METAL UNTUK SEMUA "Konser
Pro Pruralisme dan Anti Terorisme"
Minggu, 17 Oktober 2010 @ Bulungan
Outdoor, Jakarta, Indonesia
"[Bisa
jadi] Awalnya Cuma Masalah Jari"
Fakta
Gila: sebuah pagelaran metal lokal paling ramai tahun ini bisa jadi
digelar karena rivalitas jumlah jari!
Sejujurnya,
saya tidak pernah peduli mana yang berjari tunggal atau tidak. Jika apa
yang disuguhkan di atas panggung menarik dan tereksekusi dengan baik,
apa masih perlu menghitung berapa jari yang harus diacungkan?
Masalahnya, kalau ternyata satu kelompok ekslusif sementara yang lain
bersifat inklusif, maka sejak saat itu otak saya bekerja untuk mengawasi
berapa jari yang hendak saya acungkan kala menghadiri sebuah pagelaran
metal. Biar kita blak-blakan saja: saya lebih condong pada mereka yang
tidak ekslusif, mereka yang open minded, mereka yang tak
mempersalahkan apa keyakinanmu dan mereka yang mengganggap metal sebagai
lahan bermain luas. Sebentar, apa darah saya mulai halal mulai titik
kalimat tadi?
Metal Untuk Semua (MUS) adalah sebuah usaha untuk kembali menjadikan
metal tanah tak bertuan. Menjadi suatu yang berlebihan ketika salah satu
golongan ingin mengkooptasi metal menjadi suatu domain eksklusif suatu
kepercayaan tertentu. Memang tidak pernah saya dengar bahwa metal akan
segera dihijrahkan dalam pangkuan agama tertentu.
Namun
jika itu benar,
itu adalah paling paranoid yang pernah saya dengar.
Metal Untuk Semua adalah langkah pertama untuk mencegah metal menjadi
ekslusif.
Metal Untuk Semua adalah front awal penjaga ke-multiwarna-an
metal. Setidaknya begitu, kata 3000 orang lebih orang hadir hari itu.
Liturgi I:
Panggung
Orasi
dan Karnaval Pengingkar Keseragaman
Dengan memborong 19 ben
multi subgenre metal, MUS sukses menjadi lahan pemuas dahaga murah para
metalhead. Dari awal memang sudah dibeberkan bahwa tak ada
satupun artis yang dibayar di panggung malam itu. Lebih hebatnya lagi,
rundown ternyata ditentukan dengan secara acak –sumbernya dari
ucapan Doni Iblis di atas panggung. Tak ayal, jika harga tiket masuk
yang dipatok 35.000 menjadi sebuah imbalan pantas untuk sebuah konser
fenomenal di ranah suci metal Bulungan,
Jakarta. Mau bukti? Tanyakan
saja pada mereka yang masih membeli tiket hanya tinggal SiksaKubur dan
Roxx (saja) yang belum main.
Namun
bukan hanya antusiasme penonton yang fenomenal, celoteh para penampil
jadi tontonan utama acara itu. Sebagai konser yang digadang untuk
meningkahi pemurtadan metal, maka orasi atas panggung adalah sebuah
keniscayaan yang dinantikan.
Adalah Arian Arifin yang keluar sebagai frontman paling comel
sore itu. Di sela-sela aksi panggung ben-nya yang memamerkan beberapa
lagu baru –“Dilarang di Bandung” dan “Program Party Seringai”–, Arian
membeberkan antipatinya pada seorang Menteri Komunikasi dan Informatika,
Tifatul Sembiring. Setidaknya bocah tua nakal ini menyebut 3 alasan akan
sikapnya itu. Semua terangkum dalam 3 frase: Verbal Abuse,
Oversimplistic Logic, dan Unappropriate
Language.
Lebih
dari itu, Arian memang punya quest tersendiri. Seminggu
sebelumnya, Arian berorasi kontroversial saat Seringai manggung di Java
RockingLand 2010. Orasi menyerang kebijakan sensor yang digagas oleh
lagi-lagi orang sama dan menuai badai cercaan di jejaring sosial karena
dianggap memojokkan agama tertentu. Maka, sore itu sehabis hujan reda,
vokalis menolak tua itu mengklarifikasi semua pernyataannya; sejatinya
memang benar bahwa ia menyerang kebijakan sensor lemah dan bodoh yang
setengah-setengah dan menganjurkan pendidikan seks yang berkualitas.
Arian
juga menolak menyerang Islam namun ia memang menyerang kekolotan
masyarakat Arab. “Wanita tak punya kebebasan memilih di Arab!” Mungkin
tak sama seperti yang diungkapkan Arian, tapi kira-kira begitu salah
satu pernyataannya. Superb! Malam itu 2 orasi Arian dalam 2
minggu berturut-turut seakan menemukan rumahnya. Entah disengaja atau
tidak, semuanya tepat. Lalu “Mengadili Persepsi” pun menemukan
konteksnya sekali lagi.
Mundur
beberapa saat sebelum Arian, vokalis Funeral Inception, Doni Iblis
merekonstruksi image kafir yang kerap dilekatkan padanya dengan
salam pembuka provokatif. “Assalamualaikum warrahmatullahi
wabarokatuh, merupakan suatu yang ironis ketika seorang yang
dianggap kafir bisa mengucapkan salam.” Kalimat selanjutnya jauh lebih
sakti lagi: “Ini buat yang kafir dan tidak kafir, ‘Kafir’ dari Nile!”
Sontak penonton menyambut lagu dahsyat itu dengan suka cita.
Telaah
lagi kalimat kedua Doni! Ini adalah kalimat penegas penolakan kooptasi
metal oleh golongan tertentu. Metal milik yang kafir dan non-kafir.
Nanti suatu ketika di sore itu Doni menyiratkan bahwa kafir adalah
terminologi kenyal yang bisa dibentuk dan dilekatkan pada siapapun oleh
siapapun tergantung dimana ia berdiri. Semua orang kafir dan bukan kafir
secara bersamaan, jadi buat apa metal dihomogenkan.
Ada yang menarik kala Funeral Inception
tampil.
Inilah pertama kalinya hujan turun sore itu –seperti
kata Arian: alam tak usah dilawan–, namun gatal rasanya untuk menyebut
kebetulan ini sebagai suatu yang mengagumkan. Hujan turun tepat ketika
ben yang dipandang paling kafir ini beraksi. Sayang kita selalu
mengadili tuhan. In Absentia, jika tidak mungkin bisa kita tanyai
apakah ia menyetujui apa yang dikhotbahkan oleh Doni Iblis.
Namun,
Doni berkilah dalam satu pesan di jejaring soalnya; “Ni hujan gak berani
turun pas ‘Kafir’. Kelar ‘Kafir’, ‘Relijiusitas Artifisial’, baru
diguyur hujan huahaha. Pas ‘Surga...’ [‘Surga di Bawah Telapak Kaki
Anjing’-red], udah reda. Berarti mungkin yang di Atas setuju
dengan apa yang gw ungkapin.” Nah, kalo yangitu Tuhan pun
jengah tak hanya kau, Doni.
Sejatinya, tak hanya Arian13 dan Doni Iblis yang berorasi malam itu.
Layaknya pada sebuah konser yang berfungsi sebagai statement atas
suatu kondisi, maka semua performer berlomba unjuk opini. Ada
yang mengambil jalan tengah menganjurkan agar tidak usah membedakan yang
satu jari dan dua jari. Yang lain mensakralkan kembali devil’s horn
dengan membantah eksistensi pesan zionis di dalamnya. Sayang, pesan
perlawanan paling kentara mengalir dari mulut dua frontman yang
saya sebut di awal paragraf. Mungkin yang lainnya butuh pengalaman untuk
berorasi di atas panggung.
Liturgi
II: Metal Adalah Taman Bermain Kalian
“Metal is fun.”
Kalimat itu meluncur dari basis urakan greencore Bandung,
Rajasinga. Gerombolan berisi 3 orang unik ini juga mengerami kalimat
tersebut. Rajasinga sukses bersenang-senang hari itu dengan mengumbar
repertoir seperti ‘Soundtrack Balap’, ‘Premandulisme’, ‘Pandora’,
beberapa lagu baru sembari terus menolak memainkan ‘Sumanto’.
“Kami
tadi takut menyebut moto konser ini, ehm, Anti pluralisme dan pro
terorisme!” lagi-lagi ini bukan rekaman yang tepat atas apa yang
diungkapkan oleh basis yang kerap memamerkan logat Melayunya ketimbang
dialek Sunda walau berbasis di Bandung –entah berapa kali mengucapkan
kata “pantek” pada semua yang ia benci. Ah, ngomong-ngomong masalah moto
MSU, Rajasinga adalah contoh unik tentang betapa indahnya pluralisme.
Sebagai satu-satu wakil dari Bandung, Rajasinga justru tampil sebagai
ben paling berlogat Melayu dari semua ben yang manggung hari. Maklum
kawan, layaknya Komunal, Rajasinga adalah sebuah unit grindcore Bandung
yang disusupi perantau dari Sumatra. Tak heran jika ben ini memiliki 2
plugin bahasa: Melayu dan Priangan. Unik bukan menjadi heterogen?
Metal
memang untuk senang-senang. Kalau tidak untuk bersenang-senang, lantas
buat apa berpanas-panas ria di siang bolong kala Nino Aspiranta, dkk
memainkan ‘Human Suffering’ dari album mereka paling tua? Trauma,
veteran death metal lokal memang main cukup pagi, 1 jam satu siang tepat
setelah Gigantor (darah muda thrash metal revival lokal) turun
panggung. Masa langsung menggerombol di depan panggung –gerombolan masif
pertama siang itu– saat Nino dkk beraksi. Setelah menggeber repertoir
dari “Dominasi Kemenangan” lantas mundur ke belakang, Nino berpesan:
“Jagalah metal karena ini adalah taman bermain kalian.”
Metal
memang harus dipertahankan.Jika tidak, mana bisa kita melihat fenomena
pemetaan geografis metalhead di Indonesia. Saya pernah ditantang
seorang teman untuk menunjukkan bahwa preferensi subgenre metal dengan
lokasi geografis dan kelas sosial. Bahkan,di Bulungan sore hari itu pun kita bisa melihat beberapa metalhead yang
jelas datang jauh-jauh dari luar Jakarta; metalhead yang bangga
memakai t-shirt show di sebuah kota yang saya hanya kenali sebagai
sebuah titik di Pulau Jawa. Mereka memenuhi bibir panggung saat ben
progressive gothic metal Gelap beraksi; mengangkat tangan
kala Rinsdark menantang, “Mana yang dari Pekalongan? Mana yang dari
Cirebon?”
Ah,
saya teringat The Deadheads dan jawaban atas tantangan kawanku. Saya
yakin masa yang sama juga, meminjam rima Homicide, melangkitkan kepalan
saat Arul Power Metal naik panggung bersama Dreamer karena gothic
metal dan traditional, orthodox atau second wave
black metal masih mengakar di tempat mereka berasal.
Ngomong-ngomong soal Dreamer, MC Soleh Solihun
bersenang-senang memuja lengkung tubuh frontwoman-nya; “Itu mbak-mbak
Dreamer sehat sekali!”
Soon-to-be-Journalist-Turned-Stand-Up-Comedian berkali-kali
mengumbar kalimat itu di tengah canda andalannya tentang kopian SNI dan
musnah imej seram metal di depan pasukan putih-putih.
Tapi, kalau masalah mulut, Jaya Roxx adalah
bangsatnya. Rocker keladi ini tak segan-segan mengumbar seloroh
selangkangan sembari mengisi waktu tenggang antara lagu ‘5 cm’,
‘Heroine’, ‘Rock Bergema’, dan (penutup)
‘Seek & Destroy’-nya Metallica. Ya, Jaya dkk bersenang-senang bersama
mereka yang tersisa –sebagian metalhead meninggalkan
Bulungan saat SiksaKubur menyelesaikan setnya
sebelum Roxx. ‘Seek & Destroy’ adalah
penutup yang tepat. Untung syair lawas itu
keluar dari Trison yang terus mendendangkan dengan tersenyum.
Bayangkan, jika lagu ini dinyanyikan dan dihayati dengan
dangkal oleh mereka yang senang semuanya seragam. Niscaya metal akan
milik satu golongan saja dan pastinya kita tak pernah mendengar lagi
Jaya berkata: “Daripada ngebom mendingan Ngecrot!”
Ayolah Tuan...jangan
metal diseragamkan, jangan metal dikooptasi. Metal Untuk
Semua
untuk
kamu
dan untuk kami. Innalilahi Tuan,
jika itu terjadi. Masa,
kami ber-headbang
pada sebuah konser Jazz?!