RELATED REPORTS 2011

 REPORTS 2010

 REPORTASE

Duncan Sheik [feat. Rachael Yamagata] "Live in Jakarta"
Se
nin, 14 Februari 2011 @ Hard Rock cafe, eX Plaza, Jakarta, Indonesia

 

"Konser 4 Lagu Seharga 200 Ribu Rupiah!"

Sembari mengantri bersama pasangan valentine berumur muda usia, saya bertanya-tanya. Kala itu titimangsanya 14 Februari, Hari Valentine-lah biasanya tanggal itu dijuluki. Ah iya, pertanyaan saya: apa sih yang diinginkan pasangan kekasih di hari martirnya seorang santo itu? Makan malam bertudung temaram lilin? Menonton komedi romantis? Casual sex atau pergi ke konser romantis? Okelah, saya tak punya masalah dengan mereka yang memilih 3 opsi pertama sebagai jawaban. Tapi ada pertanyaan lanjutan untuk yang memilih opsi terakhir: apa rasa yang dipestakan hari itu bisa dirayakan dengan beberapa potong lagu galau?

Sepertinya, rasa itu bisa dirayakan dengan beberapa hits galau. Saya saksinya. Pada 14 Februari kemarin di Hardrock Cafe, EX Jakarta dipenuhi pasangan kekasih yang tak lupa berdandan dan membawa Blackberry. Yang mereka tonton adalah penulis lagu underrated Duncan Sheik dan Rachael Yamagata. Maafkan saya yang dengan lancang menggunakan kata underrated untuk solois sekelas Duncan Sheik dan Rachael Yamagata. Sejujurnya, dalam benak saya, Duncan Sheik adalah solois peka hati yang sebanding dengan Jeff Buckley namun dengan takaran yang lebih pop. Sedangkan, Rachael tak jauh dari versi perempuan dari Duncan Sheik yang bermain dengan piano. Di tangan keduanya kasmaran dan galau karena cinta terdengar elegan dan liyan.

Tapi, ya, kalau dibanding solois macam Justin Beiber atau Lady Gaga,  keduanya tak bisa dibandingkan kelasnya. Kelas ketenarannya maksud saya. Jadi, tak aneh jika seorang teman saya berkata “wah, gue pikir doi [Duncan Sheik] gak terkenal.” Lantas saya pun tersentak ketika harus mengantri masuk venue bersama sederatan panjang bersama puluhan pasangan romantis wangi dan baru pulang kantor malam itu.

Pasti ada yang salah dan ada yang benar malam itu. Yang salah adalah dugaan saya atas ke-cult-an dan ke-underrated-an Duncan dan Rachael. Yang benar adalah cara penyelenggara memasarkan romansa ‘90-an, kegetiran, dan manisnya asmara ala Duncan dan Rachael.

Rachael Yamagata: Jangan pacari saya. Saya orangnya ‘ember’

Ada yang menarik ketika Rachael Yamagata –tipsy dan kinky malam itu– diwawancarai setelah menyelesaikan set-nya. Dengan tanpa tedeng aling-aling, solois cantik itu mengatakan bahwa ia kini single alias tak berpasangan. Entah gimmick atau bukan, Rachael menandaskan bahwa ia tak lagi berhubungan lagi dengan kekasihnya yang menetap di wilayah East Coast, USA sana.  Maka sang empunya acara segera bertanya, “Jadi Anda sedang galau sekarang?”. Galau tentu saja bukan terminologi yang mudah untuk disalin bahasa. Malam itu sang MC menawarkan miserable sebagai pengganti kata galau. Lantas mendengar kata ini Rachael buru membantah ia galau. Sebaliknya, ia gembira. Cuma satu pesannya: “Jangan pacaran dengan saya, karena nanti jika kita putus, I would tell all of our stories to the world!

Memang, Rachael adalah perempuan ‘ember’. Lagunya adalah curhat. Malam itu setlitst dibuka dengan ‘Be Be My Love’ yang diambil dari track pertama album “Happenstance”. Tak ada sambutan yang meriah saat Rachael menyanyikan lagu-lagunya. Untunglah, sebab dengan demikian suaranya bisa didengar dengan jernih. Kalau pun ada sambutan, maka hanya satu dua pengunjung yang menimpali judul lagu yang diucapkan Rachael dengan teriakan standar: “Yeahhh!!!”

Geliat penonton baru terasa ketika Rachael memainkan ‘Reason Why’ pada penonton. Ini rupanya yang menancap di hati penonton. Maka tak heran jika lantas ada choir kecil yang tercipta seketika lirik di bawah ini dinyanyikan:

But you and I know the reason why

I'm gone, and you're still there

I'm gone, and you're still there

I'm gone, and you're still there

 

Yah, lumayanlah masih ada yang bisa dinyanyikan karena (mungkin) esensi menonton konser telah direduksi menjadi singalong dan merekam momen penting dengan piranti perekam dalam HP, kamera saku, dan perekam audio visual. Ah, mumpung kita ngomong masalah merekam momen, Rachael Yamagata malam menciptakan berbagai racauan menghibur yang layak rekam. Misalnya, seperti yang saya sebut di atas, curhatan ia tentang kandasnya jalinan asmaranya beberapa jam sebelum show atau menyebalkannya traffic di Jakarta. Belum lagi statement mengundang seperti: “I’ve been with Duncan for more than a week and we haven’t done anything. Well until tonight!” atau “Duncan is great in many ways”.

Ceracau ini justru yang menyelamatkan Rachael. Pernyataannya berbalas tawa dari penonton. Entahlah jika semua itu gimmick. Namun, sepertinya [jika ini memang gimmick] Rachael berhasil memainkan perannya dengan baik. Ia paham bahwa selalu mengasikkan mendengarkan ocehan seorang yang tengah mabuk dan lara hati. Ah, kau memang ember, Rachael!

Kenangan memang memabukkan

Ian Mackaye salah besar ketika menggagas ide straight edge. Alkohol bukan satu-satunya yang memabukkan. Kenangan juga codeine yang mengasikkan. Lebih praktis malah, tak butuh takaran, dosis atau sendok yang dibakar. Akses saja sekat otak anda, kenangan pun meruap.

Rupanya itu yang menjadi pemersatu berbagai pasangan malam itu. Duncan Sheik dengan semua hits-nya, maksud saya. Ngomong-ngomong masalah hits, malam itu Rachael cemburu lantas berkata: “Duncan luar biasa. Ia punya banyak hits di Indonesia.” Sebetulnya, kalau Rachael tanggap dan awas, hits yang dihapal dan disimpan sebagai kenangan yang memabukkan tak lebih dari jari tangan kanannya. Dengan catatan, Rachael memiliki tangan yang normal bukan tangan alien dalam serial “War of the Worlds”.

Duncan –sepintas mirip Tim Allen dan pemimpin pencuri baik hati dalam serial Leverage– muncul di akhir set Rachael Yamagata. Tak ada kesan “ngartis” yang kini lebih sibuk membuat komposisi opera daripada menggagas lagu pop sendu berdiksi cerdas. Kalaupun ada kesan yang tertangkap, maka Duncan Sheik lebih nampak seperti turis yang tengah berlibur di Jalan Jaksa, eh maksud saya, Bali. Maka, bayangkanlah seorang turis yang naik panggung dengan gitar dan menyanyi lagu selirih ‘Momento’.

Ya, ‘Momento’ menjadi nomor pembuka show-nya. Kala judul album lagu itu diucapkan memang ada yang menyaut “yeahhh!!”. Standarlah, biar terlihat ngerti dan hafal. Buktinya, kala lagu disuguhkan tak ada yang bersenandung lirih. Yang ada, layar-layar smartphone yang berisi larik sms, tweet, dan BBM. Kontras sekali kondisinya ketika Duncan Sheik menggeber ‘Wishful Thinking’ –soundtrack reka ulang modern novel lawas Charles Dicken yang dibintangi oleh Ethan Hawke dan Gwyneth Paltrow.

Oh no there you go

Looked away and missed the show

how much wasted time

Will you survive?

  

Serentak semua orang meninggalkan kesibukannya. Ada kesepakatan massal yang diambil tanpa suara dan tanda. Semua serempak menyanyikan chorus lagu galau tersebut. Hebat!

Jadi, sepanjang show ada dua jenis lagu: pertama lagu-lagu bagus yang dihayati dengan sekadar didengar sembari bercengkrama dengan teman di samping atau rekan di ujung smartphone sana. Nah, yang termasuk kumpulan ini adalah tembang-tembang semacam ‘Momento’, ‘Half-Life’, ‘For You’, ‘Good Morning’, ‘Shout’ (Tears For Fears Cover),  atau ‘The Tale of Solomon Snell’. Jadi, malang pasangan-pasangan malam itu melewatkan lagu proposal yang indah milik Duncan Sheik, ‘For You’. Padahal, kalau saja pasangan-pasangan itu dengar, bisa penuh KUA esok harinya. Lihat deh liriknya:

For you I want to sing a happier song

for you I'm gonna try to right all my wrongs

for you I'm gonna break my bad habits

there's a golden ring and I want you to have it

there's a golden ring and I want you

 

Nah, jenis lagu kedua adalah lagu yang dihafal mati oleh penonton. Ini adalah kenangan kolektif yang dimiliki oleh berpuluh kepala malam itu. Tak usah ada komando, mereka semua bernyanyi lirik lagu ‘Wishful Thinking’, ‘Barely Breathing’, dan ‘Fake Plastic Tree’ (Radiohead cover). Bahkan, ketika Duncan pura-pura pamit setelah setnya berakhir, penonton tahu ia akan kembali. Kenapa? Ya mereka tahu ‘On a High’ dan ‘Bite Your Tounge’ belum dimainkan.

Ah, ngomong-ngomong ‘Bite Your Tounge’, saya harus gigit lidah saya atau tulisan ini tak pernah menemui titik akhir. Yang jelas, merayakan Valentine dengan mendengarkan lagu galau itu sah-sah saja kok. Malah, merayakannya dengan mendengarkan hits ben macam Deranged, Bohren Und Der Club Of Gore, Nurse With Wound, atau Cock And Ball Torture juga boleh asal pasangan ikhlas dan ridho. Cuma memang lebih asik merayakan Valentine dengan lagu jadi kenangan yang mendayu romantis. Kan enak tuh dengarnya pas pasangan bilang “Ay, lagu ini ngingetin aku pas kamu deketin aku pake dasi kupu-kupu itu lho.” Tuh kan, kenangan memang murah meriah dan memabukkan.

Murah meriah memang ketika 4 single Duncan Sheik plus kebebasan merekam dengan smartphone dan kamera digital dihargai 200 ribu.

Atas: Duncan Sheik, Tengah: Rachael Yamagata, Bawah: both

Report: Inerciatic  Manneken | Photo: Prasetya Atyanto