RECOMMENDED GET The STUFF  DOWNLOAD  STREAMING BURN-BABY-BURN!

 CATEGORIES

RECORD (20)

DVD

READING

 

Buat band, record, label, kirimkan rilis-an/produk kalian untuk kami resensi di sini.

 

All reviews by Jurnallica

Lantlôs - .Neon CD

(PROPHECY Productions, 2010)

 

Tracklist:

1. Minusmensch
2. These Nights Were Ours
3. Pulse/Surreal
4. Neige de Mars
5. Coma
6. Neon

Iblis adalah businessman paling sukses dan Donald Trump [seorang wirausahawan, pebisnis, pemilik reality show The Apprentice, dll asal Amerika Serikat-red] adalah pecundang di depannya. Okelah, Trump sukses menjelma sebagai icon yang disembah oleh maniak reality show. Namun, tak pernah masuk akal untuk menyejajarkan Iblis dan Trump dalam satu tingkatan. Karena di muka iblis, sekali lagi, Trump hanyalah pecundang kelas teri. Tak ada yang bisa mengimbangi otak kreatif iblis yang super mega canggih.

Ini buktinya. Ketika black metal, salah satu produknya mulai terseret masuk fase self-parody, Iblis segera memutar otak guna membuat black metal lebih ‘trendy’ dan bersahabat alih-alih kolot, orthodox atau kadang [terdengar] amatir. Maka, muncul lah sekelompok legiun black metal yang bersedia membuka diri guna merangkum elemen musik lain semacam Art Rock [Enslaved, dkk], Post Punk [Livelover, Circle of Ouroboros], hip-hop [Manes, Kkoagula] dan pastinya musik yang lagi ngetren sekarang, Post Rock.

Lantlôs dengan albumnya, ".Neon" adalah inkarnasi nomor sekian dari fusi black metal dan post rock. ".Neon" mengambil kerangka [depressive] black metal yang ringan lantas membalutnya dengan kulit mulus dan pesona serta postur post-rock. Yup, Lantlôs pantas dikotakan [jika memang ini tendensi manusia] dengan Alcest, Caina, serta Airs. Bedanya, ".Neon" terdengar sebagai jawaban atas Alcest yang terlalu lembut, Amesoeurs yang condong ke post punk atau Caina yang gagal menyuguhkan transisi yang apik dari post rock ke lo-fi inspired black metal passage.

Bagaimanapun, apa yang ditetak Lantlôs bukan suatu yang groundbreaking atau avantgarde [dalam arti forward thinking bukan genre blending]. Itulah sebabnya saya bisa tegas mengelompok Lantlos bersama sejawatnya di atas. Hanya saja, apa yang terdengar dalam ".Neon" adalah sebuah penyempurnaan jika tidak bisa disebut sebuah kompromi musikal yang manis.

Lantlôs juga menjajakan black metal yang mengalun beriringan dengan post rock/shoegaze. Cetak biru musik Lantlôs yang ideal ditemukan dalam ‘Pulse/Surreal’. Komposisi membariskan riff post yang mengepung lembut, vokal harsh black metal yang tidak istimewa namun decent, jazzy bass line yang staccato serta clean vocal yang memendarkan pesona [clean] vokal Anathema, Maudlin of The Well atau Between The Buried And Me. Seperti yang saya katakan, tak ada yang baru kecuali transisi yang tidak dipaksakan dari tiap-tiap elemennya yang membuat album ini bernyawa. Transisi inilah yang ".Neon" menjelma menjadi album multi ruang yang membaur bukan menyekat.

Inilah option segar yang disodorkan pada kita karena iblis tahu bahwa pembakaran gereja dan NSBM (National Socialist Black Metal) terlalu segmented dan kontekstual. Inilah corong pesan iblis alternatif sejak ‘Melodic Black Metal’ makin mirip kondom sekali pakai dan ‘Depressive Black Metal’ makin kacangan [Hold on! I don’t mean Shining here]. Inilah album yang membuat black metal berterima di kalangan hipster penggemar post rock atau emotive prog rock fan dan menukar pencitraan usang black metal dengan citra baru yang lebih, ya katakan saja, popish.

Ajektiva popish mungkin haram digandengkan dengan black metal. Sayangnya, tabu ini sudah dibongkar dalam ".Neon". Seperti zat adiktif yang dibungkus serupa permen, black metal pun bisa terdengar positif. Bukankah ".Neon" adalah artefak pembuktian bahwa iblis tak hanya kreatif namun juga pandainya dalam memasarkan produknya?

Jadi, kapan kita ke pesugihan untuk mencari inovasi bisnis paling bernas kawan? [Inerciatic  Manneken]

 
NB: Review ini hanya berfungsi optimal saat anda berbaik hati mengamini bahwa semua yang berbau iblis dalam Black Metal bukanlah gimmick belaka.

 

posted: July '10.

Bonita - ...laju CD

(RUMAHBONITA/DEMAJORS, 2010)

 

Tracklist:

1. Rumahku
2. Komidi Putar
3. Telur
4. Pengulangan
5. Dendangku
6. Bangun
7. Hari Ini
8. Pena
9. Mellow
10. Ari
11. Tinggal
12.
Kelana Bersama

13. You Cheer Me Up

14. It's Over Now

15. Reprise

16. Jatuh Cinta

Tahun lalu, seorang biduanita bernama Tika berhasil membuat saya jatuh hati. Dan tahun ini (2010), rasa itu telah tergantikan oleh Bonita –tentu itu semua karena keindahan suaranya. Namun, entah mengapa, setiap mendapati/menyimak penyanyi wanita (khususnya di Indonesia), saya selalu terngiang dengan statement sarkas Tika dalam interviewnya di web ini, kalau: "modal bokong ama bacot doang, jangan ngaku musisi lah...!" Untungnya, puji tuhan, Bonita memiliki pita suara yang prima serta bokong yang sekal. Upss!!!

"...laju" adalah langkah baru Bonita setelah 7 tahun vakum dari dunia musik. Tapi, berhubung saya tidak tahu Bonita 7 tahun lalu seperti apa, maka saya pun hanya 'melucuti' apa yang ada di album keduanya. Dari komposisi materinya cukup mengindikasikan kalau pelaku musiknya adalah orang-orang yang berefrensi. Maksudnya, Bonita beserta ben pengiringanya sudah menjilati asam-garam. Maksudnya lagi, mereka bukan anak kemarin sore dalam bermusik. Begitu maksudnya, you dummy!

Boleh jadi saya bukanlah pribadi yang tepat untuk mengartikulasikan album Bonita yang lembut jadi terkesan kasar. Mungkin saya perlu belajar pada Denny Sakrie yang sensitif bagaimana estetika meresensi sebuah album pop-folk yang menarik. Namun, Anda juga jangan salah kira, dibalik merdunya alunan musik Bonita, pun tergurat bait-bait satir dalam sleeve kovernya yang berwarna dominan hijau toska dan merah muda.

Ketika Bonita bersenandung di bait awal lagu pertama, “di rumahku/ sangkar indah yang nyaman/ tempatku beristirahat”, semacam ikhtisar album ini sebelum Anda jauh memasuki jurnal 16 lagunya. Pop dalam lanskap folk memang terasa lebih sejuk dan tenang. Selain petikan akustik gitar yang bening, instrumen tradisional seperti djembe, akordian hingga guzheng (alat musik etnik Cina) menjadi alat mereka menenun irama.

Sebelumnya, single "Komidi Putar" pernah mengisi soundtrack film "Sang Pemimpi" yang bernuansa folk-Perancis lewat permainan akordian yang kental. Lagu-lagu Bonita lebih seperti alunan penghantar tidur (lullaby songs)atau cocok untuk dubing suatu acara bertema pemandangan alam.

Menuju deretan lagu-lagu akhir, kami terhangatkan oleh gaya vokal soul Bonita di "You Cheer Me Up", sebelum akustik lullaby (kembali) menutup album ini dengan segala kenangannya, “ku telah jatuh cinta pada hidupku/ walau banyak penghalang/ ku 'kan terus melaju”. Kalaupun Bonita tak merilis rekaman lagi di kemudian hari karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti, "...laju" sudah cukup membuat reputasi Bonita sebagai salah satu biduanita pop-folk terbaik anak negri.

Lagi-lagi yang membuat miris, kenapa saya harus menemukan musisi-musisi seperti ini pada 'mereka' yang berkutat di jalur indie. Label-label major semakin tidak bisa diharapkan, terkecuali bila Bonita-nya yang ingin berdikari. Dunia pop bukan berarti dihuni mahluk menye-menye yang seperti menghantui di tv-tv hari ini. Atau, apa karena owners label-label major di negara ini matanya kurang melek? Padahal, secara musikal Bonita sudah easy-listening, lirik-liriknya tentang hidup & cinta meski terangkai puitis , plus bokong yang sekal pula. [Eits! Maaf, bila ada pengulangan-red].

Jelas, bahasa industri tak perduli bagus-buruknya suatu lagu/karya. Yang penting laris. Tak perlu memper-masalahkan bila tidak ingin dianggap masalah. Tapi, tidak-kah menyedihkan ketika selera sebagai fitrah manusia harus terbentuk oleh pasar? Ok, rasanya saya sudah mulai menggerutu. Jadi teringat observasi seorang produser lokal terhadap selera dominan, kalau di Indonesia ini ternyata sound-sound butek itu yang laku. Nggak ada gunanya buat yang bagus-bagus kalau ngga laku. So, bukankah ini membuktikan kalau bangsa yang bobrok ini memang mayoritas selera musiknya JELEK. [Zim-Zum]

posted: June '10.

COHEED AND CAMBRIA - Year of the Black Rainbow CD

(COLUMBIA/ROADRUNNER, 2010)

 

Tracklist:

1. One
2. The Broken
3. Guns of Summer
4. Here We Are Juggernaut
5. Far
6. This Shattered Symphony
7. World of Lines
8. Made Out of Nothing (All That I Am)
9. Pearl of the Stars
10. In the Flame of Error
11. When Skeletons Live
12. The Black Rainbow

Jika (dan hanya jika) Anda penggemar Star Wars atau fan sejati Coheed and Cambria (CaC), maka Year of the Black Rainbow, rilisan tergress Claudio Sanchez dkk, akan bisa dinikmati dengan mudah.

Tak susah untuk menggelari Year of the Black Rainbow sebagai rilisan yang hit or miss. Setelah dua seri pemuncak saga The Amory Wars [Good Apollo I’m Burning Star I dan II], Year of the Black Rainbow seperti mengkhianati nuansa retro-prog ataupun proto-metal yang kental di dua pendahulunya. Kontan, siapapun yang mengira CaC adalah avatar selanjutnya dari Giddy Lee dan konco-konconya segera lari tunggang langgang. Claudio Sanchez, mastermind di balik semua konsep CaC, seperti berkata lantang pada penggemarnya:Fuck you, kami lebih patuh pada sabda George Lucas daripada pujianmu”.

Maka lahirlah sebuah album yang ditetak dengan logika penceritaan Lucas. Year of the Black Rainbow sejajar dengan trilogi prequel Star Wars yang digurat oleh George Lucas. Baik Claudio maupun Lucas sepakat bahwa prequel tak selama selalu lebih proto dari lakon utama. Maka, jika Lucas memperkenalkan lightsaber yang lebih menyala serta yoda yang selincah guru salah satu tokoh Saint Seiya, Claudio menerjemahkan logika Lucas tersebut dalam sebuah album dengan sound yang terdengar modern alih-alih retro. Year of the Black Rainbow lebih mirip sebuah lompatan sound dari allussion musik 70-80an menuju sebuah saga musikal abad 21.

Ini inti masalahnya: Year of the Black Rainbowterdengar saudara tiri dari semua album CaC. Sejatinya, album ini tak jauh beda hanya saja bungkusnya lian dari yang lain. Walaupun anda tidak akan berdosa sedikitpun jika mengatakan ada beberapa elemen baru dalam album ini. "Guns of Summer" misalnya, menawarkan riffing kompleks dan drumming rumit yang tak pernah terdengar di album CaC lainnya. Komposisi ini seakan lahir kelatahan kronis Chriss Pennie bermain komposisi yang mathy walaupun, well, hasilnya lebih nyerempet Battles daripada The Dillinger Escape Plan, orkes lawasnya. Entahlah, apakah Chriss juga yang bertanggung jawab dibalik masuknya porsi bebunyian elektronik yang lebih besar [Jangan lupa ia masih bercokol di DEP pada masa Miss Machine] hingga album ini terdengar lebih "futuristik". Bisa jadi, ini adalah sublimasi alter ego Claudio yang lebih elektronik, "The Freedom Prize Fighter", yang tiba mencuat. Detil-detil inilah yang saya, dengan rendah hati sembari nekad, sandingkan dengan lightsaber yang lebih sakti, tata aksi yang lebih detil dan Master Yoda yang, yahh, lebih hijau dalam Trilogi Prekuel Star wars.

Hanya saja, sejatinya deep down inside, Year of the Black Rainbow adalah sekumpulan reprise dan rekoleksi dari kesuluruhan Saga musikal, The Amory Wars. Album ini terdengar jauh lebih pop dari ending kembar, Good Apollo I’m Burning Star. Claudio dkk seakan bertolak kembali ke dasar karir mereka ketika mereka lebih mirip Brand New ketimbang Rush apalagi Iron Maiden [Hey, mereka mengcover The Trooper!]. Silahkan dengarkan "Far" yang sepintas mirip "Blood Red Summer", atau "When Skeletons Live" yang menyulap suara Claudio menjadi lebih segar. Sementara, "Pearls of the Stars" yang sejenak terdengar hendak menjungkalkan Smashing Pumpkins’ Disarm, meneruskan  benang merah ballad yang dimulai "Light and the Glass", "Wake up", lalu "Mother Superior". Maka, jelaslah sudah bahwa Year of the Black Rainbow tak berbeda dengan dengan karya CaC lainnya, layaknya attack of the clones sebanding dengan Return of the Jedi.

Tidak percaya? Putar sendiri albumnya. Saya tidak bertanggung jawab atas adiksi yang akan muncul. May the force be with you! [Inerciatic  Manneken]

posted: May '10.

The FLOWERS - Still Alive & Well CD

(DEMAJORS, 2010)

 

Tracklist:

1. On N On
2. ABCD Tokay
3. Lonely Boy
4. Kadal Pemburu
5. BH (Broken Home)
6. Rajawali
7. Negeri Berteriak
8. Aku Padamu
9. Kau Bukan Tuhan
10. RRI (Raja Rimba Indonesia)
 

Tak perlu lah mengklaim bagaimana genre musik itu seharusnya, bila akhirnya terjebak pada cita rasa yang konservatif, juga tentunya sensitif. Melakukan progres bukan berarti hilang dari esensi. Itulah mengapa para pengadopsi kultur musik di negri ini banyak yang membosankan. Karena hanya bisa mengekor. Perlu nyali untuk mendobrak batas, walau juga banyak diantaranya yang gagal.

Pada kasus ini, khususnya rock n roll, The Flowers berhasil melewati fase tersebut. Setelah 'bermeditasi' (baca: vakum) 14 tahun lamanya, bunga rock itu tetap tumbuh dengan dua mahkota asli yang masih merekah. Album “Still Alive & Well” adalah pembuktian kalau The Flowers masih ada dan baik-baik saja. Dan Anda, sudah siap untuk ber-rock n roll ria?

Penempatan lagu "On N On" di urutan pertama adalah pilihan yang tepat. Dengan tempo yang upbeat serasa mengundang Anda kembali untuk berhura-hura. Bila ingin menambahkan sesuatu dengan yang 'lain', cukup lakukan secara masing-masing.

Yang terasa segar dari musik rock yang kian usang adalah penambahan instrumen saxophone di tubuh The Flowers. Kehadirannya pun bukan sekedar pelengkap belaka, justru menambah kaya dan mewah aransemennya. Bahkan hambar apabila ditinggalkan. Saxophonist Eugen berhasil menjadi partner Boris sang gitaris yang meliuk-liuk meski ia menggunakan alat tiup.

Siraman rock & roll dengan oplosan blues & soul melumuri di setiap lagunya. Bahkan ada sedikit plesetan dangdut di "Kau Bukan Tuhan". Ramuan nge-funk juga terasa pada single pertama "Rajawali". Dan hey! Ternyata isi lagu tersebut tentang kumpulan orang yang ingin mabuk dengan pembagian minuman secara merata. Howly shit! Pada akhirnya, judul lagu "Rajawali" dinobatkan sebagai sebutan fans The Flowers untuk yang pria dan "Rajawati" untuk yang wanita. Funny sound, eh?!

Bagi musisi yang merasa dirinya adalah publik figur (ehm!), tentu lebih berhati-hati lagi dalam mengutarakan pesan untuk pendengarnya. Namun pola pikir semacam itu sepertinya tak berlaku bagi The Flowers. Ini membuktikan kalau mereka ingin berkarya jujur dan apa adanya. Simak lagu seperti "ABCD Tokai". Anda ngerti kan konotasi Tokai itu apa? Dari judulnya saja sudah terkesan blak-blakan. Namun vokalis Njet bersi kukuh meneriakan statement-nya: “Apapun cerita kita aku tetap bertahan/ Cuma memang harus punya kemauan keras/ dan tidak lupa kemaluan yang keras.”

Selain cerita cinta & kisah hidup yang ngga karuan, mereka juga berkomentar atas bobroknya sistem negeri ini di "RRI (Raja Rimba Indonesia)" atau isu teroris di "Negri Berteriak". Tapi begitulah rock n roll terlahir dengan mental yang melawan arus. Kultur kenakalan seolah sudah menjadi nilai luhur. Tak seperti kebanyakan rocker hari ini yang ingin bermain aman, bersikap sopan, apalagi ketimuran.

Komitmennya pun, The Flowers memproduksi album keduanya ini secara independen. Namun Anda juga perlu tau –mengutip pandangan dari majalah musik dunia–, di dunia ini justru banyak artis rock yang kreatif tetap berpegang pada indie label dengan membuat musik cerdas dan cita rasa tinggi bagi segmen tersendiri.

Hanya sayang, artistik sampulnya tak semenggoda seperti musiknya. Kolase vintage pada halaman booklet pun masih tak nyaman dilihat. Bila suatu saat album ini dirilis ulang, mungkin bagian kover perlu di-revisi.

Tapi, bagi Anda yang masih mencari/menginginkan musisi-musisi rock yang jujur, maka, petiklah The Flowers.

posted: April '10.

NUDIST ISLAND - For All the Best EP CD

(HEAVEN Records, 2010)

 

Tracklist:

1. Intro
2. When I Never Reply Your Message Anymore
3. This Is Reality
4. Tentangnya
5. Nenna
6. Kan Terkenang
7. For All the Best

Absen 5 tahun dari debutnya “Can't Sleep” (2005), Nudist Island (NI) kembali membuktikan kredibilitasnya sebagai ben pop-punk. Yup. Kenapa saya memakai kata kredibel, ini mengingat genre tersebut kian abu-abu, bahkan cenderung nge-pop agar lebih "nge-jual". Lantas, dengan santainya mengatasnamakan punk hanya sekedar estetika? Surely, we don’t need that!

 “For All the Best” masih tergolong EP (baca: mini album) yang berisi 6 lagu + intro. Padahal, jika menambah 1 lagu atau durasi beberapa menit lagi, rilisan HEAVEN Records ini sudah masuk kategori album. Memang terkesan nanggung, mengingat artwork & packaging-nya digarap secara profesional.

Empat lagu berbahasa Inggris dan sisanya berbahasa lokal, semuanya curahan seputar cinta dan persoalan personal yang klise tipikal dari genre sejenis. Hal ini tak hanya terjadi pada ben lokal saja tapi around the world. Pada akhir 2009, NI berkesempatan sebagai salah satu pembuka konser MxPx All Stars di Bandung yang hanya terjadi di tiga negara Asia. Beruntungnya lagi, NI sempat ber-jam session dengan Mike Herrera (MxPx) dan Kris Roe (The ATARIS) saat mengcover "KKK Took My Baby Away"-nya RAMONES. Pengalaman yang membanggakan tentunya, mengingat ben internasional tersebut adalah pengaruh besar bagi musikalitas NI.

Materi anyar NI mengindikasikan kalau mereka memiliki refrensi yang luas. Aransemen NI cukup cerdas bagaimana mengemas seluruh lagunya terdengar catchy tanpa terkesan poppy. Permainan gitar dengan kord-kord miring dan back-up kunci-kunci di fret tinggi memberikan bumbu-bumbu melodius dan manis. Beberapa nuansa teracik apik, seperti unsur ska di lagu 'This Is Reality'.

Namun, entah perasaan kuping saya, warna soundnya serasa tipikal ben-ben punk/hardcore Jakarta (dan sekitarnya) yang rekaman di Studio K. Sedang gaya bernyanyi si vokalis pada lagu 'Tentangnya' mengingatkan saya dengan Rocket Rockers, yang sama-sama dari Bandung. Dan, vokalis dari ben tersebut juga berkontribusi mengisi synthesizer di album ini, tanpa harus terjebak seperti tipikal ben synth-pop/punk yang lagi trendi.

Sebagai ben yang sudah berpengalaman pada jalurnya, ben yang terbentuk sejak '97 ini masih belum memberikan progress yang signifikan bila tak ingin dianggap generic. Kalau pun di setiap lagunya penuh variasi, namun bukan itu yang dimaksud. Dan sepertinya, NI sedang melangkah ke sana. Yang jelas, sejauh ini, “For All the Best” sudah memberi semuanya yang terbaik.

posted: April '10.

SANGKAKALA - Macanista EP MP3

(YES NO WAVE MUSIC, 2010)

 

Tracklist:

1. Into the Row (Intro)
2. Rock Live at Roller Coaster
3. Gang Bang Glam Rock
4. Hotel Berhala
5. Tong Setan
6. Tong Setan (Karaoke version)

Inisiatif bagus bagi Yes No Wave yang merampung-kan materi-materi ben dari komunitas underrated walau dalam versi live. Mengingat banyak ben daerah yang seharusnya perlu diekspos walau bermodalkan semangat. Terlebih lagi, banyak khasanah musik yang justru kami dapati bukan berasal dari kota yang dianggap sentral permusikan Indonesia.

Sangkakala adalah kumpulan mahasiswa seni rupa Bantul yang cukup eksis berkeliaran di gigs musik Jogjakarta. Materi live ini direkam sewaktu mereka beraksi pada event "Jogja Biennale X". Meski direkam menggunakan sistem track namun hasil sound tak jauh beda dengan sound panggung acara 17-an.

Entah sebelumnya mereka telah merilis suatu rekaman atau belum, namun crowds sepertinya cukup familiar dengan materi-materi yang Sangkakala mainkan. Pada beberapa part lagu, terdengar crowds asyik ber-singalong.

Mungkin maksud hati ben ini ingin seperti grup power metal/glam rock pada umumnya. Namun ketukan dram dan mentalnya yang nge-punk membuat ben ini terdengar berbeda jalur. Melodi gitar yang sudah berbelit-belit belum bisa dijadikan modal utama genre yang dimaksud. Bahkan jeritan vokal yang (ingin) melengking ala vokalis hair-rock masih terkesan maksa. Sang vokalis bisa saja berpledoi dalam syair "Rock Live at Roller Coaster": “Tak perlu teknik teriakan vocal yang unggul/ Coba pecahkan sunyinya dunia.” Namun pada beberapa sektor, ben ini masih perlu pembenahan –walau untuk persiapan manggung – agar semakin mencakar-cakar.

Ada 4 lagu (plus intro) yang berhasil direkam dan layak dengar, termasuk sebuah cover "Hotel Berhala"-nya ben punk rock Jogjakarta, LAGA BARA dengan aransemen rock Sangkakala. Yang cukup menggelitik adalah, lagu pamungkas "Tong Setan" juga dihadirkan dalam versi Karaoke, hehehe.

Atmosfir panggung yang penuh celetukan, guyonan Jawa, atau sekedar sambutan vokalis secara tak sadar membuat saya mendadak tertawa geli namun penasaran. Bahkan, berdasarkan info dari press releases, pertunjukan Sangkala ini seperti fashion show lengkap dengan pesta kembang apinya. Wah, alangkah menariknya lagi bila materi live Sangkakala ini juga tersedia format video atau YouTube. "Demi tuhan! Hentikan acara ini...!" / "Demi tuhan! Hentikan acara ini...!" Hehehe.

posted: Februari '10.

TIKA & The DISSIDENTS - The Headless Songstress CD

(The HEAD Records, 2009)

 

Tracklist:

1. Tantang Tirani
2. Polpot
3. Venus Envy
4. 20 Hours

5. Uh Ah Lelah

6. Red Red Carbaret

7. Oi Dirty Bastard
8. Infidel Castratie
9. Waltz Muram
10. Tentang Petang

11. Mayday

12. Clausnophobia

Kartika Jahja aka TIKA selama ini lebih dikenal sebagai biduan jazz. Bila (sekarang) persepsi tersebut tetap tak bergeser, mungkin Anda akan terkecoh kala menyimak album keduanya, "The Headless Strongstress". Memang, agak rumit menempatkan musikal Tika pada suatu liang genre. Tapi, lupakan sajalah namanya pelabelan bila itu membuat sempit ruang gerak eksplorasi.

Sikap musisi yang jujur memang berlaku sesuai nature-nya tanpa terpaku standar pakem, apalagi memikirkan bagaimana bisa diterima 'pasar'. Harusnya baik/buruk suatu jenis musik biarlah selera yang menentukan, bukan bentukan industri musik beserta sekutu-sekutu medianya. Pada album yang memiliki 2 produser ini, Tika tetap merilisnya secara independen di bawah bendera sendiri, The HEAD Records.

Hibernasi selama 4 tahun dalam kancah musik, kini Tika – bersama ben pengiringnya yang dibaptis nama The DISSIDENTS – seperti bangun melantunkan mimpi-mimpi-nya, baik yang buruk atau lebih buruk lagi. Tapi materi 12 lagu ini terasa elegan nan eklektik.

Lagu "Tantang Tirani" mengawali dengan nuansa akapela dari paduan vokal sendu Tika sendiri. Gaya bernyanyi Tika yang akrobatik, di album ini lebih lullaby. Ke-eklektisan nada dilanjuti lewat "Polpot" yang membawa unsur mariachi. Bahkan atmosfir marching pada lagu "Mayday" sempat dijadikan theme song Hari Buruh di Amerika tahun lalu. Wow!

Selain musik, yang juga signifikan dalam album ini adalah Tika melanturkan isu-isu bermuatan politis - yang baginya juga dianggap 'seksi'. Mungkin karena kedekatan Tika dengan dunia punk cukup mempengaruhi guratan relung hatinya. Nyaris bertolak dari album sebelumnya yang mengungkapkan kegalauan. Meski tentang cinta tapi tanpa mainstream appeal-nya, tetap saja kurang 'menjual'. Hahaha.

Demi perwujudan sebuah karya, album ini benar-benar menunjukkan konseptual dibanding konsep dagang. Tak hanya materi lagu saja yang digarap ciamik, kemasan albumnya pun dirancang sedemikian rupa. Keping CD yang diselipkan dalam notebook tebal dengan desain vintage, dibungkus lagi sebuah dengan dompet berbahan kain peca motif bunga dengan tautan emblem sebagai kovernya. Amazing! Tapi, kalau memang mau disebut dompet, nampaknya terlalu besar, kecuali kalau kantongnya seperti model baju kantong monyet.

Atas rasa penghormatan, bukan maksud kami ingin berkelakuan layak media-media yang sok menobatkan ini-itu pada akhir tahun. Namun berdasarkan komposisi, materi, dan aspek-aspek lainnya, kami berani mengklaim bahwa "The Headless Strongstress" adalah album Indonesia terbaik 2009 – meski imej kami belum bisa mempengaruhi orang-orang awam, hehehe.

posted: Desember 09.

V/A WE SPOT YOUR TALENT 2009 CD

(MUSICA / TRINITY OPTIMA Productions, 2009)

 

Tracklist:

1. All Finalist - Jalan Masih Panjang
2. Supernova - Aku Jatuh Cinta
3. Coffe - Ya iya lah
4. Ardo & Delights - Terlambat

5. Inverno - Playboy...

6. MPV - Bila Kau...

7. Display - Tanpa Cinta
8. Cartoon - Cintamu...
9. The Essens - Satu...
10. X'po - Ketika Cinta..

11. Napoleon - Tunggu Telepon

12. Sinar - Kenanglah

Label industrik musik dengan sponsor korporasi rokok sering kali menggelar ajang kompetisi ben. Seakan membuka celah bagi mereka yang berambisi untuk masuk dapur rekaman. Hanya saja, hasil rata-ratanya tak berbeda dengan layar monitor terbaru yang flat. Mungkin, talenta yang dicari hanya untuk produk-produk terbaru dari label-label musik tersebut.

Apa yang sudah disaring dari kompetisi A Mild Live Wanted (AMLW) 2009 yang dilaksanakan di Bandung pada 30 Mei silam, hasilnya tak jauh dari grup/musisi 'pasar' generic. Dalih 'warna tersendiri' atau 'musikal yang segar' mirip seperti penipuan kelas teri. Walau kuping juri lebih ngerti mana-mana materi yang bisa dijual di pasar; kemasan yang easy listening dan tema seputar problema cinta.

Kompilasi "We Spot Your Talent" yang berisi 13 lagu ini, diawali dengan “Jalan Masih Panjang” yang merupakan theme song AMLW 2009. Ke-12 finalis berkolaborasi dalam satu lagu tersebut. Sedang grup yang menjadi tiga besar dalam kompilasi kali ini, adalah: SUPERNOVA, COFEE, dan SINAR. Setidaknya, ukuran font nama mereka di sampul yang lebih besar dari lainnya sudah bisa merepresentasi.

Dengan adanya kompetisi semacam AMLW ini, dampak positifnya perusahaan rekaman mau menjembatani ben-ben asal daerah/kota yang tak terjamah – bila memang begitu niatnya. Dan 12 grup yang terpilih dari ribuan ben audisi, memang tak ada yang berasal dari Jakarta, kecuali MPV dari Tangerang, kota yang berdekatan. Karena tidak menutup kemungkinan kalau potensi mereka mampu meramaikan belantika musik Indonesia, mengingat sentralisme permusikan di negara ini juga begitu kuat.

Namun, metode ini tidaklah pula untuk mencetak musisi-musisi karbitan. Meski dari ajang AMLW telah melahirkan nama-nama seperti d'MASIV pada 2007 dan MAGNETO pada 2008, SUPERNOVA yang menjadi pemenang AMLW 2009 ternyata sudah 3 kali mengikuti kompetisi ini, hanya saja 2 tahun sebelumnya gagal terus. Vokalis Supernova, Andi pun sempat mengenang bagaimana perjuangan mereka mengantarkan demonya ke Musica yang menggunakan transportasi kereta dari kota asalnya Purwokerto. Harunya lagi, sampai di Jakarta mereka sempat ditipu oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Kini, perjuangan mereka telah membuahkan hasil. Sebagai juara AMLW 2009, pihak label akan membuatkan album penuh SUPERNOVA yang rencana rilis awal 2010. Congratulation! 

posted: Desember 09.

BITE - self-titled [EP] CD

(FIRECATZ, 2009)

 

Tracklist:

1. Menulis Lagu Cinta
2. Popular
3. Semua Suka Wanita Cantik
4. Tiba-Tiba Hamil

5. Hey Hey Hey

6. Hanya Trend Semata

Hegemoni industri musik beserta sekutu media-nya seakan menggariskan ketetapan bahwa untuk mendapat pasar yang bagus kemasannya kudu easy listening, catchy, lirik seputar cinta, bla-bla-bla... Di luar itu seperti tak ada yang menjanjikan. Maka, tak heran bila banyak musisi indie/underground beralih ke ranah mainstream untuk meraih kekomersilan.

Terlepas dari apa yang saya paparkan di atas, BITE adalah ben baru namun terdiri dari orang-orang lama dengan latarbelakang musik keras. Ketiga personilnya berasal dari ben post-hardcore/metal FALL, sedangkan vokalisnya (yang satu-satunya wanita) pernah tergabung dalam beberapa ben indie (termasuk metal), a.l.: The UPSTAIRS, GOODNIGHT ELECTRIC, RUMAH SAKIT, STRAIGHTOUT.

Berangkat dari background setipe, Bite bukanlah ben yang membisingkan dan berdistorsi. Entah bermain jujur atau tidak, Bite mengusung genre "twee-pop" (baca; American indie-pop) yang easy listening. Namun gerangan apa yang membuat mereka membangun institusi musik ringan? Kalau gitaris Didi merasa ini sebagai challenge atau secara blak-blak-an vokalis Rebecca menganggap ajang cari duit, rasanya Bite belum jaminan. Seperti orang yang baru belajar main musik, musikal Bite terasa garing dan kurang berbobot. Atau mereka memang bermain bukan sesuai nature-nya?

Meski bermain musik ringan bukan berarti tema mereka juga mengalah ikutan picisan. Setidaknya masih ada esensi dari arti nama ben ini; "gigit". Singgel pertama "Menulis Lagu Cinta" sebenarnya keluhan mereka dalam menulis lagu cinta itu sendiri. Kehidupan mereka di perkotaan metropolitan justru membuatnya kehilangan inspirasi menuangkan apa arti cinta. Kalau dua tahun lalu Efek Rumah Kaca pernah menampar lirik cinta konvensional dengan "Cinta Melulu", Bite juga menyinggung tema cinta dengan angle yang berbeda. Memang sudah seharusnya ben pop hari ini disertai pesan-pesan yang cerdas. Dan ke-enam lagu dalam EP ini memiliki kadar yang sama satirnya. Semua dikemas dalam bahasa Indonesia yang gamblang, kecuali "Hey Hey Hey" yang satu-satunya lirik berbahasa Inggris.

Ada satu lagu, "Semua Suka Wanita Cantik" yang prasangka kami sebagai lagu tandingan. Kalau dalam kultur hip-hop ada istilah 'dis', lagu tersebut seperti kontra atas lagu "Citra Natural"-nya sebuah ben yang ngakunya rock oktan tinggi. Coba simak bagian reff-nya; "Mudah berkata citra natural jika semua terlahir menarik / Hanya ternyata jika kau jujur semua suka wanita cantik". Apa yang disinggung Rebecca sebenarnya logis dan realistis tanpa berlagak sok idealis. Namun di luar itu, lagu ini mengalamatkan para wanita di seluruh dunia yang berusaha tampil cantik secara harfiah.

Sedangkan lagu terakhir, "Hanya Trend Semata" ditujukan untuk kaum remaja yang sekedar mengenakan fashion tapi ngga ngerti apa yang dipakai. Kasarnya mah poser/follower. Tapi saya balik tanya, apa ngga boleh bila anak gelandangan atau pengemis jalanan memakai tshirt Bite - meski mereka sama sekali ngga ngerti Bite? Bagi kami, ngga terlalu masalah dengan generasi labil yang masih proses mencari jati diri. Justru yang riskan itu, 'mereka' yang punya jati diri tapi masih mengikuti trend. Semoga, Bite bukanlah ben yang mengikuti trend semata.

posted: September 09.

V/A KAMIPUN PERCAYA KAU PUN TERBAKAR JUGA - A Tribute to Koil CD/MP3

(BAKAR KOLEKTIF, 2009)

 

Tracklist:

1. The Moms Berdarah - Burung Hantu
2. Midnight Soul - Dosa Ini Tak Akan Berhenti
3. Screaming Factor - Ini Semua Hanyalah Fashion
4. Amazing In Bed - Lagu Hujan

5. Lullaby For Michelle - Pudar

6. Black Stone Boredom - Nyanyikan Lagu Perang

7. Marianna En De Bastard - Karat

8. Monsternaut - Tidak Berarti

9. Aneka Digital Safari - Semoga Kau Sembuh

10. A Slow In Dance - Aku Lupa Aku Luka

11. Psickot - Mendekati Surga

12. M1D1D4T4 - Mendekati Surga

Tak banyak ben lokal –khususnya genre non-mainstream– mendapat upeti berupa album tribut. Terlebih lagi, album ini dipersembahkan oleh fansnya sendiri sebagai ekspresi kecintaan pada Koil. Motif Jaka dan Vidi, sebagai pencetus ide kompilasi terletup begitu saja, we do what we like. Sederhana.

Sejak awal 90-an Koil terbentuk, reputasi dan jati dirinya semakin gagah lewat album fenomenal "Megaloblast" (Apocalypse, 2001). Bahkan versi salah satu majalah franchise lokal, album tersebut masuk jajaran penghargaan "150 Album Indonesia Terbaik". Lagipula ben di Indonesia memang tak banyak (dan juga keren) yang mengusung genre gothic/metal seperti Koil, lengkap dengan style & hal-hal yang sensasional. Introduksi pada buklet cd sebenarnya sudah membeberkan secara gamblang; "Band ini, kalau dipikir, tidak bagus-bagus amat. Band ini, kalau dipikir juga, tidak lebih dari serangkaian sensasi yang celakanya, keren. Band ini, kalau dipikir lebih mendalam, juga banyak bohongnya. Tapi, saya cinta mati sama band ini."

Proses perekrutan ben dalam proyek ini tidak mengadakan seleksi/audisi. Siapa yang berminat, boleh berpatisipasi. Hingga terkumpul 12 ben lokal memberi representasi versi masing-masing ben. Mulai dari rock, metal, hingga industrial. Pendanaan pun digalang secara kolektif dengan etos kerja do it yourself. Meski hasil produksi terlihat belum menggugah hati, namun semangat merealisasikan kompilasi ini saya perlu angkat topi.

Mengingat kata-kata bijak; "seseorang akan mengikuti apa yang dicintainya", begitupun perlakuan sama distribusi album ini yang dibagikan secara cuma-cuma alias gratis, seperti yang dilakukan Koil dengan album terakhirnya "Blacklight Shines On" (Apocalypse, 2007). Kompilasi berformat CDr ini dikopi sangat terbatas, hanya 100 keping. Bagi yang kurang kesempatan mendapat fisiknya, kalian bisa sedot versi MP3nya secara gratis di web resmi apokalip.com dan deathrockstar.info lengkap dengan kover + buklet-nya. Selamat menikmati. Semoga Anda pun terbakar juga!

posted: September 09.

Page: 1 | 2 |