RECOMMENDED
GET The STUFF
DOWNLOAD
STREAMING
BURN-BABY-BURN!
CATEGORIES
RECORD (21)
DVD
READING
Buat band/record/label kirimkan
rilisan/ produk kalian untuk
kami resensi di sini.
GHAUST/ASEETHE - split CD
(CACTUS Records, 2010)
Tracklist:
1.
Return Fire (Ghaust)
2.
Akasia RMX (Ghaust)
3.
The Armada (Aseethe)
Saya
adalah Two-Face di hadapan 2-way split Ghaust dan Aseethe. Pernah
berpikir kenapa Two-Face –salah satu musuh bebuyutan Batman– terobsesi
koin?
Well,
koin memiliki dua muka yang hampir tak pernah sama. Maka ketika koin
membumbung ke udara, 50% niat jahat sudah terjustifikasi, 50% muka koin
yang terbakar muncul dan 50% adalah mendekati kepastian. In my case,
saat saya memutar album maka setengah kepastian sudah terhampar! Kenapa?
Karena saya tahu Ghaust, muka koin favorit saya, dan Aseethe adalah
sebuah terra incognita.
Split dibuka oleh Ghaust (Indonesia) yang kembali
menawarkan post metal penuh liku. Dalam lebih dari 7 menit, Ghaust
mengajak kembali pada core musik Ghaust yang saya sukai: post
metal penuh variasi. 'Return Fire', track pertama sumbangan
Ghaust dalam split ini, mengingatkan saya pada track lama mereka,
'Torchlight'. Ah, lagu itu dimulai dengan drumming pelan, lantas
berevolusi melewati momen post rock, lantas memetal serta sempat
menyuguhkan melodi yang terdengar lokal [baca: Jawa] sebelum ditutup
oleh coitus interuptus gitar dan drum. Nah,
'Return Fire' setidaknya mewarisi jiwa dari musik Ghaust macam ini. Mohon
dipahami, bahwa 'Return Fire' tidak kongruen, sebentuk serta sebunyi
dengan 'Torchlight'. Yang saya maksud, 'Return Fire' mewarisi senyawa
sama yang dikandung oleh 'Torchlight'. Nah, silahkan bayangkan sendiri
kira-kira seperti apa bunyinya.
Just please do remember my highlighted word: Variation.
Yang
datang setelah 'Return Fire' adalah versi remix 'Akasia'.
Dua opsi terpampang untuk menikmati track ini: Anda bisa langsung
menikmatinya atau Anda bisa luangkan sejenak umur untuk
mengunjungi versi lama 'Akasia' lalu kembali untuk membuat perbandingan.
Hanya saja, jika opsi kedua yang Anda pilih, bersiaplah terpana; 'Akasia
RMX' adalah sebuah hasil reka ulang atau resultan sebuah dekonstruksi
ugal-ugalan. Alih-alih menjadi sebuah track post metal, 'Akasia
RMX' adalah sebuah nomor power electronic yang atmospheric.
Nah, kata terakhir itulah yang masih bisa saya kenali sebagai rantai
penghubung track ini dengan track aslinya. Sayang, bagi
saya, track ini kehilangan apa yang dimiliki oleh 'Akasia' versi
awal: keberingasan! Tapi untunglah, 'Akasia RMX' masih lebih familiar di
kuping.
Saat
track 'The Armada' mengalun, saya berubah menjadi Two-Face yang
kebingungan. Aseethe (Amerika) adalah ladang baru bagi saya. Segera setelah 'The
Armada' berkumandang, saya sadar bahwa split rilisan CACTUS Records
(Malaysia) ini adalah sebuah koin yang
sempurna. Aseethe adalah lawan ekstrim dari apa yang disuguhkan Ghaust.
Maksud saya, jika Ghaust terdengar lincah dan light [untuk ukuran
post metal, makna kedua ajektiva tersebut jadi sangat lentur-pen],
maka Aseethe terdengar seperti sekumpulan riff yang terdengar
layaknya satu regu Mastodon yang berjalan lambat. Yup, this is the
doomier side of post metal; Ini adalah musik pelan penyita waktu.
Dalam
lebih dari 20 menit, 'The Armada' mengingatkan saya pada Dead In The
Water, Dirge, A Storm Of Light dan Moss [setidaknya begitu yang tertulis
dalam press release-pen]. Di hadapan komposisi seperti inilah,
kesabaran dan konsentrasi Anda diuji. Butuh waktu yang lama untuk
melewati intro yang monoton, sebelum mencapai geraman sang vokalis, lalu
butuh beberapa waktu untuk sampai bagian yang berhias clean vocal.
Pada track seperti inilah, Anda bisa tersesat atau kesabaran
menguap. Saran saya: nikmati saja track ini pelan-pelan karena
toh ini bukan wacana tentang “Theory of Everything”. Kalau
masih kurang, camkan ini di otak Anda: album ini dimixing oleh
the legendary James Plotkin (Khanate, Isis, Nadja).
Dan satu lagi, musik pelan, atmospheric,
lambat, dan berat adalah trend terbaru!
Dengan
rentang perbedaan yang cukup akut antara Ghaust dan Aseethe, saya
sodorkan dua cara untuk mendekati album ini. Pertama, bersandiwaralah
menjadi Two-Face seperti saya. Anda hanya perlu mengenali, mendengarkan,
atau bahkan menyukai salah satu penyumbang komposisi saja atas alasan
apapun mulai dari familiaritas, selera [yang ini tak bisa didebat], atau
alasan chauvinis dan berbau ultranasionalisme. Kedua, jadilah Batman
yang siap saat bagian koin Two-Face manapun yang muncul. Batman tak
memilih muka koin manapun; Ghaust ataupun Aseethe, cepat atau lambat,
gelap atau pun terang!
It’s your call.
Asal tahu saja Kawan, melemparkan koin bisa sangat menyebalkan!
[Inerciatic Manneken]