SOULWAX "Live in Jakarta" Kamis,
23 September 2010 @ Bengkel Night Park, Jakarta, Indonesia
"DJ
Never Die"
“Eveybody wants to be
the DJ, everybody thinks it’s oh so easy…”. Penggalan awal bait ‘Too
Many DJ's’ milik SOULWAX rasanya masih relevan hingga saat ini meski lagu
tersebut telah 12 tahun berwara-wiri. Kenapa saya bilang relevan? Karena pesannya cukup representatif
dimana
kondisi hari ini banyak bermunculan DJ wannabe –sekedar men-scrath
plat, headphone di telinga, and they proud called a DJ.
W-T-F!
ThreeSixty Entertainment kembali membuktikan
reputasinya
sebagai pengada acara dance scene dengan memboyong ben kuartet asal Ghent, Belgia tersebut ke Jakarta
pada 23 September 2010 dalam rangka tur dunia dengan format ben. Tapi, bila format ben diartikan secara konvensional
–seperti konsep
Soulwax di album “Much Against Everyone’s Advice” (1998) atau “Any
Minute Now” (2004)– maka Anda akan terkecoh. Karena, sejak rilisan “Nite
Versions” (2005) –yang merupakan versi remixes “Any Minute Now”–,
Soulwax telah bermutasi sebagai ben elektronik.
Sayangnya, beberapa ben
lokal yang didaulat sebagai opening acts berguguran tampil [AGRIKULTURE, The ALASTAIR]. Hanya
EGRV dan The S.I.G.I.T yang aksinya cukup menghibur audiens malam itu
sambil menunggu waktu sang headliner tampil. Memasuki jam 11:15 malam,
grup yang terdiri dari Stephen Dewaele, David Dewaele, Stefaan Van
Leuven, Steve Slingeneyer memunculkan diri ke atas panggung dan tampil berjejer dengan
instrumen masing-masing. “Hi people! We’re Soulwax. Thanks for coming,” sapa Stephen ke pengunjung. “Kami akan membawakan lagu-lagu baru dan
juga lagu-lagu lama.” Lagu pertama pun menyambut. Disusul dengan ‘E
Talking’ dan beberapa trak lainnya secara menyambung, seperti: ‘NY Lipps’ (aslinya
berjudul ‘NY Excuse’), dll.
Di luar bendera Soulwax,
dua bersaudara Stephen dan David juga memiliki proyek DJ dengan nama
samaran 2manyDJs. Terkadang, hadirnya proyek-proyek sampingan jadi membingungkan untuk
dibedakan,
karena semuanya mengusung genre (bahkan lagu) yang sama. Pada
awal karirnya, Soulwax mengusung genre alternative rock/grunge
dengan isu-isu sosio-politikal –sebelum
bertransformasi menjadi sebuah unit elektronik dan sejati menjadi DJ.
Namun Soulwax
era baru, mereka banyak
menggarap versi remix lagu-lagu ben/artis mancanegara lintas
genre, mulai dari LCD
Soundsystem hingga Daft Punk atau Muse hingga Kylie Minogue.
Bagi Anda yang tak
terbiasa dengan repertoar grup-grup bergenre mashup, gambaran musik Soulwax
kini lebih
dekat dengan dance/clubbers scene. Selama 45 menit (awal) musiknya
terus
berdentum non-stop. Buat mereka yang terhibur, tubuhnya akan berdansa.
Namun, untuk sebuah pertunjukan ben, hal itu juga yang membuat antara
pemain dengan penonton nyaris tanpa komunikasi.
Tepat jam 12
malam, Stephen, dkk berpamitan ke penonton hanya dengan ucapan ‘terimakasih’.
Mereka yang belum sampai titik orgasme, tentu menjeritkan encore.
Tak lama, ke-empatnya kembali muncul dan memberikan
sisa lagu [‘I
Love Techno’,
‘KracK’,
dll]
selama 15 menit terakhir.
Usai performa
Soulwax, ruangan Bengkel terus berdentum oleh beats beberapa dj tempatan. Namun, kebanyakan
pengunjung memutuskan untuk pulang. Pertunjukan seperti Soulwax atau
sejenisnya sebaiknya dijadwalkan di akhir pekan sebagai pelampiasan penat
untuk mereka yang hidup dalam rutinitas. You know why? Because
part of the weekends never die!!!
(You also can watch their live video
in Indonesia
here)