JIMMY EAT WORLD "Live in Jakarta" Minggu,
3 April 2011 @ Teater Nusa Indah, Balai Kartini, Jakarta, Indonesia
"Teater ala Jimmy Eat World"
Seperti apa jadinya menyaksikan konser musik rock dalam ruangan
teater? Haruskah para penonton melampiaskan euforia dengan
berjingkrak-jingkrak di atas jejeran bangku yang tersusun rapi?
Kalau tidak, itu sama seperti mengikat spektator di atas
kursi-kursi listrik.
Atau, mungkin rock sudah terdeskripsi lebih soft dari
genre musik yang paling ringan sehingga promoter tidak merasa salah
pilih tempat.
Pada konser Jimmy Eat World
[JEW] di Jakarta (3/04) yang awalnya ditempatkan di Tennis Indoor
Senayan terpaksa pindah ke Teater Nusa Indah, Balai Kartini. Entah apa
yang membuat promoter JAVA Musikindo berlaku demikian. Karena alasan
apapun tetaplah sebuah alasan. Apalagi saat “si Om”
–sapaan
terbaik bos JAVA Musikindo, Adrie Subono–
mengumumkan lewat Twitter-nya, bahwa di Balai Kartini
tidak ada bagian Festival. Dengan kata lain, semua penonton harus duduk
manis dalam menonton ben alternative rock asal Mesa, Arizona,
Amerika itu. Kalau biasanya menonton konser leher mengadah ke atas
panggung, kini pemandangannya malah menukik tajam ke bawah. Sebagian orang yang sudah membeli tiket, pesimis akan
ruangan yang tak lazim tersebut menjadi sebuah rock show. Tapi sebagian
lainnya justru menganggap maklumat itu sebagai kabar bagus. Mereka
percaya, kalau di Balai Kartini penonton bisa lebih ‘intim’ dengan sang
idola.
Benar saja, jarak panggung dengan penonton (yang akhirnya ogah duduk)
sangatlah dekat. Barikade yang tak terlalu tinggi membuat para penggemar
seperti dapat meraih idolanya di depan mata.
Kapasitas ruangan itu tak lebih dari 1000 kepala. Bahkan limitiasi untuk
para wartawan hanya disediakan 50 kursi.
Jadwal JEW bermain mulai jam 8 malam. Namun, ketika pintu teater dibuka
satu jam sebelum pertunjukan, penonton langsung memadati venue untuk
bersiap-siap dan menunggu. Kalau konser-konser di Tennis Indoor Senayan
–yang biasa JAVA selenggarakan– menunggu pertunjukan sang artis adalah
hal yang sangat membosankan, untuk konser kali ini tidak demikian.
Justru para penonton duduk manis, berkomentar tentang bentuk venue, dan
tidak sedikit dari mereka mengabadikan gambar agar langsung diposting
di Twitter. Dan tentunya, eksis!
Jim Adkins (vokal, gitar), Tom Linton (gitar, vokal), Rick Burch (bas,
beking vokal), & Zach Lind (dram) mulai menunjukan diri di atas panggung
pada waktu yang ditentukan. Sambutan meriah pun langsung mereka terima.
Kuartet itu juga mengajak seorang singer-songwriter wanita asal
Phoenix, Courtney Marie Andrews sebagai beking vokal untuk beberapa lagu
dari album ke-7nya, “Invented” (2010) –dan show di Jakarta merupakan rangkaian tur promo album tersebut.
Belakangan ini, JAVA Musikindo lebih menghadirkan konser-konser ben
berpangsa penonton kaum ABG. Tapi pilihan JEW, itu lebih cocok
untuk para penikmat rock era '90-an
–termasuk
konser Stone Temple Pilots di Jakarta beberapa minggu sebelumnya.
Benarkah JEW adalah pilihan si Om semata atau kemauan selera musik
anak-anaknya?
Ben yang terbentuk pada 1993 itu membuka repertoar lewat
lagu ‘Bleed American’ (dari album yang berjudul sama) yang dirilis satu
dekade silam –album tersebut juga sempat di-reissue dengan titel
baru
“Jimmy
Eat World”
agar tidak terjadi mispersepsi, sehubungan titelnya berdekatan tragedi
paska serangan teroris 11 September 2001. Single perdana dari album
barunya, ‘My Best Theory’ saja baru dimainkan pada urutan ke-3.
Penonton cukup terkejut saat JEW memainkan lagu ke-5, ‘Lucky Denver
Mint’. Sebab lagu yang pernah tampil dalam film “Never Been Kissed” itu
tidak masuk setlist seperti konser JEW di Singapura 2 hari
sebelumnya. Ini tentu
memberi harapan kepada penonton agar lagu-lagu favorit lainnya juga
dibawakan. Begitu terdengar intro ‘Big Casino’ yang sudah tidak asing
lagi, sukses membuat penonton teriak histeris.
Sampai di tengah konser
berlangsung, Jurnallica beserta penonton lainnya sempat ditegur panitia.
Bukan karena kami merokok atau melanggar aturan-aturan sementara yang
lain, tapi karena kami menikmati konser JEW dengan berdiri –yang
ternyata menghalangi pandangan penonton yang duduk di belakang kami. Ini
tentu terlihat aneh, spontan di antara yang tertegur berkomentar dengan
nada gusar, “nonton band rock kok disuruh duduk?!”.
Salah satu
lagu yang ditunggu-tunggu, ‘Hear You Me’ akhirnya juga dimainkan di
urutan ke-16.
Mengingat ruangan ber-set teater, lagu tersebut terasa lebih pas jika
menikmati bersama pasangan. Performa JEW semakin lengkap kala membawakan
‘Goodbye Sky Harbor’ yang berdurasi (sekitar) 10 menit. Di lagu ini
Adkins menunjukkan kualitasnya bermain sampling yang membuat
penonton cukup terpukau. Beres lagu tersebut, akhirnya mereka
meninggalkan panggung. Tapi
penonton sudah khatam kalau itu bukan bagian akhir konser.
Jadi, mengerti kan apa bagian selanjutnya?
Ya, encore.
‘Invented’ menjadi pilihan pertama. Lagu akustik
berdurasi 7 menitan ini seakan menjadi ‘pemanasan’ sebelum 2 lagu
terakhir yang begitu hits dan klimaks. Saat intro ‘The Middle’
berkumandang, barulah seluruh penonton berteriak dan singalong
lebih kencang dari lagu-lagu sebelumnya.
Penonton seperti tak diberi istirahat dan enerjinya terus mengalir
hingga menit-menit penghabisan.
Tanpa jeda, hit ‘Sweatness’
menyambung sekaligus menutup pertunjukan. Konser pun usai jam 10 malam.
Sound yang ‘gagah’ berpadu tata lampu yang apik serta suasana begitu ‘intim’,
membuat konser Jimmy Eat World ini pantas tercatut sebagai salah satu
show terbaik di 2011.
(You also can watch their live video
in Indonesia
here)
SONGLIST
01. Bleed
American
02. A Praise Chorus
03. My Best Theory
04. Coffee and Cigarettes
05. Lucky Denver Mint
06. Let It Happen
07. Futures
08. Big Casino
09. Dizzy
10. Action Needs an Audience
11. Pain
12. 23
13. Get It
Faster
14. Evidence
15. For Me This Is Heaven
16. Hear You Me
17. Work
18. Blister
19. Goodbye Sky Harbor
# encore #
20. Invented
21. The Middle
22. Sweetness