Kenny G "Live
in Jakarta" Jumat,
5 November 2010 @ Central Park Ballroom, Jakarta, Indonesia
"Nyanyian Saxophone"
Untuk
keduakalinya, saxophonist legendaris Kenny G menggelar konser di
Jakarta pada 5 November 2010 yang diselenggarkan Velvet Production dan berlanjut ke
Surabaya esok harinya. Tentu setelah 15 tahun lalu tak
teringat jelas apa saja yang sudah terlewati di konser
pertamanya. “Yang jelas akan banyak
perubahan,” jawab G simpel pada konfrensi pers di Hotel Ritz Carlton
Kuningan (4/11). Apa yang tak berubah secara kasat mata pada pria
bernama lengkap Kenneth Bruce Gorelick adalah gaya
rambut spiral panjangnya, hingga seorang jurnalis [mungkin karena ia
wanita-red] berkomentar agar mengubah gaya rambutnya. Maka,
pertanyaan yang konyol pun dijawab ala kadarnya. “My hair is
nice,” bela G dengan bangga. Sepertinya, dalam kehidupan wanita
tak mengenal/mengerti rumus apa itu yang disebut ciri khas.
Seorang wanita sebagai pembawa acara
mengenakan kaos berlogo anti-rokok sebagai sikap bahwa konser Kenny G di
Jakarta yang bertajuk “A Romantic Evening of Heart and Soul”
terselenggara tanpa sponsor/embel-embel produk rokok. Apa yang
diterapkan Velvet ini sudah seharusnya dicontoh bagi event organizer
lokal manapun, bila mampu. Sialnya, MC tersebut mendapat guyuran sorakan “wooo…” setiap
ia selesai berbicara. Bukan karena hal rokok melainkan imbas molornya
acara sekitar 45 menit seletelah vokal grup wanita sebagai pembuka.
Tiba-tiba penampilan yang ditunggu-tunggu
muncul di tengah-tengah arena penonton. Sontak orang-orang yang berada disekelilingnya berlari
mengerubungi G agar kesempatan menyaksikan lebih dekat, berhubung saf
depan tiketnya berbandrol Rp 5 juta. Saat G beralih dari penonton ke panggung, ia menahan tiupan tanpa
henti selama 5 menit. Sebelumnya, pada konfrensi pers G sempat
mempertunjukan bagaimana meniup saxophone sambil bernafas sesuai
fitrahnya.
Untuk mereka yang berekspektasi konser G
adalah ‘musik bikin
ngantuk’ dapat ternafikan. Kenny cukup cermat bagaimana menguasai mood penonton agar terjaga dari kantuknya.
[Lagipula siapa suruh nonton konser
untuk tidur?!-red] Selesai dua lagu pertama, G memberi sambutan kepada pengunjung dengan
bahasa Indonesia yang terbata-bata. Sangking lupanya menghapal, ia
akhirnya mengeluarkan kertas contekan. Selebihnya, ia menghibur penonton dengan guyonan
lain alanya.
Kenny mengaku memang bukan seorang penyanyi,
namun ia merepresentasikan suaranya melalui alat tiup yang ia pelajari
sejak berumur 10 tahun –kini usianya 54. Sejak tahun 1973 merintis karir,
G telah merilis 13 album penuh (tidak termasuk rekaman-rekaman lainnya).
Dan konser 2 kota di Indonesia adalah rangkaian tur album terbarunya
“Heart & Soul” yang baru dirilis Juni lalu.
Dengan medium saxophone, G tampil selama 90
menit dengan mengenakan jas dan stelan hitam. Di atas panggung –dengan
backdrop huruf gigantis bertuliskan namanya– G hanya ditemani pemain
piano/keyboard Robert, yang merupakan teman semasa SMA-nya. Kenny pun memiliki custom saxophone tersendiri yang dinamai
“Kenny G Saxophones”. Namun, “tak ada bedanya, sama seperti pada umunya,”
jawab G saat Jurnallica menanyakan apa bedanya dengan saxophone yang lain.
Hanya saja saxophone miliknya bernilai ekstrintik, sebagaimana Anda memiliki barang antik,
yang diproduksi sejak puluhan tahun lalu.
Menikmati lagu instrumental tentu sensasinya
berbeda
dengan musik yang memiliki penyanyi. Keny pun menyarankan Anda tak perlu untuk mengingat
judulnya, biarkan semua mengalun apa adanya. Satu-satunya lagu yang menggunakan
sesi
vokal adalah lagu ‘What a Wonderful World’ dimana G berkolaborasi dengan Louis Armstrong melalui layar
video yang terletak di
kiri & kanan panggung. Dengan instrumennya, G juga bersolo improvisasi
seperti sang maestro gitar yang meliuk-liukan jari-jemarinya.
Tipikal
penonton konser di Indonesia (apapun genre-nya) seperti tak pernah puas. Hingga lagu ‘My
Heart Will Go on’
–yang dipopulerkan Celine Dion sebagai
soundtrack film
“Titanic”–
menutup konser, penonton berteriak meminta encore. Saat G
kembali beserta partnernya, akhirnya repertoar konser ditutup dengan lagu sejuta umat
yaitu ‘Over
the Rainbow’-nya Judy Garland dengan versi yang lebih mellow. Sangat
cocok sebagai penghantar tidur.
Usai konser, G terpaksa harus mengeluarkan
enerji ekstra. Seperti janjinya, ia akan melayani tandatangan bagi
setiap pengunjung yang membeli cd/kaos (harga per item Rp
150.000,-) pada booth merchandise. Bahkan sebanyak 115 kopi cd “Heart & Soul”
yang dibawa pihak Universal ludes tak tersisa. Ditambah pula dengan
cd tour edition langsung dari pihak G. Diperkirakan total sekitar
250 keping cd terjual malam itu agar bisa mendapat tandatangan langsung
dari sang empu album. Barisan antri pun terbentuk sepanjang 15-20 meter.
Boleh jadi hal ini trik G agar orang tetap membeli
rekaman fisik. Seperti yang diungkapkan pada konfrensi pers sehari sebelumnya, ia
juga merisaukan penjualan
cd di jaman digital ini yang semakin merosot. Terlebih lagi semenjak
adanya iTunes atau donlod ilegal.
Ki & ka: Melayani
tandatangan & foto bersama penggemar
HADIAH SAXOPHONE
Ekman
boleh jadi penonton paling bangga pada konser Kenny G di Jakarta. Sebab
ia mendapat sebuah hadiah saxophone
langsung dari Kenny G. Secara kebetulan Lekman pun bisa memainkan
instrumen tiup tersebut. Sebelumnya sempat diumumkan, untuk mereka yang membeli cd sebelum konser akan
mendapat kupon kuis yang berhadiah sebuah saxophone.
Sebenarnya yang mendapat
undian itu adalah istrinya, Larena yang sedang mengandung 6 bulan dan
meminta sang suami untuk mendampinginya ke atas panggung. Padahal G
sebelumnya meminta 2 kursi dan (ia sendiri) didempetkannya. “Biar
terlihat lebih romantis,” candanya. Sebelum memberikan upeti tersebut G
sempat memainkannya sebuah lagu. Dan pasangan tersebut dibiarkan duduk
dan menyaksikan dari atas panggung. Lagi-lagi G berulah. Ia
menyuruh seorang kru untuk memoto ketiganya dengan ponsel Ekman.
Kebahagiaan pemenang pun semakin menambah. Setidaknya kedua penonton
asal Singapura itu memiliki cerita tersendiri walau G belum tentu
mengenangnya.