The TEMPER TRAP "Live
in Jakarta" Jumat,
12 November 2010 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Indonesia
"Konser di Kampung Halaman"
Sadar
atau tidak, nilai-nilai (berbau) nasionalisme begitu mudah mengelabui
suatu esensi. Karena, asas tindakannya berdasarkan perasaan sentimen yang
menurut saya adalah absurd.
Prestasi putra-putri
bangsa yang berkesenian dalam kancah internasional seakan ikut menyeret
kita dan berkata: “kita bangga!” Begitupun
euforia media-media lokal terhadap grup The TEMPER TRAP lantaran
vokalisnya berasal dari Indonesia. Mesti diakui, walau ben alternatif
rock tersebut sedang digemari di Australia dan Inggris, tapi apakah itu
alasan yang tepat untuk bangga yang dalilnya mengharumkan nama bangsa? Tunggu
dulu... Bila saja sang frontman bukan berasal Indonesia, pasti akan
lain cerita. Jangankan sekedar anak ben, orang nomor satu di Amerika
yang pernah besar di Jakarta saja apa pengaruhnya dengan sikon negara
yang semakin bobrok ini? Ah, kok saya jadi terngiang vokalis Koil Otong (serta
Ahmad Dhani yang ikut-ikutan) saat menyanyikan: “Nasionalisme untuk
Negara ini adalah pertanyaan.”
Bagaimanapun juga, konser
ben yang berbasis di Melbourne, Australia ini tetap memiliki nilai tersendiri.
Ya, itu tadi, vokalisnya orang Indonesia. Promoter ISMAYA Live memboyong
The Temper Trap untuk tur 3 kota Indonesia (Bali, Jakarta, Bandung)
untuk pertamakalinya. Khusus show di Jakarta,
opening acts yang terpilih adalah EFEK RUMAH KACA dan James Yuill
(Inggris).
Saat EFEK RUMAH KACA membuka
pertunjukan dengan repertoar pop gelap-nya, panggung masih nampak berantakan karena
seluruh equipments menumpuk milik ben-ben yang tampil. Aksi trio
yang tak banyak bertingkah itu akhirnya menggunakan setengah
panggung saja. Pengunjung pun masih sepi. Lantai Festival baru terisi
sepertiga dari kapasitasnya dan Tribun begitu sepi. Untuk pertamakalinya pula ERK
kembali tampil dengan basis otentik Adrian, setelah 6 bulan absen
manggung karena menjalani perawatan matanya yang nyaris buta.
Atmosfir musikal dijungkirbalikan
oleh James Yuill yang tampil one man show. Dengan seperangkat laptop
dan peralatan ala chiptunes, sosok Yuill yang terlihat nerdy
memainkan musik elektronik dengan sisipan gitar akustik. Sekelebat Tennis Indoor
pun berdentum menjadi
lantai dansa. Musikal Yuill juga mengembalikan memori saya pada Calvin Harris
(yang juga berasal dari Inggris) yang sempat didatangkan ke Jakarta oleh
promoter beberapa bulan lalu. Sebagai show bonus, Yuill mungkin
kurang representatif. Tapi rasanya sah saja bila Anda tau debut Temper
Trap,
“Conditions”
juga dirilis ulang dalam versi remix baru-baru ini.
Pada setengah 11 malam sang
headliner memulai aksinya. Dougy Mandagi (vokal, gitar),
Jonathon Aherne (bas), Lorenzo Sillitto (gitar, kibord), Toby Dundas
(dram, perkusi), dan Joseph Greer (gitar, kibord untuk member tur)
sigap mengambil posisi. Panggung pun telah bersih dari pemandangan tumpukan
equipments. Genderang perkusif mengawali pertunjukan malam itu
lalu disusul dengan ‘Rest’.
“Jakarta!
Apa kabar?” sapa Mandagi ke
penonton malam itu setelah 2 lagu pertama. Mendengar Mandagi berbicara,
sekejap habis imej Temper Trap sebagai ben luar negri. Terlebih lagi
perawakannya yang sangat pribumi.
Satu persatu lagu yang
dicomot dari album
“Conditions” dimainkan secara berantai. Warna
sound astmosferik terasa sinkron dengan langgam vokal Mandagi
yang mengingatkan saya pada karakter vokal Bono (U2) atau B’Jah (The
FLY) untuk versi lokalnya.
Seperti kebanyakan
performance ben bule
yang irit bicara, sang frontman juga tak banyak
dialog dengan penonton walau sekedar basa-basi. Kalau memang selama
ini bahasa menjadi penghambat komunikasi, sepertinya Mandagi memiliki
alasan tersendiri. Atau boleh jadi Aby –nama panggilan
Mandagi semasa di Indonesia– bukan personal yang pandai
berkonversasi. “Jakarta gimana nih,
belum pada ngantuk kan?”
kembali dirinya membuka obrolan di tengah pertunjukan, sebelum
berimprovisasi (lagi)
dengan tabuhan perkusi ala tribal
dan disambut hit kolosal ‘Sweet
Disposition’.
Bulu roma saya
merinding saat lagu
tersebut dimainkan
–dengan intonasi vokal
yang lirih dan sound
gitar yang mengawang-awang. Lagu ‘Sweet Disposition’ bak jimat bagi ben
ini. Berkat lagu tersebut, The Temper Trap berhasil menyabet 6 kali penghargaan.
Dan belum lama ini, lagu
tersebut (kembali) memenangkan ARIA Music Awards untuk kategori “Most Popular
Australian Single”. Tak heran bila
video klip ‘Sweet Disposition’ sampai dikemas dalam 3 versi. Selain
menang beberapa awards, lagunya juga laris
digunakan sebagai soundtrack film, games, dan varian
advertising. Di Indonesia sendiri lagunya digunakan untuk jingle
reklame sebuah brand mobil.
Pengunjung
terus berdatangan kala The Temper Trap tampil; Festival menjadi padat
walau Tribun kiri & kanan
masih banyak yang kosong. Apa yang dirasa kurang worth it dari
panggung ben yang baru memiliki satu album adalah bandrol tiketnya yang
tergolong mahal, yaitu Rp
350.000,- (Festival) dan Rp 300.000,- (Tribun). Meski satu album penuh
(10 lagu, 42 menit) dimainkan, tetap saja belum memenuhi
standar durasi
panggung internasional. Sebagai ekstranya, The Temper Trap mengisi dengan
intro plus improvisasi yang perkusif dan sebuah lagu baru. Untungnya,
kualitas suara sangat menunjang dan tata lampu yang ciamik cukup memuaskan
ekspektasi 3000-an penonton yang hadir.
Aksi pura-pura
balik ke belakang panggung juga dimainkan usai
lagu instrumental
‘Drum Song’ dan kembali muncul setelah membuang
waktu 10 menit.
“Gimana nih, masih ada 2 lagu
lagi. Masih boleh nyanyi ga?” canda Mandagi. “Ngomong-ngomong, sejak
mendarat kami pada makan melulu.
‘Ni bule pada rakus, makanya ada yang sakit perut,”
lanjutnya sedikit bercerita.
Satu lagu baru tanpa
judul mereka perkenalkan sebagai songlist tambahan. Setelahnya, ‘Science of Fear’
didaulat sebagai penutup konser
di Jakarta –yang
mana
Mandagi turun ke perbatasan area
penonton–
sebelum mereka bertolak ke Bandung
pada esok harinya.
Ki-ka: Efek Rumah Kaca &
James Yuill
SONGLIST
- - -Intro- - -
01. Rest
02. Fader
03. Fools
04. Down River
05. Love Lost
06. Soldier on
07. Sweet Disposition
08. Resurrection
09. Drum Song
10. (new song)