The EXPERIENCE BROTHERS "The Eye Contact Concert 2011" Sabtu,
2 April 2011 @ Concordia
Room Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit, Bandung
"Konser Rendah Hati dari Musisi Rendah Hati"
Perasaan terkejut
langsung hinggap begitu saya mencapai Bumi Sangkuriang, Bandung sekitar
pukul 18.30. Venue saat itu masih begitu lengang, bahkan jumlah penonton
yang ada mungkin tidak lebih banyak daripada jumlah panitia yang saat
itu sedang hilir mudik mempersiapkan acara. Sambil menunggu pintu masuk
dibuka, saya duduk-duduk di pelataran luar bersama beberapa teman
serombongan yang ikut datang ke acara ini. Sementara saya mendengar
materi dari album terbaru The Experience Brothers via earphone.
Dari dalam venue terdengar sayup-sayup suara sound-check salah
satu pengisi acara. Sepertinya akan memakan waktu yang lama hingga acara
dimulai.
Dan benar saja, konser
tunggal The Experience Brothers
bertajuk “The Eye Contact Concert 2011” baru dimulai saat jam
menunjukkan pukul 20.20 WIB dengan naik-nya Jack and Four Me ke atas
panggung. Satu hal yang mencolok dari ben ini adalah mereka hanya punya
satu gitaris, dan dia adalah seorang wanita. Sayangnya ketangguhan
wanita itu dibalik instrumen gitar gagal diimbangi oleh performa yang
sepadan dari sang vokalis. Ekspresi datar ala zombie dan pelafalan
bahasa Inggris yang kurang baik adalah poin utama dibalik kurang
impresifnya performa sang vokalis malam itu, di samping kualitas
vokalnya yang memang biasa saja. Sangat disayangkan hingga saat Jack and
Four Men turun panggung, performa mereka tetap saja tidak menanjak dan
gagal meninggalkan kesan yang berarti di benak penonton.
Jumlah penonton masih
belum bertambah secara drastis saat Katjie and Piering naik ke atas
pentas. Dengan instrumen tidak langka macam glockenspiel, cello,
hingga instrumen mirip kecapi membuat ben ini mengundang rasa penasaran
akan seperti apa bentuk musik mereka. Mengawali penampilan dengan
cover version dari ‘Matraman’ milik The Upstairs, ben ini sukses
menarik perhatian saya. Cita rasa new wave ala The Upstairs pada
lagu itu habis tidak tersisa dilibas oleh musik akustik mereka yang
teduh, juga berkat duet vokalis pria-wanita mereka yang terasa bagai
perkawinan Erlend Oye dan Aprilia Apsari di atas panggung.
Lewat pukul sepuluh
malam, akhirnya sang pemilik acara muncul juga. The Experience Brothers,
duet kakak-adik yakni dramer Daud Sarassin dan vokalis-gitaris Bram
Saladdin membuka panggung dengan ‘Stompbox’ –dari album terbaru mereka.
Mahattir Alkatiry, vokalis Speaker First ikut naik ke atas panggung pada
lagu ketiga, saat membawakan ‘Young Generation’-nya The Who.
Kalau boleh jujur,
penampilan The Experience Brothers Malam itu sangat datar.
Sering
kali jeda antar lagu menjadi begitu lama hanya karena senar gitar Bram
yang putus. Jeda yang lama saat menunggu senar dipasang inilah membuat
flow acara berjalan begitu lamban, bahkan membosankan. Sisi
baiknya adalah, Bram mampu mengisi sela-sela jeda itu dengan
menceritakan sejarah The Experience Brothers serta orang-orang yang
berjasa terhadap karir mereka selama ini. Terkadang Daud menimpali
ocehan sang kakak dengan jokes yang cukup menyenangkan, membuat
suasana menjadi chill dan serasa tidak ada gap berarti antara
mereka dan penonton.
Acara baru
memanas saat The Experience Brothers membawa cover ‘I Got Mine’
dari The Black Keys –yang ditemani Iga Massardi dari The Trees and The
Wild– nomor legendaris dari Led Zeppelin, ‘Rock and Roll’ bersama Rekti
dari The S.I.G.I.T. naik ke atas panggung. Meski konon
kabarnya Rekti main tanpa pernah ikut latihan, Rekti tetaplah Rekti. Dia
bermain total dan membuat panggung lebih semarak. Daud dan Bram
berhutang besar pada Rekti.
Penampilan The
Experience Brothers malam itu berakhir pada lagu catchy ‘Little
Pony’, yang sebenarnya sangat potensial untuk menggiring penonton pada
gelombang koor massal. Sayang, flow yang gagal dibangun oleh ben
pembuka, seringnya Bram memutuskan senarnya, hingga minimnya kehadiran
penonton membuat konser itu berakhir tidak pada puncak klimaks.
Meski begitu,
patut diacungi jempol bahwa minimnya kehadiran penonton tidak membuat
The Experience Brothers kehilangan semangat untuk tampil maksimal. Juga
bagaimana tulusnya mereka saat mengucapkan terimakasih kepada penonton
yang telah datang malam itu, serta untuk support yang selama ini
telah mereka terima. Terkadang, hal terbaik yang bisa kita dapat dari
sebuah ben bukan datang dari musik yang mereka mainkan di atas panggung,
namun dari bagaimana mereka bersikap rendah hati dan menghargai
keberadaan fans mereka. Pada banyak kasus, sikaplah inilah yang justru
menjadi alasan mengapa fans tetap bertahan dan mencintai karya mereka.