TULISAN

[Hervin Kumbang]

 

Remaja Selamanya: The WHO

Dalam sebuah wawancara, gitaris Rolling Stones, Keith Richard mengenang masa-masa terbaik di era 1960-an. Lalu Richard menyebut satu nama: The WHO. Bagi Richard, The Who adalah yang paling kontemporer dalam “british invation”.

Sementara mengenai hari-hari pertama Stones dan The Beatles tampil di Amerika Serikat sebagai seniman rock and roll berwibawa dari seberang lautan, Richard sedikit merendah. Menurut Richard, apa yang mereka mainkan sebenarnya adalah memainkan kembali musik yang mereka pelajari dari daratan Amerika. “Bukankah kami menjual ‘kembali’ apa yang mereka mainkan?” Demikian Richard berkata.

Richard tak salah. Seperti diakui oleh Sir Paul McCartney tentang Liverpool, The Beatles bersyukur lahir di kota pelabuhan. Sebab, di kota itu pelaut-pelaut yang sempat berlabuh ke Amerika membawakan mereka musik dari negeri abang Sam. Dari Amerika mereka memperoleh blues dan rockabilly yang mempengaruhi seluruh pemusik dalam british invation.

Richard dan McCartney bagaikan ingin mengoreksi kata “invasi” dalam british invation. Bagi mereka, tanah yang mereka serang itu justru tanah yang memberikan mereka akar kreatifitas. Richard dan McCartney seolah mau mengatakan bahwa merekalah yang lebih dulu kena racun oleh “begundal-begundal jalanan” Amerika.

Tapi asumsi itu seolah mendapatkan pertahanan dalam The Who. Saya sepakat dengan Richard yang menyebut band asal London itu sebagai yang paling kontemporer dari british invation. Jika musik The Beatles dan Rolling Stones terdengar seperti musik Amerika yang dimainkan dengan dialek Inggris, The Who justru memutarbalikkannya: memainkan musik tradisional Inggris dengan keliaran cara Amerika.

Di sinilah arti penting The Who dalam the holy trinity of british rock. The Who layak mendapat tempat yang sejajar dengan The Beatles dan Rolling Stones. The Who adalah “the identity”. The Who memiliki gitaris Pete Townshend yang jenius, vokalis Roger Daltrey yang penuh perasaan, basis John Eistle si autis penjaga ritmik, dan penggebuk dram yang impresif Keith Moon.

Pionir Aksi Panggung

September 1964 adalah hari di mana The Who menyebar ke seluruh dunia. Ben itu baru tujuh bulan berganti nama dari The Detours menjadi The Who. Kedatangan Keith Moon sebagai pengisi kursi dramer yang ditinggalkan Doug Sandom menjadi penanda pergantian nama itu. Moon dan September 1964 adalah awal dari segala kegilaan di atas panggung dalam puak rock and roll.

Saat konser di Railway Tavern, Harrow, London, Pete Townshend tiba-tiba membanting gitarnya hingga hancur di atas panggung. Pete frustasi karena sejumlah penonton yang tertawa cekikikan. Selanjutnya, ia mengambil gitar yang lain dan melanjutkan pertunjukan. Sepekan kemudian di panggung yang sama, penonton berjubal ingin menyaksikan The Who. Lagi-lagi, Pete merusak gitarnya. Di belakang, Moon merusak drum kit-nya sebagai tanda solidaritas terhadap Pete.

Aksi ini membuat The Who memiliki pengecualiannya sendiri di antara The Beatles dan Rolling Stones. Melalui aksi panggung itu, The Who mengungkapkan sisi destruktif manusia yang selalu ditutupi dalam bentuk yang bisa dinikmati. Penghancuran berubah derajat menjadi seni dan ideologis. Penghancuran instrumen melekat sebagai ciri The Who. Demikian menginspirasinya, aksi itu turut dilakukan Jimi Hendrix dan jagoan grunge dari Seattle, Kurt Cobain.

Mengenai aksi panggung itu, frontman U2, Bono mengatakan The Who adalah kelompok yang paling berhasil menghidupkan panggung sebagai sebuah pertunjukan yang bertenaga. Bono bahkan tak segan mengakui U2 adalah titisan The Who.

Sementara vokalis Pearl Jam, Eddie Vedder menunjukkan kekagumannya kepada The Who dengan ungkapan yang satir: “Satu hal yang membuat saya muak tentang The Who adalah cara mereka meruntuhkan setiap pintu sebagai jalan masuk bagi yang tidak masuk chart rock and roll tanpa meninggalkan banyak hal selain puing-puing yang tersisa untuk bisa kita nyanyikan.”

Jelas! Apa yang ditinggalkan The Who bagi generasi di belakangnya adalah pemberontakan dalam energi yang penuh. Jika The Beatles memberontak dengan kebijaksanaan dan Rolling Stones dengan kenakalan yang androginik, The Who hadir dengan kebrutalannya.

Di masa kemudian, anak kandung kebrutalan rock and roll ala The Who itu mengalir pada musik punk. The Ramones, The Clash, Sex Pistol, bahkan Green Day, adalah band yang tampil dengan keliaran dan energi yang seolah-olah berlebih. Bagaimanapun, kebrutalan adalah ciri paling signifikan dalam kehidupan remaja. The Who melakukannya saat mereka remaja.

Bagi saya, mendengarkan musik The Who atau menyaksikan live performance-nya, tidak terdengar seperti musik yang lahir pada dekade 1960-an. Mendengarkan The Who seolah-olah mereka sama mudanya dengan Green Day atau Arctic Monkey.

Tak salah lagi, The Who tidak pernah beranjak menjadi pemuda separuh dewasa seperti The Beatles dengan 'Across the Universe'. The Who adalah remaja selamanya! Dan oleh karena itu, saya seperti tidak rela menyaksikan fisik Pete Townshend menjadi seorang kakek. The Who, adalah juru bicara para remaja!

Melalui The Who, dunia melihat sosok remaja yang mampu menempatkan kebrutalannya dalam cara yang intelektual. Seperti sepenggal lirik tembang abadi The Who “My Generation” ini:

people try to put us d-down (talkin’ ‘bout my generation)

just because we get around (talkin’ ‘bout my generation)

things they do look awful c-c-cold (talkin’ ‘bout my generation)

i hope i die before i get old (talkin’ ‘bout my generation)

Photo: IST