RELATED REPORTS 2010

 REPORT 2009

 REPORTASE

EXODUS "Live in Jakarta"
Rabu, 29 September 2010 @ Plaza Selatan - Senayan, Jakarta, Indonesia

 

"Pestanya Metalheads Tua"

 

Satu alasan kenapa METALLICA dan MEGADETH masuk dalam The BIG FOUR (Heavy Metal), karena kiprahnya telah bergelut selama 30 tahun. Meski keduanya berangkat dari ranah yang sama, mereka bukanlah warisan akhir scene Thrash Bay Area, San Fransisco, Amerika Serikat. Masih tersisa EXODUS, ben sebaya yang juga berasal dari satu komunitas. Terlebih lagi, salah satu pendiri ben ini adalah Kirk Hammett, si gitaris yang kemudian bergabung dan hidup lebih makmur di Metallica.

Mempertahan eksistensi ben selama 30 tahun tentu bukan hal yang mudah. Sepanjang sejarah Exodus telah mengalami 2 kali hiatus, sering bongkar pasang personil, hingga ditinggal 2 personil untuk selama-lamanya. Jadi, segmentasinya jelas... Mereka yang mengikuti progres Exodus hingga hari ini bukanlah para metalhead kemarin sore.

Dari rentang waktu terbentuknya ben sejak 1980, untuk pertamakalinya Exodus menyambangi Indonesia untuk live di di Plaza Selatan - Senayan, Jakarta (29/09), sehari setelah show mereka di Singapura. Show ini juga merupakan rangkaian tur album ke-9 “Exhibit B: The Human Condition” yang baru dirilis Mei lalu via Nuclear Blast Records.

Selesai penampilan DOWN FOR LIFE (Solo) dan ORACLE (Jakarta) dua ben lokal yang menjadi pembuka acara–, saatnya aki-aki metal merebak ke atas panggung, yaitu: Rob Dukes (vokal), Gary Holt (gitar), Lee Altus (gitar), Jack Gibson (bas), dan Tom Hunting (dram). Trak pertama dari album baru, ‘The Ballad of Leonard and Charles’ (dengan sesi intro menggunakan dubbing) menjadi pemicu ledaknya massa untuk berdansa liar. Headbanging, moshing, atau apapun tradisi massa metal berdansa terjadi di sana walau lantai aspal sedikit becek karena kedatangan gerimis yang tak diundang serta panggung di tempat terbuka.

Uzurnya para personil Exodus bukan alasan mereka untuk tak tampil enerjik. Bahkan Dukes, vokalis gundul yang penuh tato di sekujur tangan dan kakinya, tetap mengibas kepalanya seolah ia merasa gondrong seperti para personil lainnya. Selain performa, bobot musik mereka masih sama cepatnya.

“Siapa oldschool metalheads di sini?” tanya vokalis ke-5 Exodus itu ke seluruh penonton. Dari sekitar 1000 orang yang hadir, hanya segelintir tangan yang mengacung untuk mengaku. Padahal, audiens malam itu lebih didominisai wajah-wajah yang diragukan muda. Atau mungkin, yang dimaksud Dukes oldschool itu mereka yang sepantar dengan usia para personil Exodus yang sudah berkepala 4?!

Gitaris Holt adalah satu-satunya pendiri ben yang masih bertahan dan kini berusia 46 tahun. Bila Exodus terhitung berumur 30 tahun, betapa mudanya dulu ia memulai ben ini. Dramer Hunting juga termasuk pendiri, hanya saja sempat 2 kali keluar dan tidak berada utuh dalam 13 rekaman Exodus yang telah dirilis (9 album penuh, 2 album live, dan 2 album kompilasi/the best).

Sebagai ben gelombang awal Thrash Bay Area, musikal Exodus masih kental pengaruh crossover dengan melodi simultan dari kedua gitarisnya ala ben-ben thrash lawas. Repertoar (sekitar) 15 lagu merupakan setlist kompilasi singles dari album lama hingga yang baru, seperti: ‘Downfall’, ‘Fabulous Disaster’, ‘A Lesson in Violence’, ‘Toxic Waltz’, ‘Strike of the Beast’, dll.

Sebagai pamungkas pertama, di pertengahan lagu ‘Strike of the Beast’ Rob mengomando crowds agar membelah menjadi 2 bagian. Kemudian, saat lagu dilanjutkan, walls of death pun terjadi. Kedua kerumunan itu saling berbenturan badan. [Anda bisa tonton videonya di sini-red]

Drama encore juga diperankan. Selepas memberi salam, mereka turun dari panggung agar audiens mengumandangkan "we want more...we want more...". Sekembalinya ke panggung, ‘Bonded by Blood’ dan ‘Good Riddance’ menjadi klimaks perhelatan malam itu. Baik pemain atau penonton, semua sama liarnya kecuali para pussy yang hanya menonton dari kejauhan. Pemandangan konser Exodus tak seperti acara-acara nostaljia yang dihadiri orang-orang tua sambil duduk bersantai ria. Crowds seolah tak lelahnya berlari-lari melakukan circleplit, baik mereka yang sudah tuir ataupun anyir. Semua setara. Karena pada dasarnya, metal memang tak mengenal usia.

(You also can watch their live video in Indonesia here)

Report & photo: Jurnallica