KUNOKINI "Live
in Concert"
Selasa, 18 Januari 2011 @ Gedung Kesenian
Jakarta,
Jakarta, Indonesia
"Kombinasi Kuno & Kini"
Bangunan tua
Gedung Kesenian Jakarta yang jauh dari kesan modern mendadak dijejali
kaum hipster pada Selasa malam (18/01). Rupanya, di tempat itu kelompok
perkusif KUNOKINI menggelar konser tunggal untuk pertamakalinya yang
dipersembahkan oleh GELAR & Kereta Senja Management. Tajuk
“Re-Inkarnasi”
adalah peralihan dari judul album perdana Kunokini yang dirilis pada
2010. Namun “Ide
konser ini sebenarnya sudah tercetus sekitar 2 atau 3 tahun lalu,” kata
Bhismo.
Suara gong
berbunyi menandakan pertunjukan segera dimulai. Keheningan pun menjadi
syarat wahid selama repertoar berlangsung. Maka, seluruh penonton
diharapkan menon-aktifkan/silence dering ponselnya. Lalu, satu
persatu muncul tukang sapu dari balik panggung yang membawa irama dari
percikan sapu lidi.
Kunokini
adalah persuasif. Terdiri dari 4 anggota anak muda urban Jakarta, mereka
coba memperkenalkan kembali instrumen-instrumen etnik yang nyaris (atau
sudah) punah –bahkan banyak instrumen yang tergeletak di panggung kami
tidak tau namanya.
Purwarupanya adalah Adhi Bhisma Wrhaspati (Bhismo), Astari Achiel
(Bebi), Akbar Nugraha (Akbar), dan musisi pendukung Darman. Senjata
mereka cenderung alat pukul/perkusif –hanya satu lagu menggunakan gitar
akustik– dan seluruh instrumen non-elektrik. Mereka pun memainkannya di
luar standar pakem –seperti rebana yang dipukul dengan stik–, begitu
juga dengan tarian-tarian daerahnya.
Namun itu
semua hanyalah medium. Bila disimak lebih jeli lagi, intonasi musik yang
mereka suguhkan sebenarnya masih dalam langgam pop/rock, hanya saja
dengan kemasan perkusif. Begitupun dengan rima bernyanyi yang multipel,
mulai dari aksan nigga ala reggae, hip-hop, nyanyian Jawa lengkap dengan
lirik yang bilingual (Indonesia, Inggris, Jawa).
Tema-tema yang
mereka ungkapkan juga menelanjangi isu sosio-budaya-politik yang sedang
relevan di negara ini. Di sela-sela pertunjukan, Bhismo sempat
menyinggung soal pencabutan sebuah merek ponsel karena mengundang
pornografi oleh seorang Menteri Negara yang makin tidak dihargai oleh
rakyatnya.
Namun, kalau
konteksnya menawarkan nasionalisme rasanya masih kurang absah –atau
mungkin kami tak pernah tau kalau Souljah juga leluhur tanah Jawa?!–
walau mereka juga mengaransemen ulang beberapa lagu daerah, seperti
‘Rasa
Sayange’ di lagu penutup.
Esensinya
adalah Kunokini ingin memperkenalkan segala instrumen & budaya yang
telah hilang dan terlupakan. Tapi, benarkah segala sesuatu yang kuno
dengan kemasan kini akan tetap diminati anak muda/mudi hari ini? Anda
berani untuk taruhan? Perkaranya adalah, bila esensi tersebut tidak
terserap dengan baik kepada kalangan hipster yang hadir, maka konser itu
tak lebih sebagai opera sabun.
Dari
macam-macam budaya politik, kecenderungan masyarakat Indonesia kerap
digolongkan dalam Budaya Parokial. Atau dalam arti bahasa yang lebih
halus lagi, adalah ikutan-ikutan alias borok!