakternya itu apa antagonis mesti geto. Ngga ada apa yang kool kayak Lou Diamonds Philips di Big Hit geto, pokoknya sucxxx!!!

 

Apaan neh? Rubrik remaja sok alternatif (tapi ngga ada alternatifnya, apanya yang alternatif). Lo juga bakal nemuin tulisan macam gini di friendster (myspace sih mendingan), kecuali banyaknya band ato individu yang geto dech, narsis mampus! Meski narsis (sumpah) ngga dilarang. Lha iya, kalo ngga ada yang muji diri lo…emak lo? Trus, kalo emak lo udah ngga nganggep lo lagi, jadi cuma lo sendiri pengagum lo... Jadi sok ajalah!

 

Tapi di balik itu semua, gue sendiri punya hobi buka-buka profile di friendster dan myspace. Liatin status ketenaran, soknya punya hidup yang beda (yang punya kesukaan sama dan akhirnya membentuk satu koloni baru). Yang commentnya puja-puji, apalagi kalo profilenya cewe cakep. Cewe cakep mah dimana aja sama…diantri! Ngga peduli lo dari scene rave, hardcore, punk, techno, sampe metal. Dari yang kulitnya mulus banget hasil spa tiap hari, sampe yang ngga mulus tapi sudah berjejal penuh tato. Dari piercing di lidah sampe di klitoris, semua punya pengagum. Apa yang beda dari itu semua? Beda bentuk sama rasa, atau isinya sama aja?! Tai itu dibentuk kaya apapun, konsistensinya lembek atau sudah jadi hasil mencret tetap aja satu: TAI!

 

Dan mengamati orang dengan segala tingkah lakunya yang macam-macam memang menyenangkan, bisa sekaligus bikin resume yang dipenuhi prejudis dari kesan pertama yang ditangkap. Mending gini khan daripada bikin comment manis menjilat, “oh ya kamu manusia bukan sih, kok cakep banget…”. Tapi bejibun comment kayak gitu di inbox rasanya menyenangkan juga khan? Akui sajalah… manusia memang butuh pengakuan kok!!!

 

Dan itu yang terjadi dengan sinetron striping itu, manusia pada dasarnya emang senang ngeliatin orang lain. Coba aja… Lo punya perangkat lunak diliatin tiap hari, pasti juntrungannya pengen liat punya orang lain (sejenis ato lawan jenis, itu sih urusan kalian sendiri!). Tau serta mengikuti perkembangannya secara mendetil dan punya teman berbagi dan berkomentar serta saling mengomentari adalah sebuah kegiatan yang asyik masyuk. Yang kejadian juga kayak gitu, ngeliatin tokoh yang tentu saja cakep plus ganteng... Yach, tipikal kehidupan yang jadi mimpi semua orang. Setiap hari bergelut dengan kisah cinta, tentu ada bumbu derita yang bullshit banget deh! Semua juga sadar, kalo ceritanya sama dan sejalur. Mana ada left hand path di situ…ngga ada! Semua berjalan sesuai norma dan nilai, yang berbanding terbalik dengan kenyataan. Mana ada gembel sebersih Agnes Monica, yang gembel tapi masih blush on. Mak! Boro-boro ngurusin blush on, ingus meler itu aksesoris paling yahud! Tapi yang penting pacarannya dunk, sama kisah cintanya, plus air matanya. Sialnya, kenapa air mani ngga pernah ada ya di sinetron, kalo ngerusak mah yang jelas aja gitu. Dan yang nonton pun akhirnya punya bahan cerita dan dendang siang hari bersama tetangga, “ih semalem si anu khan, anu khan…”. Dan berhubung ketemu setiap hari, frekwensinya bisa jadi lebih sering, daripada ketemu anaknya yang kebetulan sekolah atau gawe di luar daerah yang mesti ngekos dan ketemunya jarang-jarang. Jadi lebih sering ketemu Dude Harlino, lah tentu saja ini merembet ke infotainment. Jadi pengen tau semua kehidupannya. Alah, lo juga kalo jatuh cinta slalu pengen tau apa yang dilakuin bokin lo; lagi nungging dimana atau lagi boker dimana… (Oh, itu keterlaluan ya?! Khan judulnya “possesif”). Gue aja selalu terasa teriris tiap kali melewati jalan yang dilewati oleh mantan gue bersama gandengan barunya itu. Brengsek! Hehehe...

 

Boss keparat di gawean gue baru saja memasang sistem CCTV yang terkonek langsung dengan hp-nya, serta perekam audio yang terletak di plafon buat merekam semua yang ada di ruang kerja gue. Keparat banget memang! Padahal tempat gawean gue itu menjunjung tinggi nilai-nilai relijius, tapi kok ya masih kayak gitu?! Apa dia mau “playing god” ya? Karena, katanya kitapun sudah ada dalam pengawasan melekat oleh malaikat. Tuh, tuhan aja senang mengamati apa yang dilakuin oleh mahluknya. Nah, kalo mahluk pengikutnya pengen jadi kayak tuhan juga dengan menyamai sedikit kapasitasnya yang ngga mungkin terjangkau? “Religion is the game of the arseholes”, kata Anti Cimex mah. Karena kemungkinan besar itu adalah “mainannya”, karena sebenernya sebagian besar dari kita emang sendirian.

 

Yah. kalian ambil kesimpulannya soal gue, soliter gini. Jadi menga-mati orang lain tanpa berinteraksi, tapi bisa ngejudge adalah sebuah kompensasi. Sebuah keniscayaan dari kehidupan yang alone in the crowd bagi sebagian orang dan kehidupan berada di puncak menara mercusuar di tengah laut lepas, berada di posisi yang tinggi mempunyai bawahan yang terbayar dengan kapital yang dipunyai, tapi ngga bisa berinteraksi. Hanya judging dari apa yang didengar, tanpa pernah tau apa yang ngga kelihatan karena apa yang tersaji, entah itu di layar TV atau CCTV, adalah sekelabat dari kilatan cahaya di sebuah kehidupan yang saling bersinggungan kait mengkait. Apa yang terjadi di kamar tidur tadi malam tentu ngga akan terekspos. Kalo sampai terekspos, mari bawa samurai dan bantai kekebasan ini!

 

Kita, kamu, atau bos adalah orang yang kesepian, yang kebingungan dengan segala kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Semua sudah terbungkus, entah itu oleh ego atau gengsi yang sedemikian tinggi. Sehingga yang ada adalah penjagaan citra yang berkepanjangan dan usaha melanggengkan sebuah kekuasaan absolut yang semu sama sekali. Semua termanfaatkan dengan baik oleh yang punya modal, daripada menanggap keluhan apa yang terjadi dengan pekerjanya. Bos malah tidak berinteraksi dan hanya memasang pengawas yang tak berjiwa hanya dihidupi sinyal elektrik, dan bahkan ngga punya kuasa untuk komunikasi timbal balik. Yah, dunia dimana paranoid dianggap wajar, orang yang ngga paranoid memang bisa disebut gila hahaha... Sekarang kita sering bermain-main dengan segala fasilitas itu.

 

Sinetron??? Bikin versi “XXX”-nya dunk, khan lebih parsitipatif dan membuat otak serta perangkat lain untuk bekerja. Kontrol di tangan siapa…? Kita sendiri yang tentukan, sedikit mungkin, kita memang ada!

.