The CHARIOT
[Live @ CFD Fest 2011] Selasa,
10 Mei 2011 @
Bulungan Outdoor, Jakarta, Indonesia
"Kegilaan Maksimal"
Bagaimana
Anda mendeskripsikan pertunjukan musik yang bagus? Permainan yang kompak
& rapi? Sound yang pol? Etecera. Sepertinya itu semua juga
menjadi standar ben yang tampil. Tapi bagi kami, pertunjukan yang
menarik itu justru yang tak mampu terungkap dengan
kata-kata, selain satu rasa: impresif. Yang membuat penonton
hanya bisa geleng-geleng kepala dan menjadi kisah penyesalan hidup bagi mereka yang
absen. Apa yang
kami rasakan itu semua terjadi kala menyaksikan show The CHARIOT.
Ben chaotic
asal Douglasville, Georgia, Amerika tersebut tampil sebagai headliner dalam
event periodikal CFD Fest 2011 –yang
kali ini berkongsi dengan promoter Lian MIPRO.
Tapi tak seperti biasanya, acara yang digagas sebuah clothing
yang sedang naik daun itu tak disesaki massa ABG seperti perhelatan-perhelatan sebelumnya.
Entah karena momennya hari sekolah atau ben yang tampil itu-itu aja atau... membosankan?!
Ehm.
Dari
sederetan nama ben dengan genre stereotipikal, bisa dibilang The Chariot yang paling
edgy. Mereka
mengusung matchore yang sarat tempo-tempo ganjil serta tipikal vokal
harsh. Praktisnya, bila Anda telah
menyimak The Dilinger Escape Plan atau Converge –ben-ben yang dianggap “kiblat”
genre tersebut– pasti sudah bisa mensketsa seperti apa karakter musiknya.
Namun, bicara aksi
panggung, performa The Chariot sungguh tak dapat tergurat dengan rangkaian kalimat.
Mungkin
kata
“gila”
adalah padanan yang tepat untuk mengekspresikan show The Chariot. Kami
atau penonton hanya dibuat tercengang sepanjang pertunjukan karena aksi kegilaan-kegilaan
para personilnya.
Bahkan, kegilaan mereka seperti mampu menghipnotis kami untuk menjadi bagian
di dalamnya. Gila!
The Chariot
adalah kumpulan psikopat.
Kegilaan dimulai saat Josh Scogin (vokal), Stephen
“Stevis” Harrison
(gitar, beking vokal), Jon “KC Wolf” Kindler (bas, beking vokal), David
Kennedy (dram), & Brandon Henderson (gitar, beking vokal)
menghentak ‘Back to Back’ (yang disambung ‘The Deaf Policemen’) dari album “The Fiancée” (2007). Sedang
show
The Chariot di Jakarta ini merupakan bagian tur album ke-4 nya, “Long Live” yang dirilis 22
November 2010.
Seharusnya sang basis itu dipantek. Selain
sosoknya seperti Yesus, penampilannya
terlihat paling all
out; membasuhi rambut dengan ludah, berlari-lari hingga ke luar arena panggung,
moshing di
tengah-tengah crowds, dll. Dia lebih gila dari yang paling gila. Mungkin itulah
kenapa dirinya menjadi reprentasi sampul album baru The Chariot.
Personil yang lain juga tak kalah sakit; seperti Henderson, gitaris
hitam berambut gimbal itu menaiki pondasi panggung setinggi
(kurang lebih) 6 meter. Dan dia bermain gitar di atas sana.
Puufff!!!
Saat menyimak
live The Chariot, Anda tak perlu mengerti atau tidak lagu-lagunya, suka atau tidak suka
akan musiknya. Tapi aksi panggung mereka mampu membuat siapapun berdecak
kagum tiada tara. Tak perlu lah menghafal lagu-lagunya agar
bisa singalong seperti di pertunjukan ben-ben
“pop” dengan
embel-embel
“punk”. Cukup saksikan performa keliaran mereka tanpa batas
yang sanggup melupakan segalanya dan seluruh ben yang (sebelumnya) tampil
di atas panggung. Bahkan, beberapa rekan wartawan yang meliput mengaku
bingung harus menulis apa setelah melihat show & musiknya yang carut-marut.
Ha! Sebagai
gambaran otentik, sebaiknya Anda cari video-video live The Chariot di YouTube atau
links yang telah kami sajikan di songlist [lihat di bawah-red]. Repertoarnya memang 10 lagu saja
[itupun jika benar, sebab vokalisnya sendiri yang menulis urutan judul
lagu saat Jurnallica minta-red].
Walau pertunjukannya singkat, namun
kesannya terasa hingga akhir hayat.
Cara mereka mengakhiri pertunjukan
pun cukup unik. Di akhir lagu
penutup, ‘And Shot Each Other’ Scogin
mempreteli set dram satu persatu hingga menyisakan snare dan bas
dram. Namun Kennedy terus memukul apa yang ada di depannya hingga
semuanya benar-benar selesai. Luar biasa! Aksi mereka seperti orang-orang tak
waras namun
terkonsep.
Usai
manggung pun, para personilnya terlihat rendah diri. Tak sedikit
para penonton langsung mengerubungi kelima personilnya untuk memuji penampilan mereka atau mengajak foto bersama. Sebagai upeti, banyak
dari penonton yang memborong merchandise The Chariot –walau berupa cd atau selembar stiker seharga Rp
10.000,-. Sekelebat ben ini menjadi begitu agung.
Anda
boleh saja bilang kami berlebihan dalam membahas show The Chariot.
Lebay. Atau apalah nama sebutannya. Kami juga tak bermaksud
pretensius. Karena se-euforia apapun
penulis, tetap lah penonton yang lebih tau. Tapi, satu pesan kami:
Check this band live fukkin out!!!
01. Back to Back
02. The Deaf Policemen
03. Calvin Makenzie
04. The Audience
05. Teach
06. Before There Was Atlanta, There Was Douglasville
07. The City
08. Daggers
09. Yanni Depp
10. And Shot Each Other