MONO "Live in Jakarta
2011" Selasa,
11 Oktober 2011 @ Nusa Indah Theatre - Balai Kartini, Jakarta, Indonesia
"Rekalibrasi"
Jika Metallica
pernah punya prestasi menyeramkan: menghanguskan Jakarta, maka kolektif
post-rock atau contemporary classical music asal Jepang,
Mono punya prestasi unik: menutup pegelaran musik paling jeblok di
Jakarta, Jakarta Rock Parade 2008.
Siapa pun yang
gemar menyambangi gigs di seputaran wilayah Jabotabek pasti ingat
sebuah insiden konyol bernama Jakarta Rock Parade. Begitu gelaran itudiingat berakhir, kelak direkam dalam catatan kaki sejarah musik
Indonesia sebagai sebuah pesta musik yang kerap saya candai sebagai
“pesta cuci uang”. Saya masih ingat di hari ketiga gelaran tersebut,
hampir setengah line-up mundur. Hanya 2 panggung yang
dioperasikan dan, sebenarnya tak perlu saya sebutkan lagi, parade
rock itu gagal total.
Satu-satunya
keren hari itu, bagi saya, adalah kenekatan Mono untuk tetap manggung
sejam setelah tengah malam dalam sebuah parade musik yang kacau-balau.
Perlu dicatat: post-rock
belum menjadi musik “sekarang” kala itu. Walhasil, Takaakira Goto dkk
hanya jadi kenangan kolektif beberapa orang saja. Ironis, sebuah ben
besar dalam skena musik paska rock justru didaulat menutup sebuah
event rock yang gagal besar.
Paska JRP
kerinduan akan Mono semakin menguat. Seiring berterimanya post-rock
di Indonesia, gejolak untuk memanggungkan kuartet ini kembali muncul.
Mengingat pengalaman mereka yang epik di atas, saya sempat ragu bila
Mono akan kembali ke Jakarta. Keraguan itu baru luntur sehabis lebaran
kemarin ketika Mono dipastikan sebagai salah satu yang melawat Jakarta,
selain Alice Cooper, Everytime I Die, 50 Cent, Children of Bodom, dll.
Lagian, siapa sih yang tak gatal beraksi di Jakarta, kota yang
gig-goer-nya siap melahap apapun dari Mono sampai Maher Zain.
All hell
broke loose
dan saya siap melakukan kalibrasi. Mungkin kali ini sudah tepat waktunya
Mono ke Jakarta... Mungkin kali ini Mono bikin prestasi yang unik (lagi).
Konser
Post-Rock Tunggal: Sebuah Pertaruhan
Ada catatan
khusus untuk lawatan Mono kedua: Mono tak lagi nekat, kini giliran EO
atau empu acaranya yang nekat. Mono disuguhkan tanpa satu pun ben
pembuka. Ini langkah yang nekat, setidaknya menurut saya. Mono bukan
musisi timeless layaknya David Foster yang penggemarnya rela
membayar Rp. 20 juta untuk sebuah tempat ekslusif di konsernya. Lagipula,
kolektif Jepang ini tidak semanis Lenka atau Justin Bieber yang bisa
dijual tanpa embel-embel apapun. Maka, sekali lagi ini nekat.
Belum lagi,
keputusan untuk menyuguhkan Mono tanpa ben pembuka adalah keputusan yang
berani, kalau tidak bisa disebut tega. Yup! StarD Protainment begitu
tega menutup peluang semua ben post-rock lokal. Jangankan ben
yang dibentuk segera setelah sekelompok anak muda mendownload dan
mendengarkan album “Explosions in the Sky”, ben se-veteran March La Void
dan A Slow In Dance tak beroleh kehormatan untuk membuka Mono. Kenekatan
itu tergurat jelas: Mono tok,tak ada ben social
climber lainnya.
Untungnya,
pertaruhan ini berbuah manis. Walau pada hari H beberapa bangku terlihat
kosong, tiket presale dinyatakan sold out jauh hari
sebelum konser digelar. Buah manis kemenangan pertaruhan ini juga bisa
disidik dari merebaknya hastag #MonoJKT sebelum dan sesudah
konser berlangsung. Mudah mendebat bahwa kehebohan di ranah Twitter ini
adalah perayaan segelintir orang saja yang tak menandingi noise
tentang konser Owl City atau Pitbull. Namun, setidaknya keriuhan ini
lebih baik dan lebih melegakan daripada kegamangan tentang gagalnya
konser ben glam-rock gaek, Motley Crue!
Jelas, “An
Exclusive Evening With Mono” adalah salah satu testimoni. Konser tunggal
yang intim ini adalah bukti bahwa salah satu zeitgeist paling
kontemporer adalah galau, mengambang, mengawang, atau berbagai kata lain
yang dianggap setaraf. Jika, sedekade yang lalu teenangst
diletupkan dengan punk-influenced rock lusuh kaum slackers,
maka kini amarah itu disulin menjadi keinginan berlebih untuk melakukan
kontemplasi dengan musik nirkata.
Dan
zeitgesit inilah yang menyelamat serta dirayakan dalam sebuah konser
tunggal di Jakarta!
Menakar
Mono, Menakar Post-Rock
[di] Indonesia
Saya selalu
berterima kasih pada semua ben yang rela kembali ke Indonesia. Lebih
mudah menulis gig report dari konser ben seperti ini. Yang perlu
saya lakukan hanya membandingkan performa dengan aksi mereka sebelumnya.
Walau sudah pasti membosankan menonton dan tentunya meliput artis yang
terlalu sering bertandang ke Nusantara seperti Rufio, Incognito, atau,
semoga perkiraan saya salah, Duncan Sheik. Maka, saya bersyukur pernah
berada dalam lawatan Mono pertama. Menulis pertunjukan nirkata 11
Oktober kemarin jadi lebih mudah.
Mono tiga
tahun lalu adalah sekelompok musisi underrated yang sangat
humble mau —jika tidak dibilang terpaksa— menyiapkan pirantinya
sendiri di atas panggung. Seorang teman bahkan mengingatkan bahwa Mono
sampai harus menjajakan merchandise-nya dalam lapak yang seadanya.
Namun, itu hanya sebuah dongeng usang. Seiring dengan berterimanya musik
mereka, Mono tak lagi underrated 11 Oktober lalu di Nusa Indah
Theatre, Balai Kartini. Mono sudah bertransformasi dari sebuah ben
underrated menjadi sekelompok mesiah musik, setidaknya bagi
pemujanya.
Mono muncul
jam 9 malam —satu jam lebih lambat dari jadwal yang tertera di
pamflet. Takaakira, Yasunori, Tamaki, dan Yoda muncul setelah
sepotong iklan sebuah maskapai penerbangan dan sebentuk komposisi
contemporary classical music panjang yang mengingatkan saya pada
komposisi Diamanda Galas. Bagi saya, pemilihan musik pengiring masuknya
Mono ke panggung adalah sebuah pilihan yang conscius dan penuh
perhitungan. Sebagai sebuah unit musik yang gerah dicap bermain
post-rock, ini adalah sebuah pernyataan tegas —jika memang mereka
yang memilih komposisi ini—, bahwa musik mereka punya kedekatan
stilistika dengan musik klasik modern. Sila dengaralbum terakhir Mono,
“Hymn to the Immortal Wind”, jika Anda meragukan argumen saya.
Mono memang
banyak menyuguhkan komposisi dari album mereka yang terakhir. Delapan lagu panjang dalam setlist [‘Ashes in the Snow’, ‘Burial at Sea’,
‘Pure as Snow’, ‘Follow the Map’, ‘Everlasting Light’, dll] digeber
malam itu. Ini, menurut saya, adalah sebuah setlist yang masuk
akal mengingat beberapa hari sebelum pertunjukan santer beredar kabar
bahwa show di Nusa Indah Theater digadang sebagai pertunjukan terakhir
sebelum kolektif itu masuk studio untuk merekam album baru mereka.
Namun,
terlepas dari transformasi Mono ternyata tetap sama. Mereka masih
menjunjung kredo musik paska rock. Seperti apa yang mereka
suguhkan tiga tahun lalu serta sepatutnya sebuah ben post-rock
lainnya, Mono menyuguhkan musik tanpa kata. Bahkan, untuk sekedar
berterimakasih, mereka lebih memilih mengangkat tangan dan tersenyum
alih-alih mengucap “terimakasih!”. Maka, menonton Mono sama dengan
menikmati pertunjukan musik yang eksklusif karena toh komposisi
mereka terkesan hanya dimainkan untuk mengantar personil Mono, terutama
Taaka dan Yoda, mencapai trance. Jika sudah begini, saya lebih
memilih menikmati spectacle berupa dua gitaris Mono yang
kelojotan di atas kursi, Tamaki yang manisnya terasa lamat-lamat dari
balkoni tempat saya duduk atau Takaa yang tiba-tiba melepas gitar, meng-abuse
pedal boardnya dan kesurupan di lantai di salah satu lagu.
Namun,
post-rock —sub genre yang lekat dengan internet seperti lekat
grunge/post-grunge dengan MTV— pun bisa berfungsi lain selain sarana
pencapai musical orgasm
para peformernya. Seorang rekan malah berani
mengatakan bahwa post-rock adalah sebuah penanda generasi Y,
sebuah generasi yang menemukan cara melawan baru: menuliskan hati dan
pikirannya di internet. Maka, masih menurut rekan saya, post-rock
adalah soundtrack perlawanan mereka yang kerap dimaknai sebagai
musik kontemplatif pengobat galau. Ini yang saya temui di konser tunggal
Mono 11 Oktober silam; segerombol generasi milenia yang lebih senang
duduksambil mengangguk-anggukan badan atau diam memaknai “galau
moment” masing-masing. Lantas, post-rock pun di tangan
Generasi Y berubah wujud menjadi musik yang inklusif.
Sampai Mono
beranjak setelah ‘Everlasting Light’, saya masih memikirkan hipotesa
rekan saya itu. Sementara, beberapa penonton setia menunggu kuartet
nirvokal itu kembali untuk menghantar sebuah encore, saya masih
berusaha merunut hipotesa ugal-ugalan itu. Mono tak kembali ke panggung;
saya memutuskan keluar balkoni sembari membiarkan hipotesa teman saya
mengambang. Toh, saya datang untuk mengalibrasi bukan menemukan bukti
atas sebuah hipotesa.
Sekali
lagi, masa bodo dengan hipotesa tersebut. Yang penting saya sudah
mengkalibrasi Mono. Bagi saya, Mono tidak berubah. Penerimaan akan
post-rock yang berubah. Tiga tahun lalu, post-rock mungkin
hanya mainan eksklusif scenester lokal. Kini, post-rock
dibicarakan dalam pelbagai forum musik di ranah internet —Tampaknya,
kawan saya benar tentang kedekatan post-rock dan internet. Di
sanalah, post-rock dirayakan dan code of conduct atau
segala tetek bengek tentangnya dipertukarkan, sekali lagi, dalam satuan
kilobyte.
Pun, Mono
kembali mencetak sebuah sejarah. Mono menjadi kolektif post-rock
pertama yang disuguhkan tanpa ben pembuka. “An Exclusive Evening With
Mono” jelas hanya mengandalkan Mono sebagai magnet tunggal. Namun,
bukankah saya tulis di atas bahwa Mono membayarnya dengan tuntas. Tanpa,
magnet yang kuat mana mungkin tiket presale ludes dengan cepat.
Tanpa magnet yang sama mana mungkin hastag #MonoJKT
masih berkeliaran beberapa hari paska hari H. Akhirnya, tanpa daya tarik
yang sama, mana mungkin Denny Sakrie, kritikus musik tua kenamaan, mau
muncul di Nusa Dua Theatre. Denny Sakrie menonton post-rock? Ini
baru progres!