Duncan Sheik [feat. Rachael Yamagata] "Live
in Jakarta" Senin,
14 Februari 2011 @ Hard Rock cafe, eX Plaza, Jakarta,
Indonesia
"Konser 4 Lagu Seharga 200 Ribu Rupiah!"
Sembari mengantri
bersama pasangan valentine berumur muda usia, saya bertanya-tanya. Kala
itu titimangsanya 14 Februari, Hari Valentine-lah biasanya tanggal itu
dijuluki. Ah iya, pertanyaan saya: apa sih yang diinginkan pasangan
kekasih di hari martirnya seorang santo itu? Makan malam bertudung
temaram lilin? Menonton komedi romantis? Casual sex atau pergi ke
konser romantis? Okelah, saya tak punya masalah dengan mereka yang
memilih 3 opsi pertama sebagai jawaban. Tapi ada pertanyaan lanjutan
untuk yang memilih opsi terakhir: apa rasa yang dipestakan hari itu bisa
dirayakan dengan beberapa potong lagu galau?
Sepertinya, rasa itu
bisa dirayakan dengan beberapa hits galau. Saya saksinya. Pada 14
Februari kemarin di Hardrock Cafe, EX Jakarta dipenuhi pasangan kekasih
yang tak lupa berdandan dan membawa Blackberry. Yang mereka tonton
adalah penulis lagu underrated Duncan Sheik dan Rachael Yamagata.
Maafkan saya yang dengan lancang menggunakan kata underrated
untuk solois sekelas Duncan Sheik dan Rachael Yamagata. Sejujurnya,
dalam benak saya, Duncan Sheik adalah solois peka hati yang sebanding
dengan Jeff Buckley namun dengan takaran yang lebih pop. Sedangkan,
Rachael tak jauh dari versi perempuan dari Duncan Sheik yang bermain
dengan piano. Di tangan keduanya kasmaran dan galau karena cinta
terdengar elegan dan liyan.
Tapi, ya, kalau
dibanding solois macam Justin Beiber atau Lady Gaga, keduanya tak bisa
dibandingkan kelasnya. Kelas ketenarannya maksud saya. Jadi, tak aneh
jika seorang teman saya berkata “wah, gue pikir doi [Duncan Sheik] gak
terkenal.” Lantas saya pun tersentak ketika harus mengantri masuk venue
bersama sederatan panjang bersama puluhan pasangan romantis wangi dan
baru pulang kantor malam itu.
Pasti ada yang salah dan
ada yang benar malam itu. Yang salah adalah dugaan saya atas ke-cult-an
dan ke-underrated-an Duncan dan Rachael. Yang benar adalah cara
penyelenggara memasarkan romansa ‘90-an, kegetiran, dan manisnya asmara
ala Duncan dan Rachael.
Ada yang menarik ketika
Rachael Yamagata –tipsy dan kinky malam itu– diwawancarai
setelah menyelesaikan set-nya. Dengan tanpa tedeng aling-aling, solois
cantik itu mengatakan bahwa ia kini single alias tak berpasangan.
Entah gimmick atau bukan, Rachael menandaskan bahwa ia tak lagi
berhubungan lagi dengan kekasihnya yang menetap di wilayah East Coast,
USA sana. Maka sang empunya acara segera bertanya, “Jadi Anda sedang
galau sekarang?”. Galau tentu saja bukan terminologi yang mudah untuk
disalin bahasa. Malam itu sang MC menawarkan miserable sebagai
pengganti kata galau. Lantas mendengar kata ini Rachael buru membantah
ia galau. Sebaliknya, ia gembira. Cuma satu pesannya: “Jangan pacaran
dengan saya, karena nanti jika kita putus, I would tell all of our
stories to the world!”
Memang, Rachael adalah
perempuan ‘ember’. Lagunya adalah curhat. Malam itu setlitst
dibuka dengan ‘Be Be My Love’ yang diambil dari track pertama
album “Happenstance”. Tak ada sambutan yang meriah saat Rachael
menyanyikan lagu-lagunya. Untunglah, sebab dengan demikian suaranya bisa
didengar dengan jernih. Kalau pun ada sambutan, maka hanya satu dua
pengunjung yang menimpali judul lagu yang diucapkan Rachael dengan
teriakan standar: “Yeahhh!!!”
Geliat penonton baru
terasa ketika Rachael memainkan ‘Reason Why’ pada penonton. Ini rupanya
yang menancap di hati penonton. Maka tak heran jika lantas ada choir
kecil yang tercipta seketika lirik di bawah ini dinyanyikan:
But you and I know
the reason why
I'm gone, and you're
still there
I'm gone, and you're
still there
I'm gone, and you're
still there
Yah, lumayanlah masih
ada yang bisa dinyanyikan karena (mungkin) esensi menonton konser telah
direduksi menjadi singalong dan merekam momen penting dengan
piranti perekam dalam HP, kamera saku, dan perekam audio visual. Ah,
mumpung kita ngomong masalah merekam momen, Rachael Yamagata malam
menciptakan berbagai racauan menghibur yang layak rekam. Misalnya,
seperti yang saya sebut di atas, curhatan ia tentang kandasnya jalinan
asmaranya beberapa jam sebelum show atau menyebalkannya
traffic di Jakarta. Belum lagi statement mengundang seperti:
“I’ve been with Duncan for more than a week and we haven’t done
anything. Well until tonight!” atau “Duncan is great in many ways”.
Ceracau ini justru yang
menyelamatkan Rachael. Pernyataannya berbalas tawa dari penonton.
Entahlah jika semua itu gimmick. Namun, sepertinya [jika ini
memang gimmick] Rachael berhasil memainkan perannya dengan baik.
Ia paham bahwa selalu mengasikkan mendengarkan ocehan seorang yang
tengah mabuk dan lara hati. Ah, kau memang ember, Rachael!
Kenangan memang
memabukkan
Ian Mackaye salah besar
ketika menggagas ide straight edge. Alkohol bukan satu-satunya
yang memabukkan. Kenangan juga codeine yang mengasikkan. Lebih
praktis malah, tak butuh takaran, dosis atau sendok yang dibakar. Akses
saja sekat otak anda, kenangan pun meruap.
Rupanya itu yang menjadi
pemersatu berbagai pasangan malam itu. Duncan Sheik dengan semua hits-nya,
maksud saya. Ngomong-ngomong masalah hits, malam itu Rachael
cemburu lantas berkata: “Duncan luar biasa. Ia punya banyak hits
di Indonesia.” Sebetulnya, kalau Rachael tanggap dan awas, hits
yang dihapal dan disimpan sebagai kenangan yang memabukkan tak lebih
dari jari tangan kanannya. Dengan catatan, Rachael memiliki tangan yang
normal bukan tangan alien dalam serial “War of the Worlds”.
Duncan –sepintas mirip
Tim Allen dan pemimpin pencuri baik hati dalam serial Leverage– muncul
di akhir set Rachael Yamagata. Tak ada kesan “ngartis” yang kini lebih
sibuk membuat komposisi opera daripada menggagas lagu pop sendu berdiksi
cerdas. Kalaupun ada kesan yang tertangkap, maka Duncan Sheik lebih
nampak seperti turis yang tengah berlibur di Jalan Jaksa, eh
maksud saya, Bali. Maka, bayangkanlah seorang turis yang naik panggung
dengan gitar dan menyanyi lagu selirih ‘Momento’.
Ya, ‘Momento’ menjadi
nomor pembuka show-nya. Kala judul album lagu itu diucapkan memang ada
yang menyaut “yeahhh!!”. Standarlah, biar terlihat ngerti dan hafal.
Buktinya, kala lagu disuguhkan tak ada yang bersenandung lirih. Yang ada,
layar-layar smartphone yang berisi larik sms, tweet, dan BBM. Kontras
sekali kondisinya ketika Duncan Sheik menggeber ‘Wishful Thinking’ –soundtrack
reka ulang modern novel lawas Charles Dicken yang dibintangi oleh Ethan
Hawke dan Gwyneth Paltrow.
Oh no there you go
Looked away and
missed the show
how much wasted time
Will you survive?
Serentak semua orang
meninggalkan kesibukannya. Ada kesepakatan massal yang diambil tanpa
suara dan tanda. Semua serempak menyanyikan chorus lagu galau tersebut.
Hebat!
Jadi, sepanjang show ada
dua jenis lagu: pertama lagu-lagu bagus yang dihayati dengan sekadar
didengar sembari bercengkrama dengan teman di samping atau rekan di
ujung smartphone sana. Nah, yang termasuk kumpulan ini adalah
tembang-tembang semacam ‘Momento’, ‘Half-Life’, ‘For You’, ‘Good
Morning’, ‘Shout’ (Tears For Fears Cover), atau ‘The Tale of Solomon
Snell’. Jadi, malang pasangan-pasangan malam itu melewatkan lagu
proposal yang indah milik Duncan Sheik, ‘For You’. Padahal, kalau saja
pasangan-pasangan itu dengar, bisa penuh KUA esok harinya. Lihat deh
liriknya:
For you I want to
sing a happier song
for you I'm gonna try
to right all my wrongs
for you I'm gonna
break my bad habits
there's a golden ring
and I want you to have it
there's a golden ring
and I want you
Nah, jenis lagu kedua
adalah lagu yang dihafal mati oleh penonton. Ini adalah kenangan
kolektif yang dimiliki oleh berpuluh kepala malam itu. Tak usah ada
komando, mereka semua bernyanyi lirik lagu ‘Wishful Thinking’, ‘Barely
Breathing’, dan ‘Fake Plastic Tree’ (Radiohead cover). Bahkan, ketika
Duncan pura-pura pamit setelah setnya berakhir, penonton tahu ia akan
kembali. Kenapa? Ya mereka tahu ‘On a High’ dan ‘Bite Your Tounge’ belum
dimainkan.
Ah, ngomong-ngomong
‘Bite Your Tounge’, saya harus gigit lidah saya atau tulisan ini tak
pernah menemui titik akhir. Yang jelas, merayakan Valentine dengan
mendengarkan lagu galau itu sah-sah saja kok. Malah, merayakannya dengan
mendengarkan hits ben macam Deranged, Bohren Und Der Club Of
Gore, Nurse With Wound, atau Cock And Ball Torture juga boleh asal
pasangan ikhlas dan ridho. Cuma memang lebih asik merayakan Valentine
dengan lagu jadi kenangan yang mendayu romantis. Kan enak tuh dengarnya
pas pasangan bilang “Ay, lagu ini ngingetin aku pas kamu deketin aku
pake dasi kupu-kupu itu lho.” Tuh kan, kenangan memang murah
meriah dan memabukkan.
Murah meriah memang
ketika 4 single Duncan Sheik plus kebebasan merekam dengan
smartphone dan kamera digital dihargai 200 ribu.
Atas: Duncan Sheik,
Tengah: Rachael Yamagata, Bawah: both