RELATED REPORTS 2010

 REPORT 2009

 REPORTASE

Kenny G "Live in Jakarta"
Jumat, 5 November 2010 @ Central Park Ballroom, Jakarta, Indonesia

 

"Nyanyian Saxophone"

Untuk keduakalinya, saxophonist legendaris Kenny G menggelar konser di Jakarta pada 5 November 2010 yang diselenggarkan Velvet Production dan berlanjut ke Surabaya esok harinya. Tentu setelah 15 tahun lalu tak teringat jelas apa saja yang sudah terlewati di konser pertamanya. “Yang jelas akan banyak perubahan,” jawab G simpel pada konfrensi pers di Hotel Ritz Carlton Kuningan (4/11). Apa yang tak berubah secara kasat mata pada pria bernama lengkap Kenneth Bruce Gorelick adalah gaya rambut spiral panjangnya, hingga seorang jurnalis [mungkin karena ia wanita-red] berkomentar agar mengubah gaya rambutnya. Maka, pertanyaan yang konyol pun dijawab ala kadarnya. “My hair is nice,” bela G dengan bangga. Sepertinya, dalam kehidupan wanita tak mengenal/mengerti rumus apa itu yang disebut ciri khas.

Seorang wanita sebagai pembawa acara mengenakan kaos berlogo anti-rokok sebagai sikap bahwa konser Kenny G di Jakarta yang bertajuk “A Romantic Evening of Heart and Soul” terselenggara tanpa sponsor/embel-embel produk rokok. Apa yang diterapkan Velvet ini sudah seharusnya dicontoh bagi event organizer lokal manapun, bila mampu. Sialnya, MC tersebut mendapat guyuran sorakan “wooo…” setiap ia selesai berbicara. Bukan karena hal rokok melainkan imbas molornya acara sekitar 45 menit seletelah vokal grup wanita sebagai pembuka.

Tiba-tiba penampilan yang ditunggu-tunggu muncul di tengah-tengah arena penonton. Sontak orang-orang yang berada disekelilingnya berlari mengerubungi G agar kesempatan menyaksikan lebih dekat, berhubung saf depan tiketnya berbandrol Rp 5 juta. Saat G beralih dari penonton ke panggung, ia menahan tiupan tanpa henti selama 5 menit. Sebelumnya, pada konfrensi pers G sempat mempertunjukan bagaimana meniup saxophone sambil bernafas sesuai fitrahnya.

Untuk mereka yang berekspektasi konser G adalah ‘musik bikin ngantuk’ dapat ternafikan. Kenny cukup cermat bagaimana menguasai mood penonton agar terjaga dari kantuknya. [Lagipula siapa suruh nonton konser untuk tidur?!-red] Selesai dua lagu pertama, G memberi sambutan kepada pengunjung dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Sangking lupanya menghapal, ia akhirnya mengeluarkan kertas contekan. Selebihnya, ia menghibur penonton dengan guyonan lain alanya.

Kenny mengaku memang bukan seorang penyanyi, namun ia merepresentasikan suaranya melalui alat tiup yang ia pelajari sejak berumur 10 tahun –kini usianya 54. Sejak tahun 1973 merintis karir, G telah merilis 13 album penuh (tidak termasuk rekaman-rekaman lainnya). Dan konser 2 kota di Indonesia adalah rangkaian tur album terbarunya “Heart & Soul” yang baru dirilis Juni lalu.

Dengan medium saxophone, G tampil selama 90 menit dengan mengenakan jas dan stelan hitam. Di atas panggung –dengan backdrop huruf gigantis bertuliskan namanya– G hanya ditemani pemain piano/keyboard Robert, yang merupakan teman semasa SMA-nya. Kenny pun memiliki custom saxophone tersendiri yang dinamai “Kenny G Saxophones”. Namun, “tak ada bedanya, sama seperti pada umunya,” jawab G saat Jurnallica menanyakan apa bedanya dengan saxophone yang lain. Hanya saja saxophone miliknya bernilai ekstrintik, sebagaimana Anda memiliki barang antik, yang diproduksi sejak puluhan tahun lalu.

Menikmati lagu instrumental tentu sensasinya berbeda dengan musik yang memiliki penyanyi. Keny pun menyarankan Anda tak perlu untuk mengingat judulnya, biarkan semua mengalun apa adanya. Satu-satunya lagu yang menggunakan sesi vokal adalah lagu ‘What a Wonderful World’ dimana G berkolaborasi dengan Louis Armstrong melalui layar video yang terletak di kiri & kanan panggung. Dengan instrumennya, G juga bersolo improvisasi seperti sang maestro gitar yang meliuk-liukan jari-jemarinya.

Tipikal penonton konser di Indonesia (apapun genre-nya) seperti tak pernah puas. Hingga lagu ‘My Heart Will Go on’ yang dipopulerkan Celine Dion sebagai soundtrack film “Titanic” menutup konser, penonton berteriak meminta encore. Saat G kembali beserta partnernya, akhirnya repertoar konser ditutup dengan lagu sejuta umat yaitu ‘Over the Rainbow’-nya Judy Garland dengan versi yang lebih mellow. Sangat cocok sebagai penghantar tidur.

(More pictures click here)

 TRIVIA

SESI TANDATANGAN

Usai konser, G terpaksa harus mengeluarkan enerji ekstra. Seperti janjinya, ia akan melayani tandatangan bagi setiap pengunjung yang membeli cd/kaos (harga per item Rp 150.000,-) pada booth merchandise. Bahkan sebanyak 115 kopi cd “Heart & Soul” yang dibawa pihak Universal ludes tak tersisa. Ditambah pula dengan cd tour edition langsung dari pihak G. Diperkirakan total sekitar 250 keping cd terjual malam itu agar bisa mendapat tandatangan langsung dari sang empu album. Barisan antri pun terbentuk sepanjang 15-20 meter.

Boleh jadi hal ini trik G agar orang tetap membeli rekaman fisik. Seperti yang diungkapkan pada konfrensi pers sehari sebelumnya, ia juga merisaukan penjualan cd di jaman digital ini yang semakin merosot. Terlebih lagi semenjak adanya iTunes atau donlod ilegal.

 

Ki & ka: Melayani tandatangan & foto bersama penggemar

 

HADIAH SAXOPHONE

Ekman boleh jadi penonton paling bangga pada konser Kenny G di Jakarta. Sebab ia mendapat sebuah hadiah saxophone langsung dari Kenny G. Secara kebetulan Lekman pun bisa memainkan instrumen tiup tersebut. Sebelumnya sempat diumumkan, untuk mereka yang membeli cd sebelum konser akan mendapat kupon kuis yang berhadiah sebuah saxophone.

Sebenarnya yang mendapat undian itu adalah istrinya, Larena yang sedang mengandung 6 bulan dan meminta sang suami untuk mendampinginya ke atas panggung. Padahal G sebelumnya meminta 2 kursi dan (ia sendiri) didempetkannya. “Biar terlihat lebih romantis,” candanya. Sebelum memberikan upeti tersebut G sempat memainkannya sebuah lagu. Dan pasangan tersebut dibiarkan duduk dan menyaksikan dari atas panggung. Lagi-lagi G berulah. Ia menyuruh seorang kru untuk memoto ketiganya dengan ponsel Ekman. Kebahagiaan pemenang pun semakin menambah. Setidaknya kedua penonton asal Singapura itu memiliki cerita tersendiri walau G belum tentu mengenangnya.

Report & photo: Jurnallica