HATEBREED "Rise
Brutality Asian Tour 2010" Rabu,
27 Oktober 2010 @ Hall Basket GBK Senayan, Jakarta, Indonesia
"Live For Hatebreed"
Lian MIPRO
seakan mengembalikan reputasinya sebagai promoter ben-ben cadas
mancanegara lewat
konser HATEBREED di Jakarta,
setelah
belakangan ini berkompromi dengan event-event clothing massal
atau proyek mudik lebaran. Menggelar suatu konser ben dari kalangan
tersendiri tanpa ekspetasi tinggi, itu hampir sama seperti praktek bunuh
diri. “Metal
ga ada duitnya nih,” gurau CEO Lian MIPRO, Ucok dengan nada menyindir
dalam suatu percakapan.
Kehadiran show
Hatebreed menambah lengkap daftar konser ben-ben moshcore
di tanah air, setelah SICK OF IT ALL (2008) dan TERROR (2009). Sebagai
petisi pribadi, semoga konser ben selanjutnya yang terealisasi untuk
2011 adalah MADBALL. Hardcore still lives!
Jakarta adalah
target pertama Hatebreed –yang juga show pertamakalinya di
Indonesia– dalam rangkaian tur “Rise Brutality Asian Tour 2010”. Massa
metalheads dan hardcore kids terus membanjiri kawasan Hall
Basket GBK Senayan sejak jam
7 malam. Tiga tahun silam, di tempat
yang sama promoter pernah menggelar konser ben metal Amerika, The BLACK
DAHLIA MURDER. Selain panggung utama, di luar arena konser juga berdiri
beberapa booth sponsor serta panggung seliran
untuk pengunjung dengan suguhan beberapa ben metal lokal.
Secara formal, ben pembuka konser
Hatebreed adalah PAPER GANGSTER. Entah karena faktor relasi
dengan promoter, ben metalcore Depok tersebut cukup sering menjadi
opening act dalam beberapa konser yang diselenggarakan Lian MIPRO.
Tentunya menjadi pembuka dari konser ben-ben tersohor memiliki kebanggaan
tersendiri. Namun, kalau musikal yang disuguhkan ternyata stereotipikal
(atau hampir mendekati) adalah celaka bagi ben itu sendiri. Bahasanya nyaris senada seperti
para pedagang rekaman dengan dalih supaya laku; “Buat apa beli yang
bajakan, kalau ternyata ada yang asli.”
Mungkin
asumsi saya terlalu judgementil, tapi nyatanya respon penonton
sesaat berubah liar kala Jamey Jasta (vokal), Chris Beattie (bas), Wayne
Lozinak (gitar), Matt Byrne (dram), Frank Novinec (gitar) 'menggagahi'
panggung. Bom euforia meledak-ledak di sana-sini.
Doa-doa
yang sempat dipanjatkan untuk para korban bencana alam hanya seperti basa-basi
untuk mereka yang ingin berdansa liar bersama ben kuintet asal
Bridgeport, Waterbury and New Haven, Amerika. Kekacauan massal menjadi
pemandangan yang wajar asbab repertoar Hatebreed yang dicomot dari ke-enam albumnya, a.l.: ‘Perseverance’, ‘A
Call for Blood’, ‘To the Threshold’, ‘Empty Promises’, ‘As Diehard as
They Come’, ‘Betrayed by Life’, ‘Defeatist’, dll. Aransemen musik partai breakdowns dan
headbanging beats (sekaligus catchy) seolah tak henti-hentinya
memprovokasi crowds untuk kontinuitas melakukan moshing,
stage-diving, atau circle pit meski tubuh bersimbah peluh.
Dengan bergaya tough
guy ala ben-ben sejenis, vokalis Jasta yang mengenakan bandana di
kepala cukup berkharisma dalam mengomandai crowds
–seperti
menyuruh 3000-an kepala di dalam gedung berteriak. Di kalangan
mainstream nama Hatebreed semakin mendapat pengakuan dengan berpartisipasinya dalam soundtrack film, seperti:
“XXX”, “Freddy Vs. Jason”, dll. Selain itu, di luar ben Jasta juga
berprofesi sebagai host
acara khusus musik-musik cadas “MTV2 Headbanger's Ball”.
‘Ghost of War’ milik
Slayer menjadi satu-satunya lagu cover dari setlist (sekitar) 18 lagu malam itu. Lagu tersebut sekaligus
representasi album cover“For
the Lions” yang rilis tahun lalu dan disusul album ke-6 (self-titled)
beberapa bulan setelahnya. Memainkan
lagu (atau cover) yang akan dimainkan ternyata masih prediksi bagi personilnya.
“Kami tidak pernah membuat setlist,” kata gitaris Lozinak –salah
satu pendiri ben yang sempat hengkang di tahun 1996 dan kembali
bergabung pada 2009– saat konfrensi pers di kantor Prambors Jakarta
siang harinya. “Saya hanya mengikuti intruksi dari Jasta (atau Byrne).”
Jasta biasanya menyebut judul-judulnya sebelum lagu dimainkan. Di luar
Hatebreed, Jasta pun juga vokalis bagi KINGDOM OF SORROW,
proyek ben metal/sludge-nya bersama –salah satu musisi favoritnya– Kirk
Windstein (DOWN). Sejauh ini, KOS telah merilis 2 album.
Yang menjadi nilai minus
adalah mutu sound yang belum maksimal,
pada departemen gitar masih terdengar sayup-sayup dan sembleb. Namun groovy parts
yang bersemilir di setiap lagu
cukup menggoda kepala (walau sekedar) untuk mengangguk-ngangguk. Dan, hey!,
kabarnya soundman
Hatebreed ini tak lain adalah sang produser sendiri. Double job.
Bicara lagu,
bagi saya, ada 3 lagu sakti yang dimiliki
Hatebreed, yaitu: ‘Destroy Everything’, ‘Live For
This’, dan ‘I Will be Heard’. Selepas lagu ‘Destroy Everything’, Jasta berpura-pura pamit
lalu seluruh
personil menghilang ke belakang panggung agar penonton memohon encore.
Dan tepat seperti apa yang saya duga, dua lagu sisanya (‘Live For This’ dan
‘I Will be Heard’) menjadi pamungkas
acara sekaligus memberikan bekas rasa pegal & encok untuk esok harinya.
Yah, setidaknya masih ada lah kenang-kenangan selama rasa tersebut belum
menghilang.
“If you
didn't live for something, you'll die for nothing”