RELATED REPORTS 2011

Alice Cooper feat. Orianthi

Lenka

LINKIN PARK

PARAMORE "Live in Jakarta"

Duncan Sheik "Acoustic Concert"

B.o.B

INCUBUS

Kylie Minogue

JAKARTA FANTASTIKPOP FEST 2011

FATBOY SLIM

The S.I.G.I.T.

Ben Folds

The DRUMS

REXONA TEENS [A ROCKET To The MOON, HEY MONDAY, The DOWNTOWN FICTION]

Sara Bareilles

Avril Lavigne

The CHARIOT

SWITCHFOOT

JUSTIN BIEBER

BRUNO MARS

MISERY INDEX "Live in Jakarta"

JIMMY EAT WORLD

The EXPERIENCE BROTHERS

MGMT

FAR*EAST MOVEMENT

JAKARTA JAM! ‘11 [Day 2: NEW FOUND GLORY, The STARTING LINE]

JAKARTA JAM! ‘11 [Day 1: WE THE KINGS, NEVER SHOUT NEVER, I SEE STARS]

BRING ME THE HORIZON

IRON MAIDEN "Live in Jakarta"

Duncan Sheik [feat. Rachael Yamagata] "Live in Jakarta"

DEFTONES

NE-YO

KUNOKINI

N.E.R.D

 REPORTS 2010

 REPORT
MONO "Live in Jakarta 2011"
Selasa
, 11 Oktober 2011 @ Nusa Indah Theatre - Balai Kartini, Jakarta, Indonesia

 

"Rekalibrasi"

Jika Metallica pernah punya prestasi menyeramkan: menghanguskan Jakarta, maka kolektif post-rock atau contemporary classical music asal Jepang, Mono punya prestasi unik: menutup pegelaran musik paling jeblok di Jakarta, Jakarta Rock Parade 2008.

Siapa pun yang gemar menyambangi gigs di seputaran wilayah Jabotabek pasti ingat sebuah insiden konyol bernama Jakarta Rock Parade. Begitu gelaran itu diingat berakhir, kelak direkam dalam catatan kaki sejarah musik Indonesia sebagai sebuah pesta musik yang kerap saya candai sebagai “pesta cuci uang”. Saya masih ingat di hari ketiga gelaran tersebut, hampir setengah line-up mundur. Hanya 2 panggung yang dioperasikan dan, sebenarnya tak perlu saya sebutkan lagi, parade rock itu gagal total.

Satu-satunya keren hari itu, bagi saya, adalah kenekatan Mono untuk tetap manggung sejam setelah tengah malam dalam sebuah parade musik yang kacau-balau. Perlu dicatat: post-rock belum menjadi musik “sekarang” kala itu. Walhasil, Takaakira Goto dkk hanya jadi kenangan kolektif beberapa orang saja. Ironis, sebuah ben besar dalam skena musik paska rock justru didaulat menutup sebuah event rock yang gagal besar.

Paska JRP kerinduan akan Mono semakin menguat. Seiring berterimanya post-rock di Indonesia, gejolak untuk memanggungkan kuartet ini kembali muncul. Mengingat pengalaman mereka yang epik di atas, saya sempat ragu bila Mono akan kembali ke Jakarta. Keraguan itu baru luntur sehabis lebaran kemarin ketika Mono dipastikan sebagai salah satu yang melawat Jakarta, selain Alice Cooper, Everytime I Die, 50 Cent, Children of Bodom, dll. Lagian, siapa sih yang tak gatal beraksi di Jakarta, kota yang gig-goer-nya siap melahap apapun dari Mono sampai Maher Zain.

All hell broke loose dan saya siap melakukan kalibrasi. Mungkin kali ini sudah tepat waktunya Mono ke Jakarta... Mungkin kali ini Mono bikin prestasi yang unik (lagi).

Konser Post-Rock Tunggal: Sebuah Pertaruhan

Ada catatan khusus untuk lawatan Mono kedua: Mono tak lagi nekat, kini giliran EO atau empu acaranya yang nekat. Mono disuguhkan tanpa satu pun ben pembuka. Ini langkah yang nekat, setidaknya menurut saya. Mono bukan musisi timeless layaknya David Foster yang penggemarnya rela membayar Rp. 20 juta untuk sebuah tempat ekslusif di konsernya. Lagipula, kolektif Jepang ini tidak semanis Lenka atau Justin Bieber yang bisa dijual tanpa embel-embel apapun. Maka, sekali lagi ini nekat.

Belum lagi, keputusan untuk menyuguhkan Mono tanpa ben pembuka adalah keputusan yang berani, kalau tidak bisa disebut tega. Yup! StarD Protainment begitu tega menutup peluang semua ben post-rock lokal. Jangankan ben yang dibentuk segera setelah sekelompok anak muda mendownload dan mendengarkan album “Explosions in the Sky, ben se-veteran March La Void dan A Slow In Dance tak beroleh kehormatan untuk membuka Mono. Kenekatan itu tergurat jelas: Mono tok, tak ada ben social climber lainnya.

Untungnya, pertaruhan ini berbuah manis. Walau pada hari H beberapa bangku terlihat kosong, tiket presale dinyatakan sold out jauh hari sebelum konser digelar. Buah manis kemenangan pertaruhan ini juga bisa disidik dari merebaknya hastag #MonoJKT sebelum dan sesudah konser berlangsung. Mudah mendebat bahwa kehebohan di ranah Twitter ini adalah perayaan segelintir orang saja yang tak menandingi noise tentang konser Owl City atau Pitbull. Namun, setidaknya keriuhan ini lebih baik dan lebih melegakan daripada kegamangan tentang gagalnya konser ben glam-rock gaek, Motley Crue!

Jelas, “An Exclusive Evening With Mono” adalah salah satu testimoni. Konser tunggal yang intim ini adalah bukti bahwa salah satu zeitgeist paling kontemporer adalah galau, mengambang, mengawang, atau berbagai kata lain yang dianggap setaraf. Jika, sedekade yang lalu teenangst diletupkan dengan punk-influenced rock lusuh kaum slackers, maka kini amarah itu disulin menjadi keinginan berlebih untuk melakukan kontemplasi dengan musik nirkata.

Dan zeitgesit inilah yang menyelamat serta dirayakan dalam sebuah konser tunggal di Jakarta!

Menakar Mono, Menakar Post-Rock [di] Indonesia

Saya selalu berterima kasih pada semua ben yang rela kembali ke Indonesia. Lebih mudah menulis gig report dari konser ben seperti ini. Yang perlu saya lakukan hanya membandingkan performa dengan aksi mereka sebelumnya. Walau sudah pasti membosankan menonton dan tentunya meliput artis yang terlalu sering bertandang ke Nusantara seperti Rufio, Incognito, atau, semoga perkiraan saya salah, Duncan Sheik. Maka, saya bersyukur pernah berada dalam lawatan Mono pertama. Menulis pertunjukan nirkata 11 Oktober kemarin jadi lebih mudah.

Mono tiga tahun lalu adalah sekelompok musisi underrated yang sangat humble mau —jika tidak dibilang terpaksa— menyiapkan pirantinya sendiri di atas panggung. Seorang teman bahkan mengingatkan bahwa Mono sampai harus menjajakan merchandise-nya dalam lapak yang seadanya. Namun, itu hanya sebuah dongeng usang. Seiring dengan berterimanya musik mereka, Mono tak lagi underrated 11 Oktober lalu di Nusa Indah Theatre, Balai Kartini. Mono sudah bertransformasi dari sebuah ben underrated menjadi sekelompok mesiah musik, setidaknya bagi pemujanya.

Mono muncul jam 9 malam —satu jam lebih lambat dari jadwal yang tertera di pamflet. Takaakira, Yasunori, Tamaki, dan Yoda muncul setelah sepotong iklan sebuah maskapai penerbangan dan sebentuk komposisi contemporary classical music panjang yang mengingatkan saya pada komposisi Diamanda Galas. Bagi saya, pemilihan musik pengiring masuknya Mono ke panggung adalah sebuah pilihan yang conscius dan penuh perhitungan. Sebagai sebuah unit musik yang gerah dicap bermain post-rock, ini adalah sebuah pernyataan tegas —jika memang mereka yang memilih komposisi ini—, bahwa musik mereka punya kedekatan stilistika dengan musik klasik modern. Sila dengar album terakhir Mono, “Hymn to the Immortal Wind”, jika Anda meragukan argumen saya.

Mono memang banyak menyuguhkan komposisi dari album mereka yang terakhir. Delapan lagu panjang dalam setlist [‘Ashes in the Snow’, ‘Burial at Sea’, ‘Pure as Snow’, ‘Follow the Map’, ‘Everlasting Light’, dll] digeber malam itu. Ini, menurut saya, adalah sebuah setlist yang masuk akal mengingat beberapa hari sebelum pertunjukan santer beredar kabar bahwa show di Nusa Indah Theater digadang sebagai pertunjukan terakhir sebelum kolektif itu masuk studio untuk merekam album baru mereka.

Namun, terlepas dari transformasi Mono ternyata tetap sama. Mereka masih menjunjung kredo musik paska rock. Seperti apa yang mereka suguhkan tiga tahun lalu serta sepatutnya sebuah ben post-rock lainnya, Mono menyuguhkan musik tanpa kata. Bahkan, untuk sekedar berterimakasih, mereka lebih memilih mengangkat tangan dan tersenyum alih-alih mengucap “terimakasih!”. Maka, menonton Mono sama dengan menikmati pertunjukan musik yang eksklusif karena toh komposisi mereka terkesan hanya dimainkan untuk mengantar personil Mono, terutama Taaka dan Yoda, mencapai  trance. Jika sudah begini, saya lebih memilih menikmati spectacle berupa dua gitaris Mono yang kelojotan di atas kursi, Tamaki yang manisnya terasa lamat-lamat dari balkoni tempat saya duduk atau Takaa yang tiba-tiba melepas gitar, meng-abuse pedal boardnya dan kesurupan di lantai di salah satu lagu.

Namun, post-rocksub genre yang lekat dengan internet seperti lekat grunge/post-grunge dengan MTV— pun bisa berfungsi lain selain sarana pencapai musical orgasm para peformernya. Seorang rekan malah berani mengatakan bahwa post-rock adalah sebuah penanda generasi Y, sebuah generasi yang menemukan  cara melawan baru: menuliskan hati dan pikirannya di internet. Maka, masih menurut rekan saya, post-rock adalah soundtrack perlawanan mereka yang kerap dimaknai sebagai musik kontemplatif pengobat galau. Ini yang saya temui di konser tunggal Mono 11 Oktober silam; segerombol generasi milenia yang lebih senang duduk sambil mengangguk-anggukan badan atau diam memaknai “galau moment” masing-masing. Lantas, post-rock pun di tangan Generasi Y berubah wujud menjadi musik yang inklusif.

Sampai Mono beranjak setelah ‘Everlasting Light’, saya masih memikirkan hipotesa rekan saya itu. Sementara, beberapa penonton setia menunggu kuartet nirvokal itu kembali untuk menghantar sebuah encore, saya masih berusaha merunut hipotesa ugal-ugalan itu. Mono tak kembali ke panggung; saya memutuskan keluar balkoni sembari membiarkan hipotesa teman saya mengambang. Toh, saya datang untuk mengalibrasi bukan menemukan bukti atas sebuah hipotesa.

Sekali lagi, masa bodo dengan hipotesa tersebut. Yang penting saya sudah mengkalibrasi Mono. Bagi saya, Mono tidak berubah. Penerimaan akan post-rock yang berubah. Tiga tahun lalu, post-rock mungkin hanya mainan eksklusif scenester lokal. Kini, post-rock dibicarakan dalam pelbagai forum musik di ranah internet —Tampaknya, kawan saya benar tentang kedekatan post-rock dan internet. Di sanalah, post-rock dirayakan dan code of conduct atau segala tetek bengek tentangnya dipertukarkan, sekali lagi, dalam satuan kilobyte.

Pun, Mono kembali mencetak sebuah sejarah. Mono menjadi kolektif post-rock pertama yang disuguhkan tanpa ben pembuka. “An Exclusive Evening With Mono” jelas hanya mengandalkan Mono sebagai magnet tunggal. Namun, bukankah saya tulis di atas bahwa Mono membayarnya dengan tuntas. Tanpa, magnet yang kuat mana mungkin tiket presale ludes dengan cepat. Tanpa magnet yang sama mana mungkin hastag #MonoJKT masih berkeliaran beberapa hari paska hari H. Akhirnya, tanpa daya tarik yang sama, mana mungkin Denny Sakrie, kritikus musik tua kenamaan, mau muncul di Nusa Dua Theatre. Denny Sakrie menonton post-rock? Ini baru progres!

(More pictures click here)

Teks: Inerciatic  Manneken | Foto: IST