RECOMMENDED
GET The STUFF
DOWNLOAD
STREAMING
BURN-BABY-BURN!
CATEGORIES
RECORD (20)
DVD
READING
Buat band, record, label, kirimkan
rilis-an/produk kalian untuk
kami resensi di sini.
All reviews by Jurnallica
Lantlôs - .NeonCD
(PROPHECY Productions, 2010)
Tracklist:
1. Minusmensch
2. These Nights Were Ours
3. Pulse/Surreal
4. Neige de Mars
5. Coma
6. Neon
Iblis
adalah businessman paling sukses dan Donald Trump [seorang
wirausahawan, pebisnis, pemilik reality show The Apprentice, dll
asal Amerika Serikat-red] adalah pecundang di depannya. Okelah,
Trump sukses menjelma sebagai icon yang disembah oleh maniak
reality show. Namun, tak pernah masuk akal untuk menyejajarkan Iblis
dan Trump dalam satu tingkatan.
Karena di muka iblis, sekali lagi, Trump
hanyalah pecundang kelas teri. Tak ada yang bisa mengimbangi otak
kreatif iblis yang super mega canggih.
Ini
buktinya. Ketika black metal, salah satu produknya mulai terseret masuk
fase self-parody, Iblis segera memutar otak guna membuat black
metal lebih ‘trendy’ dan bersahabat alih-alih kolot, orthodox
atau kadang [terdengar] amatir. Maka, muncul lah sekelompok legiun black
metal yang bersedia membuka diri guna merangkum elemen musik lain
semacam Art Rock [Enslaved, dkk], Post Punk [Livelover, Circle of
Ouroboros], hip-hop [Manes, Kkoagula] dan pastinya musik yang lagi
ngetren sekarang, Post Rock.
Lantlôs
dengan albumnya, ".Neon" adalah inkarnasi nomor sekian dari fusi black
metal dan post rock. ".Neon" mengambil kerangka [depressive]
black metal yang ringan lantas membalutnya dengan kulit mulus dan pesona
serta postur post-rock. Yup, Lantlôs pantas dikotakan [jika memang ini
tendensi manusia] dengan Alcest, Caina, serta Airs. Bedanya, ".Neon"
terdengar sebagai jawaban atas Alcest yang terlalu lembut, Amesoeurs
yang condong ke post punk atau Caina yang gagal menyuguhkan transisi
yang apik dari post rock ke lo-fi inspired black metal passage.
Bagaimanapun, apa yang ditetak Lantlôs bukan suatu yang
groundbreaking atau avantgarde [dalam arti forward
thinking bukan genre blending]. Itulah sebabnya saya bisa
tegas mengelompok Lantlos bersama sejawatnya di atas. Hanya saja, apa
yang terdengar dalam ".Neon" adalah sebuah penyempurnaan jika tidak bisa
disebut sebuah kompromi musikal yang manis.
Lantlôs juga menjajakan black metal yang
mengalun beriringan dengan post rock/shoegaze. Cetak biru musik Lantlôs
yang ideal ditemukan dalam ‘Pulse/Surreal’. Komposisi membariskan
riff post yang mengepung lembut, vokal harsh black metal yang
tidak istimewa namun decent, jazzy bass line yang staccato
serta clean vocal yang memendarkan pesona [clean] vokal
Anathema, Maudlin of The Well atau Between The Buried And Me. Seperti
yang saya katakan, tak ada yang baru kecuali transisi yang tidak
dipaksakan dari tiap-tiap elemennya yang membuat album ini bernyawa.
Transisi inilah yang ".Neon" menjelma menjadi album multi ruang yang
membaur bukan menyekat.
Inilah option segar yang disodorkan
pada kita karena iblis tahu bahwa pembakaran gereja dan NSBM (National
Socialist Black Metal) terlalu segmented dan kontekstual. Inilah
corong pesan iblis alternatif sejak ‘Melodic Black Metal’ makin mirip
kondom sekali pakai dan ‘Depressive Black Metal’ makin kacangan [Hold
on! I don’t mean Shining here]. Inilah album yang membuat black
metal berterima di kalangan hipster penggemar post rock atau emotive
prog rock fan dan menukar pencitraan usang black metal dengan
citra baru yang lebih, ya katakan saja, popish.
Ajektiva popish mungkin haram
digandengkan dengan black metal. Sayangnya, tabu ini sudah dibongkar
dalam ".Neon". Seperti zat adiktif yang dibungkus serupa permen, black
metal pun bisa terdengar positif. Bukankah ".Neon" adalah artefak
pembuktian bahwa iblis tak hanya kreatif namun juga pandainya dalam
memasarkan produknya?
Jadi,
kapan kita ke pesugihan untuk mencari inovasi bisnis paling bernas kawan?
[Inerciatic Manneken]
NB:Review ini hanya berfungsi optimal saat anda berbaik
hati mengamini bahwa semua yang berbau iblis dalam Black Metal bukanlah
gimmick belaka.
posted: July'10.
Bonita - ...laju CD
(RUMAHBONITA/DEMAJORS, 2010)
Tracklist:
1. Rumahku
2. Komidi Putar
3. Telur
4. Pengulangan
5. Dendangku
6. Bangun
7. Hari Ini
8. Pena
9. Mellow
10. Ari
11. Tinggal
12.
Kelana Bersama
13. You
Cheer Me Up
14. It's
Over Now
15. Reprise
16. Jatuh
Cinta
Tahun
lalu, seorang biduanita bernama Tika berhasil membuat saya jatuh hati.
Dan tahun ini (2010), rasa
itu telah tergantikan oleh Bonita
–tentu itu semua karena keindahan suaranya. Namun, entah mengapa, setiap
mendapati/menyimak penyanyi wanita (khususnya di Indonesia), saya
selalu terngiang dengan statement sarkas Tika dalam interviewnya di web
ini, kalau: "modal bokong ama bacot doang, jangan ngaku musisi
lah...!" Untungnya, puji tuhan, Bonita memiliki pita suara yang prima
serta bokong yang sekal. Upss!!!
"...laju"
adalah langkah baru Bonita setelah 7 tahun vakum dari dunia musik.
Tapi, berhubung saya tidak tahu Bonita 7
tahun lalu seperti apa, maka saya pun hanya 'melucuti' apa yang ada di album
keduanya. Dari komposisi materinya cukup mengindikasikan kalau pelaku musiknya
adalah orang-orang yang berefrensi. Maksudnya, Bonita beserta ben
pengiringanya sudah menjilati asam-garam. Maksudnya lagi, mereka bukan anak kemarin sore dalam
bermusik.
Begitu maksudnya, you dummy!
Boleh
jadi saya
bukanlah pribadi yang tepat untuk mengartikulasikan album Bonita yang
lembut jadi terkesan kasar. Mungkin saya perlu belajar pada Denny Sakrie
yang sensitif
bagaimana estetika meresensi sebuah album pop-folk yang menarik. Namun, Anda
juga jangan salah kira, dibalik merdunya alunan musik Bonita, pun tergurat
bait-bait satir dalam sleeve kovernya yang berwarna dominan
hijau toska dan merah muda.
Ketika Bonita
bersenandung
–di bait awal lagu pertama–, “di rumahku/ sangkar indah yang nyaman/ tempatku beristirahat”,
semacam ikhtisar album ini sebelum Anda jauh memasuki jurnal 16 lagunya.
Pop dalam lanskap folk memang terasa lebih sejuk dan tenang. Selain petikan akustik gitar yang
bening, instrumen tradisional seperti djembe, akordian hingga guzheng (alat
musik etnik Cina) menjadi alat mereka menenun
irama.
Sebelumnya, single "Komidi Putar"
pernah mengisi soundtrack film "Sang Pemimpi"
yang bernuansa folk-Perancis lewat permainan akordian yang kental. Lagu-lagu Bonita
lebih seperti alunan penghantar tidur (lullaby songs)atau cocok
untuk dubing suatu acara bertema pemandangan alam.
Menuju deretan
lagu-lagu akhir, kami terhangatkan oleh gaya vokal soul Bonita di
"You Cheer Me Up", sebelum akustik lullaby (kembali) menutup
album ini dengan segala kenangannya, “ku telah jatuh cinta pada hidupku/ walau banyak penghalang/ ku 'kan
terus melaju”.
Kalaupun Bonita tak merilis rekaman lagi di kemudian hari
–karena kita
tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti–,
"...laju" sudah cukup membuat reputasi Bonita sebagai salah satu
biduanita pop-folk terbaik anak negri.
Lagi-lagi
yang membuat miris, kenapa saya harus menemukan musisi-musisi seperti ini
pada 'mereka' yang berkutat
di jalur indie. Label-label major semakin tidak bisa diharapkan,
terkecuali bila Bonita-nya yang ingin berdikari. Dunia pop bukan berarti
dihuni mahluk menye-menye yang seperti menghantui di tv-tv hari
ini. Atau, apa karena owners label-label major di
negara ini matanya kurang melek? Padahal, secara musikal Bonita sudah
easy-listening, lirik-liriknya tentang
hidup & cinta
–meski terangkai puitis –,
plus bokong yang sekal pula. [Eits! Maaf, bila ada pengulangan-red].
Jelas, bahasa industri tak perduli
bagus-buruknya suatu lagu/karya. Yang penting laris. Tak perlu
memper-masalahkan bila tidak ingin dianggap masalah. Tapi, tidak-kah
menyedihkan ketika selera sebagai fitrah manusia harus terbentuk oleh pasar?
Ok, rasanya saya sudah mulai menggerutu. Jadi teringat observasi seorang
produser lokal terhadap selera
dominan, kalau di Indonesia ini ternyata
sound-sound butek itu
yang laku. Nggak ada gunanya buat yang bagus-bagus kalau ngga laku.
So, bukankah ini membuktikan kalau bangsa yang bobrok ini memang mayoritas selera musiknya
JELEK.
[Zim-Zum]
posted: June'10.
COHEED AND CAMBRIA - Year of the Black Rainbow CD
(COLUMBIA/ROADRUNNER, 2010)
Tracklist:
1. One
2. The Broken
3. Guns of Summer
4. Here We Are Juggernaut
5. Far
6. This Shattered Symphony
7. World of Lines
8. Made Out of Nothing (All That I Am)
9. Pearl of the Stars
10. In the Flame of Error
11. When Skeletons Live
12. The Black Rainbow
Jika (dan
hanya jika)
Anda penggemar Star
Wars
atau fan sejati Coheed
and
Cambria
(CaC),
maka “Year
of
the
Black Rainbow”,
rilisan tergress Claudio Sanchez dkk, akan bisa dinikmati dengan mudah.
Tak susah untuk menggelari “Year
of
the
Black Rainbow”
sebagai rilisan yang hit or miss. Setelah dua seri pemuncak saga
The Amory Wars [Good Apollo I’m
Burning Star I dan II], “Year
of
the
Black Rainbow”
seperti mengkhianati nuansa retro-prog ataupun proto-metal
yang kental di dua pendahulunya. Kontan, siapapun yang mengira
CaC
adalah avatar selanjutnya dari Giddy Lee dan konco-konconya segera lari
tunggang langgang. Claudio Sanchez, mastermind di balik semua
konsep
CaC,
seperti berkata lantang pada penggemarnya:
“Fuck you, kami lebih patuh pada sabda George Lucas daripada
pujianmu”.
Maka lahirlah sebuah album yang ditetak dengan logika penceritaan Lucas.
“Year
of
the
Black Rainbow”
sejajar dengan trilogi prequel Star Wars yang digurat oleh George
Lucas. Baik Claudio maupun Lucas sepakat bahwa prequel tak selama
selalu lebih proto dari lakon utama. Maka, jika Lucas memperkenalkan
lightsaber yang lebih menyala serta yoda yang selincah guru salah
satu tokoh Saint Seiya, Claudio menerjemahkan logika Lucas
tersebut dalam sebuah album dengan sound yang terdengar modern alih-alih
retro. “Year
of
the
Black Rainbow”
lebih mirip sebuah lompatan sound dari allussion musik 70-80an
menuju sebuah saga musikal abad 21.
Ini inti masalahnya: “Year
of
the
Black Rainbow”
terdengar saudara tiri dari semua album CaC.
Sejatinya, album ini tak jauh beda hanya saja bungkusnya lian dari yang
lain. Walaupun anda tidak akan berdosa sedikitpun jika mengatakan ada
beberapa elemen baru dalam album ini. "Guns
of
Summer"
misalnya,
menawarkan riffing kompleks dan drumming rumit yang tak
pernah terdengar di album
CaC
lainnya. Komposisi ini seakan lahir kelatahan kronis Chriss Pennie
bermain komposisi yang mathy walaupun, well, hasilnya
lebih nyerempet Battles daripada The Dillinger Escape Plan, orkes
lawasnya. Entahlah, apakah Chriss juga yang bertanggung jawab dibalik
masuknya porsi bebunyian elektronik yang lebih besar [Jangan lupa ia
masih bercokol di DEP pada masa “Miss
Machine”]
hingga album ini terdengar lebih "futuristik".
Bisa jadi, ini adalah sublimasi alter ego Claudio yang lebih elektronik,
"The
Freedom Prize Fighter",
yang tiba mencuat. Detil-detil inilah yang saya, dengan rendah hati
sembari nekad, sandingkan dengan lightsaber yang lebih sakti,
tata aksi yang lebih detil dan Master Yoda yang, yahh, lebih hijau dalam
Trilogi Prekuel Star wars.
Hanya saja, sejatinya deep down inside, “Year
of
the
Black Rainbow”
adalah sekumpulan reprise dan rekoleksi dari kesuluruhan Saga
musikal, The Amory Wars. Album ini terdengar jauh lebih pop dari
ending kembar, “Good
Apollo I’m
Burning Star”.
Claudio dkk seakan bertolak kembali ke dasar karir mereka ketika mereka
lebih mirip Brand New ketimbang Rush apalagi Iron Maiden [Hey, mereka
mengcover The Trooper!]. Silahkan dengarkan "Far"
yang sepintas mirip "Blood
Red Summer",
atau "When
Skeletons Live"
yang menyulap suara Claudio menjadi lebih segar. Sementara, "Pearls
of
the
Stars"yang sejenak terdengar hendak menjungkalkan Smashing
Pumpkins’
Disarm, meneruskan benang merah ballad yang dimulai "Light
and the
Glass",
"Wake
up",
lalu "Mother
Superior".
Maka, jelaslah sudah bahwa “Year
of
the
Black Rainbow”
tak berbeda dengan dengan karya
CaC
lainnya, layaknya attack of the clones sebanding dengan Return
of
the
Jedi.
Tidak percaya? Putar sendiri albumnya. Saya tidak bertanggung jawab atas
adiksi yang akan muncul. May the force be with you!
[Inerciatic Manneken]
posted: May'10.
The FLOWERS - Still Alive & Well CD
(DEMAJORS, 2010)
Tracklist:
1.
On N On
2. ABCD Tokay
3. Lonely Boy
4. Kadal Pemburu
5. BH (Broken Home)
6. Rajawali
7. Negeri Berteriak
8. Aku Padamu
9. Kau Bukan Tuhan
10. RRI (Raja Rimba Indonesia)
Tak
perlu lah mengklaim bagaimana genre musik itu seharusnya, bila akhirnya
terjebak pada cita rasa yang konservatif, juga tentunya sensitif.
Melakukan progres bukan berarti hilang dari esensi. Itulah mengapa para
pengadopsi kultur musik di negri ini banyak yang membosankan. Karena
hanya bisa mengekor. Perlu
nyali untuk mendobrak batas, walau juga banyak diantaranya yang gagal.
Pada
kasus ini, khususnya rock n roll, The Flowers berhasil melewati fase
tersebut. Setelah 'bermeditasi' (baca: vakum) 14 tahun lamanya, bunga
rock itu tetap tumbuh dengan dua mahkota asli yang masih merekah. Album
“Still Alive & Well” adalah pembuktian kalau The Flowers masih ada dan
baik-baik saja. Dan Anda, sudah siap untuk ber-rock n roll ria?
Penempatan lagu "On N On" di urutan pertama adalah pilihan yang
tepat. Dengan tempo yang upbeat serasa mengundang Anda kembali
untuk berhura-hura. Bila ingin menambahkan sesuatu dengan yang 'lain',
cukup lakukan secara masing-masing.
Yang
terasa segar dari musik rock yang kian usang adalah penambahan instrumen
saxophone di tubuh The Flowers. Kehadirannya pun bukan sekedar pelengkap
belaka, justru menambah kaya dan mewah aransemennya. Bahkan hambar
apabila ditinggalkan. Saxophonist Eugen berhasil menjadi
partner Boris sang gitaris yang meliuk-liuk meski ia menggunakan
alat tiup.
Siraman rock & roll dengan oplosan blues & soul melumuri di setiap lagunya.
Bahkan ada sedikit plesetan dangdut di "Kau Bukan Tuhan". Ramuan
nge-funk juga terasa pada single pertama "Rajawali". Dan
hey! Ternyata isi lagu tersebut tentang kumpulan orang yang ingin
mabuk dengan pembagian minuman secara merata. Howly shit! Pada
akhirnya, judul lagu "Rajawali" dinobatkan sebagai sebutan
fans The Flowers untuk yang pria dan "Rajawati" untuk yang
wanita. Funny sound, eh?!
Bagi
musisi yang merasa dirinya adalah publik figur (ehm!), tentu lebih berhati-hati
lagi
dalam mengutarakan pesan untuk pendengarnya. Namun pola pikir semacam
itu sepertinya tak berlaku bagi The Flowers. Ini membuktikan kalau mereka ingin
berkarya jujur dan apa adanya. Simak lagu seperti "ABCD Tokai".
Anda ngerti kan konotasi Tokai itu apa? Dari judulnya saja sudah
terkesan blak-blakan. Namun vokalis Njet bersi kukuh meneriakan
statement-nya: “Apapun cerita kita aku tetap bertahan/ Cuma
memang harus punya kemauan keras/ dan tidak lupa kemaluan yang keras.”
Selain cerita cinta & kisah hidup yang ngga karuan, mereka juga
berkomentar atas bobroknya sistem negeri ini di "RRI (Raja Rimba Indonesia)"
atau isu teroris di "Negri Berteriak". Tapi begitulah rock n roll
terlahir dengan mental yang melawan arus. Kultur kenakalan seolah sudah menjadi
nilai luhur. Tak seperti kebanyakan rocker hari ini yang ingin
bermain aman, bersikap sopan, apalagi ketimuran.
Komitmennya pun, The Flowers memproduksi album keduanya ini secara
independen. Namun Anda juga perlu tau –mengutip pandangan dari majalah
musik dunia–, di dunia ini justru banyak artis rock yang kreatif tetap
berpegang pada indie label dengan membuat musik cerdas dan cita
rasa tinggi bagi segmen tersendiri.
Hanya
sayang, artistik sampulnya tak semenggoda seperti musiknya. Kolase
vintage pada halaman booklet pun masih tak nyaman dilihat. Bila
suatu saat album ini dirilis ulang, mungkin bagian kover perlu di-revisi.
Tapi,
bagi Anda yang masih mencari/menginginkan musisi-musisi rock yang jujur,
maka, petiklah The Flowers.
posted: April'10.
NUDIST ISLAND - For All the Best EP CD
(HEAVEN Records, 2010)
Tracklist:
1. Intro
2. When I Never Reply Your Message Anymore
3. This Is Reality
4. Tentangnya
5. Nenna
6. Kan Terkenang
7. For All the Best
Absen
5 tahun dari debutnya “Can't Sleep” (2005),
Nudist Island (NI) kembali
membuktikan kredibilitasnya sebagai ben pop-punk. Yup. Kenapa saya
memakai kata kredibel, ini mengingat genre tersebut kian abu-abu, bahkan
cenderung nge-pop agar lebih "nge-jual". Lantas, dengan santainya
mengatasnamakan punk hanya sekedar estetika? Surely, we don’t need
that!
“For
All the Best” masih tergolong EP (baca: mini album) yang berisi 6 lagu +
intro. Padahal, jika menambah 1 lagu atau durasi beberapa menit lagi,
rilisan HEAVEN Records ini sudah masuk kategori album. Memang terkesan nanggung,
mengingat artwork & packaging-nya digarap secara profesional.
Empat lagu berbahasa Inggris dan sisanya berbahasa lokal,
semuanya curahan seputar cinta dan persoalan personal yang klise tipikal dari
genre sejenis. Hal ini tak hanya terjadi pada ben lokal saja tapi around the
world. Pada akhir 2009, NI berkesempatan sebagai salah satu pembuka
konser MxPx All Stars di Bandung yang hanya terjadi di tiga negara Asia. Beruntungnya lagi, NI
sempat ber-jam session dengan Mike Herrera (MxPx)
dan Kris Roe (The ATARIS) saat mengcover"KKK Took My Baby
Away"-nya RAMONES. Pengalaman yang membanggakan tentunya,
mengingat ben internasional tersebut adalah pengaruh besar bagi
musikalitas NI.
Materi anyar NI mengindikasikan kalau mereka memiliki refrensi yang luas.
Aransemen NI cukup cerdas bagaimana mengemas seluruh lagunya terdengar
catchy tanpa terkesan poppy. Permainan gitar dengan
kord-kord miring dan back-up
kunci-kunci di fret
tinggi memberikan bumbu-bumbu melodius dan manis. Beberapa nuansa teracik
apik, seperti unsur ska di lagu 'This Is Reality'.
Namun,
entah perasaan kuping saya, warna soundnya serasa tipikal ben-ben
punk/hardcore Jakarta (dan sekitarnya) yang rekaman di Studio K. Sedang
gaya bernyanyi si vokalis pada lagu 'Tentangnya' mengingatkan saya dengan Rocket Rockers, yang sama-sama dari Bandung. Dan, vokalis dari
ben tersebut juga berkontribusi mengisi synthesizer di album ini,
tanpa harus terjebak seperti tipikal ben synth-pop/punk yang lagi trendi.
Sebagai ben yang sudah berpengalaman pada jalurnya, ben yang terbentuk
sejak '97 ini masih belum memberikan progress yang signifikan bila
tak ingin dianggap generic. Kalau pun di setiap lagunya penuh
variasi, namun bukan itu yang dimaksud. Dan
sepertinya,
NI sedang melangkah
ke sana. Yang jelas, sejauh ini,
“For All the Best” sudah
memberi semuanya yang terbaik.
posted: April'10.
SANGKAKALA - Macanista EP MP3
(YES NO WAVE MUSIC, 2010)
Tracklist:
1. Into the Row (Intro)
2. Rock Live at Roller Coaster
3. Gang Bang Glam Rock
4. Hotel Berhala
5. Tong Setan
6. Tong Setan (Karaoke version)
Inisiatif bagus bagi
Yes No Wave yang merampung-kan materi-materi ben dari komunitas
underrated walau dalam versi live. Mengingat banyak ben
daerah yang seharusnya perlu diekspos walau bermodalkan semangat.
Terlebih lagi, banyak khasanah musik yang justru kami dapati bukan
berasal dari kota yang dianggap sentral permusikan Indonesia.
Sangkakala adalah kumpulan mahasiswa seni rupa Bantul yang
cukup eksis berkeliaran di gigs musik Jogjakarta. Materi live
ini direkam sewaktu mereka beraksi pada event "Jogja Biennale X".
Meski direkam menggunakan sistem track namun hasil sound tak jauh
beda dengan sound panggung acara 17-an.
Entah sebelumnya
mereka telah merilis suatu rekaman atau belum, namun crowdssepertinya
cukup familiar
dengan materi-materi yang Sangkakala mainkan. Pada beberapa part lagu,
terdengar crowds asyik
ber-singalong.
Mungkin maksud hati
ben ini ingin seperti grup power metal/glam rock pada umumnya. Namun
ketukan dram dan mentalnya yang nge-punk membuat ben ini terdengar berbeda
jalur. Melodi gitar yang sudah berbelit-belit belum bisa dijadikan modal
utama genre yang dimaksud. Bahkan jeritan vokal yang (ingin) melengking ala vokalis
hair-rock masih terkesan maksa. Sang vokalis bisa saja berpledoi dalam
syair "Rock Live at Roller Coaster": “Tak perlu teknik teriakan
vocal yang unggul/ Coba pecahkan sunyinya dunia.” Namun pada beberapa
sektor, ben ini masih perlu pembenahan –walau untuk persiapan manggung – agar semakin mencakar-cakar.
Ada 4 lagu (plus
intro) yang berhasil direkam dan layak dengar, termasuk sebuah
cover"Hotel Berhala"-nya ben punk rock Jogjakarta,
LAGA BARA dengan aransemen rock Sangkakala. Yang cukup menggelitik
adalah, lagu pamungkas "Tong Setan" juga dihadirkan dalam versi
Karaoke, hehehe.
Atmosfir panggung yang
penuh celetukan, guyonan Jawa, atau sekedar sambutan vokalis secara tak sadar
membuat saya mendadak tertawa geli namun penasaran. Bahkan, berdasarkan
info dari press releases, pertunjukan Sangkala ini seperti
fashion show lengkap dengan pesta kembang apinya. Wah, alangkah
menariknya lagi bila materi live Sangkakala ini juga tersedia
format video atau YouTube. "Demi tuhan! Hentikan acara ini...!" /
"Demi
tuhan! Hentikan acara ini...!" Hehehe.
7.
Oi Dirty Bastard
8. Infidel Castratie
9. Waltz Muram
10. Tentang Petang
11. Mayday
12. Clausnophobia
Kartika Jahja akaTIKA selama ini
lebih dikenal sebagai biduan jazz. Bila (sekarang) persepsi tersebut tetap
tak bergeser,
mungkin Anda akan terkecoh kala menyimak album keduanya, "The Headless Strongstress".
Memang, agak rumit menempatkan musikal Tika pada suatu liang genre. Tapi, lupakan sajalah
namanya pelabelan bila itu membuat sempit ruang gerak eksplorasi.
Sikap musisi yang jujur
memang berlaku sesuai nature-nya tanpa terpaku standar pakem,
apalagi memikirkan bagaimana bisa diterima 'pasar'.
Harusnya baik/buruk suatu jenis musik
biarlah selera yang menentukan, bukan bentukan industri musik beserta
sekutu-sekutu medianya. Pada album yang memiliki 2 produser ini, Tika
tetap merilisnya secara independen di bawah bendera
sendiri, The
HEAD Records.
Hibernasi selama 4
tahun dalam kancah musik, kini Tika – bersama ben pengiringnya yang dibaptis nama
The DISSIDENTS – seperti bangun melantunkan mimpi-mimpi-nya,
baik yang buruk atau lebih buruk lagi. Tapi materi 12 lagu
ini terasa elegan nan eklektik.
Lagu "Tantang
Tirani" mengawali
dengan
nuansa akapela dari paduan vokal sendu Tika sendiri. Gaya bernyanyi Tika
yang akrobatik, di album ini lebih lullaby. Ke-eklektisan nada
dilanjuti lewat "Polpot" yang membawa unsur mariachi.
Bahkan atmosfir marching pada lagu "Mayday" sempat dijadikan theme song Hari Buruh di Amerika tahun
lalu. Wow!
Selain musik, yang
juga signifikan
dalam album ini adalah Tika melanturkan isu-isu bermuatan politis - yang baginya
juga dianggap 'seksi'. Mungkin karena kedekatan Tika dengan
dunia punk cukup mempengaruhi guratan relung hatinya. Nyaris bertolak dari
album sebelumnya yang mengungkapkan kegalauan. Meski tentang cinta tapi tanpamainstream appeal-nya, tetap saja kurang 'menjual'.
Hahaha.
Demi perwujudan sebuah
karya, album ini benar-benar menunjukkan konseptual dibanding konsep
dagang. Tak hanya materi lagu saja
yang digarap ciamik, kemasan albumnya pun dirancang
sedemikian rupa. Keping CD yang diselipkan dalam notebook tebal dengan desain vintage, dibungkus lagi sebuah
dengan dompet berbahan kain peca motif bunga dengan tautan emblem sebagai
kovernya. Amazing! Tapi, kalau memang mau disebut dompet,
nampaknya terlalu besar, kecuali kalau kantongnya seperti model baju kantong monyet.
Atas rasa penghormatan, bukan maksud
kami ingin berkelakuan layak media-media yang sok menobatkan
ini-itu pada akhir tahun. Namun berdasarkan
komposisi, materi, dan aspek-aspek lainnya, kami berani mengklaim bahwa
"The
Headless Strongstress" adalah album Indonesia terbaik 2009
– meski imej kami
belum bisa mempengaruhi orang-orang awam, hehehe.
posted: Desember
09.
V/A WE SPOT YOUR TALENT 2009
CD
(MUSICA / TRINITY OPTIMA Productions, 2009)
Tracklist:
1. All Finalist - Jalan Masih Panjang
2. Supernova - Aku Jatuh Cinta
3. Coffe - Ya iya lah
4. Ardo & Delights - Terlambat
5. Inverno -
Playboy...
6. MPV - Bila Kau...
7.
Display - Tanpa Cinta
8. Cartoon - Cintamu...
9. The Essens - Satu...
10. X'po - Ketika Cinta..
11. Napoleon -
Tunggu Telepon
12. Sinar -
Kenanglah
Label industrik musik
dengan sponsor korporasi rokok sering kali menggelar ajang
kompetisi ben. Seakan membuka celah bagi mereka yang berambisi untuk masuk dapur
rekaman. Hanya saja, hasil rata-ratanya tak berbeda dengan layar monitor
terbaru yang flat. Mungkin, talenta yang dicari hanya untuk produk-produk
terbaru dari label-label musik tersebut.
Apa yang sudah
disaring dari kompetisi A Mild Live Wanted (AMLW) 2009 yang
dilaksanakan di Bandung pada 30 Mei silam, hasilnya tak jauh dari grup/musisi
'pasar' generic. Dalih 'warna
tersendiri' atau 'musikal yang segar' mirip seperti penipuan kelas teri.
Walau kuping juri lebih ngerti mana-mana materi yang bisa dijual di
pasar; kemasan
yang easy listening dan tema seputar problema cinta.
Kompilasi
"We Spot Your
Talent" yang berisi 13
lagu ini, diawali dengan “Jalan Masih Panjang” yang merupakan theme song AMLW 2009.
Ke-12 finalis berkolaborasi dalam satu lagu tersebut. Sedang grup yang menjadi tiga besar dalam kompilasi
kali ini, adalah: SUPERNOVA, COFEE,
dan SINAR. Setidaknya, ukuran font nama mereka di sampul yang lebih besar dari
lainnya sudah bisa
merepresentasi.
Dengan adanya kompetisi semacam AMLW ini,
dampak positifnya perusahaan rekaman mau menjembatani ben-ben
asal daerah/kota
yang tak terjamah –
bila memang begitu niatnya. Dan 12 grup yang
terpilih dari ribuan ben audisi, memang tak ada yang berasal dari Jakarta, kecuali MPV dari Tangerang, kota
yang
berdekatan. Karena tidak menutup kemungkinan kalau potensi mereka mampu meramaikan belantika musik
Indonesia, mengingat sentralisme permusikan di negara ini juga begitu
kuat.
Namun, metode ini
tidaklah pula untuk mencetak musisi-musisi karbitan. Meski dari ajang AMLW
telah melahirkan nama-nama seperti d'MASIV pada 2007 dan MAGNETO pada
2008, SUPERNOVA yang menjadi pemenang AMLW 2009 ternyata sudah 3 kali
mengikuti kompetisi ini, hanya saja 2 tahun sebelumnya gagal terus. Vokalis
Supernova, Andi pun sempat mengenang bagaimana perjuangan mereka
mengantarkan demonya ke Musica yang menggunakan transportasi kereta dari kota
asalnya Purwokerto. Harunya lagi, sampai di Jakarta mereka sempat ditipu oleh pihak yang tak bertanggung
jawab.
Kini,
perjuangan mereka telah membuahkan hasil. Sebagai juara
AMLW 2009,
pihak label akan
membuatkan album penuh SUPERNOVA yang rencana rilis awal 2010. Congratulation!
posted: Desember 09.
BITE - self-titled [EP]
CD
(FIRECATZ, 2009)
Tracklist:
1. Menulis Lagu Cinta
2. Popular
3. Semua Suka Wanita Cantik
4. Tiba-Tiba Hamil
5. Hey Hey Hey
6. Hanya Trend
Semata
Hegemoni
industri musik beserta sekutu media-nya seakan menggariskan ketetapan
bahwa untuk mendapat pasar yang bagus kemasannya kudu easy listening,
catchy, lirik seputar cinta, bla-bla-bla... Di luar itu seperti tak
ada yang menjanjikan. Maka, tak heran bila banyak musisi indie/underground
beralih ke ranah mainstream untuk meraih kekomersilan.
Terlepas
dari apa yang saya paparkan di atas, BITE adalah ben baru namun terdiri
dari orang-orang lama dengan latarbelakang musik keras. Ketiga
personilnya berasal dari ben post-hardcore/metal FALL, sedangkan
vokalisnya (yang satu-satunya wanita) pernah tergabung dalam beberapa
ben indie (termasuk metal), a.l.: The UPSTAIRS, GOODNIGHT ELECTRIC, RUMAH
SAKIT, STRAIGHTOUT.
Berangkat
dari background setipe, Bite bukanlah ben yang membisingkan dan
berdistorsi. Entah bermain jujur atau tidak, Bite
mengusung genre "twee-pop" (baca; American indie-pop) yang
easy listening. Namun gerangan apa yang membuat mereka membangun institusi musik
ringan? Kalau gitaris Didi merasa ini sebagai challenge atau
secara blak-blak-an vokalis Rebecca menganggap ajang cari duit,
rasanya Bite belum jaminan. Seperti orang yang baru belajar main musik,
musikal Bite terasa
garing dan kurang berbobot. Atau mereka memang bermain bukan sesuai nature-nya?
Meski
bermain
musik ringan bukan berarti tema mereka juga mengalah ikutan picisan. Setidaknya masih
ada esensi dari arti nama ben ini; "gigit". Singgel pertama "Menulis
Lagu Cinta" sebenarnya keluhan mereka dalam menulis
lagu cinta itu sendiri. Kehidupan mereka di perkotaan metropolitan
justru membuatnya
kehilangan inspirasi menuangkan apa arti cinta. Kalau dua tahun lalu Efek Rumah Kaca pernah menampar
lirik cinta konvensional dengan "Cinta Melulu", Bite
juga menyinggung tema cinta dengan angle yang berbeda. Memang sudah seharusnya ben
pop hari ini disertai pesan-pesan yang cerdas. Dan ke-enam lagu dalam EP ini memiliki
kadar yang sama satirnya. Semua dikemas dalam bahasa Indonesia yang gamblang,
kecuali "Hey Hey Hey" yang satu-satunya lirik berbahasa Inggris.
Ada satu
lagu, "Semua Suka Wanita Cantik" yang prasangka kami
sebagai lagu tandingan. Kalau dalam kultur hip-hop ada istilah
'dis', lagu tersebut
seperti kontra atas lagu
"Citra Natural"-nya sebuah ben yang ngakunya rock oktan tinggi.
Coba simak bagian reff-nya; "Mudah berkata citra natural jika semua
terlahir menarik / Hanya ternyata jika kau jujur semua suka wanita
cantik". Apa yang disinggung Rebecca sebenarnya logis dan realistis
tanpa berlagak sok idealis. Namun di luar itu, lagu ini
mengalamatkan para wanita di seluruh dunia yang berusaha tampil cantik
secara harfiah.
Sedangkan
lagu terakhir, "Hanya Trend Semata" ditujukan untuk kaum remaja
yang sekedar mengenakan fashion tapi ngga ngerti apa yang dipakai. Kasarnya
mah poser/follower. Tapi saya balik tanya, apa ngga boleh bila anak gelandangan
atau pengemis jalanan memakai tshirt Bite
- meski mereka sama sekali ngga ngerti Bite? Bagi kami, ngga terlalu masalah
dengan
generasi labil yang masih proses mencari jati diri. Justru yang
riskan itu, 'mereka' yang punya jati diri tapi masih mengikuti trend. Semoga, Bite bukanlah ben yang mengikuti
trend semata.
posted: September 09.
V/A
KAMIPUN PERCAYA KAU PUN TERBAKAR JUGA - A Tribute to Koil
CD/MP3
(BAKAR KOLEKTIF, 2009)
Tracklist:
1. The Moms Berdarah - Burung Hantu
2. Midnight Soul - Dosa Ini Tak Akan Berhenti
3. Screaming Factor - Ini Semua Hanyalah Fashion
4. Amazing In Bed - Lagu Hujan
5. Lullaby For
Michelle - Pudar
6. Black Stone
Boredom - Nyanyikan Lagu Perang
7. Marianna En De
Bastard - Karat
8. Monsternaut -
Tidak Berarti
9. Aneka Digital
Safari - Semoga Kau Sembuh
10. A Slow In
Dance - Aku Lupa Aku Luka
11. Psickot -
Mendekati Surga
12. M1D1D4T4 -
Mendekati Surga
Tak banyak ben lokal –khususnya genre non-mainstream– mendapat upeti berupa album
tribut. Terlebih lagi, album ini dipersembahkan oleh fansnya
sendiri sebagai ekspresi kecintaan pada Koil. Motif Jaka dan Vidi, sebagai pencetus ide
kompilasi terletup begitu saja, we do what we like. Sederhana.
Sejak awal 90-an Koil
terbentuk, reputasi dan jati dirinya semakin gagah lewat album fenomenal "Megaloblast"
(Apocalypse, 2001). Bahkan versi salah satu majalah franchise
lokal, album tersebut masuk jajaran penghargaan
"150 Album Indonesia Terbaik". Lagipula ben di Indonesia memang tak banyak (dan juga keren) yang
mengusung genre gothic/metal seperti Koil, lengkap dengan style & hal-hal
yang
sensasional. Introduksi pada buklet cd sebenarnya sudah membeberkan secara gamblang;
"Band ini, kalau
dipikir, tidak bagus-bagus amat. Band ini, kalau dipikir juga, tidak
lebih dari serangkaian sensasi yang celakanya, keren. Band ini, kalau
dipikir lebih mendalam, juga banyak bohongnya. Tapi, saya cinta mati
sama band ini."
Proses perekrutan ben
dalam
proyek ini tidak mengadakan seleksi/audisi. Siapa yang berminat,
boleh berpatisipasi. Hingga terkumpul 12 ben lokal memberi representasi
versi masing-masing ben. Mulai dari rock, metal, hingga industrial. Pendanaan pun
digalang secara
kolektif dengan etos kerja do it yourself. Meski hasil produksi terlihat
belum menggugah hati, namun semangat merealisasikan kompilasi ini saya
perlu
angkat topi.
Mengingat kata-kata
bijak; "seseorang akan mengikuti apa yang dicintainya", begitupun
perlakuan sama distribusi album ini yang dibagikan secara cuma-cuma
alias gratis, seperti yang dilakukan Koil dengan album terakhirnya "Blacklight
Shines On" (Apocalypse, 2007). Kompilasi berformat CDr ini dikopi sangat
terbatas, hanya 100 keping. Bagi yang kurang kesempatan mendapat fisiknya,
kalian bisa sedot versi MP3nya secara gratis di web resmi
apokalip.com dan
deathrockstar.info
lengkap dengan kover + buklet-nya. Selamat menikmati. Semoga Anda pun terbakar juga!