RELATED REPORTS 2011

 REPORTS 2010

 REPORT

Duncan Sheik "Up Close & Personal Concert"
Rabu
, 27 Juli 2011 @ The Hall, Senayan City Lt. 8, Jakarta, Indonesia

 

Duncan Sheik "Live in Jakarta"

"Such Reveries: Duncan's Chamber Set"

Untuk kedua kalinya —hanya berjarak tujuh bulan— di tahun 2011, penyanyi alternative pop yang menemani masa-masa sentimentil kami era ‘90-an, Duncan Sheik, hadir kembali di Indonesia untuk menyajikan tiga penampilan kombo selama tiga hari berturut-turut di Jakarta dan Bandung.

Jurnallica menyambangi konser yang bertajuk “Up Close and Personal” hari pertama di The Hall, Senayan City lantai 8, Jakarta dengan ekspektasi sesuai tema acara yang disajikan promotor cukup menarik. Bisa saja akan jauh lebih menarik daripada panggung Sheik sebelumnya yang bertepatan dengan Hari Valentine di Hard Rock Cafe, Jakarta. Hanya, Sheik kali ini tidak tampil bersama tandemnya, Rachael Yamagata.

Sebagai seorang singer-songwriter yang pernah bertahan 55 minggu di chart Billboard, nyatanya konser ini malah membuat kami heran karena jumlah penonton [mungkin] tidak sesuai dengan yang kami —sebagai penonton— harapkan. Venue The Hall nampak terlalu luas dan tak mampu mengakomodasi aura “kebesaran” seorang Duncan Sheik di atas panggung, padahal panitia menyiapkan set chamber yang berarti eksklusif.

Premis kami sederhana saja, “Kapan lagi menonton Duncan Sheik dengan chamber —kolektif strings dalam jumlah kecil— yang nantinya memberi nuansa berbeda di musiknya?” Sekitar pukul 21.00, Sheik membuka konser ini dengan ‘For You’. Nomor sentimentil ini seharusnya bisa mengangkat mood penonton seketika sebagai pembuka. Sayangnya, jumlah penonton yang tidak begitu padat (atau “padat” dalam arti membantu menyamankan si penyanyi di panggung dengan dukungan “musikal” dari penonton) tidak mampu menuju ke arah sana. ‘Wishful Thinking’, lagu yang seharusnya familiar di kalangan penggemar Sheik malah tidak direspon dengan baik. Pasifnya penonton membuat Sheik berkali-kali berkata, “Saya inginnya ada sing along. Ayolah, saya butuh banget bantuan kalian.” Masalah pertama konser ini: penonton yang tidak cool.

Mungkin kami tidak bisa sepenuhnya menyalahkan penonton, karena setlist Sheik juga tidak seperti sebelumnya. Dia banyak membawakan lagu-lagu dari album “Cover 80's” —rekaman cover song era 80-an— yang baru saja dirilis. Kecuali Anda adalah music geek yang mengikuti track-track tersembunyi dari The Cure atau familiar dengan Thompson Twins, Psychedelic Furs, Howard Jones, dan Tears for Fears sejak kecil, Anda tidak akan bergabung bersama penonton yang terdiam saat Sheik menyanyikan ‘The Ghost in You’, ‘Shout’, ‘Kyoto Song’, dan ‘Hold Me Now’. Kami tersenyum saat Sheik “menembak” penonton dengan pertanyaan satir, “Apakah kalian terlalu muda untuk lagu-lagu ini? Kalau tahu bagian chorus-nya saja, bernyanyilah bersama saya. I just need help.Setlist yang tak ramah untuk penonton “muda”, yang mungkin saja hanya datang sebagai alternatif hangout mereka malam ini, membuat Sheik makin terlihat sepeti jukebox hidup di atas panggung.

Menariknya, Sheik tidak membawa tim chamber classic-nya langsung dari San Fransisco. Ternyata hampir seminggu sebelum konser Sheik berlatih bersama musisi-musisi lokal. Sayangnya, waktu latihan yang singkat membuat Sheik dan tim tidak begitu mampu membangun chemistry mereka di panggung. Dia beberapa kali terlihat salah memainkan kort atau lupa masuk ke part yang mana. Melihat kesalahan internal ini, kami jadi membayangkan apa jadinya kalau kami jadi penonton reguler yang menyisihkan uang ratusan ribu untuk penampilan yang banyak celahnya ini.

Here's a pop song,” ujar Sheik di tengah set. Bisa jadi itu merupakan kode bahwa dia akan memberikan penonton lagu yang dijamin familiar kemudian sisi “Up Close and Personal”-nya berhasil di poin ini. ‘Barely Breathing’ kemudian dinyanyikan dengan warna chamber pop yang unik. Lagi-lagi, penonton malah hanya sebagian yang ikut bernyanyi. Suasana tak jauh berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya. Encore yang dilakukan Sheik pun tak menjaring banyak teriakan “we want more!”. Jukebox hidup itu kembali naik ke panggung dengan ‘Such Reveries’. Selanjutnya, lagu penutup ‘On a High’ yang dibawakan dalam versi remix malah jadi ending yang buruk. Kualitas sound berantakan, penonton cuma mengangguk-angguk, Sheik yang lupa kort, dan part yang salah makin menguat di akhir konser ini.

Jauh dari tajuknya, konser ini malah seperti salah menempatkan momen dan suasana. Mungkinkah karena Sheik sedang sial karena bertemu penonton superpasif yang hanya datang sebagai alternatif jalan-jalan mereka malam itu? Atau mungkin karena fans sejati Sheik sudah kepalang puas di konser pertamanya pada Februari lalu? Atau mungkin karena konser ini diletakkan setelah euforia sebuah Festival Rock Terbesar yang supersukses? Jawabannya bisa disimpulkan sendiri oleh Anda; sebagai penonton yang baik, sebagai penyelenggara yang baik, dan sebagai musisi yang baik.

Duncan Sheik "Live in Jakarta"

(More pictures click here)

 SONGLIST

01. For You
02. Wishful Thinking
03. The Ghost in You
04. The End of Outside
05. Shout
06. She Runs Away
07. I Don't Do Sadness
08. Hold Me Now
09. Barely Breathing
10. Stripped
11. Memento
12. Kyoto Song
13. What is Love
14. Half Life
15. Such Reveries
16. On a High

 TAUTAN

Teks: Gembira Putra Agam | Foto: IST