RECOMMENDED GET The STUFF  DOWNLOAD  STREAMING BURN BABY BURN!

 CATEGORIES

RECORD (15)

DVD

READING

 

Buat band, record, label, kirimkan rilis-an/produk kalian untuk kami resensi di sini.

 

All reviews by Jurnallica

SANGKAKALA - Macanista EP MP3

(YES NO WAVE MUSIC, 2010)

 

Tracklist:

1. Into the Row (Intro)
2. Rock Live at Roller Coaster
3. Gang Bang Glam Rock
4. Hotel Berhala
5. Tong Setan
6. Tong Setan (Karaoke version)

Inisiatif bagus bagi Yes No Wave yang merampung-kan materi-materi ben dari komunitas underrated walau dalam versi live. Mengingat banyak ben daerah yang seharusnya perlu diekspos walau bermodalkan semangat. Terlebih lagi, banyak khasanah musik yang justru kami dapati bukan berasal dari kota yang dianggap sentral permusikan Indonesia.

Sangkakala adalah kumpulan mahasiswa seni rupa Bantul yang cukup eksis berkeliaran di gigs musik Jogjakarta. Materi live ini direkam sewaktu mereka beraksi pada event "Jogja Biennale X". Meski direkam menggunakan sistem track namun hasil sound tak jauh beda dengan sound panggung acara 17-an.

Entah sebelumnya mereka telah merilis suatu rekaman atau belum, namun crowds sepertinya cukup familiar dengan materi-materi yang Sangkakala mainkan. Pada beberapa part lagu, terdengar crowds asyik ber-singalong.

Mungkin maksud hati ben ini ingin seperti grup power metal/glam rock pada umumnya, namun ketukan dram dan mentalnya yang nge-punk membuat ben ini terdengar berbeda jalur. Melodi gitar yang sudah berbelit-belit belum bisa dijadikan modal utama genre yang dimaksud. Bahkan jeritan vokal yang (ingin) melengking ala vokalis hair-rock masih terkesan maksa. Sang vokalis bisa saja berpledoi dalam syair “Rock Live at Roller Coaster”: “Tak perlu teknik teriakan vocal yang unggul/ Coba pecahkan sunyinya dunia.” Namun pada beberapa sektor, ben ini masih perlu pembenahan –walau untuk persiapan manggung – agar semakin mencakar-cakar.

Ada 4 lagu (plus intro) yang berhasil direkam dan layak dengar, termasuk sebuah cover “Hotel Berhala”-nya ben punk rock Jogjakarta, LAGA BARA dengan aransemen rock Sangkakala. Yang cukup menggelitik adalah, lagu pamungkas “Tong Setan” juga dihadirkan dalam versi Karaoke, hehehe.

Atmosfir panggung yang penuh celetukan, guyonan Jawa, atau sekedar sambutan vokalis secara tak sadar membuat saya mendadak tertawa geli namun penasaran. Bahkan, berdasarkan info dari press releases, pertunjukan Sangkala ini seperti fashion show lengkap dengan pesta kembang apinya. Wah, alangkah menariknya lagi bila materi live Sangkakala ini juga tersedia format video atau YouTube-nya. "Demi tuhan! Hentikan acara ini...!" / "Demi tuhan! Hentikan acara ini...!" Hehehe.

posted: Februari '10.

TIKA & The DISSIDENTS - The Headless Songstress CD

(The HEAD Records, 2009)

 

Tracklist:

1. Tantang Tirani
2. Polpot
3. Venus Envy
4. 20 Hours

5. Uh Ah Lelah

6. Red Red Carbaret

7. Oi Dirty Bastard
8. Infidel Castratie
9. Waltz Muram
10. Tentang Petang

11. Mayday

12. Clausnophobia

Kartika Jahja aka TIKA selama ini lebih dikenal sebagai biduan jazz. Bila (sekarang) persepsi tersebut tetap tak bergeser, mungkin anda akan terkecoh kala menyimak album keduanya, "The Headless Strongstress". Memang, agak rumit menempatkan musikal Tika pada suatu liang genre. Tapi, lupakan sajalah namanya pelabelan bila itu membuat sempit ruang gerak eksplorasi.

Sikap musisi yang jujur memang berlaku sesuai nature-nya tanpa terpaku standar pakem, apalagi memikirkan bagaimana bisa diterima 'pasar'. Harusnya baik/buruk suatu jenis musik biarlah selera yang menentukan, bukan bentukan industri musik beserta sekutu-sekutu medianya. Pada album yang memiliki 2 produser ini, Tika tetap merilisnya secara independen di bawah bendera sendiri, The HEAD Records.

Hibernasi selama 4 tahun dalam kancah musik, kini Tika – bersama ben pengiringnya yang dibaptis nama The DISSIDENTS – seperti bangun melantunkan mimpi-mimpi-nya, baik yang buruk atau lebih buruk lagi. Tapi materi 12 lagu ini terasa elegan nan eklektik.

Lagu "Tantang Tirani" mengawali dengan nuansa akapela dari paduan vokal sendu Tika sendiri. Gaya bernyanyi Tika yang akrobatik, di album ini lebih lullaby. Ke-eklektisan nada dilanjuti lewat "Polpot" yang membawa unsur mariachi. Bahkan atmosfir marching pada lagu "Mayday" sempat dijadikan theme song Hari Buruh di Amerika tahun lalu. Wow!

Selain musik, yang juga signifikan dalam album ini adalah Tika melanturkan isu-isu bermuatan politis - yang baginya juga dianggap 'seksi'. Mungkin karena kedekatan Tika dengan dunia punk cukup mempengaruhi guratan relung hatinya. Nyaris bertolak dari album sebelumnya yang mengungkapkan kegalauan. Meski tentang cinta tapi tanpa mainstream appeal-nya, tetap saja kurang 'menjual'. Hahaha.

Demi perwujudan sebuah karya, album ini benar-benar menunjukkan konseptual dibanding konsep dagang. Tak hanya materi lagu saja yang digarap ciamik, kemasan albumnya pun dirancang sedemikian rupa. Keping CD yang diselipkan dalam notebook tebal dengan desain vintage, dibungkus lagi sebuah dengan dompet berbahan kain peca motif bunga dengan tautan emblem sebagai kovernya. Amazing! Tapi, kalau memang mau disebut dompet, nampaknya terlalu besar. Kecuali kalau kantongnya seperti model baju kantong monyet.

Atas rasa penghormatan, bukan maksud kami ingin berkelakuan layak media-media yang sok menobatkan ini-itu pada akhir tahun. Namun berdasarkan komposisi, materi, dan aspek-aspek lainnya, kami berani mengklaim bahwa "The Headless Strongstress" adalah album Indonesia terbaik 2009 – meski imej kami belum bisa mempengaruhi orang-orang awam, hehehe.

posted: Desember 09.

V/A WE SPOT YOUR TALENT 2009 CD

(MUSICA / TRINITY OPTIMA Productions, 2009)

 

Tracklist:

1. All Finalist - Jalan Masih Panjang
2. Supernova - Aku Jatuh Cinta
3. Coffe - Ya iya lah
4. Ardo & Delights - Terlambat

5. Inverno - Playboy...

6. MPV - Bila Kau...

7. Display - Tanpa Cinta
8. Cartoon - Cintamu...
9. The Essens - Satu...
10. X'po - Ketika Cinta..

11. Napoleon - Tunggu Telepon

12. Sinar - Kenanglah

Label industrik musik dengan sponsor korporasi rokok sering kali menggelar ajang kompetisi ben. Seakan membuka celah bagi mereka yang berambisi untuk masuk dapur rekaman. Hanya saja, hasil rata-ratanya tak berbeda dengan layar monitor terbaru yang flat. Mungkin, talenta yang dicari hanya untuk produk-produk terbaru dari label-label musik tersebut.

Apa yang sudah disaring dari kompetisi A Mild Live Wanted (AMLW) 2009 yang dilaksanakan di Bandung pada 30 Mei silam, hasilnya tak jauh dari grup/musisi 'pasar' generic. Dalih 'warna tersendiri' atau 'musikal yang segar' mirip seperti penipuan kelas teri. Walau kuping juri lebih ngerti mana-mana materi yang bisa dijual di pasar; kemasan yang easy listening dan tema seputar problema cinta.

Kompilasi "We Spot Your Talent" yang berisi 13 lagu ini, diawali dengan “Jalan Masih Panjang” yang merupakan theme song AMLW 2009. Ke-12 finalis berkolaborasi dalam satu lagu tersebut. Sedang grup yang menjadi tiga besar dalam kompilasi kali ini, adalah: SUPERNOVA, COFEE, dan SINAR. Setidaknya, ukuran font nama mereka di sampul yang lebih besar dari lainnya sudah bisa merepresentasi.

Dengan adanya kompetisi semacam AMLW ini, dampak positifnya perusahaan rekaman mau menjembatani ben-ben asal daerah/kota yang tak terjamah – bila memang begitu niatnya. Dan 12 grup yang terpilih dari ribuan ben audisi, memang tak ada yang berasal dari Jakarta, kecuali MPV dari Tangerang, kota yang berdekatan. Karena tidak menutup kemungkinan kalau potensi mereka mampu meramaikan belantika musik Indonesia, mengingat sentralisme permusikan di negara ini juga begitu kuat.

Namun, metode ini tidaklah pula untuk mencetak musisi-musisi karbitan. Meski dari ajang AMLW telah melahirkan nama-nama seperti d'MASIV pada 2007 dan MAGNETO pada 2008, SUPERNOVA yang menjadi pemenang AMLW 2009 ternyata sudah 3 kali mengikuti kompetisi ini, hanya saja 2 tahun sebelumnya gagal terus. Vokalis Supernova, Andi pun sempat mengenang bagaimana perjuangan mereka mengantarkan demonya ke Musica yang menggunakan transportasi kereta dari kota asalnya Purwokerto. Harunya lagi, sampai di Jakarta mereka sempat ditipu oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Kini, perjuangan mereka telah membuahkan hasil. Sebagai juara AMLW 2009, pihak label akan membuatkan album penuh SUPERNOVA yang rencana rilis awal 2010. Congratulation! 

posted: Desember 09.

BITE - self-titled [EP] CD

(FIRECATZ, 2009)

 

Tracklist:

1. Menulis Lagu Cinta
2. Popular
3. Semua Suka Wanita Cantik
4. Tiba-Tiba Hamil

5. Hey Hey Hey

6. Hanya Trend Semata

Hegemoni industri musik beserta sekutu media-nya seakan menggariskan ketetapan bahwa untuk mendapat pasar yang bagus kemasannya kudu easy listening, catchy, lirik seputar cinta, bla-bla-bla... Di luar itu seperti tak ada yang menjanjikan. Maka, tak heran bila banyak musisi indie/underground beralih ke ranah mainstream untuk meraih kekomersilan.

Terlepas dari apa yang saya paparkan di atas, BITE adalah ben baru namun terdiri dari orang-orang lama dengan latarbelakang musik keras. Ketiga personilnya berasal dari ben post-hardcore/metal FALL, sedangkan vokalisnya (yang satu-satunya wanita) pernah tergabung dalam beberapa ben indie (termasuk metal), a.l.: The UPSTAIRS, GOODNIGHT ELECTRIC, RUMAH SAKIT, STRAIGHTOUT.

Berangkat dari background setipe, Bite bukanlah ben yang membisingkan dan berdistorsi. Entah bermain jujur atau tidak, Bite mengusung genre "twee-pop" (baca; American indie-pop) yang easy listening. Namun gerangan apa yang membuat mereka membangun institusi musik ringan? Kalau gitaris Didi merasa ini sebagai challenge atau secara blak-blak-an vokalis Rebecca menganggap ajang cari duit, rasanya Bite belum jaminan. Seperti orang yang baru belajar main musik, musikal Bite terasa garing dan kurang berbobot. Atau mereka memang bermain bukan sesuai nature-nya?

Meski bermain musik ringan bukan berarti tema mereka juga mengalah ikutan picisan. Setidaknya masih ada esensi dari arti nama ben ini; "gigit". Singgel pertama "Menulis Lagu Cinta" sebenarnya keluhan mereka dalam menulis lagu cinta itu sendiri. Kehidupan mereka di perkotaan metropolitan justru membuatnya kehilangan inspirasi menuangkan apa arti cinta. Kalau dua tahun lalu Efek Rumah Kaca pernah menampar lirik cinta konvensional dengan "Cinta Melulu", Bite juga menyinggung tema cinta dengan angle yang berbeda. Memang sudah seharusnya ben pop hari ini disertai pesan-pesan yang cerdas. Dan ke-enam lagu dalam EP ini memiliki kadar yang sama satirnya. Semua dikemas dalam bahasa Indonesia yang gamblang, kecuali "Hey Hey Hey" yang satu-satunya lirik berbahasa Inggris.

Ada satu lagu, "Semua Suka Wanita Cantik" yang prasangka kami sebagai lagu tandingan. Kalau dalam kultur hip-hop ada istilah 'dis', lagu tersebut seperti kontra atas lagu "Citra Natural"-nya sebuah ben yang ngakunya rock oktan tinggi. Coba simak bagian reff-nya; "Mudah berkata citra natural jika semua terlahir menarik / Hanya ternyata jika kau jujur semua suka wanita cantik". Apa yang disinggung Rebecca sebenarnya logis dan realistis tanpa berlagak sok idealis. Namun di luar itu, lagu ini mengalamatkan para wanita di seluruh dunia yang berusaha tampil cantik secara harfiah.

Sedangkan lagu terakhir, "Hanya Trend Semata" ditujukan untuk kaum remaja yang sekedar mengenakan fashion tapi ngga ngerti apa yang dipakai. Kasarnya mah poser/follower. Tapi saya balik tanya, apa ngga boleh bila anak gelandangan atau pengemis jalanan memakai tshirt Bite - meski mereka sama sekali ngga ngerti Bite? Bagi kami sih ngga terlalu masalah dengan generasi labil yang masih proses mencari jati diri. Justru yang riskan itu 'mereka' yang punya jati diri tapi masih mengikuti trend. Semoga, Bite bukanlah ben yang mengikuti trend semata.

posted: September 09.

V/A KAMIPUN PERCAYA KAU PUN TERBAKAR JUGA - A Tribute to Koil CD/MP3

(BAKAR KOLEKTIF, 2009)

 

Tracklist:

1. The Moms Berdarah - Burung Hantu
2. Midnight Soul - Dosa Ini Tak Akan Berhenti
3. Screaming Factor - Ini Semua Hanyalah Fashion
4. Amazing In Bed - Lagu Hujan

5. Lullaby For Michelle - Pudar

6. Black Stone Boredom - Nyanyikan Lagu Perang

7. Marianna En De Bastard - Karat

8. Monsternaut - Tidak Berarti

9. Aneka Digital Safari - Semoga Kau Sembuh

10. A Slow In Dance - Aku Lupa Aku Luka

11. Psickot - Mendekati Surga

12. M1D1D4T4 - Mendekati Surga

Tak banyak ben lokal – khususnya genre non-mainstream – mendapat upeti berupa album tribut. Terlebih lagi, album ini dipersembahkan oleh fansnya sendiri sebagai ekspresi kecintaan pada Koil. Motif Jaka dan Vidi, sebagai pencetus ide kompilasi terletup begitu saja, we do what we like. Sederhana.

Sejak awal 90-an Koil terbentuk, reputasi dan jati dirinya semakin gagah lewat album fenomenal "Megaloblast" (Apocalypse, 2001). Bahkan versi salah satu majalah franchise lokal, album tersebut masuk jajaran penghargaan "150 Album Indonesia Terbaik". Lagipula ben di Indonesia memang tak banyak (dan juga keren) yang mengusung genre gothic/metal seperti Koil, lengkap dengan style & hal-hal yang sensasional. Introduksi pada buklet cd sebenarnya sudah membeberkan secara gamblang; "Band ini, kalau dipikir, tidak bagus-bagus amat. Band ini, kalau dipikir juga, tidak lebih dari serangkaian sensasi yang celakanya, keren. Band ini, kalau dipikir lebih mendalam, juga banyak bohongnya. Tapi, saya cinta mati sama band ini."

Proses perekrutan ben dalam proyek ini tidak mengadakan seleksi/audisi. Siapa yang berminat, boleh berpatisipasi. Hingga terkumpul 12 ben lokal memberi representasi versi masing-masing ben. Mulai dari rock, metal, hingga industrial. Pendanaan pun digalang secara kolektif dengan etos kerja do it yourself. Meski hasil produksi terlihat belum menggugah hati, namun semangat merealisasikan kompilasi ini saya perlu angkat topi.

Mengingat kata-kata bijak; "seseorang akan mengikuti apa yang dicintainya", begitupun perlakuan sama distribusi album ini yang dibagikan secara cuma-cuma alias gratis, seperti yang dilakukan Koil dengan album terakhirnya "Blacklight Shines On" (Apocalypse, 2007). Kompilasi berformat CDr ini dikopi sangat terbatas, hanya 100 keping. Bagi yang kurang kesempatan mendapat fisiknya, kalian bisa sedot versi MP3nya secara gratis di web resmi apokalip.com dan deathrockstar.info lengkap dengan kover + buklet-nya. Selamat menikmati. Semoga anda pun terbakar juga!

posted: September 09.

HATEBREED - For the Lions CD

(KOCH Records, 2009)

 

Tracklist:

1. Ghosts of War (Slayer)
2. Suicidal Maniac (Suicidal Tendencies)

3. Escape (Metallica)

4. Hatebreeders (Misfits)

5. Set it Off (Madball)
6. Thirsty and Miserable (Black Flag)
7. All I Had I Gave (Crowbar)
8. Your Mistake (Agnostic Front)
9. Im in Pain (Obituary)

10. Its the Limit (Cro-Mags)

11. Refuse/Resist (Sepultura)
12. Supertouch/Shitfit (Bad Brains)

13. Evil Minds (D.R.I.)
14. Shut Me Out (Sick Of It All)
15. Sick of Talk (Negative Approach)
16. Life is Pain (Merauder)
17. Hear Me (Judge)
18. Bored In (Subzero)

Memainkan lagu-lagu cover sebenarnya bukan berlaku untuk band-band baru/pemula saja. Bahkan ben besar (atau yang sudah legendaris) sekalipun masih melakukan hal yang sama. Hanya keduanya berdiri dengan alasan tersendiri; sebagai rasa dedikasi atau memang tertarik dengan lagunya.

Kalau band besar seperti NAPALM DEATH merilis album "Leaders Not Followers" sebagai wujud apresiasi pada band-band sesepuh, sepertinya HATEBREED (HB) menggarap rilisan serupa yang dirilis 5 Mei ini. "For the Lions" adalah kumpulan 18 lagu dari para band legendaris. (Daftar detilnya bisa lihat di samping-red). Trak pertama, "Ghost of War"-nya Slayer dipilih sebagai single album ini. Berhubung konsep musik HB dalam ranah abu-abu; moshcore, HB mengkover mulai dari punk-nya Black Flag sampai death metal-nya Obituary. Cukup varian.

Namun, mengkover lagu bukan berarti harus want to be (apalagi wannabe), tapi bisa dikemas dengan versi sendiri. Yang terpenting esensi lagunya itu tidak hilang. Sayang-nya, HB terkesan berusaha mendekati, terutama pada karakter vokalis James Basta. Saat mengkover Metallica, doi ingin terdengar seperti James Hetfield. Sedang di lagu Misfits, ingin terdengar seperti Danzig. Kalau ada pepatah be yourself dong.

Selain itu, seleksi lagu yang dipilih juga kurang familiar. Yah, kalau emang cari yang ngga pasaran, tapi kenapa harus lagu "Escape" untuk Metallica, kenapa lagu "Shut Me Out" untuk Sick Of It All, dll. Saya rasa masih banyak lagu-lagu keren dari band yang dikover HB. Tapi untuk "Refuse/ Resist"-nya Sepultura itu keren banget hehe.

Sekilas grafis sampul mengingatkan album HB sebelumnya, "Supremacy" (Roadrunner, 2006). Cuma kalo dulu gambarnya batok tengkorak dengan sayap burung, kali ini kepala singa. Kalau Napalm Death merilis album tribut seperti ini dirilis secara periodikal, apakah Hatebreed juga melakukan hal yang sama?

posted: Mei 09.

EFEK RUMAH KACA - Kamar Gelap CD

(AKSARA Records, 2008)

 

Tracklist:

1. Tubuhmu Membiru… Tragis
2. Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa
3. Mosi Tidak Percaya
4. Lagu Kesepian
5. Hujan Jangan Marah
6. Kenalakan Remaja di Era Informatika
7. Menjadi Indonesia
8. Kamar Gelap
9. Jangan Bakar Buku
10. Banyak Asap di Sana
11. Laki-Laki Pemalu
12. Balerina

Mungkin saya tidak akan simak EFEK RUMAH KACA (ERK) bila bukan singgel pertama kalinya yang saya dengar itu "Cinta Melulu". Prasangka sentimentil yang tertuju pada band pop lokal yang "begitu-begitu aja", akhirnya tertampar balik saat kami menyimak sesi liriknya. Simak bait seperti ini: "Apa memang karena kuping Melayu / Suka mendayu-mendayu". Atau yang lebih telak lagi: "Atas nama pasar semuanya begitu klise/banal". Woho, sindiran keras untuk band apapun di alam semesta yang "menjual dirinya" pada industri musik.

Singgungan serupa juga tersirat di tembang "Jatuh Cinta itu Biasa Saja". Bahwasanya, bila sepasang insan menjalin asmara itu lumrah, jadi ngga usah lebay lah. Apalagi sampai dramatisir seperti elegi band-band pop cengeng. Dan masih banyak pesan masif (non-cinta) lainnya yang itu semua ada di album pertama ERK. Yah, setidaknya sedikit flashback mengapa saya ingin simak ERK. Maka wajar bila band ini sempat diperbincangkan di scene indie, khususnya pop. Karena ERK memang band pop yang esensial.

Bagi yang sudah simak album pertama ERK, tentu kami mengharapkan ekspektasi lebih di album barunya "Kamar Gelap". Singgel pertama dari album ini "Kenalakan Remaja di Era Informatika". Dengan nada riang & centil, lagu ini  seakan mencubit kawula muda atas maraknya penyebaran video-video cabul melalui handphone.

Namun singgel tersebut bukan indentitas tepat untuk musik ERK yang lebih dikenal pop "gelap". Setidaknya lagu tersebut menunjukan karya ERK kini lebih ekstrovert dibanding album pertma yang introvert. Kualitas suara instrumen & vokal pun lebih baik.

Lagu pertama membius paling lama, durasi mendekati 7 menit. Beberapa trak gelap seperti "Lagu Kesepian", "Jangan Bakar Buku", "Kamar Gelap" sudah cukup membuat saya terbuai. Kekuatan lirik ERK masih dipertahankan yang memotret kondisi sosial sekitar.

Untuk penggarapan kover "Kamar Gelap", ERK berkola-borasi dengan salah satu fotografer Jogjakarta, Angki Purbandono. Dengan kemasan digipack cd, tersedia 6 lembar postcard yang setiap sisinya merupakan foto artistik representasi 12 lagu ERK versi Angki. Plus secarik lipatan kertas berisi lirik. Saya justru tertarik karya Angki di sisi inlay kover bergambar sebuah wajah yang membuat orang me-reka-reka pertama kali melihatnya. Namun, bila kalian perhatikan secara detil, rupa itu adalah gabungan ketiga personil ERK. Jadi, wajah itu bukanlah dari Cholil, Adrian, atau Akbar. Tapi itulah wajah Efek Rumah Kaca. Woho... mantap!

Rasanya, tidak berlebihan bila saya memuji album ini "keren".  Saya simak Efek Rumah Kaca!

posted: April 09.

DEADSQUAD - Horror Vision CD

(ROTTREVORE Records, 2009)

 

Tracklist:
1. Pasukan Mati
2. Dimensi Keterasingan
3. Sermon of Deception
4. Dominasi Belati
5. Hiperbola Dogma Monoteis
6. Manufaktur Replika Baptis
7. Arise (Sepultura cover)
8. Horror Vision

God blast!!! Akhirnya kami menemukan lagi mahakarya baru yang nantinya menjadi klasik. Memang, DEADSQUAD (DS) boleh tergolong "newcomer" di scene death metal. Namun bila sebuah band terdiri dari formasi talenta tinggi, apa kalian siap menandingi???

Yah, walau ada saja olokan pada band ini dengan sebutan "death metal seleb", puufff! Mungkin karena 2 pusaka gitarnya itu dipegang oleh 2 musisi famous Indonesia, yaitu: Stevie Item (ANDRA & The BACKBONE) dan Coki Bollemeyer (NETRAL). Ah, kami sih ngga peduli yang namanya formalitas selama punya "jari tengah". Mari singkirkan pandangan-pandangan sentimentil sempit, dan coba menilai objektif. Kalo memang sebuah band layak untuk dipuji, ya puji saja. Begitupun kami memuji band ini. Harusnya, "kalian" bangga dong kalo ternyata dibalik musisi-musisi cengeng Indonesia masih ada memiliki karya yang jauh dari anggapan cemen.

Simak bagaimana Stevie mendominasi rancangan lagu yang kejam & brutal. Kalau dalam strategi perang, lima pasukan mati dari barak kegelapan ini seperti maju terus pantang mundur. Hampir di setiap lagunya menghindari refrain. Coba renung sejenak, bila hidung kalian terus dihajar tanpa diberi kesempatan untuk bernapas... Woho!!! Pasti nonjok segernya! Hehehe.

Layaknya band teknikal yang sarat komposisi njlimet namun tertata rapi. Ritme-nya pun diukir dengan sayatan melodi yang indah dari jurus-jurus mahir kedua gitarisnya secara bergantian. Hingga mampu meyelipkan part jazzy atau solo klasik tanpa terdengar "maksa". Brilian!

Kehadiran DS kembali mengingatkan saya pada sensasi pertama kali mendengar SIKSAKUBUR album "Eye Cry". Hey, saya tidak bilang sama musiknya tapi sensasinya, you stupid! Entah hanya suges (atau mungkin ada benarnya) karena pada kursi dram dijabat oleh mantan dramer sekaligus pendiri SK itu.

Sedang tema yang diangkat tentang kegelapan, nihilis, teologis, dengan guratan vokal tipikal rough. Saya lebih tertarik dengan lirik-lirik bahasa Indonesia yang dikemas metafor sarkas. Ini pun juga mengingatkan saya pada band FORGOTTEN dengan liriknya yang terkenal sarkastis.

Album yang awalnya berniat EP dirilis tepat saat DS menjadi band pembuka godz of pure American metal LAMB OF GOD pada 9 Maret kemarin. Tentu itu sangat membantu pada reputasi mereka. Dari 8 lagu yang terampung, terdapat 1 lagu kover "Arise" yang sejatinya milik tuhan thrash metal SEPULTURA. Entah alasan apa yang membuat DS mendaur lagu tersebut dalam versi death metal, tetap saja ngga representatif. Kalau memang ingin menganggap sebagai tribut, simpan saja di rilisan lain seperti kompilasi atau album tribut, gituh.

Nilai minusnya buat saya ada pada grafis sampul. Dari musikal yang dirancang luar biasa hanya dikemas dengan kover yang sangat-sangat biasa, bila tidak ingin disebut jelek. Itulah mengapa saya masih enggan memberi 5 bintang pada resensi ini. Namun bila kalian tipikal yang peduli esensi, tentunya secarik sampul bukan pertim-bangan penting. Dan ROTTREVORE sebagai label death metal eksklus**t kemungkinan bakal menang banyak, setelah punya SIKSAKUBUR dan FORGOTTEN hehehe...

Tanpa menghasut kalian untuk menjadi musrik, tapi percayalah saya... Ini rilisan death metal terbaik 2009!

posted: Maret 09.

Page: 1 | 2 |