RELATED REPORTS 2011

 REPORTS 2010

 REPORTASE

BRING ME THE HORIZON "Live in Jakarta"
Sabtu
, 19 Februari 2011 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Indonesia

 

"Konsernya Metal ABG"

Sejak kapan ben-ben metal mulai digandrungi kalangan ABG layaknya mengidolakan boy band? Lantas, apa juga penyebabnya? Ataukah karena ben-ben Metal masa kini berisi (umumnya) cowo-cowo yang tak kalah rupawan? Sehingga citra Metal yang selama ini lekat dengan tough/sangar/gahar meluntur karena ikut menjadi segmen musik anak-anak imut dan membuat harga diri para metalhead ortodok merasa jatuh.

Dari bertaburnya ben metal stereotipikal yang makin menyampah, bisa disebut BRING ME THE HORIZON (BMTH) adalah nama yang paling mencorong. Tak salah bila majalah Kerrang! menobatkan penghargaan bagi ben metalcore muda asal Inggris yang baru terbentuk 2004 ini sebagai “Best British Newcomer 2006” –walau ironisnya, BMTH juga mendapat predikat “the Worst Band” dari polling pembaca majalah yang sama.

Selain menjadi ikon baru bagi anak metal ABG, BMTH juga berhasil membuat trendsetter –baik secara fashion ataupun fisik. Memang harus ada yang menjadi role model. Vokalis Oliver Sykes (atau biasa dipanggil Ollie) bersama sang ibunda mendirikan clothing DROPDEAD dengan corak grafis berwarna-warni dan banyak ditiru oleh butik-butik busana kawula muda. Namun yang paling berani adalah tato pun sampai menjadi bagian gaya tersebut, membuat tato bukan lagi sesuatu yang menyeramkan.

Fenomena ini mencuatkan banyak singgungan. Namun, nilai-nilai sentimentil tak sahih untuk menjadi dalih. Kalau Anda menganggap metal kini menjadi hal yang sangat trendi, justru di situlah pembuktiannya. Setiap genre (apapun) akan mengalami fase-fase trend dan trend nantinya menciptakan pasar. Maka, pasar itulah yang menjadi lahan bisnis dalam kacamata industri.

Rasanya mustahil orang awam metal seperti Adri Subono rela menggelar konser ben secadas BMTH bila tak memiliki pasar yang bagus. Apakah saya terlalu men-judge? Sekarang sebutkan ke kami, lebih dari 15 tahun JAVA Musikindo menggalang konser musik, siapa ben/artis yang paling cadas pernah ditampilkan selain BMTH? Tanpa perlu diundi, Anda langsung kami beri upeti. Mungkin 2 atau 3 tahun lalu kita bisa mereka-reka siapa saja promoter yang spesialis menarik ben-ben metal. Tapi, atas nama pasar, sekarang itu semua sudah tidak bisa lagi diprediksi. Sama halnya seperti media-media mainstream (cetak/maya) lokal yang mulai mengupas ben-ben indie/cutting-edge/underground hanya demi terlihat cool. Puufff!!!

Alasan persiapan rekaman album ke-3, “There is a Hell Believe Me I've Seen It, There is a Heaven Let's Keep It a Secret” membuat konser BMTH di Jakarta tahun lalu sempat tertunda. Tapi itu bukan yang pertamakali. Tahun 2009, BMTH juga pernah dijanjikan tampil ke Jakarta oleh promoter gadungan yang membawa kabur duit presale.

Akhirnya, momen yang ditunggu-tunggu telah tiba. Gegap gempita di Tennis Indoor yang dihadiri (sekitar) 3500 praremaja malam itu (19/02) bukanlah acara Nickelodeon versi metal. Memang, dibanding pertunjukan musik metal 2 hari sebelumnya [konser IRON MAIDEN di Jakarta-red], massanya jauh berbeda signifikan. Tanpa basa-basi, kuintet tampan bertato yang terdiri dari Oliver Sykes (vokal), Matt Kean (bas), Lee Malia (gitar lead), Matt Nicholls (dram), & Jona Weinhofen (gitar ritem/beking vokal) –kecuali Kean yang bersih dari tato– langsung menggebrak panggung lewat single perdana dari album terbarunya, ‘It Never Ends’. Sontak crowds dalam gelanggang itu menjadi liar, juga histeris.

Khusus penampilan BMTH di Jakarta, seluruh personilnya tampil nyentrik mengenakan baju barong khas Bali dan celana pendek –bahkan, Nicholls dan Weinhofen memakai blangkon Jawa. Ini memang pertama kalinya BMTH unjuk gigi di hadapan penggemarnya di Indonesia. Namun tidak bagi Jona yang menggantikan Curtis Ward. Gitaris metal asal Australia tersebut sebelumnya pernah menyambangi Indonesia saat bergabung dengan ben metalcore Orange County, Amerika, BLEEDING THROUGH yang tampil di Jakarta pada 2008 silam.

Untuk persoalan live show, BMTH sering kali mendapat tanggapan miring karena sound-nya dianggap bagus hanya di studio. Tapi, untuk sound panggung mereka di Jakarta tidaklah terlalu buruk. Hanya saja, aksi Ollie yang hiperaktif membuat stamina vokalnya tidak stabil. Dari wajahnya, nampak sekali mencerminkan raut-raut lelah.

Setlist mereka pun standar, bila tidak ingin dibilang sedikit. Dari 12 lagu yang dimainkan, separuhnya berisi materi-materi anyar, seperti: ‘Alligator Blood’, ‘Fuck’, ‘Crucify Me’, ‘Blessed With a Curse’, ‘Anthem’. Beberapa kali audiens meneriakan judul ‘Pray For Plagues’ single pertama dari debutnya yang masih beraliran deathcore. [Musikal BMTH mulai beralih ke metalcore sejak album kedua, “Suicide Season” (2008) yang menghantarkan mereka ke level lebih tinggi-red]. “Tadi kalian menyebutkan apa?” tanya Ollie berpura-pura. Saat mengamini lagu tersebut, crowds pun semakin brutal melakukan pusara circle pits hingga wall of death.

Dalam mengorganisir konser musik, bagi kami JAVA Musikindo masih terunggul dan rapi. Namun sayangnya, kenapa setiap show ben-ben berdistorsi –seperti Avenged Sevenfold, Trivium, The Used, dsb– selalu berdiri barikade di tengah-depan arena penonton, yang tentunya sulit melakukan beragam dansa, seperti: moshing, circle pit, body-surfing, wall of death, dsb –tapi itu semua menjadi larangan tertulis di setiap tiket. Hey! Kami sedang tidak menonton acara pop. Entah promoter naif atau norak, hal tersebut telah mengurangi estetika suatu pertunjukan metal. Kalau memang alasan menghindari kerusuhan, dari pandangan tersebut telah membuktikan sepertinya promoter masih awam dengan dunia metal. Dan kami menulis ini semua berdasarkan fakta, bukan karena lancang.

(More pictures click here)

 SONGLIST

01. It Never Ends
02. Diamonds Aren't Forever
03. Alligator Blood
04. Fuck
05. The Sadness Will Never End
06. Crucify Me
07. Pray for Plagues
08. Football Season Is Over
09. Blessed With a Curse
10. Anthem
# encore #
11. Suicide Season
12. Chelsea Smile

Report & photo: Jurnallica