RELATED REPORTS 2011

 REPORTS 2010

 REPORT

INCUBUS "Live in Jakarta"
Selasa, 26 Juli 2011 @ Istora Senayan, Jakarta, Indonesia

 

"Kemenangan Nostaljia"

Konser musik terus hadir silih berganti menjelang bulan Ramadhan tahun ini. Dampak maraknya acara di ibu kota juga tak lain karena para pemodal mulai beralih menjadi promoter. Sayangnya, banyak promoter pemula masih memakai jasa PR yang inkompeten dan sok tahu dunia media sehingga (terkadang) membuat kinerja peliputan tidak mengindahkan. Namun, begitulah proses. Ada banyak pembelajaran. Walau seringkali masa transisi itu menyebalkan. Yang jelas, media itu BUKAN budak promosi!

Sebagai proyek perdana, ShowMaxx Entertainment memprakarsai konser (kedua) INCUBUS di Jakarta dalam rangka tur promo “If Not Now, When?” –album ke-7nya yang baru rilis 12 Juli ini. Malam itu, gedung Istora Senayan tak terisi setengah dari kapasitas [kurang lebih 3000 penonton-red]. Boleh jadi mereka yang hadir adalah sejatinya fans ben rock/fusion asal Calabasas, California, Amerika tersebut –mengingat rentetan jadwal konser musik belakangan ini sangat menguras kantong. Namun, entahlah, seberapa besar daya tarik acara ini bagi penonton. Kabarnya, para calo sampai menjual sepertiga dari harga normal tiket [Rp 650.000,- (Festival) & Rp 550.000,- (Tribun)]. Setidaknya itu masih ada solusi buat mereka yang ingin eksis.

Sebelum grup yang terdiri Brandon Boyd (vokal), Mike Einziger (gitar), Jose Pasillas II (dram), Chris Kilmore (turntables, kibord), & Ben Kenney (bas) berjibaku, satu ben lokal Good Morning Alice (GMA) lebih dulu menjamah panggung. Pemilihan ben pembuka ini rasanya cukup fair karena melewati proses audisi yang sempat diselenggarakan di salah satu cafe Jakarta. Tidak seperti kebanyakan promoter yang memilih ben pembuka sebagai daya tarik (walau tak representatif). Apalagi, GMA dipilih langsung oleh pihak Incubus dari 3 ben yang masuk nominasi besar.

Ada semacam ultimasi bagi sebuah ben yang pernah mengalami masa emas kemudian hiatus dan coba kembali bangkit. Begitupun dengan kondisi Incubus sekarang. Ilustrasi sampul “If Not Now, When?” [orang yang berjalan di atas tali-red] seolah menyiratkan nasib ben ini. Jika gagal, maka ucapkan selamat tinggal.

Namun, andalan kebanyakan ben yang tergolong lawas [Incubus terbentuk tahun 1991-red] adalah memainkan peran nostaljia. Di luar ekspektasi, hits terbesar mereka –yang biasanya ditempatkan akhir repertoar– justru dimainkan sedari awal. Membuka lewat  ‘Megalomaniac’ dari album “A Crow Left of the Murder...” (2004) dan disusul ‘Wish You Were Here’ membuat euforia audiens jadi meledak-ledak. Setlist pun terus dilanjutkan dengan tembang-tembang lainnya, seperti; ‘Pardon Me’, ‘Anna Molly’, ‘Love Hurts’, dll.

Secara performa, aksi Incubus boleh dibilang tak ada yang kurang. Mutu suara sang frontman, Boyd pun masih terdengar prima. Rehatnya dari Incubus, bukan berarti ia henti berkreasi. Bahkan di masa senggangnya dengan ben, Boyd merilis debut solo “The Wild Trapeze” pada Juli 2010 lalu. Sayang, interaksi dengan penggemar terlalu minim dan membuat kuotasi para personilnya menjadi tak penting. Padahal, seringkali banyak ben menggombal kalau fans adalah sosok yang signifikan.

Sedang perkenalan materi-materi baru Incubus justru ditempatkan pertengahan setlist yang berpotensi membuat mood penonton jatuh. Ditambah lagi, kesan para peliput yang terlanjur illfeel dengan kordinasi PR yang plin-plan dan diskriminatif. Ups! Sebenarnya, bukan masalah mengacak repertoar lagu selama materi-materi anyar tersebut sederajat dengan hits terdahulunya. Dinginnya respon terhadap album baru mereka atas pergeseran musikal Incubus juga menjadi pemicu. Ben (atau penggemar yang membela) bisa saja menyangkal hal tersebut sebagai pendewasaan. Tapi, ah, apakah dewasa sebegitu menyebalkan? Memakai alasan “dewasa” untuk ben yang berumur 20 tahun dan merilis 7 album penuh rasanya sudah kadaluarsa.

Okelah, jika parameter “kebenaran” umum selalu dinilai dari nominal, lagu ‘Adolescents’ –single perdana dari album “If Not Now, When?”– memang memiliki rating tertinggi di YouTube (di antara klip Incubus lainnya), yang terputar lebih dari 12 juta kali. Tapi nyatanya, penonton lebih bersingalong pada tembang-tembang lawas Incubus dibandingkan materi-materi anyarnya. Maka, untuk kasus kali ini, sekali lagi, nostaljia masih menjadi pemenang.

(More pictures click here)

 SONGLIST

01. Megalomaniac
02. Wish You Were Here
03. Consequence
04. Pardon Me
05. Anna Molly
06. Love Hurts
07. Circles
08. Look Alive
09. Promises, Promises
10. The Warmth
11. Drive
12. Rogues
13. Isadore
14. Glass
15. Talk Shows on Mute
16. Adolescents
17. A Crow Left of the Murder
# Encore #
18. In the Company of Wolves
19. Nice to Know You

 TAUTAN

Teks: Jurnallica | Foto: Yose Riandi