Ian Brown & KULA SHAKER "Live in Jakarta" Jumat, 6
Agustus 2010 @ Lapangan Basket ABC Senayan, Jakarta, Indonesia
"Konser
Dobel Ben Brit-Rock"
Coba
perhatikan! Secara kebetulan atau bukan, ada tautan yang sama dalam
sebuah lagu baru KULA SHAKER
dengan apa yang sedang terjadi di permusikan tanah air. Akhir Juni lalu,
ben psychedelic rock asal Inggris itu merilis album baru (ke-4),
“Pilgrim's Progress” dengan single pertama berjudul ‘Peter Pan
R.I.P’. Di saat-saat yang sama, sebuah ben bintang pop Indonesia bernama
Peterpan juga sampai pada bab tamat dengan kisah akhir skandal seks sang
vokalisnya.
Tapi, sekali lagi, itu semua tak ada kaitannya sama
sekali. "This is not about pop star," nafik sang frontman
Crispian Mills sebelum memainkan lagu tersebut dalam konser
Kula
Shaker
di Jakarta kemarin (6/08).
Sepekan awal
Agustus (yang menjelang bulan Ramadhan) tahun ini, kota Jakarta dipadatkan dengan jadwal
konser ben-ben mancanegara, a.l.: Slash feat. Myles Kennedy (3/08),
All Time Low (4/08), Belle & The Sebastians (4/08). Dan sebagai penutup,
Front Media dan Stellar Entertainment menyelenggarakan konser dobel ben
brit-rock gaek, yaitu Kula Shaker dan Ian Brown.
Naasnya, cuaca malam itu
sangat tak bersahabat. Hujan lebat terus
mengguyur wilayah Jakarta & sekitarnya sejak sore hari hingga jam
9 malam. Sedang acara
berlangsung di tempat terbuka.
Pawang hujan
sepertinya gagal dalam melaksanakan
tugas. Namun, hal tersebut tak menyurutkan para penggemar keduanya
untuk mendatangi Lapangan Basket ABC Senayan. Menjelang
setengah 10 malam, acarapun baru dimulai. Terdengar sampling musik etnis India
berdendang, Kula Shaker –dengan para personil awal: Crispian Mills
(vokal/gitar), Alonza Bevan (bas), Paul Winterhart (dram), dan Harry
Broadbent (audisional keyboards)– memulai repertoarnya dengan ‘Sound
of Drums’.
Perpaduan
psychedelic rock dengan musik etnis India inilah yang membuat Kula Shaker menonjol
sejak pertama kali hadir. Berkat petualangan ziarah spritual
Mills di India, membuatnya tertarik dengan kultur India dan Hinduisme. Pengaruh tersebut
lantas terbawa saat Mills kembali ke Inggris lalu membentuk ben dengan
memasukun unsur-unsur tersebut. Bahkan, nama Kula Shaker sendiri juga terinsipirasi
dari orang suci/kaisar India abad ke-9 bernama “King
Kulashekhara”.
Fortuna
pun memberkahi mereka. Dengan ramuan style musik ini, Kula Shaker
langsung mendulang sukses. Debut albumnya, “K” (1996) merupakan album terlaris dalam
sejarah musik Inggris
–mengalahkan album Oasis “Definitely Maybe”– yang terjual 250.000 kopi
dalam minggu pertama dan menggondol dobel platinum.
Singgel-singgel seperti ‘Govinda’, ‘Tattva’, ‘Hey Dude’, ‘Mystical
Machine Gun’, ‘303’, dll disuguhkan selama satu jam kedepan. Beberapa
lagu ada yang dimainkan dalam versi berbeda. Seperti intro lagu ‘Peter Pan
R.I.P’, aransemen aslinya yang bernuansa orkestra digubah dengan petikan
gitar. Selain sound panggung
yang menunjang –baik Kula Shaker maupun Ian Brown–, karakter suara Mills
pun
terdengar mirip sesuai versi audio. Terlebih lagi, performance vokalis kurus itu paling ekspresif
–dibanding 3 personil lainnya yang lebih kalem– sebagaimana rocker
panggung yang suka meloncat-loncat hingga melempar-lempar gitar.
Tepat saat lagu penutup ‘Govinda’ dimainkan, semerbak asap ganja
menyengat di sekeliling kami. Seperti halnya ritual, seolah aroma tersebut ingin menyempurnakan atmosfir psikedelia.
Sedang di layar belakang panggung menampilkan video gambar dewi-dewi Hindu.
Secara hikmat, penonton pun berbidu jamaah sepenuh lagu walau liriknya
ditulis dalam bahasa sanskrit.
Sebenarnya,
dalam hati saya cukup geli mengingat crowds malam itu. Sejak kapan anak muda ibukota
singalong lagu berbahasa
India. Hanya saja karena lagu Kula Shaker itu sudah terlanjur familiar
di telinga. Bila sejatinya lagu India, saya rasa 'mereka' belum tentu
rela mendendangkannya.
Usai
penampilan Kula Shaker, dilanjutkan dengan sang headliner Ian Brown.
Butuh waktu (hampir) satu jam kru Brown melakukan cek sound. Setelah
semuanya siap, Brown bersama 5 musisi pengiringnya langsung muncul ke panggung.
Brown nampak nyentrik dengan kostum training sporty serba kuning dan kacamata hitam.
Sambil mengangkat salam kedua tanganya, ia langsung menyapa penonton
dengan bahasa Indonesia. “Apa Kabar?!” katanya, dengan logat
Inggris yang medok. “We came here now.”
Dentuman bas intro
lagu ‘I Wanna Be Adored’
langsung menyambar memulai pertunjukan. Namun, menyaksikan konser Ian Brown
di Jakarta ini juga mengingatkan saya dengan konser Slash tiga hari
sebelumnya. Euforia penonton membuat Brown dihantui dengan bayang-bayang ben
terdahulunya, The Stone Roses. Entah ini takdir para musisi dengan nama besar bennya. Padahal
mantan vokalis The Stone Roses itu sudah tidak
mempedulikan lagi ben yang dikagumi massa brit-rock/indie pop hingga
kini.
Baik lagu
pembuka ataupun lagu penutup, keduanya dipilih dari The Stones Roses sebagai
bumbu romantika.
Hanya saja vokal Brown tidak selembut seperti 20 tahun lalu. Suara Brown
kini terdengar lebih berat.
Sepertinya faktor usia. Namun, aksi
panggungnya cukup bikin geregetan. Dengan postur tubuh kecil-kurus dan
paras yang sudah peot, gaya jogetnya seperti orang jogging. Serta gaya berjalannya
seperti orang menantang duel. Ditambah lagi mimik wajah yang terkesan pongah. Songong, sepa, belagu, atau apalah sebutannya, adalah kata yang
keluar ketika orang mengomentari gayanya.
Namun
begitulah sosoknya. Setidaknya itu juga yang membuat dirinya terlihat
cool. Pria yang dinobatkan “Legend Award” oleh majalah Q ini
telah menginspirasikan banyak ben indie di Inggris, salah satunya Noel
Gallagher. Bahkan bila Brown berambut panjang di belakang plus kacamata hitam,
perawakannya mirip dengan mantan vokalis Oasis itu.
Selama konser
Brown, hujan benar-benar berhenti. “Hujan diberhentikan,” kata Brown
sambil mengangkat tangannya yang dimaksudkan pawang hujan. “Di
Inggris tidak bisa melakukan itu.” Maka dengan begitu, penonton
lebih menikmati hits solo Brown versi live seperti: ‘Corpses
in Their Mouths’, ‘Golden
Gaze’, ‘Love
Like a Fountain’, ‘Dolphins
Were Monkeys’, ‘Keep
What Ya Got’,
dll.
Bila repertoar
Kula Shaker tanpa encore, maka Brown yang melakukan drama tersebut.
Setelah lagu ke-15, ‘F.E.A.R’, ia beserta ben pengiringnya berlagak pamit dan pergi ke
belakang panggung. Spontan audiens mengemis kata-kata 'we want more', 'we want more'.
Namun dari raut wajahnya, pria yang berusia 47 tahun mencerminkan
lelah. Malam pun semakin larut berganti hari, apalagi esoknya (Sabtu) Ian
Brown & crew harus melanjutkan live show mereka –sekaligus
liburan– di Bali, tanpa Kula Shaker.
Setelah
mengganti kaos hitamnya yang bertuliskan "Working Class Hero" dengan
baju bola, Brown menghabiskan 3 lagu terakhir (‘Stellify’, ‘Just Like
You’,
‘Fools Gold’).
Dan sebelum meninggalkan panggung, ada sebuah pesan yang ia sampaikan
kepada para pengunjung sambil mengacungkan dua jari di udara: “Stay
Free!”
(You also can watch their live video
in Indonesia
here)