DYING FETUS "Live in Jakarta" Sabtu,
18 September 2010 @
Bulungan Outdoor, Jakarta, Indonesia
"Menggerinda
Jakarta"
Kalau
John Gallagher sempat dianggap “Ahmad Dhani”-nya DYING FETUS (DF),
setidaknya ia mampu mempertahankan reputasi musikalitas DF serta
identitasnya sebagai ben death metal terbaik di dunia hingga saat ini.
Paska album “Destroy the Opposition” (2000), satu persatu personil di
tubuh DF hengkang –yang menyisakan Gallagher sendiri– lalu membentuk ben
baru bernama MISERY INDEX. Setelah konstan bergonta-ganti personil, DF
terus bertahan hingga kini dengan formasi John Gallagher (gitar, vokal), Sean
Beasley (bas,vokal), & Trey Williams (dram). Dengan format trio ini lah
DF merilis album ke-7 “Descend into Depravity” tepat setahun lalu di
bawah label metal ternama, RELAPSE Records.
Bagi yang belum mengenal
Dying
Fetus, adalah ben death metal asal Maryland, Amerika yang sudah terbentuk
sejak akhir 1991. Bobot musik mereka dikenal sarat komposisi blast
beats, riff-riff yang njlimet, teknikal, simultan vokalis serta tak
tertinggal sisipan groovy parts. Untuk pertamakalinya, DF
menginvasi tur Asia Tenggara termasuk Indonesia, yang melakukan 3 show
secara estafet. Jakarta merupakan show DF terakhir –setelah Bali dan
Solo– sebelum mereka bertolak ke Malaysia esokan harinya.
Pada
show DF di Jakarta, 5 ben lokal yang didaulat sebagai opening acts, yaitu:
DEADSQUAD, NOXA, PROSATANICA, REVENGE, TEARS OF JOY. Menjelang jam 7
malam, massa hitam makin merayap sesak di Bulungan saat ketiga personil
DF naik panggunguntuk check sound –dan, hey!, mereka
melakukannya tanpa bantuan kru. Setelah peralatan tempur telah siap, secara membabi buta lagu ‘Praise the
Lord (Opium of the Masses)’ mengawali repertoarnya dan disusul dengan
‘Your Treachery Will Die with You’. Crowds pun sama buasnya
melakukan headbanging ataupun circle pits. So,
headbanging di malam minggu? Kenapa tidak!
Menurut info yang kami
dapat dari seorang organizer lokal (yang sempat mendampingi tur 5
kota DF di Australia), setlist setiap shownya hampir sama. Di
Jakarta sendiri trio buas itu menggeber sekitar 13 lagu yang dicomot
dari ketujuh albumnya, a.l.: ‘We are Your Enemy’, ‘Skull Fucked’,
‘Eviscerated Offspring’, ‘Homicidal Retribution’, ‘One Shot One Kill’,
‘Epidemic of Hate’, ‘Raped on the Altar’, ‘Justifiable Homicide’,
‘Killing on Adrenaline’, ‘Grotesque Impalement’, dll.
Mengingat lagu-lagu DF
yang sarat kecepatan dan menguras enerji, hampir setiap 2-3 lagu selesai
para personilnya melakukan rehat beberapa menit yang diselingi
sampling sebagai intermezzo. Atau mungkin mereka cukup lelah karena
show-show sebelumnya? Sosok Sean Beasley yang menggantikan karakter
Jason Netherton [basis/vokal DF sebelumnya-red] cukup sempurna,
lengkap dengan tipikal vokal rough/middle growl-nya sambil
mencabik bas. Dengan begitu musikalitas DF tetap tak berkurang ciri
khasnya. Si plontos Gallagher masih dengan vokal deep growl dan
mengambil alih gitar ritem & solo. Sedang Trey, sang penggempur dram
dengan stabilnya menghantam dobel pedal yang beriringan hyperscan.
Rapat & padat.
Sayangnya, jatah main DF
di Jakarta musti tersunat karena banyaknya ben-ben pembuka tadi –dan beberapa diantaranya masih itu-itu juga. Perlu ditekankan, sebenarnya
ini adalah show Dying Fetus, bukan sebuah show dengan headliner
Dying Fetus. Selain itu, bagi kami hanyalah pelipur. Apalagi
mengingat setiap acara
di Bulungan hanya dibatasi sampai jam 8 malam. Tidak sedikit kan
cerita-cerita acara di tempat tersebut diberhentikan karena alasan
waktu?!
Hal-hal semacam itulah seperti tak diperhitungkan oleh
tim panitia. Dan lagi, kenapa setiap penonton yang sudah masuk arena
Bulungan tidak boleh lagi keluar? Mirip seperti di bui. Hihihi.
Kekhawatiran
serupa sepertinya juga dirasakan oleh para personil DF yang bermain tergesa-gesa. Berungkali Sean
mengingatkan ke penonton; “this is latest song”. Nyatanya, sampai
5 lagu sesudahnya, pertunjukan belum juga usai. Sebagai pamungkas, lagu
‘Kill your Mother Rape your Dog’ benar-benar menjadi klimaks show malam
itu. Inilah lagu DF yang berdurasi paling singkat & blast. Tapi,
bila merunut dari judulnya, lagu ini bukanlah lagu bertema gore –seperti
tema-tema yang pernah mereka anut di album pertama lalu beralih ke
pandangan sosio-politikal di album-album selanjutnya– melainkan lagu
sinikal yang ditujukan korporasi rekaman mainstream akan
keserakahannya. Karena, bukan itu yang DF cari dalam bermusik.