RELATED REPORTS 2010

 REPORT 2009

 REPORTASE

The TEMPER TRAP "Live in Jakarta"
Jumat, 12 November 2010 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Indonesia

 

"Konser di Kampung Halaman"

Sadar atau tidak, nilai-nilai (berbau) nasionalisme begitu mudah mengelabui suatu esensi. Karena, asas tindakannya berdasarkan perasaan sentimen yang menurut saya adalah absurd.

Prestasi putra-putri bangsa yang berkesenian dalam kancah internasional seakan ikut menyeret kita dan berkata: “kita bangga!” Begitupun euforia media-media lokal terhadap grup The TEMPER TRAP lantaran vokalisnya berasal dari Indonesia. Mesti diakui, walau ben alternatif rock tersebut sedang digemari di Australia dan Inggris, tapi apakah itu alasan yang tepat untuk bangga yang dalilnya mengharumkan nama bangsa? Tunggu dulu... Bila saja sang frontman bukan berasal Indonesia, pasti akan lain cerita. Jangankan sekedar anak ben, orang nomor satu di Amerika yang pernah besar di Jakarta saja apa pengaruhnya dengan sikon negara yang semakin bobrok ini? Ah, kok saya jadi terngiang vokalis Koil Otong (serta Ahmad Dhani yang ikut-ikutan) saat menyanyikan: “Nasionalisme untuk Negara ini adalah pertanyaan.”

Bagaimanapun juga, konser ben yang berbasis di Melbourne, Australia ini tetap memiliki nilai tersendiri. Ya, itu tadi, vokalisnya orang Indonesia. Promoter ISMAYA Live memboyong The Temper Trap untuk tur 3 kota Indonesia (Bali, Jakarta, Bandung) untuk pertamakalinya. Khusus show di Jakarta, opening acts yang terpilih adalah EFEK RUMAH KACA dan James Yuill (Inggris).

Saat EFEK RUMAH KACA membuka pertunjukan dengan repertoar pop gelap-nya, panggung masih nampak berantakan karena seluruh equipments menumpuk milik ben-ben yang tampil. Aksi trio yang tak banyak bertingkah itu akhirnya menggunakan setengah panggung saja. Pengunjung pun masih sepi. Lantai Festival baru terisi sepertiga dari kapasitasnya dan Tribun begitu sepi. Untuk pertamakalinya pula ERK kembali tampil dengan basis otentik Adrian, setelah 6 bulan absen manggung karena menjalani perawatan matanya yang nyaris buta.

Atmosfir musikal dijungkirbalikan oleh James Yuill yang tampil one man show. Dengan seperangkat laptop dan peralatan ala chiptunes, sosok Yuill yang terlihat nerdy memainkan musik elektronik dengan sisipan gitar akustik. Sekelebat Tennis Indoor pun berdentum menjadi lantai dansa. Musikal Yuill juga mengembalikan memori saya pada Calvin Harris (yang juga berasal dari Inggris) yang sempat didatangkan ke Jakarta oleh promoter beberapa bulan lalu. Sebagai show bonus, Yuill mungkin kurang representatif. Tapi rasanya sah saja bila Anda tau debut Temper Trap, “Conditions” juga dirilis ulang dalam versi remix baru-baru ini.

Pada setengah 11 malam sang headliner memulai aksinya. Dougy Mandagi (vokal, gitar), Jonathon Aherne (bas), Lorenzo Sillitto (gitar, kibord), Toby Dundas (dram, perkusi), dan Joseph Greer (gitar, kibord untuk member tur) sigap mengambil posisi. Panggung pun telah bersih dari pemandangan tumpukan equipments. Genderang perkusif mengawali pertunjukan malam itu lalu disusul dengan ‘Rest’.

Jakarta! Apa kabar?” sapa Mandagi ke penonton malam itu setelah 2 lagu pertama. Mendengar Mandagi berbicara, sekejap habis imej Temper Trap sebagai ben luar negri. Terlebih lagi perawakannya yang sangat pribumi.

Satu persatu lagu yang dicomot dari album “Conditions” dimainkan secara berantai. Warna sound astmosferik terasa sinkron dengan langgam vokal Mandagi yang mengingatkan saya pada karakter vokal Bono (U2) atau B’Jah (The FLY) untuk versi lokalnya.

Seperti kebanyakan performance ben bule yang irit bicara, sang frontman juga tak banyak dialog dengan penonton walau sekedar basa-basi. Kalau memang selama ini bahasa menjadi penghambat komunikasi, sepertinya Mandagi memiliki alasan tersendiri. Atau boleh jadi Aby –nama panggilan Mandagi semasa di Indonesia bukan personal yang pandai berkonversasi.Jakarta gimana nih, belum pada ngantuk kan?” kembali dirinya membuka obrolan di tengah pertunjukan, sebelum berimprovisasi (lagi) dengan tabuhan perkusi ala tribal dan disambut hit kolosal ‘Sweet Disposition’.

Bulu roma saya merinding saat lagu tersebut dimainkan dengan intonasi vokal yang lirih dan sound gitar yang mengawang-awang. Lagu ‘Sweet Disposition’ bak jimat bagi ben ini. Berkat lagu tersebut, The Temper Trap berhasil menyabet 6 kali penghargaan. Dan belum lama ini, lagu tersebut (kembali) memenangkan ARIA Music Awards untuk kategori “Most Popular Australian Single”. Tak heran bila video klip ‘Sweet Disposition’ sampai dikemas dalam 3 versi. Selain menang beberapa awards, lagunya juga laris digunakan sebagai soundtrack film, games, dan varian advertising. Di Indonesia sendiri lagunya digunakan untuk jingle reklame sebuah brand mobil.

Pengunjung terus berdatangan kala The Temper Trap tampil; Festival menjadi padat walau Tribun kiri & kanan masih banyak yang kosong. Apa yang dirasa kurang worth it dari panggung ben yang baru memiliki satu album adalah bandrol tiketnya yang tergolong mahal, yaitu Rp 350.000,- (Festival) dan Rp 300.000,- (Tribun). Meski satu album penuh (10 lagu, 42 menit) dimainkan, tetap saja belum memenuhi standar durasi panggung internasional. Sebagai ekstranya, The Temper Trap mengisi dengan intro plus improvisasi yang perkusif dan sebuah lagu baru. Untungnya, kualitas suara sangat menunjang dan tata lampu yang ciamik cukup memuaskan ekspektasi 3000-an penonton yang hadir.

Aksi pura-pura balik ke belakang panggung juga dimainkan usai lagu instrumental Drum Song’ dan kembali muncul setelah membuang waktu 10 menit. Gimana nih, masih ada 2 lagu lagi. Masih boleh nyanyi ga?” canda Mandagi. “Ngomong-ngomong, sejak mendarat kami pada makan melulu. ‘Ni bule pada rakus, makanya ada yang sakit perut,” lanjutnya sedikit bercerita.

Satu lagu baru tanpa judul mereka perkenalkan sebagai songlist tambahan. Setelahnya, ‘Science of Fear’ didaulat sebagai penutup konser di Jakarta yang mana Mandagi turun ke perbatasan area penontonsebelum mereka bertolak ke Bandung pada esok harinya.

 

Ki-ka: Efek Rumah Kaca & James Yuill

 SONGLIST

- - -Intro- - -
01. Rest
02. Fader
03. Fools
04. Down River
05. Love Lost
06. Soldier on
07. Sweet Disposition
08. Resurrection
09. Drum Song
10. (new song)

11. Science of Fear

 TAUTAN

Report & photo: Jurnallica