Apakah Facebook? Mahluk apakah ia, hingga namanya
hari ini kian dengan mudah kita dengar di mana-mana?
Kekuatan apa pula yang membuatnya hari ini mampu
menarik 2 juta orang dari seluruh dunia sebagai
users account baru setiap minggunya, bergerak
kian meningkat pesat dibandingkan laman sejenisnya?
Apakah Facebook semata kita definisikan sebagai
salah satu laman jejaring pertemanan di dunia maya,
seperti halnya Friendster, Plurk, Twitter, dan
lainnya? Ataukah ia bisa juga menunjukkan fenomena
sosial yang mengacu pada perubahan tingkah laku
masyarakat dunia?
Lalu siapa sesungguhnya Mark Zuckerberg yang
mulai mengembangkan Facebook dengan bahasa
pemrograman Ruby On Rails di usianya ke 21 tahun itu?
Dan kenapa juga tulisan ini mesti saya beri judul
“Jangan Cari Aku di Facebook-mu”, seakan-akan saya
hendak menularkan sebentuk kesinisan usang yang tak
laku zaman tentang perilaku kegandrungan manusia
akan Facebook di era cyber saat ini?
Mari kita jawab satu persatu pertanyaan di atas…
Facebook Sebagai Wadah Sosial
"Facebook adalah wadah sosial yang menghubungkan
seseorang dengan teman serta orang lain yang bekerja,
belajar, dan hidup di sekitarnya." Begitu kalimat
pembuka yang saya jumpai pertengahan tahun lalu
ketika pertama kali masuk ke halaman utama
Facebook.com.
Dan segera setelah itu, saya sukses membuat sebuah
akun atas nama saya di sana. Terasa menyenangkan
memang, pada awalnya Facebook mampu ‘menghubungkan’
saya dengan banyak kawan baru, bersosialisasi,
bahkan berkumpul lagi, dan berdiskusi dengan
kawan-kawan lama yang sudah bertahun-tahun tak
pernah ketemu.
Yang menarik bagi saya saat itu, saat tersadar bahwa
sebagian besar kawan-kawan saya para penghuni
Facebook itu rata-rata menghabiskan minimal 30 menit
sehari beraktivitas di sana. Entah sekedar
memperbaiki status di wall-nya, mengunggah foto-foto
narsis terbaru mereka, ada pula yang rajin menulis
puisi dan catatan harian untuk sekedar dikomentari
kawan-kawannya.
Lagipula siapa yang tahu bahwa di balik “username”
tertentu di antara daftar kawan-kawan saya tersebut,
beroperasi sebuah penopengan realitas akan keaslian
jati diri mereka sendiri di dunia nyata. Dalam
artian, siapa saja bisa menjadi apa saja dalam dunia
Facebook!
Orang pun tak mampu lagi membedakan mana yang
selebritis betulan dan mana yang freak, sebab
dua-duanya bisa sama-sama eksis dan tenar di dunia
Facebook. Karenanya dalam konteks ini, bisa dibilang
bahwa Facebook merupakan semua mimpi dari
representasi dan rekreasi realitas penggunanya.
Dan hal tersebut mulai terasa aneh saat saya
tersadar bahwa di antara sesama penghuni Facebook
sendiri, rupanya mulai terbangun pola rutinitas
harian mereka di sana. Seakan-akan mereka semua
bertetangga, bersosialisasi dan hidup normal
layaknya di dunia nyata. Tak pelak lagi,
lambat-laun saya pun curiga bahwa makin hari
Facebook mulai terasa seperti sebuah dunia yang
berdiri sendiri dan kian terpisah dari realitas
sosial sehari-hari penggunanya.
Apakah mungkin bahwa gambaran Facebook sebagai candu
masyarakat cyber kita belakangan ini, sejalan
dengan yang dulu pernah diracaukan Baudrillard lewat
filsafat metaforiknya tentang sebuah kematian sosial
(“death of the social”)?
Facebook Sebagai Hantu Sosial
Bagi Baudrillard, kematian sosial di sini bisa kita
pahami ketika ide tentang wujud sosial dan
masyarakat diambil-alih oleh kuasa media dan
informasi massa. Lenyapnya ide sosial dan masyarakat
di sini mestilah dipicu dengan berkembangnya
model-model sosial semu (artificial communities
atau virtual society) yang terbentuk dari
relasi, interaksi, dan komunikasi yang bersifat
artifisial, sebagaimana yang tengah terjadi di dunia
Facebook.
Lalu setelah relasi sosial tak lagi mengada dan
kenyataan sosial habis terserap di dalamnya, apa
yang kini tersisa, kawan? Jawabnya tak bisa lain
adalah simulakrum sosial itu sendiri! Hahaha... Baru
sekarang bisa saya bayangkan betapa naifnya Marx
ketika bermimpi bahwa suatu hari nanti di masa depan,
kekuatan ekonomi masyarakat bisa menopang kehidupan
sosial yang komunal dan egaliter.
Kenapa naif? Karena Facebook tak hanya menunjukkan
sebuah kematian sosial yang sedang terjadi di depan
mata kepala saya saat ini, tapi juga membuktikan
bahwa dimensi sosial itu sendiri bisa dijual. Di
mana nilai-nilai keakraban dan kebersamaan komunitas
itu sendiri menjadi komoditi yang diperjualbelikan
dalam rangka mendapatkan keuntungan.
Dalam artian juga, siapa saja bisa menjadi apa saja
dalam dunia Facebook selama dia tak keberatan
dibombardir berbagai iklan produk dari semisal
Coca-Cola dan Microsoft. Kalau masih tak percaya,
simak saja niat CEO sekaligus pendiri Facebook Mark
Zuckerberg pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia di
Davos yang menyatakan bahwa, "Pada 2009 ini,
Facebook akan intensif untuk mencari uang dengan
memanfaatkan database anggota dengan lebih serius
menggarap iklan." (03/02, Tempointeraktif.com)
Maka alih-alih sekedar menjadi wadah sosial yang
menghubungkan seseorang dengan bla…bla...bla...,
rupanya tampak jelas sekali bahwa Facebook merupakan
eksperimen mutakhir para penggiat kapitalisme
tingkat lanjut.
Kalau kasarnya saya bicara, Facebook bukanlah laman
jejaring sosial yang murni menghubungkan para
penggunanya. Tapi ini tentang bagaimana sebuah
perusahaan kapitalis bisa membuat komunitas global
nan artifisial yang melewati batas-batas antar
negara, dan menjual produk seperti Coca-Cola kepada
jutaan user-nya. Dan ini juga tentang
bagaimana perusahaan kapitalis bisa menghasilkan
uang banyak dari pertemanan para user-nya itu
sendiri.
Penutup
Sampai di titik ini, akan sangat mungkin bila
kawan-kawan pembaca menganggap saya ini semacam
pemikir radikal yang post-Marxist dan menganut sikap
kritis tertentu terhadap perkembangan kapitalisme
mutakhir. Judul esai ini yang berbunyi “Jangan Cari
Aku di Facebook-mu”, bisa saja diartikan kawan-kawan
bahwa penulis di sini adalah orang yang telah
dibangkitkan kesadarannya untuk keluar dari jebakan
kapitalisme dengan cara menghapus akun Facebook yang
dibuatnya setengah tahun yang lalu.
Kalau betul kawan-kawan menduga seperti itu, bisa
saya pastikan kalian keliru. Alih-alih
bersuntuk-suntuk ria dengan segala tetek bengek
pemikiran kritis tentang Facebook dan kematian
realitas sosial, saya justru begitu bersemangat
menghanyutkan diri dalam ironi yang terlanjut fatal
ini.
Hanya saja kali ini, bukan diri saya yang asli yang
tampil dalam drama semu nan banal berjudul Facebook
itu. Meminjam bahasa Nuruddin Asyadhie yang bilang
bahwa Facebook adalah novel polifonis dunia cyber,
maka bolehlah jika kali ini saya kembali menjadi
salah satu tokoh di novel tersebut, tentu dengan
karakter tokoh dan alur cerita yang saya kehendaki
sendiri.
Maka jangan cari aku di Facebook-mu, kawan. Sebab
siapa tahu saya di sana sudah jadi seseorang lain
yang boleh jadi tak pernah kamu kenal sebelumnya.
Posted: Februari '09.
FORMULA
Jangan Biarkan
Facebook Membombardir Email Anda
Setelah anda mempunyai
sebuah profil di Facebook, sudah seharusnya anda mengubah beberapa
setting default yang ditetapkan oleh Facebook. Satu yang terpenting
adalah setting tentang email notifikasi yang bakal anda terima
lewat email anda. Pada kondisi default Facebook memberikan opsi
ON atas semua notifikasi, itu artinya anda bakal dibanjiri email dari
Facebook, hingga inbox andapun akan penuh dengan email-email notifikasi
yang kadangkala ngga penting.
Untuk mengubah
setting tentang notifikasi ini bisa anda akses lewat menu [setting]
> [account setting]
anda akan dibawa ke halaman My Account, setelah itu anda klik tab [notification]. Bisa anda lihat, di sana banyak sekali
notifikasi yang disediakan oleh Facebook untuk dikirim ke email anda.
Mulai dari notifikasi tentang Photos, Groups, Pages, Video sampai kepada
notifikasi yang berkaitan dengan Help Centre. Dan dalam keadaan default
Facebook meng-ON-kan semuanya!
Sekarang waktunya anda
untuk memilah dan memilih poin-poin mana saja yang penting, yang memang
layak untuk dikirimkan notifikasinya ke email anda bila terjadi
update pada poin tersebut. Misal, bila anda menginginkan Facebook
memberikan notifikasi bila ada pesan dari Friends anda di Facebook, maka
berilah tanda ON pada “Send me a message”. Kemudian bila anda
mengganggap bahwa semua hal yang berkaitan dengan Help Centre itu ngga
penting, maka berilah tanda OFF pada “Replies to my Help Center
questions”.