1. Minusmensch
2. These Nights Were Ours
3. Pulse/Surreal
4. Neige de Mars
5. Coma
6. Neon
Iblis
adalah businessman paling sukses dan Donald Trump [seorang
wirausahawan, pebisnis, pemilik reality show The Apprentice, dll
asal Amerika Serikat-red] adalah pecundang di depannya. Okelah,
Trump sukses menjelma sebagai icon yang disembah oleh maniak
reality show. Namun, tak pernah masuk akal untuk menyejajarkan Iblis
dan Trump dalam satu tingkatan.
Karena di muka iblis, sekali lagi, Trump
hanyalah pecundang kelas teri. Tak ada yang bisa mengimbangi otak
kreatif iblis yang super mega canggih.
Ini
buktinya. Ketika black metal, salah satu produknya mulai terseret masuk
fase self-parody, Iblis segera memutar otak guna membuat black
metal lebih ‘trendy’ dan bersahabat alih-alih kolot, orthodox
atau kadang [terdengar] amatir. Maka, muncul lah sekelompok legiun black
metal yang bersedia membuka diri guna merangkum elemen musik lain
semacam Art Rock [Enslaved, dkk], Post Punk [Livelover, Circle of
Ouroboros], hip-hop [Manes, Kkoagula] dan pastinya musik yang lagi
ngetren sekarang, Post Rock.
Lantlôs
dengan albumnya, ".Neon" adalah inkarnasi nomor sekian dari fusi black
metal dan post rock. ".Neon" mengambil kerangka [depressive]
black metal yang ringan lantas membalutnya dengan kulit mulus dan pesona
serta postur post-rock. Yup, Lantlôs pantas dikotakan [jika memang ini
tendensi manusia] dengan Alcest, Caina, serta Airs. Bedanya, ".Neon"
terdengar sebagai jawaban atas Alcest yang terlalu lembut, Amesoeurs
yang condong ke post punk atau Caina yang gagal menyuguhkan transisi
yang apik dari post rock ke lo-fi inspired black metal passage.
Bagaimanapun, apa yang ditetak Lantlôs bukan suatu yang
groundbreaking atau avantgarde [dalam arti forward
thinking bukan genre blending]. Itulah sebabnya saya bisa
tegas mengelompok Lantlos bersama sejawatnya di atas. Hanya saja, apa
yang terdengar dalam ".Neon" adalah sebuah penyempurnaan jika tidak bisa
disebut sebuah kompromi musikal yang manis.
Lantlôs juga menjajakan black metal yang
mengalun beriringan dengan post rock/shoegaze. Cetak biru musik Lantlôs
yang ideal ditemukan dalam ‘Pulse/Surreal’. Komposisi membariskan
riff post yang mengepung lembut, vokal harsh black metal yang
tidak istimewa namun decent, jazzy bass line yang staccato
serta clean vocal yang memendarkan pesona [clean] vokal
Anathema, Maudlin of The Well atau Between The Buried And Me. Seperti
yang saya katakan, tak ada yang baru kecuali transisi yang tidak
dipaksakan dari tiap-tiap elemennya yang membuat album ini bernyawa.
Transisi inilah yang ".Neon" menjelma menjadi album multi ruang yang
membaur bukan menyekat.
Inilah option segar yang disodorkan
pada kita karena iblis tahu bahwa pembakaran gereja dan NSBM (National
Socialist Black Metal) terlalu segmented dan kontekstual. Inilah
corong pesan iblis alternatif sejak ‘Melodic Black Metal’ makin mirip
kondom sekali pakai dan ‘Depressive Black Metal’ makin kacangan [Hold
on! I don’t mean Shining here]. Inilah album yang membuat black
metal berterima di kalangan hipster penggemar post rock atau emotive
prog rock fan dan menukar pencitraan usang black metal dengan
citra baru yang lebih, ya katakan saja, popish.
Ajektiva popish mungkin haram
digandengkan dengan black metal. Sayangnya, tabu ini sudah dibongkar
dalam ".Neon". Seperti zat adiktif yang dibungkus serupa permen, black
metal pun bisa terdengar positif. Bukankah ".Neon" adalah artefak
pembuktian bahwa iblis tak hanya kreatif namun juga pandai dalam
memasarkan produknya?
Jadi,
kapan kita ke pesugihan untuk mencari inovasi bisnis paling bernas kawan?
[Inerciatic Manneken]
NB:Review ini hanya berfungsi optimal saat anda berbaik
hati mengamini bahwa semua yang berbau iblis dalam Black Metal bukanlah
gimmick belaka.