ANTISEPTIC "20th Anniversary Gig" Senin,
19 Juli 2010 @ Manchester United cafe - Sarinah, Jakarta
"Hey
Man! We're Septicrew!"
“Ketika
cucu lo nanti tanya ‘tau ga acara 20 tahun Antiseptic?’, buat mereka
yang ngga dateng cuma tau aja. Tapi buat lo yang ada di sini, lu akan
bilang ‘I was there!’”, ungkap vokalis Dirty Edge, Ucox yang
disambut tepuk tangan para penonton. Bersama ben-nya, saat itu Dirty Edge
sedang
berpartisipasi dalam anniversary gig ke-20 tahun Antiseptic.
Sebuah ben punk hardcore pertama di Indonesia.
Ben-ben
pendukung dalam acara tersebut juga tak kalah lawasnya. Sebut saja:
Dirty Edge, Ejakula La Vampira, The Sabotage, dan (yang muncul
belakangan) Stand Off. Ketiga nama ben awal yang disebut sudah eksis
circa '96-'97. Bagi Anda yang baru menyelami scene hardcore punk era
millenia (apalagi yang baru lahir kepala '90-an), mungkin nama-nama ben
di atas yang disebut kurang familiar.
Maka, wajar
bila wajah-wajah tuir yang dominan menghadiri acara reguler The Black Hole
yang diselenggarakan di Manchester United cafe, Sarinah (19/07). Beberapa bulan sebelumnya,
di tempat yang sama, Black Hole juga sempat menggelar acara charity
untuk Rodrigo (basis Dirty Edge) yang terbaring rawat di rumah sakit
sejak awal 2010. Walhasil,
acara tersebut mampu menggalang dana sebesar 12 juta rupiah untuk donasi
keluarga korban.
Bila
sesuai jadwal, show Antiseptic harusnya
sudah masuk tanggal 20 Juli. Karena live mereka dimulai setelah jam 12 malam.
Para pengunjung yang sebelumnya tersibak dalam arena MU langsung merapat satu ke bibir
panggung. “Buat yang sering ke Poster (café), tahun 97-98, pasti tau
lagu ini”, ungkap Berry. Menyusul lagu ‘The Edge’ membuka repertoar Antiseptic
malam itu. Tanpa komando, crowds pun bereaksi melakukan moshing, stage-diving,
body-surfing, atau apalah namanya. Semuanya tumpah ruah tak terkendali. Liar!
Sepanjang 20 tahun
eksistensi, Anti-septic memang terbilang tidak produktif dalam hal rilisan.
Maka,
formasi gres: Berry (vokal), Acid (gitar 1), Jhossy (gitar 2), Randy
(dram), & Naomi (bas) memberi songlist yang sering dimainkan
di setiap panggungnya, a.l.: 'The Edge', 'Politik', 'Brisik',
'Fight Back to Survive', 'Septicrew', dll. Selain membawakan lagu-lagu
sendiri, Antiseptic juga mengkover lagu-lagu dari ben legenda, seperti 'Hybrid
Moments'-nya Misfits –yang malam itu juga dikover Ejakula La Vampira
dengan versi yang berbeda. Lalu, ada kover dari The Dehumanizers, Beastie
Boys 'egg raid on mojo', dll.
Setelah
memainkan belasan lagu, Jhossy mengambil alih sebagai vokalis saat menyanyikan
'Flower of Romance’, sebuah lagu yang
pertama kali Antiseptic ciptakan. Jhossy pula (bersama Randy) sempat mengisi vokal
di album Antiseptic pertama, "Finally" (1997) ketika Berry
hijrah ke Australia. Pada
lagu ini juga menampilkan musisi tamu, Boeloek (vokalis/gitaris Superglad, ex-Waiting Room)
yang bermain bas menggantikan Naomi. Sesudahnya, lagu pun dimedley
dengan 'Louie, Louie'-nya Black Flag membuat penonton makin membahana bersingalong. "I said now Louie, Louie!/ We gotta go!".
Namun
tak disangka kalau formasi itu adalah penampilan penutup Antiseptic.
Kalimat "We gotta go!" juga berarti kalau mereka harus pergi,
bukan sekedar dendang lagu Black Flag. Repertoar yang berlangsung (sekitar) 35/40 menit terasa
begitu cepat –mengingat lagu-lagunya
juga berdurasi
singkat. Setelah para personilnya berpamitan, acara pun benar-benar berakhir.
Encore seperti tak berlaku lagi meski crowds masih merasa dahaga.
Malam pun kian larut, sebagian penonton menyegerakan pulang demi aktifitas
esok harinya. Sedang bagi
yang belum beranjak, panitia mengundang seluruh orang
(personil ben, kru, panitia, penonton, OB, dll) untuk berfoto bersama di
atas panggung. Mengabadikan gambar sebagai potret kenangan. Hingga
siapapun yang berada di sana, kelak akan berkata kepada cucunya, ‘I
was there!’.