RELATED REPORTS 2010

 REPORT 2009

 REPORTASE

MISFITS "Live in Jakarta"
Sabtu, 10 April 2010 @ Dome - Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, Indonesia

"Adegan Horror Punk"

Seandainya Jerry Only tidak memenangkan kasus royalti ben di pengadilan atas Glenn Danzig, sampai kiamat pun para penghuni planet ini tak akan lagi menyaksikan pertunjukan ben horror punk leluhur, yaitu MISFITS.

Perlu diakui, selain Glenn Danzig (vokalis/keyboard) yang membentuk Misfits di kota tempat tinggalnya di Lodi, New Jersey pada 1977, ia pula yang mendominasi lagu & lirik Misfits periode awal. Setelah Misfits bubar pada 1983, Jerry (bas) bersama adik kandungnya, Doyle (gitar) mereformasi ben tersebut 12 tahun kemudian dan sempat merilis 2 album penuh tanpa Glenn, yaitu “American Psycho” (1997) dan “Famous Monsters” (1999), sebelum mereka (akhirnya) kembali pecah di tahun 2000. Walau bagaimanapun, sebagian Fiend Club (sebutan fans Misfits-red) tetap menganggap, kebangkitan Misfits tanpa Glenn seperti jasad tanpa nyawa.

Bagi generasi milenia mungkin sudah takdirnya tidak lagi dapat menyaksikan panggung Sex Pistols atau Ramones. Tapi sedikitnya, kami masih terbayar dengan adanya konser Misfits sebagai eksponen penting dalam sejarah punk. Belakangan banyak ben mancanegara bergulir menyambangi Indonesia, namun sensasi menonton Misfits penuh rasa euforia. Kesan ini sebagaimana kedatangan Napalm Death pertama kalinya. Like dream comes true.

Lucunya, konser Misfits di Jakarta terpicu berkat rumor santer yang beredar di internet. Dari media online yang mencantumkan jadwal palsu, sampai petisi melalui grup Facebook bernama “KAMI MAU THE MISFITS KE JAKARTA !!!". Ditambah lagi sebuah majalah musik franchise ternama ikut angkat berita layaknya infotainment. Melihat antuasias publik yang begitu nafsu, pihak promoter –yang sebelumnya tak tahu menahu tentang hal ini– akhirnya berminat merealisasikan konser Misfits di Jakarta, sekaligus menjadikan konser satu-satunya di Asia.

Formasi Misfits hari ini masih dipertahankan oleh Jerry Only (vokal/bas), Dez Cadena (gitar/vokal), dan Robo (dram). Kedua nama terakhir yang disebut juga berasal dari veteran punk Black Flag. Sayangnya, Robo tidak dapat hadir karena masalah paspor Kolombia-nya sehingga digantikan dengan Goat, dramer dari Murphy's Law. Problema ini pun kerap terjadi bila Misfit melayang tur ke luar Amerika.

Terilhami dari film-film horor murahan dan obsesi tehadap Marilyn Monroe, Misfits adalah ben yang pertama kali berhasil memadukan punk dengan horor. Efeknya, citra ben ini menjadi pengaruh & idola bagi generasi musik keras selanjutnya. Bahkan ben-ben dunia mulai dari Metallica, Guns N’ Roses, NOFX, Cradle Of Filth, sampai My Chemical Romance pernah mengcover lagu-lagu Misfits sebagai wujud tribut. Begitupun karakter penonton yang hadir malam itu. Tak hanya komunitas punk, baik dari lintas genre, lintas usia, lintas kelamin, atau lintas apapun berbaur bersatu padu.

Pertunjukan dimulai jam 9 malam lewat lagu “Halloween”. Jerry langsung membetot senar bas yang mana body custom instrumennya berbentuk kelelawar dan tengkorak bertanduk satu di kepala bas. Jerry pun tampil dengan gaya rambut khas yang ia namai ‘devilock’. Lalu make-up Dez dengan rambut panjangnya mengingatkan saya pada nenek sihir seperti di film-film kartun horor. Sedangkan Goat, cukup tampil kasual tanpa make-up atau aksesoris apapun.

Sederet lagu seperti “Teenagers from Mars”, “Astro Zombies”, “American Psycho”, “Walk Among Us”, “Death Comes Ripping”, “Die, Die My Darling”, dll langsung menyulut massa di depan panggung untuk berpogo ria. Meski setlist Misfits didominasi materi-materi awal, penonton masih merasa kurang lengkap karena beberapa single familiar tidak dimainkan, seperti: “Last Caress”, “Mommy, Can I Go Out & Kill Tonight?”, “Die Monster Die”, dll. Selain membawa lagu-lagu sendiri, Misfits juga memainkan beberapa lagu Black Flag seperti “Six Pack”, “Rise Above”, “Jealous Again” –yang mana Dez mengambil alih sebagai vokal. Encore pun terjadi dua kali hingga lagu "Twilight of the Dead" dan "Green Hell" sebagai 2 lagu penutup.

Repertoar (sekitar) 42 lagu Misfits geber secara estafet. Setiap lagu selesai, Jery langsung berkomando: “one, two, three, four!” dan memainkan lagu selanjutnya. Sepertinya, mereka lebih memanfaatkan waktu untuk bermain lagu sebanyak mungkin daripada basa-basi. Namun, penyajian seperti itu berpotensi mood penonton menjadi monoton dan membosankan.

Yang cukup fatal dari sebuah pertunjukan musik adalah kualitas sound yang tidak mumpuni. Baik sound gitar maupun bas terdengar sayup-sayup. Terkadang permainan keduanya kurang selaras. Dan perkara teknis seperti ini setidaknya mampu 'mencoreng' reputasi sang legenda. "Misfits jadinya kaya ben studio," komplain Andy selesai menyaksikan konser.

 Klik gambar untuk perbesar

(You also can watch their live videos in Indonesia here)

Report & photo: Danzig & Doyle