RELATED REPORTS 2011

 REPORTS 2010

 REPORT

FATBOY SLIM "Live in Jakarta"
Rabu
, 8 Juni 2011 @ Ballroom, Central Park, Jakarta, Indonesia

 

"I'm in Jakarta, Bitch!"

Rabu malam (8/06) seakan menjadi titimangsa krusial bagi para penggila lantai dansa. Pasalnya, DJ legendaris asal Inggris FATBOY SLIM siap ‘menggoyang’ Jakarta untuk pertama kalinya. Puji syukur kaum clubber panjatkan pada URBANITE Asia yang menggaet DJ bernama asli Norman Cook itu. Jika majalah Q pernah menobatkan FATBOY SLIM dalam daftar “50 Bands To See Before You Die”, maka kami yang berada dalam acara itu adalah golongan orang-orang yang beruntung.

Central Park Ballroom sekelebat menjadi target hipster. Jika sebelumnya saya menyaksikan Ballroom sebagai perhelatan jazz atau ajang idola pop prematur, ruang tersebut mendadak lantai dansa massal malam itu. Meski cuaca kurang bersahabat, gangguan gerimis tidak menyurutkan niat untuk bertandang ke acara tersebut.

Khusus acara ini, promotor juga menggelar dua arena pertunjukan: indoor & outdoor. Sesi indoor merupakan lokasi utama bertempat di Ballroom –tempat Fatboy Slim tampil–, sedang sesi outdoor terletak di halaman lantai teratas gedung itu. Sambil menunggu waktu datangnya headliner, para pengunjung disuguhkan beberapa penampilan DJ (baik produk luar ataupun dalam negri), a.l.: Thomas Gandey, Bobby Suryadi, Riri Mestika, Dipha, dll.

Schedule acara hampir saja meleset. Kalau saja Fatboy Slim tampil pada 8 Juni, pertunjukannya tepat tampil menjelang perubahan hari alias jam 12 malam. Yay! Sebagai pemanasan, potongan lagu dari ‘Roland Clark’ juga ‘Praise You’ menjadi introduksi lalu dihajar lewat ‘Put Your Hands Up’. Terlepas pengaruh alkohol atau zat-zat penggembira, seisi Ballroom seketika menjadi dansa massal yang dipadati sekitar 3000 audiens.

Di luar nama Fatboy Slim –proyek yang paling sukses–, Cook juga memiliki segudang proyek lainnya dengan pseudonym yang berbeda-beda, seperti: The Housemartins, Beats International, Freak Power, Pizzaman, dll. Yang termutakhir adalah Brighton Port Authority. Dengan nama Fatboy Slim –yang dipakai sejak 1996– saja, Cook telah meluncurkan 6 album studio dan sederetan rilisan lainnya.

Cook adalah pelopor genre electro dance yang mengangkat genre tersebut ke ranah mainstream lewat album ke-2 “You've Come a Long Way, Baby” (1998) dengan sampul pria berpostur gigantis yang akhirnya menjadi ikon FBS. Maka, performa Cook di Jakarta kembali mengingat masa emas musik elektronik era '90-an, dengan grup-grup seperti: My Chemical Brothers, Prodigy, dan sejenisnya.

Sebenarnya, penampilan Cook tak jauh berbeda dengan DJ kebanyakan yang menghadirkan mixtape selama berjam-jam. Selain menghadirkan single-single andalannya, ‘Right Here Right Now’, ‘What the Fuck’, dan pastinya cover, ‘Cancion del Mariachi’-nya Los Lobos, ‘Fuck You’-nya Cee Lo Green, ‘Seven Nation Army’-nya The White Stripes, ‘Jump Around’-nya House of Pain, dll. Kombinasi efek multimedia dan semburan sinar-sinar laser menambah kemasan pertunjukan.

Mengingat tak ada interaksi dalam pertunjukan DJ seperti panggung ben, khusus penampilan di Jakarta Cook menghadirkan sampling bersuara: “I'm in Jakarta, Bitch!” yang muncul di beberapa trek. Selama 2 jam Cook secara non-stop menghipnotis tubuh untuk berdansa. Tapi, DJ juga manusia. Cook sempat terbaring lelah di tengah-tengah pertunjukan.

Menghujung pertunjukan di akhir lagu ‘Rockafeller Skank’, Cook mengganti kemeja Hawaii-nya dengan kostum putih sepak bola Indonesia bernomor 9. Bicara soal bola, di negara asalnya, Cook adalah salah satu pemegang saham (sebesar 12%) klub sepak bola Brighton & Hove Albion FC yang didukungnya sejak pindah ke Brighton akhir '80-an.

Sebelum menutup aksinya lewat hit ‘Praise You’, Cook menunjukkan respek kepada audiens dengan mengibarkan bendera merah putih di depan panggung yang membuat seluruh penonton bersorak sorai. Tak ada sesi encore, meski jeritan itu sempat berkumandang. Cook harus meninggalkan panggung untuk melanjutkan trip-nya ke Singapura di hari yang sama.

Waktu telah menunjukkan jam 2 dini hari dan kebanyakan penonton memutuskan untuk pulang. Teruntuk mata yang belum terpejam, acara pun terus berlanjut dengan penampilan DJ-DJ penutup hingga semua benar-benar usai. Tak perduli apa di pagi hari kembali beraktifitas atau tidak. Seolah mereka menyapa hari esok dengan jari tengah.

(More pictures click here)

Report & photo: Jurnallica