RELATED REPORTS 2011

 REPORTS 2010

 REPORTASE

DEFTONES "Live in Jakarta"
Selasa, 8 Februari 2011 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Indonesia

 

"Tetap Berenergi"

Keputusan yang tepat saat gitaris Stephen Carpenter memilih DEFTONES sebagai nama ben pada 23 tahun silam. Setidaknya alasan eklektik membuat ben asal Sacramento, California tersebut tidak terpaku suatu genre dan bebas bereksplorasi yang tak lekang oleh jaman. Mereka pun sempat mengalami masa jaya dengan tren rap metal/nu metal dua albumnya (“Adrenaline”-1995, “White Pony”-2000) meraih sertifikasi Platinum. Hanya, kalau saja kini tetap berkutat di jalur yang sama, maka cukup satu kata untuk menyangkalnya: BASI!

Prestasi Deftones kembali terbukti melalui album ke-6 “Diamond Eyes” (2010) yang menghadirkan formula 'baru' namun masih dalam lanskap metal. Ulasan-ulasan positif pun mereka terima dari media-media musik internasional. Bahkan iTunes mendaulatnya sebagai “Rock Album of the Year” di 2010.  Album tersebut sebenarnya loncatan dari album “Eros” yang tertunda perilisannya hingga waktu yang tak ditentukan lantaran basis terdahulunya, Chi Cheng mengalami kecelakaan mobil dan membuatnya koma.

Meski insiden naas tersebut terjadi sejak 2008, seluruh personil ben serta fans-nya tetap concern akan keadaan Cheng hingga saat ini. Dalam situs resmi Deftones juga terdapat tautan situs One Love for Chi sebagai platform mengenai kabar terkini kondisi Cheng. Segala bentuk donasi disalurkan langsung pada keluarga yang bersangkutan demi perawatan medisnya termasuk penjualan equipments Deftones yang digunakan untuk klip terakhirnya, You've Seen the Butcher’ yang penuh “darah”.

Maka, selama masa vakum Cheng, di posisi bas Deftones memakai Sergio Vega dari ben post-hardcore Quicksand, baik untuk keperluan rekaman ataupun panggung. Begitupun performa mereka di Jakarta (8/02) yang diselenggerakan Java Musikindo sebagai trigger event-nya di 2011. Sekitar 2500 kepala berjejal dalam Tennis Indoor Senayan malam itu –kelas festival terisi penuh, sedang tribun terisi bagian tengah saja. Mereka yang menggilai drown metal, alt. metal, drone rock, hingga rap metal sekalipun berbaur di sana.

Subjektifitas memang tak pernah lepas dari para pendengarnya. Tapi cukup fatal bila ada yang ikut termakan euforia, apalagi orang tersebut adalah jurnalis. Sampai hal memalukan yang sempat terjadi hanyalah dianggap gimmick. Padahal sesi petikan gitar di lagu ‘Beauty School’, vokalis/gitar Chino Moreno lupa menempatkan jemarinya di fret gitar dan akhirnya terdengar fals. “Ah, suck!” kata Moreno cengegesan dengan raut wajah menahan malu. Boleh jadi dirinya mulai disconnect asbab minuman beralkohol. Beberapa kali Moreno memuji sebuah brand bir lokal kenamaan sambil memamerkan kalengnya. “It's pretty good!” katanya dan terus mereguk air fermentasi tersebut.

Sebagai frontman ben, aksi panggung Moreno tetap yang paling menonjol –memutar-mutarkan tali mic, berloncat kesana-kemari, berjelajah ke sudut-sudut panggung, hingga turun ke pembatas penonton. Ia pun terlihat segar bugar dengan mengenakan kaos polos biru muda dan tanpa rambut gimbalnya seperti di klip klasik ‘7 Words’ –lagu pamungkas konsernya di Jakarta. Selain berenergi, Moreno juga menghadirkan multipel gaya bernyanyi; mulai dari menjerit, mendesah, hingga nge-rap. Aksi Vergio pun tak kalah liar yang menempatkan mic-nya di depan set dram Abe Cunningham. Sedang Carpenter yang berpostur gigantis sama bebannya seperti distorsi & sound berat dari gitar senar 7-nya. Paling peran Frank Delgado yang kurang signifikan, cuma menghadirkan sampling/keyboard, mirip seperti formasi tempelan.

Namun, berbicara soal aksi panggung, Deftones pernah meraih penghargaan Grammy untuk kategori Best Metal Performance” (2001) pada lagu Ellite’ –tapi lagu tersebut tidak dimainkan. Luputnya single-single terkenal, seperti ‘Back to School (Mini Maggit) atau ‘Bored’ sempat membuat penonton komplain. Namun, keterlaluan rasanya bila repertoar sebanyak 24 lagu kurang memuaskan dahaga. Kalau saja suatu pertunjukan ben terus memuaskan ekspektasi audiens, maka tak ubahnya ben tersebut seperti pelacur bayaran.

(You also can watch their live video in Indonesia here)

 SONGLIST

01. Birthmark

02. Engine No.9

03. Be Quiet and Drive (Far Away)

04. My Own Summer (Shove It)

05. Ihabia

06. Around the Fur

07. Digital Bath

08. Knife Party

09. Hexagram

10. Minerva

11. Bloody Cape
12. Diamond Eyes
13. CMND/CTRL

14. Royal

15. Sextape

16. Rocket Skates

17. You’ve Seen the Butcher

18. Beauty School

19. Hole in the Dark
20. Kimdracula
21. Change (In the House of Flies)

22. Passenger
- - - break - - -

23. Root
24. 7 Words

Report & photo: Jurnallica