1.
On N On
2. ABCD Tokay
3. Lonely Boy
4. Kadal Pemburu
5. BH (Broken Home)
6. Rajawali
7. Negeri Berteriak
8. Aku Padamu
9. Kau Bukan Tuhan
10. RRI (Raja Rimba Indonesia)
Tak
perlu lah mengklaim bagaimana genre musik itu seharusnya, bila akhirnya
terjebak pada cita rasa yang konservatif, juga tentunya sensitif.
Melakukan progres bukan berarti hilang dari esensi. Itulah mengapa para
pengadopsi kultur musik di negri ini banyak yang membosankan. Karena
hanya bisa mengekor. Perlu
nyali untuk mendobrak batas, walau juga banyak diantaranya yang gagal.
Pada
kasus ini, khususnya rock n roll, The Flowers berhasil melewati fase
tersebut. Setelah 'bermeditasi' (baca: vakum) 14 tahun lamanya, bunga
rock itu tetap tumbuh dengan dua mahkota asli yang masih merekah. Album
“Still Alive & Well” adalah pembuktian kalau The Flowers masih ada dan
baik-baik saja. Dan Anda, sudah siap untuk ber-rock n roll ria?
Penempatan lagu "On N On" di urutan pertama adalah pilihan yang
tepat. Dengan tempo yang upbeat serasa mengundang Anda kembali
untuk berhura-hura. Bila ingin menambahkan sesuatu dengan yang 'lain',
cukup lakukan secara masing-masing.
Yang
terasa segar dari musik rock yang kian usang adalah penambahan instrumen
saxophone di tubuh The Flowers. Kehadirannya pun bukan sekedar pelengkap
belaka, justru menambah kaya dan mewah aransemennya. Bahkan hambar
apabila ditinggalkan. Saxophonist Eugen berhasil menjadi
partner Boris sang gitaris yang meliuk-liuk meski ia menggunakan
alat tiup.
Siraman rock & roll dengan oplosan blues & soul melumuri di setiap lagunya.
Bahkan ada sedikit plesetan dangdut di "Kau Bukan Tuhan". Ramuan
nge-funk juga terasa pada single pertama "Rajawali". Dan
hey! Ternyata isi lagu tersebut tentang kumpulan orang yang ingin
mabuk dengan pembagian minuman secara merata. Howly shit! Pada
akhirnya, judul lagu "Rajawali" dinobatkan sebagai sebutan
fans The Flowers untuk yang pria dan "Rajawati" untuk yang
wanita. Funny sound, eh?!
Bagi
musisi yang merasa dirinya adalah publik figur (ehm!), tentu lebih berhati-hati
lagi
dalam mengutarakan pesan untuk pendengarnya. Namun pola pikir semacam
itu sepertinya tak berlaku bagi The Flowers. Ini membuktikan kalau mereka ingin
berkarya jujur dan apa adanya. Simak lagu seperti "ABCD Tokai".
Anda ngerti kan konotasi Tokai itu apa? Dari judulnya saja sudah
terkesan blak-blakan. Namun vokalis Njet bersi kukuh meneriakan
statement-nya: “Apapun cerita kita aku tetap bertahan/ Cuma
memang harus punya kemauan keras/ dan tidak lupa kemaluan yang keras.”
Selain cerita cinta & kisah hidup yang ngga karuan, mereka juga
berkomentar atas bobroknya sistem negeri ini di "RRI (Raja Rimba Indonesia)"
atau isu teroris di "Negri Berteriak". Tapi begitulah rock n roll
terlahir dengan mental yang melawan arus. Kultur kenakalan seolah sudah menjadi
nilai luhur. Tak seperti kebanyakan rocker hari ini yang ingin
bermain aman, bersikap sopan, apalagi ketimuran.
Komitmennya pun, The Flowers memproduksi album keduanya ini secara
independen. Namun Anda juga perlu tau –mengutip pandangan dari majalah
musik dunia–, di dunia ini justru banyak artis rock yang kreatif tetap
berpegang pada indie label dengan membuat musik cerdas dan cita
rasa tinggi bagi segmen tersendiri.
Hanya
sayang, artistik sampulnya tak semenggoda seperti musiknya. Kolase
vintage pada halaman booklet pun masih tak nyaman dilihat. Bila
suatu saat album ini dirilis ulang, mungkin bagian kover perlu di-revisi.
Tapi,
bagi Anda yang masih mencari/menginginkan musisi-musisi rock yang jujur,
maka, petiklah The Flowers.