Duncan Sheik "Up
Close & Personal Concert" Rabu,
27 Juli 2011 @ The Hall, Senayan City Lt. 8,
Jakarta, Indonesia
"Such Reveries: Duncan's Chamber Set"
Untuk kedua kalinya —hanya
berjarak tujuh bulan— di tahun 2011, penyanyi alternative pop
yang menemani masa-masa sentimentil kami era ‘90-an, Duncan Sheik, hadir
kembali di Indonesia untuk menyajikan tiga penampilan kombo selama tiga
hari berturut-turut di Jakarta dan Bandung.
Jurnallica menyambangi
konser yang bertajuk “Up Close and Personal” hari pertama di The Hall,
Senayan City lantai 8, Jakarta dengan ekspektasi sesuai tema acara yang disajikan promotor cukup menarik. Bisa saja akan jauh lebih
menarik daripada panggung Sheik sebelumnya yang bertepatan dengan Hari
Valentine di Hard Rock Cafe, Jakarta. Hanya, Sheik kali ini tidak
tampil bersama tandemnya, Rachael Yamagata.
Sebagai seorang
singer-songwriter yang pernah bertahan 55 minggu di chart
Billboard, nyatanya konser ini malah membuat kami heran karena jumlah
penonton [mungkin] tidak sesuai dengan yang kami —sebagai penonton—
harapkan. Venue The Hall nampak terlalu luas dan tak mampu mengakomodasi
aura “kebesaran” seorang Duncan Sheik di atas panggung, padahal panitia
menyiapkan set chamber yang berarti eksklusif.
Premis kami sederhana
saja, “Kapan lagi menonton Duncan Sheik dengan chamber —kolektif
strings dalam jumlah kecil— yang nantinya memberi nuansa berbeda
di musiknya?” Sekitar pukul 21.00, Sheik membuka konser ini dengan ‘For
You’. Nomor sentimentil ini seharusnya bisa mengangkat mood
penonton seketika sebagai pembuka. Sayangnya, jumlah penonton yang tidak
begitu padat (atau “padat” dalam arti membantu menyamankan si penyanyi
di panggung dengan dukungan “musikal” dari penonton) tidak mampu menuju
ke arah sana. ‘Wishful Thinking’, lagu yang seharusnya familiar di
kalangan penggemar Sheik malah tidak direspon dengan baik. Pasifnya
penonton membuat Sheik berkali-kali berkata, “Saya inginnya ada sing
along. Ayolah, saya butuh banget bantuan kalian.” Masalah pertama
konser ini: penonton yang tidak cool.
Mungkin kami tidak bisa
sepenuhnya menyalahkan penonton, karena setlist Sheik juga tidak
seperti sebelumnya. Dia banyak membawakan lagu-lagu dari album “Cover
80's” —rekaman cover song era 80-an— yang baru saja dirilis.
Kecuali Anda adalah music geek yang mengikuti track-track
tersembunyi dari The Cure atau familiar dengan Thompson Twins,
Psychedelic Furs, Howard Jones, dan Tears for Fears sejak kecil, Anda
tidak akan bergabung bersama penonton yang terdiam saat Sheik
menyanyikan ‘The Ghost in You’, ‘Shout’, ‘Kyoto Song’, dan ‘Hold Me
Now’. Kami tersenyum saat Sheik “menembak” penonton dengan pertanyaan
satir, “Apakah kalian terlalu muda untuk lagu-lagu ini? Kalau tahu
bagian chorus-nya saja, bernyanyilah bersama saya. I just need
help.” Setlist yang tak ramah untuk penonton “muda”, yang
mungkin saja hanya datang sebagai alternatif hangout mereka malam
ini, membuat Sheik makin terlihat sepeti jukebox hidup di
atas panggung.
Menariknya, Sheik tidak membawa tim chamber classic-nya langsung
dari San Fransisco. Ternyata hampir seminggu sebelum konser Sheik
berlatih bersama musisi-musisi lokal. Sayangnya, waktu latihan yang
singkat membuat Sheik dan tim tidak begitu mampu membangun chemistry
mereka di panggung. Dia beberapa kali terlihat salah memainkan kort atau
lupa masuk ke part yang mana. Melihat kesalahan internal ini,
kami jadi membayangkan apa jadinya kalau kami jadi penonton reguler yang
menyisihkan uang ratusan ribu untuk penampilan yang banyak celahnya ini.
“Here's a pop song,”
ujar Sheik di tengah set. Bisa jadi itu merupakan kode bahwa dia akan
memberikan penonton lagu yang dijamin familiar kemudian sisi “Up Close
and Personal”-nya berhasil di poin ini. ‘Barely Breathing’ kemudian
dinyanyikan dengan warna chamber pop yang unik. Lagi-lagi,
penonton malah hanya sebagian yang ikut bernyanyi. Suasana tak jauh
berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya. Encore yang dilakukan Sheik
pun tak menjaring banyak teriakan “we want more!”. Jukebox
hidup itu kembali naik ke panggung dengan ‘Such Reveries’. Selanjutnya,
lagu penutup ‘On a High’
yang dibawakan dalam versi remix malah jadi ending yang
buruk. Kualitas sound berantakan, penonton cuma mengangguk-angguk, Sheik
yang lupa kort, dan part yang salah makin menguat di akhir konser
ini.
Jauh dari
tajuknya, konser ini malah seperti salah menempatkan momen dan suasana.
Mungkinkah karena Sheik sedang sial karena bertemu penonton superpasif
yang hanya datang sebagai alternatif jalan-jalan mereka malam itu? Atau
mungkin karena fans sejati Sheik sudah kepalang puas di konser
pertamanya pada Februari lalu? Atau mungkin karena konser ini diletakkan
setelah euforia sebuah Festival Rock Terbesar yang supersukses?
Jawabannya bisa disimpulkan sendiri oleh Anda; sebagai penonton yang
baik, sebagai penyelenggara yang baik, dan sebagai musisi yang baik.
01. For You
02. Wishful Thinking
03. The Ghost in You
04. The End of Outside
05. Shout
06. She Runs Away
07. I Don't Do Sadness
08. Hold Me Now
09. Barely Breathing
10. Stripped
11. Memento
12. Kyoto Song
13. What is Love
14. Half Life
15. Such Reveries
16. On a High