Ben Folds "Live & Up-Close" Kamis,
26 Mei 2011 @
Teater Nusa Indah, Balai Kartini, Jakarta, Indonesia
"Pahlawan Piano"
Saya
tak pernah menyangka bila Kamis, 26 Mei 2011 menjadi salah satu hari
musikal terpenting yang saya alami di tahun ini. Secara kasat mata, Ben
Folds, seorang legenda piano rock[1]
era '90-an asal North Carolina –yang menjadi idola masa “muda” saya–
tampil selama dua jam (atau mungkin lebih?) di Teater Nusa Indah, Balai
Kartini, Jakarta.
Baru berselang
sehari setelah menyelenggarakan ben indie-pop New York, The
DRUMS, promoter Ismaya Live kembali menghadirkan artis krusial
internasional ini. Dan, hei, kedua titel acaranya seragam: “Live &
Up-Close”.
Hanya Folds dan pianonya. Jelas dia tidak membawa dua
teman yang sama gilanya sejak ben lama Folds,
Ben Folds Five [BFF],
bubar pada Oktober 2000. Menurut label
mereka, 550 Records[2],
bubarnya trio Ben Folds, Robert Sledge, dan Darren Jessee adalah perkara
konflik internal yang ternyata mempengaruhi sudut pandang mereka secara
artistik.
550 Records menyebut bubarnya mereka dengan petunjuk “breaking up as
a band and going in their own directions, musically, and geographically.”
Walau sempat melakukan satu kali reuni pada 2008 di Chapel Hill, North
Carolina, –kampung halaman mereka– BFF
benar-benar tidak akan merilis album lagi setelah “The Unauthorized
Biography of Reinhold Messner” (550 Records, 1999).
Pada
1998, Folds bersama Fleming, John serta William Shatner –ya, Star Trek!–
sempat merilis sebuah album di bawah nama
Fear of Pop, sebuah proyek
pop eksperimental dengan lagu legendaris ‘In Love’. Pada konfrensi pers
di Pizza é Birra siang harinya (26/05), saya sempat menanyakan langsung
ke Folds mengenai kelanjutan grup tersebut. Sayangnya, dia mengaku tidak
akan meneruskan proyek unik ini. “I don’t have fucking time to do it
anymore,” katanya. Saat saya beritahu proyek itu sangat menarik
untuk diteruskan, dia cuma mengangkat bahu dan kedua tangannya
mengisyaratkan, “Ya, sudahlah…!”
Sedangkan sisa
personil BFF menuju pilihan mereka masing-masing:
proyek-proyek dengan direksi berbeda. Itu pun tidak begitu
kentara seberapa bedanya, kecuali chemistry yang mereka dapatkan
di antara masing-masing personil. Basis BFF,
Robert Sledge, menjadi songwriter dan vokalis untuk
alternative pop act
International Orange –yang berumur pendek. Sementara mantan
dramer “trio yang dideklarasikan berlima” tersebut, Darren Jessee,
menjadi vokalis dan gitaris ben alt-country/indie rockHotel Lights. Kedua alumni
BFF itu masih membawa kebiasaan lama; lewat musiknya, mereka bisa
menjadi liar di waktu tertentu, bisa jadi sentimentil, atau
religiously beautiful.
Folds jelas
merupakan ikon dari ben “sinting” yang menemani masa ABG saya sejak
pertama BFF merilis album –yang dikatalogkan sebagai nama ben ini
sendiri. Saya tak pernah bisa melupakan bagaimana Folds walau dengan
wajah geek-nya dan “nggak nge-rock” itu bisa puas mengejek
Robert Sledge dan Darren Jessee di setiap live-nya. Di era 90-an,
Folds memberikan style “nyeleneh” untuk seluruh pengguna piano
yang lemarinya hanya diisi musik standar klasik ataupun jazz. Piano bagi
Folds tidak sesakral para musisi klasik yang harus dihadapi dengan
lembut dan berpakaian rapi –pada show di Jakarta, ia hanya
mengenakan kemeja dan celana jins. Di lain pihak, Folds bersama ben
lamanya menjadi reaksi bagi “machoisme rock” Amerika –sebut saja
heavy metal– sampai dia menyebut musiknya sendiri sebagai “punk
rock for sissies”. Folds memperlakukan pianonya seperti gitar bagi Jimi Hendrix, bas bagi Flea, atau dram bagi Mike Portnoy.
Penampilan
“minimalis” Folds masih segila itu. Permainannya, liriknya, dan
bagaimana dia mampu menguasai panggung sambil mengajak siapa pun yang
menonton menjadi bagian pagelaran musikalnya. Sejak pengumuman Folds
akan naik panggung beberapa saat lagi, kami telah siap masuk ke
petualangan nada yang diberikan solois ini sampai lagu terakhir. Baru
membuka repertoar lewat ‘Effington’ dari album “Way
to Normal”
(Epic, 2008) pada jam 9 malam, Folds langsung menghajar penonton dengan lirik super-konyol dan
menonjok bagi siapapun yang mendengarnya: “If there’s a god, he’s
laughing at us and our football team!” Entah karena efek tuhan di
atas sana mendengar apa yang dinyanyikan Folds di muka bumi, saya
(seketika) merasakan bulu kuduk naik. Tak heran, karena sudah lama saya
menunggu orang-gila-berpiano ini hadir di hadapan saya beserta penggemar
Folds lainnya.
Folds juga mengingatkan penggemar lamanya lewat lagu ‘Annie Waits’ dari debut Folds
sebagai solo bukan ben. Di lagu kedua ini, beberapa penggemar “lama”
yang saya intip ikut menyanyikannya, apalagi pada bagian paling galau, “Annie
says ‘You see this is why I'd rather be alone.’” Dari sini Folds
mulai memperlihatkan gejala wild-nya di depan piano.
Saya
tak sabar menunggu kejutan apa lagi yang diberikan orang gila itu.
Di
konser ini, unsur nostaljia lebih besar daripada promosi sebagaimana
show musisi/ben yang menyambangi negri ini. Terbukti, Folds
hanya membawakan satu lagu dari album terakhirnya, “Lonely
Avenue”
(Nonesuch, 2010) –sebuah album Folds yang berkolaborasi dengan novelis
Inggris, Nick Hornby.
Lagu yang dipilih adalah ‘Picture Window’ dengan reff
sentimentil, “You know what hope is? Hope is a bastard, hope is a
liar.” Tentunya ini merupakan mimpi buruk bagi mereka yang cuma
mengenal Folds era “Way to Normal” (Epic, 2008) dan “Lonely Avenue”
(Nonesuch, 2010). Hal ini “diperburuk” saat Folds meminta penonton untuk
membawakan lagu apa yang akan dia dinyanyikan. Di beberapa lagu pertama
saja, penonton sudah berteriak; ‘Rock this Bitch!’
Bagi
penggemar setia Folds, ‘Rock this Bitch’ merupakan lagu yang
ditunggu-tunggu, karena ini merupakan ritual khusus yang dilakukan Folds
di setiap konsernya. Momen itu juga dihadirkan di Jakarta dengan melibatkan
Indonesia sebagai bagian dari lirik, “Indonesia, Indiana are fucking
same place…”. Tentunya
penonton langsung tergelak mendengar lirik konyol plus “F-word”
dinyanyikan dengan indah dari mulut Folds.
Kalau saja
konser ini merupakan rilisan fisik, tentu poster dan lembaran tiket
harus diberi label “Parental Advisory”, lalu kami datang bersama kedua orang tua. Untungnya, sebagian besar yang hadir di pagelaran ini adalah
orang-orang generasi ‘90-an yang sudah tahu persis bagaimana menggunakan
“F-word” di saat yang tepat. Porsi “fuck” di lagu-lagu Folds
–bahkan sejak era BFF–
sangat banyak. Tapi melihat sihir Folds melalui pianonya, kalian tak
akan tahan untuk ikut berteriak “fuck” di lagu ‘Rockin' the
Suburbs’. Sampai pada lirik “You better watch out because I’m gonna
say…”, tanpa komando, seisi ruangan berteriak puas: “FUCK!!!”
Ini sekaligus menggambarkan seberapa speechless-nya kami malam
itu sampai harus mengumpat ketimbang memuji.
Folds juga
dikenal sebagai multi-instrumentalis. Dia bermain bas pada ben
Majosha yang bernuansa modern funk. Di era
BFF, Folds malah suka
switch instrumen bersama teman-teman satu ben-nya. Pada akhir lagu
‘Steven's Last Night in Town’ yang upbeat itu, kami tak menyangka
Folds akan memainkan dram. Gilanya, set dram malah tidak dipersiapkan
lebih dulu. Seorang kru membawa tom-tom ke atas panggung lalu menggiring
Folds ke lahan kosong sebelah sisi pianonya. Folds pun terus menabuh
sambil kru menyusun set dram satu persatu hingga instrumen itu terkumpul
secara utuh. Mengagumkan. Tepuk tangan dan teriakan salut dari fanboys/fangirls
tak berhenti selama sesi itu.
Apa yang
diharapkan penggemar lama Folds terbayar dengan baik. Dia banyak
membawakan lagu-lagu dari album awal
BFF. Saya
sendiri excited saat Folds membawakan lagu favorit saya, ‘Not the
Same’. Di sini, Folds memberi kepercayaan pada penonton untuk menjadi
beking vokalnya. Bulu kuduk yang sedari awal berdiri, di poin ini makin
menjadi-jadi.
Akhirnya, lagu ‘Army’ dari album “The Unauthorized…” menjadi
perpisahan Folds dengan publik Jakarta malam itu. Folds memainkan sebanyak
25 lagu (termasuk encore) plus storytelling dengan gaya
humornya. Untuk penggemar lama
Folds, pertunjukannya di Jakarta adalah pemberian yang indah. Atraksi
musikal yang tak akan pernah bisa saya lupakan sepanjang hidup. Meski
tata panggung minimalis tapi teknis suaranya maksimal. Serta berjibaku
piano yang gila dengan sikut dan improvisasi sintingnya, plus di-ijinkan
mengatakan “F-word” pada pertunjukan. Sempurna!
[1]
Sebut saja “piano rock”; musik alternative rock
yang dimainkan dengan instrumen utama piano. Tidak selalu “alternative”
untuk orang sejenius Ben Folds. Dia kerap pula memasukkan
style musik New Orleans jazz, ragtime, blues, “punk”,
sampai ke pop melankolis. You
name it.
01. Effington
02. Annie Waits
03. Sentimental Guy
04. Smoke
05. Jesusland
06. All U Can Eat
07. Bitch Went Nuts
08. Time
09. Rock This Bitch
10. Still Fighting It
11. Don't Change Your Plans
12. You Don't Know Me
13. Picture Window
14. Steven's Last Night in Town (Ben Folds Five cover) + [Drums Solo]
15. Cologne
16. Philosophy (Ben Folds Five cover)
17. Misirlou
18. The Last Polka (Ben Folds Five cover)
19. Landed
20. The Luckiest
21. Zak and Sara
22. Rockin' the Suburbs
23. Not the Same
# encore #
24. One Angry Dwarf and 200 Solemn Faces (Ben Folds Five cover)
25. Army (Ben Folds Five cover)