RELATED REPORTS 2011

 REPORTS 2010

 REPORTASE

The EXPERIENCE BROTHERS "The Eye Contact Concert 2011"
Sabtu
, 2 April 2011 @ Concordia Room Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit, Bandung

 

"Konser Rendah Hati dari Musisi Rendah Hati"

Perasaan terkejut langsung hinggap begitu saya mencapai Bumi Sangkuriang, Bandung sekitar pukul 18.30. Venue saat itu masih begitu lengang, bahkan jumlah penonton yang ada mungkin tidak lebih banyak daripada jumlah panitia yang saat itu sedang hilir mudik mempersiapkan acara. Sambil menunggu pintu masuk dibuka, saya duduk-duduk di pelataran luar bersama beberapa teman serombongan yang ikut datang ke acara ini. Sementara saya mendengar materi dari album terbaru The Experience Brothers via earphone. Dari dalam venue terdengar sayup-sayup suara sound-check salah satu pengisi acara. Sepertinya akan memakan waktu yang lama hingga acara dimulai.

Dan benar saja, konser tunggal The Experience Brothers bertajuk “The Eye Contact Concert 2011” baru dimulai saat jam menunjukkan pukul 20.20 WIB dengan naik-nya Jack and Four Me ke atas panggung. Satu hal yang mencolok dari ben ini adalah mereka hanya punya satu gitaris, dan dia adalah seorang wanita. Sayangnya ketangguhan wanita itu dibalik instrumen gitar gagal diimbangi oleh performa yang sepadan dari sang vokalis. Ekspresi datar ala zombie dan pelafalan bahasa Inggris yang kurang baik adalah poin utama dibalik kurang impresifnya performa sang vokalis malam itu, di samping kualitas vokalnya yang memang biasa saja. Sangat disayangkan hingga saat Jack and Four Men turun panggung, performa mereka tetap saja tidak menanjak dan gagal meninggalkan kesan yang berarti di benak penonton.

Jumlah penonton masih belum bertambah secara drastis saat Katjie and Piering naik ke atas pentas. Dengan instrumen tidak langka macam glockenspiel, cello, hingga instrumen mirip kecapi membuat ben ini mengundang rasa penasaran akan seperti apa bentuk musik mereka. Mengawali penampilan dengan cover version dari ‘Matraman’ milik The Upstairs, ben ini sukses menarik perhatian saya. Cita rasa new wave ala The Upstairs pada lagu itu habis tidak tersisa dilibas oleh musik akustik mereka yang teduh, juga berkat duet vokalis pria-wanita mereka yang terasa bagai perkawinan Erlend Oye dan Aprilia Apsari di atas panggung.

Lewat pukul sepuluh malam, akhirnya sang pemilik acara muncul juga. The Experience Brothers, duet kakak-adik yakni dramer Daud Sarassin dan vokalis-gitaris Bram Saladdin membuka panggung dengan ‘Stompbox’ –dari  album terbaru mereka. Mahattir Alkatiry, vokalis Speaker First ikut naik ke atas panggung pada lagu ketiga, saat membawakan ‘Young Generation’-nya The Who.

Kalau boleh jujur, penampilan The Experience Brothers Malam itu sangat datar. Sering kali jeda antar lagu menjadi begitu lama hanya karena senar gitar Bram yang putus. Jeda yang lama saat menunggu senar dipasang inilah membuat flow acara berjalan begitu lamban, bahkan membosankan. Sisi baiknya adalah, Bram mampu mengisi sela-sela jeda itu dengan menceritakan sejarah The Experience Brothers serta orang-orang yang berjasa terhadap karir mereka selama ini. Terkadang Daud menimpali ocehan sang kakak dengan jokes yang cukup menyenangkan, membuat suasana menjadi chill dan serasa tidak ada gap berarti antara mereka dan penonton.

Acara baru memanas saat The Experience Brothers membawa cover ‘I Got Mine’  dari The Black Keys –yang ditemani Iga Massardi dari The Trees and The Wild– nomor legendaris dari Led Zeppelin, ‘Rock and Roll’ bersama Rekti dari The S.I.G.I.T. naik ke atas panggung. Meski konon kabarnya Rekti main tanpa pernah ikut latihan, Rekti tetaplah Rekti. Dia bermain total dan membuat panggung lebih semarak. Daud dan Bram berhutang besar pada Rekti.

Penampilan The Experience Brothers malam itu berakhir pada lagu catchy ‘Little Pony’, yang sebenarnya sangat potensial untuk menggiring penonton pada gelombang koor massal. Sayang, flow yang gagal dibangun oleh ben pembuka, seringnya Bram memutuskan senarnya, hingga minimnya kehadiran penonton membuat konser itu berakhir tidak pada puncak klimaks.

Meski begitu, patut diacungi jempol bahwa minimnya kehadiran penonton tidak membuat The Experience Brothers kehilangan semangat untuk tampil maksimal. Juga bagaimana tulusnya mereka saat mengucapkan terimakasih kepada penonton yang telah datang malam itu, serta untuk support yang selama ini telah mereka terima. Terkadang, hal terbaik yang bisa kita dapat dari sebuah ben bukan datang dari musik yang mereka mainkan di atas panggung, namun dari bagaimana mereka bersikap rendah hati dan menghargai keberadaan fans mereka. Pada banyak kasus, sikaplah inilah yang justru menjadi alasan mengapa fans tetap bertahan dan mencintai karya mereka.

(More pictures click here)

 TAUTAN

Report: Risyad Tabattala | Photo: Agra Suseno