7.
Oi Dirty Bastard
8. Infidel Castratie
9. Waltz Muram
10. Tentang Petang
11. Mayday
12. Clausnophobia
Kartika Jahja akaTIKA selama ini
lebih dikenal sebagai biduan jazz. Bila (sekarang) persepsi tersebut tetap
tak bergeser,
mungkin Anda akan terkecoh kala menyimak album keduanya, "The Headless Strongstress".
Memang, agak rumit menempatkan musikal Tika pada suatu liang genre. Tapi, lupakan sajalah
namanya pelabelan bila itu membuat sempit ruang gerak eksplorasi.
Sikap musisi yang jujur
memang berlaku sesuai nature-nya tanpa terpaku standar pakem,
apalagi memikirkan bagaimana bisa diterima 'pasar'.
Harusnya baik/buruk suatu jenis musik
biarlah selera yang menentukan, bukan bentukan industri musik beserta
sekutu-sekutu medianya. Pada album yang memiliki 2 produser ini, Tika
tetap merilisnya secara independen di bawah bendera
sendiri, The
HEAD Records.
Hibernasi selama 4
tahun dalam kancah musik, kini Tika – bersama ben pengiringnya yang dibaptis nama
The DISSIDENTS – seperti bangun melantunkan mimpi-mimpi-nya,
baik yang buruk atau lebih buruk lagi. Tapi materi 12 lagu
ini terasa elegan nan eklektik.
Lagu "Tantang
Tirani" mengawali
dengan
nuansa akapela dari paduan vokal sendu Tika sendiri. Gaya bernyanyi Tika
yang akrobatik, di album ini lebih lullaby. Ke-eklektisan nada
dilanjuti lewat "Polpot" yang membawa unsur mariachi.
Bahkan atmosfir marching pada lagu "Mayday" sempat dijadikan theme song Hari Buruh di Amerika tahun
lalu. Wow!
Selain musik, yang
juga signifikan
dalam album ini adalah Tika melanturkan isu-isu bermuatan politis - yang baginya
juga dianggap 'seksi'. Mungkin karena kedekatan Tika dengan
dunia punk cukup mempengaruhi guratan relung hatinya. Nyaris bertolak dari
album sebelumnya yang mengungkapkan kegalauan. Meski tentang cinta tapi tanpamainstream appeal-nya, tetap saja kurang 'menjual'.
Hahaha.
Demi perwujudan sebuah
karya, album ini benar-benar menunjukkan konseptual dibanding konsep
dagang. Tak hanya materi lagu saja
yang digarap ciamik, kemasan albumnya pun dirancang
sedemikian rupa. Keping CD yang diselipkan dalam notebook tebal dengan desain vintage, dibungkus lagi sebuah
dengan dompet berbahan kain peca motif bunga dengan tautan emblem sebagai
kovernya. Amazing! Tapi, kalau memang mau disebut dompet,
nampaknya terlalu besar, kecuali kalau kantongnya seperti model baju kantong monyet.
Atas rasa penghormatan, bukan maksud
kami ingin berkelakuan layak media-media yang sok menobatkan
ini-itu pada akhir tahun. Namun berdasarkan
komposisi, materi, dan aspek-aspek lainnya, kami berani mengklaim bahwa
"The
Headless Strongstress" adalah album Indonesia terbaik 2009
– meski imej kami
belum bisa mempengaruhi orang-orang awam, hehehe.