RELATED REPORTS 2010

 REPORT 2009

 REPORTASE

DYING FETUS "Live in Jakarta"
Sabtu, 18 September 2010 @ Bulungan Outdoor, Jakarta, Indonesia

 

"Menggerinda Jakarta"

 

Kalau John Gallagher sempat dianggap “Ahmad Dhani”-nya DYING FETUS (DF), setidaknya ia mampu mempertahankan reputasi musikalitas DF serta identitasnya sebagai ben death metal terbaik di dunia hingga saat ini. Paska album “Destroy the Opposition” (2000), satu persatu personil di tubuh DF hengkang –yang menyisakan Gallagher sendiri– lalu membentuk ben baru bernama MISERY INDEX. Setelah konstan bergonta-ganti personil, DF terus bertahan hingga kini dengan formasi John Gallagher (gitar, vokal), Sean Beasley (bas,vokal), & Trey Williams (dram). Dengan format trio ini lah DF merilis album ke-7 “Descend into Depravity” tepat setahun lalu di bawah label metal ternama, RELAPSE Records.

Bagi yang belum mengenal Dying Fetus, adalah ben death metal asal Maryland, Amerika yang sudah terbentuk sejak akhir 1991. Bobot musik mereka dikenal sarat komposisi blast beats, riff-riff yang njlimet, teknikal, simultan vokalis serta tak tertinggal sisipan groovy parts. Untuk pertamakalinya, DF menginvasi tur Asia Tenggara termasuk Indonesia, yang melakukan 3 show secara estafet. Jakarta merupakan show DF terakhir –setelah Bali dan Solo– sebelum mereka bertolak ke Malaysia esokan harinya.

Pada show DF di Jakarta, 5 ben lokal yang didaulat sebagai opening acts, yaitu: DEADSQUAD, NOXA, PROSATANICA, REVENGE, TEARS OF JOY. Menjelang jam 7 malam, massa hitam makin merayap sesak di Bulungan saat ketiga personil DF naik panggung untuk check sound –dan, hey!, mereka melakukannya tanpa bantuan kru. Setelah peralatan tempur telah siap, secara membabi buta lagu ‘Praise the Lord (Opium of the Masses)’ mengawali repertoarnya dan disusul dengan ‘Your Treachery Will Die with You’. Crowds pun sama buasnya melakukan headbanging ataupun circle pits. So, headbanging di malam minggu? Kenapa tidak!

Menurut info yang kami dapat dari seorang organizer lokal (yang sempat mendampingi tur 5 kota DF di Australia), setlist setiap shownya hampir sama. Di Jakarta sendiri trio buas itu menggeber sekitar 13 lagu yang dicomot dari ketujuh albumnya, a.l.: ‘We are Your Enemy’, ‘Skull Fucked’, ‘Eviscerated Offspring’, ‘Homicidal Retribution’, ‘One Shot One Kill’, ‘Epidemic of Hate’, ‘Raped on the Altar’, ‘Justifiable Homicide’, ‘Killing on Adrenaline’, ‘Grotesque Impalement’, dll.

Mengingat lagu-lagu DF yang sarat kecepatan dan menguras enerji, hampir setiap 2-3 lagu selesai para personilnya melakukan rehat beberapa menit yang diselingi sampling sebagai intermezzo. Atau mungkin mereka cukup lelah karena show-show sebelumnya? Sosok Sean Beasley yang menggantikan karakter Jason Netherton [basis/vokal DF sebelumnya-red] cukup sempurna, lengkap dengan tipikal vokal rough/middle growl-nya sambil mencabik bas. Dengan begitu musikalitas DF tetap tak berkurang ciri khasnya. Si plontos Gallagher masih dengan vokal deep growl dan mengambil alih gitar ritem & solo. Sedang Trey, sang penggempur dram dengan stabilnya menghantam dobel pedal yang beriringan hyperscan. Rapat & padat.

Sayangnya, jatah main DF di Jakarta musti tersunat karena banyaknya ben-ben pembuka tadi –dan beberapa diantaranya masih itu-itu juga. Perlu ditekankan, sebenarnya ini adalah show Dying Fetus, bukan sebuah show dengan headliner Dying Fetus. Selain itu, bagi kami hanyalah pelipur. Apalagi mengingat setiap acara di Bulungan hanya dibatasi sampai jam 8 malam. Tidak sedikit kan cerita-cerita acara di tempat tersebut diberhentikan karena alasan waktu?! Hal-hal semacam itulah seperti tak diperhitungkan oleh tim panitia. Dan lagi, kenapa setiap penonton yang sudah masuk arena Bulungan tidak boleh lagi keluar? Mirip seperti di bui. Hihihi.

Kekhawatiran serupa sepertinya juga dirasakan oleh para personil DF yang bermain tergesa-gesa. Berungkali Sean mengingatkan ke penonton; “this is latest song”. Nyatanya, sampai 5 lagu sesudahnya, pertunjukan belum juga usai. Sebagai pamungkas, lagu ‘Kill your Mother Rape your Dog’ benar-benar menjadi klimaks show malam itu. Inilah lagu DF yang berdurasi paling singkat & blast. Tapi, bila merunut dari judulnya, lagu ini bukanlah lagu bertema gore –seperti tema-tema yang pernah mereka anut di album pertama lalu beralih ke pandangan sosio-politikal di album-album selanjutnya– melainkan lagu sinikal yang ditujukan korporasi rekaman mainstream akan keserakahannya. Karena, bukan itu yang DF cari dalam bermusik.

Fuck your Spice Girls and your fucking Pearl Jam,

Its all a bunch a shit, I say, fuck it,

Fuck your Dave Matthews and your fucking REM,

You god damned bitch, fucking clueless.

Report: Jason Netherton | Photo: IST