RELATED REPORTS 2011

CHILDREN OF BODOM

OWL CITY

MONO

Alice Cooper feat. Orianthi

Lenka

OBSCURA "Live in Jakarta"

LINKIN PARK

PARAMORE "Live in Jakarta"

Duncan Sheik "Acoustic Concert"

B.o.B

INCUBUS

Kylie Minogue

JAKARTA FANTASTIKPOP FEST 2011

FATBOY SLIM

The S.I.G.I.T.

Ben Folds

The DRUMS

REXONA TEENS [A ROCKET To The MOON, HEY MONDAY, The DOWNTOWN FICTION]

Sara Bareilles

Avril Lavigne

The CHARIOT

SWITCHFOOT

JUSTIN BIEBER

BRUNO MARS

MISERY INDEX "Live in Jakarta"

JIMMY EAT WORLD

The EXPERIENCE BROTHERS

MGMT

FAR*EAST MOVEMENT

JAKARTA JAM! ‘11 [Day 2: NEW FOUND GLORY, The STARTING LINE]

JAKARTA JAM! ‘11 [Day 1: WE THE KINGS, NEVER SHOUT NEVER, I SEE STARS]

BRING ME THE HORIZON

IRON MAIDEN "Live in Jakarta"

Duncan Sheik [feat. Rachael Yamagata] "Live in Jakarta"

DEFTONES

NE-YO

KUNOKINI

N.E.R.D

 REPORTS 2010

 REPORT

PITBULL "Live in Jakarta 2011"
Selasa
, 6 Desember 2011 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Indonesia

 

"Aji Mumpung Bawa Untung"

Sekelebat nama Pitbull di Indonesia membumbung pesat dan semua terjadi secara tak terduga. Lantas apa pemicunya? Kami cuma berasumsi (terlepas sahih atau tidaknya) kalau itu semua berawal dari penjualan singkat tiket konser pertamanya tahun lalu. Kalangan media pun wara-wiri berlomba menggencarkan kejadian (yang dianggap) fenomenal tersebut. Bahkan, sepanjang jejak rekam promoter awal yang menggelar tak habis pikir kalau tiket konser Pitbull bisa sold-out dalam waktu satu hari.

Tak heran jika Pitbull menjadi target rebutan para promoter kelak. Mengingat hebohnya show pertama, para promoter yakin akan memiliki ekpektasi yang tinggi. Untuk konser kedua Pitbull di Jakarta diselenggarakan oleh Trilogy Live. Boleh dibilang promoter lainnya adalah faktor aji mumpung, jika tidak ingin disebut mencuri animo. Tapi, kenapa penjualan tiket konser Pitbull kali ini tidak sold-out dalam satu hari seperti tahun lalu?

Mungkin karena penonton merasa sudah pernah atau promoter yang sekarang memasang harga tiket terlalu tinggi, bahkan dua kali lipat dari yang pertama. Apalagi konser kedua Pitbull di Jakarta ini dalam konteks tur PROMO album terbarunya ”Planet Pit” yang dirilis Juni lalu. Dengan kondisi seperti itu, seharusnya harga tiket bisa jauh lebih murah, bukan lebih mahal. Jika demikian, maka pertanyaannya, harga lebih mahal dengan artis yang sama dan di tempat yang sama pula Tennis Indoor Senayan , apa yang membuat tiket tersebut dianggap worth it bagi penonton? Tak etis dong kalau kami bilang promoter itu kemarukan. Sepertinya, berbisnis di dunia showbiz lantas tidak menjadi babi-babi yang serakah, bukan?!

Bagi yang telah menyaksikan konser pertama Pitbull, maka tak ada sulitnya untuk membandingkan dengan show kedua. Bahkan, bagi kami nyaris tak banyak yang berubah. Dengan kostum serba hitam dan necis, Pitbull beserta ben pengiringnya langsung menghentakkan sederatan hits, a.l.: Can't Stop Me Now, ‘Hey Baby (Drop It to the Floor)’, ‘Bon Bon’, ‘Get on the Floor’, ‘Krazy’, ‘Hotel Room Service’, ‘I Know You Want Me (Calle Ocho)’, dll. Tendoor pun kembali dibuat bak lantai dansa massal seperti tahun lalu.

Sayangnya, pembawaan seluruh lagu kali ini dibuat medley dan terpotong ala-ala kemasan repertoar DJ, kecuali dua single albu terakhirnya yang dimainkan secara utuh; Rain Over Me dan lagu penutup Give Me Everything. Itulah mengapa repertoar sekitar 17 lagu terasa begitu singkat. Atau mungkin faktor slogan sponsor yang menggalakkan ”I Hate Slow” membuat acara jadi cepat berlangsung. :P

Kami pun risau dan kembali bertanya, apakah nilai tukar yang layak dari harga tiket mahal? Kalau tidak, kenapa ada penonton yang berkeluh kesah? Seharusnya promoter tidak menghambakan tiket semata. Masih teringat jelas dalam ingatan kami bagaimana kelakuan promoter kala menggelar konser Asobi Seksu tahun lalu. Karena kondisi penonton yang kering kerontang, promoter akhirnya membagikan 50 tiket secara cuma-cuma melalui media maya. Namun pada konser Pitbull kali ini, promoter justru terkesan jual mahal dan pengeretan. Bahkan, promoter rela mendustai kesepakatan media partner yang menggantikan tiket komplimenter dengan ID media yang tak terpakai. Atau mungkin keterbatasan itukah yang membuat kinerja media terasa sulit? Kenapa media kelas berat seperti Kompas harus memakai ID Jurnallica untuk liputan konser ini? Yahh, setidaknya itu juga sedikit bukti kalau nama besar bukanlah segalanya. Hah!

(More pictures click here)

 TAUTAN

Teks & foto: Jurnallica