MISERY INDEX "Live in Jakarta" Minggu,
3 April 2011 @ Bulungan Outdoor, Jakarta, Indonesia
"Menggerinda"
Beberapa tahun silam, saya pernah
melakukan wawancara dengan Jason Netherton dari MISERY INDEX untuk media
yang lain. Dari beberan jawabannya itu, ada satu pernyataan dimana ia
menyinggung lirik DYING FETUS [ben Jason sebelum
mendirikan MI-red] yang dianggap “sayap
kanan”,
bertolak dengan tema-tema Misery Index yang cenderung ke “sayap
kiri”.
Kalau sudah berlawanan arah, maka tak ada lagi titik temunya. Jadi,
memisahkan diri adalah keputusan yang tepat.
Terlepas
dari asumsi saya tersebut, mungkin itulah yang membuat Jason mengkontruksi
ben baru sesuai visinya. Saat nama Dying Fetus semakin wangi berkat album “Destroy the Opposition”
(2000), Jason malah memutuskan hengkang dari
grup brutal death terbaik Maryland, Amerika itu dan membangun MISERY INDEX
pada 2001. Namun Jason tak sendiri, justru dua rekan lainnya di Dying
Fetus (Sparky Voyles-gitar dan Kevin Talley-dram) turut bergabung memperkokoh pondasi
Misery Index.
Sebagai mercusuarnya, mereka meluncurkan EP
“Overthrow” (2002) dan mulai diperhitungkan di skena
metal hingga hardcore. Dalam struktur musik, Misery Index mengusung deathgrind,
yang mengkombinasikan antara death metal klasik dengan grind, thrash, crust
serta muatan atitut resistensi yang dilontarkan lugas dan keras.
Bagi
yang sudah menyaksikan live show Dying Fetus tahun lalu, rasanya kurang afdol
bila melewatkan aksi panggung Misery Index. Karena show mereka juga
salah satu yang ditunggu-tunggu oleh metalheads dan hardcore
kids di Indonesia. Acara ini masih dieksekusi oleh promoter yang sama
kala menggalang
show Dying Fetus di Jakarta –dan di tempat yang sama pula. Hanya, entah kenapa
promoter harus
menggonta-ganti label setiap mengadakan
event yang berbeda. Apakah demi sokongan sponsor lebih penting
daripada menjaga reputasi? Lihat saja desain flyer show Misery
Index di Jakarta yang terkesan asal jadi, bila
tidak ingin dibilang jelek sekali.
Dalam rangkaian
“Heirs to Thievery Asian Tour” di 5 kota Indonesia, Jakarta menjadi final eksekusi
–estafet
dari Surabaya, Makassar, Medan, Yogyakarta. Sekitar jam 8 malam –usai ben-ben pembuka seperti:
SIKSAKUBUR, DEAD VERTICAL, BESIDE, dll–, kuartet beringas yang terdiri
dari
Jason Netherton (vokal, bas), Mark Kloeppel (vokal, gitar),
Adam Jarvis (dram), & Darin Morris (gitar
lead)
langsung menggerinda lewat ‘Embracing
Extinction’
–yang di-medley dengan
‘Defector’
dari EP “Dissent”
(2004).
Meski sound vokal terdengar mati-nyala di bagian
awal, mereka tetap membakar arena.
Kekompakan bermain juga menjadi nilai plus aksi panggungnya
sehingga tetap terdengar rapih.
Dalam formasi
Misery Index terakhir, Jason adalah satu-satunya pendiri ben yang
tersisa. Tapi di atas
panggung, Mark yang terlihat sebagai frontman. Jason memang berkepribadian
humble dan enggan diperlakukan seperti “bintang”. Seperti pada konfrensi
pers di Jakarta (29/03), saat melayani signature ia sempat bergumam; “I hate this!” –sambil
menandatangani. Sikap rendah diri ini tentu makin menumbuhkan respek
yang tinggi terhadap grup tersebut.
Dalam rangka
tur promo “Heirs
to Thievery”,
untuksetlist hanya sepertiga dicomot dari album
tersebut.
Sisanya mereka
me-mix lagu dari seluruh album, termasuk single lawas ‘Manufacturing
Greed’ dari EP “Overthrow”
yang sempat dirilis
format kaset di Indonesia.
Tentu saja headbanging, circle pits,
dan serupanya menjadi ritual wajib massa hitam di Bulungan malam itu.
“Ini seperti penantian
yang sangat lama,” kata Mark.
Namun, kalau
penonton harusnya berkerumun di depan panggung, justru beberapa di
antaranya berjubal di belakang set dram. Seakan para 'penonton'
itu ingin
menjadi saksi mata akan skill Adam yang terkenal dahsyat. “Lihat
penggemar Adam berkumpul di belakang,” singgung Mark sambil menunjuk
orang-orang di balik panggung. "Kalian melakukan mosh juga ya?!"
Selain tampan
dan gagah perkasa, teknik permainan dram Adam yang intens dan rapat
membuat banyak orang cuma bisa geleng-gelengkan kepala, termasuk
para dramer metal lokal ternama itu. “Wah! Dubbing tuh!” kata
seorang penonton bercanda yang menganggap permainan Adam seperti mesin.
Bahkan, tak sedikit para dramer memuji talenta Adam usai menyaksikan
performa Misery Index.
Sebanyak 15 lagu mereka geber selama 60 menit –dan tepat waktu.
Misery Index menutup repertoarnya lewat ‘Theocracy’
dan setelah itu tak ada pura-pura balik ke belakang panggung agar penonton
berteriak “we want more”. NO
bullshit encore.
Ingat! Mereka bukan bagian dari Budaya Timur. Karena, basa-basi adalah tradisi di
negara ini.
01. Embracing
Extinction
02. Defector (Thinning the Herd)
03. The Carrion Call
04. Traitors
05. The Spectator
06. The Great Depression
07. Ruling Class Cancelled
08. Ghost of Catalonia
09. Manufacturing Greed
10. Retaliate
11. You Lose
12. Conquistadores