1. Rumahku
2. Komidi Putar
3. Telur
4. Pengulangan
5. Dendangku
6. Bangun
7. Hari Ini
8. Pena
9. Mellow
10. Ari
11. Tinggal
12.
Kelana Bersama
13. You
Cheer Me Up
14. It's
Over Now
15. Reprise
16. Jatuh
Cinta
Tahun
lalu, seorang biduanita bernama Tika berhasil membuat saya jatuh hati.
Dan tahun ini (2010), rasa
itu telah tergantikan oleh Bonita
–tentu itu semua karena keindahan suaranya. Namun, entah mengapa, setiap
mendapati/menyimak penyanyi wanita (khususnya di Indonesia), saya
selalu terngiang dengan statement sarkas Tika dalam interviewnya di web
ini, kalau: "modal bokong ama bacot doang, jangan ngaku musisi
lah...!" Untungnya, puji tuhan, Bonita memiliki pita suara yang prima
serta bokong yang sekal pula. Upss!!!
"...laju"
adalah langkah baru Bonita setelah 7 tahun vakum dari dunia musik.
Tapi, berhubung saya tidak tahu Bonita 7
tahun lalu seperti apa, maka saya pun hanya 'melucuti' apa yang ada di album
keduanya. Dari komposisi materinya cukup mengindikasikan kalau pelaku musiknya
adalah orang-orang yang berefrensi. Maksudnya, Bonita beserta ben
pengiringanya sudah menjilati asam-garam. Maksudnya lagi, mereka bukan anak kemarin sore dalam
bermusik.
Begitu maksudnya, you dummy!
Boleh
jadi saya
bukanlah personal yang tepat untuk mengartikulasikan album Bonita yang
lembut jadi terkesan kasar. Mungkin saya perlu belajar pada Denny Sakrie
yang sensitif
bagaimana estetika meresensi sebuah album pop-folk yang menarik. Namun, Anda
juga jangan salah kira, dibalik merdunya alunan musik Bonita, pun tergurat
bait-bait satir dalam sleeve kovernya yang berwarna dominan
hijau toska dan merah muda.
Ketika Bonita
bersenandung
–di bait awal lagu pertama–, “di rumahku/ sangkar indah yang nyaman/ tempatku beristirahat”,
semacam ikhtisar album ini sebelum Anda jauh memasuki jurnal 16 lagunya.
Pop dalam lanskap folk memang terasa lebih sejuk dan tenang. Selain petikan akustik gitar yang
bening, instrumen tradisional seperti djembe, akordian hingga guzheng (alat
musik etnik Cina) menjadi alat mereka menenun
irama.
Sebelumnya, single "Komidi Putar"
pernah mengisi soundtrack film "Sang Pemimpi"
yang bernuansa folk-Perancis lewat permainan akordian yang kental. Lagu-lagu Bonita
lebih seperti alunan penghantar tidur (lullaby songs)atau cocok
untuk dubing suatu acara bertema pemandangan alam.
Menuju deretan
lagu-lagu akhir, kami terhangatkan oleh gaya vokal soul Bonita di
"You Cheer Me Up", sebelum akustik lullaby (kembali) menutup
album ini dengan segala kenangnya, “ku telah jatuh cinta pada hidupku/ walau banyak penghalang/ ku 'kan
terus melaju”.
Kalaupun Bonita tak merilis rekaman lagi di kemudian hari
–karena kita
tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti–,
"...laju" sudah cukup membuat reputasi Bonita sebagai salah satu
biduanita pop-folk terbaik anak negri.
Lagi-lagi
yang membuat miris, kenapa saya harus menemukan musisi-musisi seperti ini
pada 'mereka' yang berkutat
di jalur indie. Label-label major semakin tidak bisa diharapkan,
terkecuali bila Bonita-nya yang ingin berdikari. Dunia pop bukan berarti
dihuni mahluk menye-menye yang seperti menghantui di tv-tv hari
ini. Atau, apa karena owners label-label major di
negara ini matanya kurang melek? Padahal, secara musikal Bonita sudah
easy-listening, lirik-liriknya tentang
hidup & cinta
–meski terangkai puitis –,
plus bokong yang sekal pula. [Eits! Maaf, bila ada pengulangan-red].
Jelas, bahasa industri tak perduli
bagus-buruknya suatu lagu/karya. Yang penting laris. Tak perlu
memper-masalahkan bila tidak ingin dianggap masalah. Tapi, tidak-kah
menyedihkan ketika selera sebagai fitrah manusia harus terbentuk oleh pasar?
Ok, rasanya saya sudah mulai menggerutu. Jadi teringat observasi seorang
produser lokal terhadap selera
dominan, kalau di Indonesia ini ternyata
sound-sound butek itu
yang laku. Nggak ada gunanya buat yang bagus-bagus kalau ngga laku.
So, bukankah ini membuktikan kalau bangsa yang bobrok ini memang mayoritas selera musiknya
JELEK.
[Zim-Zum]