ALL TIME LOW "Live in Concert" Rabu,
4 Agustus 2010 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Indonesia
"Raja
Pop-Punk Hari Ini"
“ATL rips off FOB soo bad”.
Begitulah pesan Pete Wentz (basis Fall Out Boy) melalui Twitter kepada
Mark Hoppus (basis & vokalis Blink-182) tentang All Time Low yang
dianggap meniru Fall Out Boys.
Tapi, Hoppus sendiri menilai (dengan ekspresi keheranan), justru
keduanya (ATL dan FOB) lah yang meniru Blink-182.
Apa yang saya maksud
di atas adalah cerita dari salah satu scene video klip
'Weightless'-nya All Time Low. Sepuluh
tahun lalu, Blink-182 mendapat predikat sebagai ben raja pop-punk dunia.
Lima tahun kemudian –saat
Blink-182 hiatus dan sempat bubar– Fall Out Boy menggantikan tahta
tersebut. Dan kini –setelah 10 tahun dan
FOB mengalami cerita yang sama seperti Blink–
posisi raja pop punk diduduki oleh All Time Low. Selain cerita di atas,
masih banyak pesan sarkastis lainnya yang tergambar dalam video klip
tersebut, seperti kesibukan orang-orang hari ini dengan Twitter hingga
persoalan groupies.
Namun, entah,
apa pesan-pesan tersebut sampai ke fans ATL di Indonesia yang
digandrungi para ABG. Sangking
ABG-nya, tidak sedikit penonton konser ATL di Jakarta (4/08) ditemani
para orangtuanya. Alih-alih memberi sebutan "alay" karena segmen
musiknya diminati usia muda/i. Padahal, kalau dibandingkan lagi, apa
bedanya pendengar All Time Low sekarang dengan pendengar Blink-182
sepuluh tahun lalu? Kalau sesuatunya dibatasi perkara umur, apa bedanya
juga musik dengan film porno?
Mulai
jam 8 malam, ben pop-punk Bandung, ROCKET ROCKERS tampil lebih dulu
sebagai pembuka. Tapi crowds nampaknya sudah tak sabar dengan
penampilan headlinernya. Baru 2 lagu awal RR mainkan, penonton
barikade depan (yang didominasi wanita) berteriak memanggil nama All
Time Low dan menyuruh RR untuk turun. Hiks! Kata-kata tersebut tentu
mengganggu mereka yang sedang beraksi di panggung. Namun, begitulah
resiko sebagai ben pembuka yang harus siap makan hati. Suka atau tidak
suka, selama 45 menit kedepan RR harus menuntaskan repertoarnya dan
penonton menikmatinya.
Usai RR, lampu
panggung mendadak padam yang menandakan acara segera dimulai.
Lalu munculah sosok 4 pria
yang tak lain adalah Alex (vokal/gitar), Jack (gitar), Ryan (bas), &
Brian (dram) dan langsung memainkan lagu ‘Damned If I Do Ya (Damned If I
Don't)’ dari album terakhirnya, “Nothing Personal” (2009). Crowds
pun serempak singalong campur jeritan pada lagu tersebut.
“Who’s the kings of party now?” tanya
Alex ke penonton sebelum memainkan ‘A Party Song (The Walk of Shame)’.
Untuk beberapa lagu, Alex melepaskan gitarnya dan hanya bernyanyi dengan
mic. Sederet
single dari ketiga albumnya terus mengalir, seperti: ‘Six Feet
Under the Stars’, ‘Coffee Shop Soundtrack’, ‘Poppin' Champagne’,
‘Weightless’, ‘Lost in Stereo’, dll. Potret yang sama saat kami
menyaksikan Boys Like Girls atau Cobra Starship (yang sama-sama
diselenggarakan JAVA Musikindo); audiensnya dominasi ABG (khusunya
wanita), jeritan-jeritan histeris, encore palsu, dsb. Itulah yang
membuat kami bingung membicarakan yang berbeda ketika semuanya menjadi
tipikal.
Aksi panggung ATL cukup enerjik (walau tak
berkesan istimewa), khususnya gitaris Jack yang mengelilingi panggung.
Pada posisi microphone Jack, bertumpuk bra berwarna-warni. Ini
mengingatkan kami dengan live ATL yang dirilis dalam format DVD
beberapa bulan lalu, dimana para penonton wanita di situ melempari bra
ke panggung. Nah, kalau audiens ATL di Jakarta malam itu didominasi
wanita, kok tidak ada yang melempari bra-nya ya?
Sebelum menutup
pentas dengan ‘Dear
Maria, Count Me In’, ada sajian spesial yaitu show kolaborasi ATL dan RR
yang mengkover ‘Dammit’-nya Blink-182, sebuah ben yang menjadi penutan
bagi keduanya.
Setidaknya, dengan begitu posisi RR menjadi sederajat lah
dibanding cerita awal show tadi. Padahal, eksistensi RR sebenarnya lebih
kawakan lho dibanding ATL, hanya saja nasibnya tak sama. Tapi, itu semua
ada masanya. Dan saya sendiri sedang memprediksi, kira-kira siapa ya
raja pop-punk selanjutnya?
(You also can watch their live video
in Indonesia
here)