RELATED REPORTS 2010

 REPORT 2009

 REPORTASE

ASOBI SEKSU "Live in Jakarta"
Jumat, 26 November 2010 @ SMESCO Convention Hall, Jakarta, Indonesia

 

"Wall of Sound [Private] Party"

Saya tak pernah membayangkan akan masuk gedung itu. Kala saya melewatinya menuju tempat saya mengabdikan diri sebagai budak kapitalis, gedung itu, Smesco Convention Hall, hanya memamerkan pameran hasil kerajinan dan job expo incaran para fresh graduate yang siap bekerja atau sebaliknya. Namun, 26 November 2010, Smesco Convention Hall sontak berubah menjadi titik yang diincar para hipster.

Adalah Trilogy Live, EO rookie penggebrak Jakarta dengan show Vampire Weekend, yang melebarkan imej Smesco building selama-lamanya. Dengan satu gelaran saja, gedung itu untuk pertama kalinya didaulat sebagai panggung gig internasional. Kali ini, yang diboyong oleh EO seumur jagung ini adalah eksponen shoegaze/dream pop Amerika Serikat, Asobi Seksu. Tak ayal, jika biasanya gedung itu dikerubuti mereka yang berdasi dan berseragam formal guna menarik employer, seminggu yang lalu, yang datang justru berzirah t-shirt ben seperti Joy Division, The Jesus and Mary Chain, atau bahkan t-shirt local hero seperti A Stone A.

Asobi Seksu adalah sebuah pilihan yang selalu bisa diperdebatkan. Teman dekat saya berkilah bahwa Asobi Seksu bukanlah pilihan yang tepat mengingat gaungnya hanya terdengar dalam lingkaran kecil penyuka musik di Jakarta (apalagi di Indonesia). Jadi, katanya adalah sebuah pilihan gegabah untuk memanggungkan band se-cult itu. Sebentar, cult yang dimaksud lebih mengarah ke frase “belum terkenal” alih-alih mengacu pada kata semisal underrated. Jelas, yang dikemukan teman saya adalah alasan ekonomis. Logikanya, makin terkenal makin banyak yang akan menyambangi konsernya.

Saya hanya tersenyum. 10-15 tahun lalu logika macam itu mungkin masih bisa dipegang dengan teguh sebagai patokan penyelenggaraan konser layaknya prinsip perang Sun Tzu diamini para businessman. Kini, saya rasa, masanya sudah jauh bergeser. Susah mengukur cult tidaknya atau tenar tidaknya sebuah band ketika preferensi musik tak lagi dibatasi oleh satuan geografis. Tren yang subur di New York atau Montreal bisa segera diimpor ke Jakarta atau Bandung dalam hitungan hari, jam, atau bahkan detik. Yang dibutuhkan hanya sebuah modem portable, download accelerator, kejelian mencari link, dan sedikit kemauan membaca tulisan di website SPIN ataupun Pitchfork. Artinya, kita tak pernah mampu menduga se-cult apa status sebuah ben ketika diskografi bisa didapat secepat kilat. Pada akhirnya mungkin tak akan ada satupun band cult atau underrated di dunia jika akses terhadap karya mereka terbuka lebar di jejaring internet. Mari kita buktikan siapa yang benar, saya atau teman saya, di konser Asobi Seksu.

Kami harus menunggu sampai jam 10 malam hingga Sajama Cut naik panggung. Lebih malang lagi mereka yang memakai ID Pers, tak peduli reporter ataupun fotografer, semua dipukul rata: masuk saat setlist tiga lagu terakhir Sajama Cut. Maka dengan alasan inilah, performa pembuka Asobi Seksu, Sajama Cut, tak bisa ditetak dalam pixel secara menyeluruh. Yang jelas, Marcel tetap tampan dan berperi, logat Inggrisnya pun masih fasih tak bercela. Malam itu mereka mengumbar repertoar dari Manimal, LP terbarunya, sembari menyodorkan memori lama melalui, salah satunya, ‘Less Afraid’. Tak ada yang salah dengan penampilan mereka; tak ada pula yang pula yang baru dari Marcell Thee, dkk.

Asobi Seksu muncul tak lama setelah Sajama Cut pamit. Tak perlu waktu lama bagi awak band yang namanya bisa diartikan sebagai “Seks untuk senang-senang” ini. Mungkin persiapannya matang atau bisa jadi tak banyak yang harus disiapkan. Lampu segera menyala kembali, maka tampaklah 3 lelaki bule dengan badan menjulang dan seorang perempuan Asia mungil di tengah panggung. Yuki Chikudate nama perempuan itu; sosoknya yang dipasang tepat di tengah panggung, di balik keyboard mungil jelas jadi center of attention. Keberadaannya tak ayal jadi sasaran empuk berbagai kamera wartawan dan penonton. Maklumlah, wanita Asia di tengah sekumpulan bule biasanya latah digambarkan dengan satu kata: eksotis!

Mengasikkan pula membicarakan eksistensi Yuki dalam sebuah unit musik yang didominasi oleh lelaki bule. Dengan penggunaaan lirik Jepang (atau setidaknya logat Jepang yang kental), Yuki mengingatkan kita pada sosok Satomi Matsuzaki [Deerhoof] atau Yoshiko Ohara [Bloody Panda]. Dalam ketiganya, kita bisa menyaksikan bagaimana suara wanita berdarah Jepang memang komoditas yang unik. Dalam ketiganya, mungkin kita berpostulat bahwa ada hegemoni JAV yang kuat alam bawah sadar lelaki Timur dan Barat.

Namun begitulah, mau tidak mau kita kembali menyaksikan eksotisme Timur sebagai barang dagangan yang unik. Dari 14 lagu yang dibawakan [encore sudah dihitung bung!-pen], berkali-kali telinga ini menangkap Yuki memamerkan warisan linguistiknya; mulai dari logat hingga kalimat-kalimat dalam bahasa Jepang yang disuguhkan mentah-mentah. Lihat saja, mulai dari ‘Strawberries’ –yang ironisnya dimainkan sebagai lagu pembuka– hingga ‘Trance out’, bahasa Jepang bukan yang hal yang aneh dalam ranah shoegaze/dream-pop mereka.

Layaknya lelaku ben semacamnya, Asobi Seksu tampil kasual dan minim komunikasi. Wall of sound speaks louder than words, mungkin begitu kata mereka. Tercatat hanya beberapa kali Yuki menyapa penonton dalam beberapa petik kalimat singkat seperti “thank you”, kalimat penggambar impresi pertama mereka tentang crowd Jakarta atau kalimat formal lainnya, seperti “you guys are cute!” yang meluncur setelah mereka (pura-pura) pamit. Kami patut bersyukur karena terhindar dari kepura-puraan. Maksud saya, kami tidak menemukan frontman yang memaksakan diri mengucapkan terimakasih dalam logat yang aneh!

Lantas bagaimana penonton merespon sajian semacam ini. Ah, macam-macam kawan, tergantung siapa mereka. Misalnya, ketika saya masih dalam kerangkeng pemisah insan pers dan penonton bertiket, mata saya sempat merekam seorang pemuda yang tak pernah henti menyenandungkan lirik-lirik ‘Strawberries’, ‘Trails’, dan ‘New Years’. Bolehlah kita masukkan ia kedalam lingkaran yang kita sebut sebagai Big Fans, satuan yang pasti jadi sasaran utama penggagas gig Asobi Seksu. Di luar kerangkeng itu, masih banyak varian penonton lainnya. Kawan saya, seorang penggila shoegaze dan pekerja media, misalnya, berdiri di tengah penonton sembari terus mengawasi penampilan Yuki cs. dan menikmati noise serta wall of sound yang disuguhkan. Tak perlu baginya tahu dengan kata apa sekumpulan bunyi itu dinamai satu persatu. Ada pula yang memilih meratakan tubuhnya dengan lantai. Dijadikan oleh mereka backpack mereka sebagai bantal. Dilayangkan pandangan mereka ke langit dome. Maka dinikmatilah pertunjukan itu sebagai mixtape antara semburan wall of sound, suara eksotis, dan semburat permainan laser di langit-langit dome. Judul dan nama kembali tak dikultuskan. Ah, ngomong-ngomong masalah judul, kira-kira pemuda yang pertama saya ceritakan tahu gak ya judul lagu The Jesus And Mary Chain yang dicover malam itu?

Sayang sample penonton yang saya amati tidak begitu banyak. Seandainya populasi penonton malam itu lebih banyak, maka saya jamin gambaran dalam paragraf di atas akan lebih berwarna lagi. Saya mungkin bisa menambahkan cerita tentang mereka yang lebih asik merekam daripada mendengar dan menikmati. Namun, apa mau dikata yang datang ke gig itu tak lebih dari 100 kepala.

Kok bisa? Ingat kawan, Jumat saat itu Jakarta dilanda hujan kecil pemicu kemacetan yang masif. Maka, cukup logis jika berandai-andai puluhan calon penonton lainnya memutuskan untuk berendam saja dalam kendaraan beroda empat alih-alih menyambangi venue acara. Ah, tapi kan hujan tak pernah bisa digugat, lantas bagaimana dengan promo acara? Nah, yang ini bisa digugat! Saya tidak melihat promo yang menggigit seperti ketika Trilogy Live memanggungkan Vampire Weekend. Worn out? Bisa jadi, 3 show berturut-turut dalam satu bulan saja oleh sebuah EO muda, saya hanya bisa bertepuk tangan dan mengerutkan kening.

Atau Asobi Seksu kalah pamor dari Vampire Weekend? Entahlah, yang jelas perdebatan kami dimenangkan oleh dekat saya. Ternyata di abad internet seperti sekarang, konser yang laris dimulai dengan pemilihan artis yang jeli dan promosi yang matang.

(More pictures click here)

 SONGLIST

01. Strawberries
02. Trails
03. New Years
04. In the Sky
05. My Baby
06. Sighs
07. Pink Cloud Tracing Paper
08. Thursday
09. Perfectly Crystal
10. Me & Mary
11. Red Sea
- - -False Encore- - -
12. Never Understand [The Jesus and Mary Chain cover]
13. I'm Happy But You Don't Like Me
- - -True Encore- - -
14. Trance Out

 TAUTAN

Report & photo: Jurnallica