IRON MAIDEN "Live
in Jakarta" Kamis,
17 Februari 2011 @ Pantai Karnaval - Ancol, Jakarta,
Indonesia
"Scream for Iron Maiden"
Seandainya manusia dapat
menarik waktu, boleh jadi tak satu pun dalam kehidupannya terdapat pengalaman
berharga. Momen itu mahal. Maka, demi konser IRON MAIDEN di Jakarta pada
17 Februari 2011, tak
sedikit kaum pekerja meniatkan libur/cuti sejak jauh-jauh hari agar
dapat mengkhusyukan diri di sebuah pertunjukan musik metal yang (mungkin)
hanya terjadi seumur hidup sekali. Bahkan, manusia-manusia uzur yang merasa mendapat
hidayah dan kini sibuk menjalankan aktifitas dakwah –hingga
menyatakan “musik itu haram”– rela berbuat dosa untuk menikmati nostaljia.
Penantian show Iron
Maiden di Indonesia selama 36
tahun akhirnya terbayar sudah. ORIGINAL Productions selaku promoter
bak juru selamat yang memakbulkan mimpi umat metal Indonesia
yang telah lama terkubur. Tak
tanggung-tanggung,
konser ben pelopor New Wave of
British Heavy Metal tersebut berlangsung di dua tempat: Pantai Karnaval - Ancol, Jakarta (17/02) dan
Lotus Pond - Garuda Wisnu Kencana, Bali (20/02). Sekelebat
“Trooper” –sebutan fans loyal Iron Maiden– mengkultuskan 2 hari
tersebut sebagai “Hari Raya Metal se-Indonesia”. Dan mabrurlah kalian, wahai
jamaah maideniyah!
Meski
Bruce/Steve cs. baru pertama kali live di Indonesia dari rentang
waktu terbentuknya ben pada 1975, konser Iron Maiden bukanlah sebuah
tontonan nostaljia layaknya show musisi-musisi lapuk yang tak lagi
produktif. Justru rangkaian tur dunia-nya kali ini merupakan bagian
promo album ke-15, “The Final Frontier” –yang langsung merajai
chart album di 28 negara saat pertama rilis pada 2010 lalu. Maka,
untuk porsi setlist sepertiganya termakan dari album tersebut yang
tentu
menggunting repertoar hits lamanya, seperti: ‘Aces
High', ‘Revelations',
‘Wasted
Years', ‘Can
I Play with Madness', dll.
Namun, di balik bahasan setlist, ada paket sempurna dari pertunjukan
Iron Maiden.
Arsitektur panggungnya yang terkenal spektakuler juga menjadi magnet acara
dan buah bibir massa. Sevisi dengan konsep album “The Final
Frontier” yang menampilkan visual-visual antariksa, dekor panggung pun
berbentuk
gerbong-gerbong pesawat luar angkasa lengkap background temaram
seperti langit yang berhiaskan
lampu-lampu kecil. Tak percuma gembar-gembor info pengangkutan logistiknya yang menggunakan pesawat pribadi,
Ed Force One benar-benar membuktikan sebuah kemasan panggung yang
membelalak mata.
Khusus ben
pembuka Iron Maiden di Indonesia, mereka juga menggendong ben muda RISE TO
REMAIN –yang mana vokalisnya tak lain adalah anak Bruce sendiri, Austin
Dickinson– yang memainkan metal kontemporer semacam TRIVIUM, BULLET FOR
MY VALENTINE, AVENGED SEVENFOLD (early), dan sejenisnya.
Tampil sekitar 20 menit, mereka
tetap mendapat aplaus dari penonton walau seadanya.
Tepat
jam 8 malam, seluruh lampu mendadak padam. Pertanda sebuah konser fenomenal
segera berlangsung yang siap tercatat oleh sejarah. Sorak sorai penonton bertempur
dengan racauan intro ‘Satellite 15...'
dan langsung mengguncang arena lewat single pertama (yang
berjudul sama) dari album barunya.
“Scream
for me, Jakartaaa...!!!” jerit vokalis Bruce Dickinson saat menyapa
fans-nya yang terdiri lintas usia.
Lalu lagu kedua, ‘El
Dorado' (masih dari album baru) pun lanjut menggempur. Melaui situs
resmi Iron Maiden
yang diumumkan bertepatan Hari Valentine, lagu tersebut baru
saja menyabet
penghargaan Grammy untuk kategori “Best
Metal Performance" –melengserkan nominasi lainnya yang terdiri
dari ben-ben metal dunia, seperti:
‘Let
the Guilt Go'-nya KORN, ‘In
Your Words'-nya LAMB OF GOD, ‘Sudden
Death'-nya MEGADETH, dan ‘World
Painted Blood'-nya SLAYER.
Pengalihan lokasi konser
yang sempat terjadi juga mengurangi nilai-nilai krusial –rencananya
konser berlangsung di Stadion Utama
Gelora Bung Karno yang terakhir kali digunakan sebagai pertunjukan musik pada awal
1990. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan 20 ribu Trooper gulir berserak di
Pantai Karnaval, Ancol. Hanya saja
faktor pembagian 3 kelas penonton
yang tetap berlaku di atas tanah sejajar membuat kepadatan massa kurang
merata. “Lain
kali bawa teman kalian ke mari!” singgung Bruce yang beberapa kali
celingak-celinguk memerhatikan crowds yang bolong-bolong.
Meski Bruce sempat
hengkang dari ben pada 1993 (dan kembali di 1999), kharismanya tetap
bersinar. Memasuki usia yang ke-53 tahun, vokal Bruce tetap terdengar prima
dan melengking, juga aksi panggung yang masih terlihat gesit. Seperti tak
kenal lelah, ia berlari-lari di atas backdrop
dari sudut panggung satu ke sudut panggung yang lain. Gayanya pun tetap
khas, mengenakan kaos hitam rombeng bertuliskan
“Psych
Ward” dan bawahan celana panjang motif loreng.
Formula
pertunjukan makin memukau dengan hadirnya formasi 3 gitar (Adrian Smith, Dave
Murray, Janick Gers) yang memamerkan aksi solo secara simultan. Namun
dari ketiganya, cuma Janic yang terlihat
“muda”
–baik dari style maupun performance– dan mengisi seluruh sesi akustik
lagu dengan cantik. Sang basis, Steve Harris sebagai
satu-satunya pendiri ben, juga tak mau kalah. Dengan senjata bas Fender-nya,
ia bergaya bak tentara yang sedang membredeli di medan laga. Sayang, dramer Nicko tertutup oleh set tempurnya yang terlalu
mengangkat, sehingga sosoknya tak terlihat sepanjang pertunjukan
kecuali bila ia sedang berdiri.
Kalau setiap
ben cukup menghadirkan satu backdrop sebagai latar panggung, pada konser Iron Maiden menghadirkan lebih dari 5 backdrop
yang menyesuaikan tema lagu. “Wuih!
‘The
Trooper’!” tebak salah seorang penonton saat layar latar berubah gambar
tentara tengkorak yang menggenggam bendera Inggris. Sepenuh lagu tersebut,
Bruce pun mengenakan kostum sesuai visual layar sambil mengibarkan bendera
Inggris yang telah koyak dan usang.
Highlight
pertunjukan tentu saja pada lagu ‘Iron
Maiden’ yang mengeluarkan maskot Eddie. Monster robot setinggi (kurang
lebih) 4 meter itu dapat berjalan dan bergerak lentur seolah bernyawa.
Bahkan, Janick mengelilingi Eddie sambil berlari-lari kecil layaknya sedang bermain dengan binatang peliharaan. Dan, howly shit,
ternyata Eddie juga bisa (berpura-pura) bermain gitar!
Beranjak menghujungi
repertoar, Iron Maiden seakan membawa fans lawasnya balik ke masa
lampu lewat single klasik ‘Running
Free' dari album perdana “Iron Maiden” (1980). Pekatnya aura nostaljia
juga membuat seorang pria renta yang berdiri di barikade terdepan serasa
kembali muda sambil mengacungkan 3 jarinya ke udara. Boleh jadi, itu
kesempatan terakhir dalam hidupnya untuk menyaksikan pertunjukan musik
cadas dan membawanya bebas berlari dari sisa masa hidup sebelum berpulang ke alam baka.
01. Satellite 15... (Intro) + The Final Frontier
02. El Dorado
03. Two Minutes to Midnight
04. Coming Home
05. Dance of Death
06. The Trooper
07. The Wicker Man
08. Blood Brothers
09. Where the Wild Wind Blows
10. The Talisman
11. The Evil that Men Do
12. Fear of the Dark
13. Iron Maiden
- - - break - - -
14. The Number of the Beast
15. Hallowed Be Thy Name
16. Running Free