1. Menulis Lagu Cinta
2. Popular
3. Semua Suka Wanita Cantik
4. Tiba-Tiba Hamil
5. Hey Hey Hey
6. Hanya Trend
Semata
Hegemoni
industri musik beserta sekutu media-nya seakan menggariskan ketetapan
bahwa untuk mendapat pasar yang bagus kemasannya kudu easy listening,
catchy, lirik seputar cinta, bla-bla-bla... Di luar itu seperti tak
ada yang menjanjikan. Maka, tak heran bila banyak musisi indie/underground
beralih ke ranah mainstream untuk meraih kekomersilan.
Terlepas
dari apa yang saya paparkan di atas, BITE adalah ben baru namun terdiri
dari orang-orang lama dengan latarbelakang musik keras. Ketiga
personilnya berasal dari ben post-hardcore/metal FALL, sedangkan
vokalisnya (yang satu-satunya wanita) pernah tergabung dalam beberapa
ben indie (termasuk metal), a.l.: The UPSTAIRS, GOODNIGHT ELECTRIC, RUMAH
SAKIT, STRAIGHTOUT.
Berangkat
dari background setipe, Bite bukanlah ben yang membisingkan dan
berdistorsi. Entah bermain jujur atau tidak, Bite
mengusung genre "twee-pop" (baca; American indie-pop) yang
easy listening. Namun gerangan apa yang membuat mereka membangun institusi musik
ringan? Kalau gitaris Didi merasa ini sebagai challenge atau
secara blak-blak-an vokalis Rebecca menganggap ajang cari duit,
rasanya Bite belum jaminan. Seperti orang yang baru belajar main musik,
musikal Bite terasa
garing dan kurang berbobot. Atau mereka memang bermain bukan sesuai nature-nya?
Meski
bermain
musik ringan bukan berarti tema mereka juga mengalah ikutan picisan. Setidaknya masih
ada esensi dari arti nama ben ini; "gigit". Singgel pertama "Menulis
Lagu Cinta" sebenarnya keluhan mereka dalam menulis
lagu cinta itu sendiri. Kehidupan mereka di perkotaan metropolitan
justru membuatnya
kehilangan inspirasi menuangkan apa arti cinta. Kalau dua tahun lalu Efek Rumah Kaca pernah menampar
lirik cinta konvensional dengan "Cinta Melulu", Bite
juga menyinggung tema cinta dengan angle yang berbeda. Memang sudah seharusnya ben
pop hari ini disertai pesan-pesan yang cerdas. Dan ke-enam lagu dalam EP ini memiliki
kadar yang sama satirnya. Semua dikemas dalam bahasa Indonesia yang gamblang,
kecuali "Hey Hey Hey" yang satu-satunya lirik berbahasa Inggris.
Ada satu
lagu, "Semua Suka Wanita Cantik" yang prasangka kami
sebagai lagu tandingan. Kalau dalam kultur hip-hop ada istilah
'dis', lagu tersebut
seperti kontra atas lagu
"Citra Natural"-nya sebuah ben yang ngakunya rock oktan tinggi.
Coba simak bagian reff-nya; "Mudah berkata citra natural jika semua
terlahir menarik / Hanya ternyata jika kau jujur semua suka wanita
cantik". Apa yang disinggung Rebecca sebenarnya logis dan realistis
tanpa berlagak sok idealis. Namun di luar itu, lagu ini
mengalamatkan para wanita di seluruh dunia yang berusaha tampil cantik
secara harfiah.
Sedangkan
lagu terakhir, "Hanya Trend Semata" ditujukan untuk kaum remaja
yang sekedar mengenakan fashion tapi ngga ngerti apa yang dipakai. Kasarnya
mah poser/follower. Tapi saya balik tanya, apa ngga boleh bila anak gelandangan
atau pengemis jalanan memakai tshirt Bite
- meski mereka sama sekali ngga ngerti Bite? Bagi kami, ngga terlalu masalah
dengan
generasi labil yang masih proses mencari jati diri. Justru yang
riskan itu, 'mereka' yang punya jati diri tapi masih mengikuti trend. Semoga, Bite bukanlah ben yang mengikuti
trend semata.