RELATED REPORTS 2010

 REPORT 2009

 REPORTASE

VAMPIRE WEEKEND "Live in Jakarta"
Minggu, 24 Oktober 2010 @ Bengkel Nightpark, Jakarta, Indonesia

 

"Konser 2010 yang Penting (Sepenting Pulang

ke Rumah Dapat Tebengan)"

Supir taksi menjejalkan jegalan batin. Dalam istilah komunikasi sekarang, itu namanya curahan hati. Disampaikan dengan metode colongan.

Kalimat pembukanya tentang kontrol istri, lalu berliku-liku. Saya iseng saja menanggapi, sambil agak berdebar menuju waktu-waktu yang akan seru. Hingga tiba di Bengkel Nightpark, banyak mobil parkir.

“Musik apa?” tanya supir taksi.

“Indie rock,” jawab saya, mungkin sekenanya. Ya, harus bilang apa? Tak sempat panjang lebar untuk mengobrol tentang Vampire Weekend.

Supir taksi tidak sampai melongo, namun ada keluar tanya, “Indie rock?”

Saya tebus argo. 

Vampire Weekend adalah Ezra Koenig (vokal utama, gitar), Rostam Batmanglij (keyboards, gitar, vokal latar), Chris Tomson (drum), dan Chris Baio (bas, vokal latar). Minggu, 24 Oktober 2010, ketika baru saja mereka memasuki panggung, empat gestur musisi itu memberi informasi penting: kami akan bermain total.

Latar panggung hitam. Dominasi lampu adalah merah. Kadang biru. Warna-warni, sesekali. Menyalaknya strobo-storbo yang dipasang pada langit-langit pentas, hebat mendukung kompisisi-komposisi memuncak yang mengejar kaki-kaki penonton untuk menfantastiskan dansa-dansi masing-masing.

Histeria sekitar dua ribu penonton tentu bukan orgasme palsu kolektif. Itu perayaan bunyi nyaman dan zaman.

Bunyi nyaman yang tersendiri oleh Vampire Weekend kerap diasosiasikan oleh suasana album studio ketujuh Paul Simon yang rilis pada Agustus 1986, Graceland. Wajar sekali, karena memang sangat bisa ditemukan kesamaan arah musikalnya. Utamanya kentara pada gaya musik Afrika Selatan yang dinamakan mbaqanga.

Gaya bermain gitar yang perkusif diumbar. Begitupun tabuhan drum yang rimbun. Plus sentuhan keyboard yang menggelitik tapak kaki. Dan laksana nyata ada lokasi-lokasi yang dihadirkan dari semua sound itu: hangat pinggir pantai sekaligus rimba eksotik?

Vampire Weekend seperti The Clash era kini, dalam bentuk tekstur vokal lebih halus dan muatan lirik yang lebih “santai”. Atau apa pun gaya hidup pop setelah tahun 2000; jaringan komunikasi serta informasi yang overload, mudah, namun absurd.

Semua notasi vokal yang dinyanyikan oleh Ezra Koening dalam rekaman-rekaman Vampire Weekend tak pelak mencapai melodius, meski belum tentu mudah merekat untuk diingat. Pita suara “putih” bersama musik “hitam” macam adonan ska/reggae, masih menjanjikan sensasi, bukan hanya dobrakan milik band-band angkatan pendahulu seperti The Police kemudian Men At Work. Pada versi pertunjukannya di Jakarta, vokal Ezra Koening terdengar prima bersama dukungan tata suara yang empuk dan kuat.

Kredit pada pemain drum Chris Tomson patut disematkan. Tak ada setting drum mewah atau spesial. Standar. Dimainkan dengan cerdik dan berapi-api.

Keringat mengalir di tubuh-tubuh penonton yang tak lelah bergoyang. Berpesta pada musik dari band New York yang- dengan segala racikannya- terdengar relevan.

Penonton yang basah berkeringat tapi tetap wangi seperti aroma musik Vampire Weekend itu sendiri.

Baru merilis dua album tidak lama sebelum perhelatan ini digelar (“Vampire Weekend” dirilis 2008, sementara “Contra” pada 2010), dengan kekuatan super segar pada segenap lagu-lagu di album itu, maka menyebutkan urutan set list pertunjukkan bukan perkara penting lagi. Hit atau bukan hit, masuk chart atau tidak. Itu bukan soal bagi band macam Vampire Weekend yang setiap lagunya adalah sound kebangsaan bagi penggemarnya.

Kita mahfum, dengan segenap situasi sekarang, kemungkinan ada Nirvana baru mungkin lebih jahat dari mitos. Dan apa yang telah diraih Vampire Weekend sejauh ini bisa saja sejauh-jauhnya sebuah band keren bisa muncul ke permukaan dan melompat. Manggung di negara dunia ketiga ketika sedang menjadi tenar dan benar.

Di Jakarta, para anak muda menikmatinya. Sebuah konser bersejarah yang dikemas sederhana, dan tetap menjadi sesuatu yang penting. Arti kata “penting” di sini bisa mengacu serius penuh pemaknaan kritik musik, bisa juga seperti kata-kata kasual anak muda jaman sekarang, “Wah, penting, tuh!”

Saya pulang dari Bengkel dengan menumpang mobil teman. Penting banget dapat tebengan, daripada naik taksi sekali lagi.

(More pictures click here)

 SONGLIST

01. Holiday
02. White Sky
03. Cape Cod Kwassa Kwassa
04. I Stand Corrected
05. M79
06. Bryn
07. California English
08. Cousins
09. Run
10. A-Punk
11. One (Blake's Got a New Face)
12. The Kids Don't Stand a Chance
13. Diplomat's Son
14. Giving Up the Gun
15. Campus / Oxford Comma [medley]
16. Horchata
17. Boston
18. Mansard Roof
19. Walcott

Report: Harlan Boer | Photo: Jurnallica