OWL CITY "All
Things Bright and Beautiful Tour" Jumat,
28 Oktober 2011 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Indonesia
"Transisi Pop Mimpi"
Adam Young (24
tahun) alias OWL CITY seharusnya berterimakasih pada iTunes dan Yahudi.
Ia sekarang keliling dunia berkat popularitas “Ocean Eyes”
—debut
album majornya dan iTunes menyeleksi salah satu lagu untuk disebarkan—
yang direkam di basement busuk rumah orangtuanya. Berasal dari
kota kecil Owatinna, Minnesota, Young kini dapat menyambangi ke
tempat-tempat yang tak terduga, seperti Jakarta.
Pada 28
Oktober 2011, Owl City melangsungkan konser di Tennis Indoor Senayan,
Jakarta, untuk pertamakalinya, dalam rangka tur promo album major kedua,
“All Things Bright and Beautiful”. Menurut Universal Indonesia, sebagai
label resmi perilis album Owl City, kedua albumnya di Indonesia telah
meraih predikat “Gold”.
Guyuran hujan
yang lebat dan hebat sempat menghambat berlangsungnya acara pada malam
itu. Kalaupun ruangan tidak terisi penuh, promoter tak akan merasa
rugi
—yang
kabarnya tiket konser ini ludes dalam jangka 8 jam. Tapi itu secara
tertulis, nyatanya kami masih melihat lahan lenggang di kelas festival
atau bangku yang tak terpakai di kelas tribun —“5
ribu penonton”
seperti yang ditweet promoter sungguh meragukan.
Kami rasa informasi tersebut tak lebih muslihat publik dari promoter
yang berkonspirasi dengan media-media besar agar acara ini terkesan
gegar.
Si “burung
hantu” baru muncul jam 9 malam. Ada semacam indikasi dibalik introduksi
saat Young tampil awal menabuh dram. Jauh sebelum dirinya merancang
musik dengan komputer Dell tua dan software FruityLoops, Young
adalah seorang dramer. Pun, berlatarbelakang dari skena hardcore
dan experimental-rock, ia merasa asing dengan musik pop dan
(sempat) menentangnya. Di luar Owl City, Young juga memiliki varian
proyek, seperti Sky Sailing —yang
memiliki satu album “An Airplane Carried Me to Bed” (2010)—,
Swimming with Dolphins, Windsor Airlift, dll.
Baik album
“Ocean...” atau “All Things…” hanyalah manifesto dari galaksi imajinasi
Young yang diciptakan di sela-sela bekerja dan penderitaan insomnianya.
Sebenarnya, “Ocean...” bukanlah sebuah album yang diantisipasi. Namun, kala
iTunes memilih lagu ‘Fireflies’ sebagai unduhan gratis, secara
mengejutkan lagu tersebut didonlod hingga 650.000 orang dan drastis
merubah kehidupannya. Young pun menjudikan nasib. Demi keseriusan karir di bidang musik,
ia rela melepaskan pekerjaannya di perusahaan Coca-Cola di kotanya
juga keluar dari kampus pada tahun 2008.
Jika Anda
pernah mendapati live show Owl City era awal, tentu Anda masih
melihat Young tampil di balik seperangkat kibord & moog dan
memainkan lagu-lagunya sesuai versi rekaman. Namun di era “All Things…”,
one man project itu hadir dengan format ben yang terdiri dari 3
pria & 3 wanita —salah
satunya, kibordis Breannu Düren, tampil membuka pertunjukan—,
dimana Young tampil sebagai frontman sambil merangkul gitar. Ia
nyaris tak menduduki bangku kibord —instrumen
yang padat mendominasi lagu-lagunya—
selain pada ‘Lonely Lullaby’.
Hampir seluruh
lagu Owl City dihadirkan dalam versi berbeda ketika live. Bahkan
hit pop raksasa ‘Fireflies’ digubah dalam versi rock.
Setidaknya, dengan begitu, tak ada lagi yang coba menyangkutpautkan Owl
City dengan The Postal Service. Toh, tak ada pula kehinaan jika dibandingkan dengan
sebuah ben iseng. “It’s incredibly hard
for an artist to sound like no one else,” katanya bijak dalam
menanggapi segala macam tuduhan komparasi.
Young menjadi
saksi bagaimana aktraktifnya penonton kaum hawa yang mendominasi isi
Tennis Indoor.
“Adakah kalian yang mempunyai rumah kosong, jadi saya
bisa check out dan kabur ke sini,” tanya Young (mulai) nakal
sebelum memainkan ‘Alligator Sky’, lagu pertama Owl City yang
menghadirkan sesi rap dengan Shawn Chrystopher (atau B.o.B dalam
versi lainnya).
Sedang gestur
Young di panggung justru mengingatkan saya pada Tom DeLonge, dengan
versi culun. Dugaan ini muncul karena dia adalah pecinta DeLonge, mulai
era Blink-182 (awal) hingga Angels & Airwaves. Hanya tak bisa
dipungkiri, Young masih nampak kaku dan, lucunya, ia juga mengaku
nervous. “Saya akan ceritakan ini ke ibu saya,” kata Young melihat
respon penonton yang menggelora.
Hal tersebut
cukup dimaklumi bila mengetahui sosok Young yang pemalu dan sempit
pergaulan. Sebagai introvert, Young seperti terpaksa menjadi
seorang entertainer. [Mungkin kepribadian itulah yang membuat ia
membatalkan jadwal interview dengan seluruh media di Jakarta
dibalik alasan sakit. Ada banyak dugaan.-red] Tapi Matt Thiessen dari
Relient K
—yang
mengisi beking vokal dan co-producer pada lagu ‘Fireflies’—
telah memberinya perhatian dan memprediksi. “Beri dia waktu beberapa
tahun dan dia akan sangat mengagumkan.”
1. The Real World
2. Cave In
3. Hello Seattle
4. Angels
5. Swimming In Miami
6. Umbrella Beach
7. I'll Meet You There
8. Hospital Flowers
9. The Bird And The Worm
10. Lonely Lullaby
11. Fireflies
12. Dreams Don't Turn to Dust
13. Kamikaze
14. Meteor Shower
15. January 28, 1986
16. Galaxies
17. Alligator Sky
18. Deer in the Headlights
19. The Yacht Club
# Encore #
20. How I Became the Sea
21. If My Heart Was a House