RELATED REPORTS 2010

 REPORT 2009

 REPORTASE

PLACEBO "Live in Concert"
Selasa, 16 Februari 2010 @ Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Indonesia

"Konser Pesona Ben Gay"

“Hidup gay!”, teriak salah seorang penonton sembari memberikan aplaus untuk konser Placebo setelah memainkan lagu kedua "Ashtray Heart". Berbicara di luar konteks grup, Placebo dikenal karena identitas seksual para personilnya. Duo pendiri ben, Brian Molko (vokalis, gitaris) adalah seorang biseksual, sedangkan Stefan Olsdal (basis & gitaris) adalah seorang gay, serta merta gaya hidup mereka yang juga dianggap eksesif. Jika Anda menyimak klip resmi "Ashtray Heart", di situ Molko terlihat cantik dengan rambut panjang sebahu. Maka, dapat dimaklumi kala konser itu ada yang berteriak-teriak menyinggung imej yang telah melekat pada ben asal Gravesend, Inggris ini. Namun, di saat yang bersamaan, juga tercium aroma ganja yang entah darimana asalnya.

Musik memang medium yang elastis dengan segala isi pernyataan. Dengan musik, siapapun bebas mengutarakan apa saja dengan segala atitutnya, mulai dari perkara reliji hingga yang sifatnya "sensitif" sekalipun. Imej Molko yang berkepribadian androgini juga tersirat dalam lagu-lagu Placebo. Bagi masyarakat Indonesia yang (katanya) dibangun nilai-nilai agama, mungkin isu gay/biseks adalah hal yang tabu, bahkan dianggap inferior. Ribuan tahun yang lalu, kaum Luth binasa asbab pergaulan sesama jenis. Namun kini, peralihan jaman telah jauh berbeda dan hanya dapat diterima sebagaimana 'kata' dari tato di jari-jari sang dramer Steve Forrest, yaitu "open mind".

Molko tak tampil cantik saat konser Placebo malam itu. Ia nampak sederhana namun elegan dengan rompi dan kostum serba hitamnya. Yang paling mencolok justru Olsdal yang memakai celana panjang berwana perak mengkilap. Sedang Forrest yang berbodi atletis namun berwajah kemayu memakai atasan kaos kutang putih sehingga terlihat tato di sekujur tubuh dan tangannya.

Rumor persiapan konser Placebo yang memboyong peralatan seberat 7 ton ternyata lebih dari yang dikabarkan, yaitu 10 ton. Entah, apa pihak promoter harus membayar cost ekstra. Namun, ekspektasi pertunjukan serasa berlebihan bila melihat konsep panggung yang tak terlalu spesial, bila tidak ingin dibilang biasa. Tata lampu yang berbinar-binar serta tirai-tirai merah menjulang pada langit-langit hadir sebagai pemanis. Elemen paling megah dari panggung adalah background LED berukuran 3 x 10 meter yang menampilkan cuplikan-cuplikan gambar sebagai pengiring konser Placebo selama (kurang lebih) 90 menit.

Yang spesial serta lazim ingin dinikmati pengunjung dalam suatu konser adalah kualitas suara. Dengan tegangan 60 ribu watt tak ragu lagi menjamin sound panggung. Bahkan dibandingkan konser-konser JAVA tahun ini, sound panggung Placebo paling terdengar jernih nyaris tanpa cela. “Bahkan lebih bagus dari cd-nya”, puji Andre yang sudah lama menggemari ben alternative-rock Inggris tersebut. Mengingat persiapan & perlengkapan, rasanya cukup worth it untuk menyaksikan konser Placebo pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp. 500.000,- (festival) atau Rp. 400.000,- (tribun) tiap perlembarnya.

Beberapa bulan lalu, tepatnya Desember 2009, Placebo merilis album live format digital via iTunes yang direkam saat konser di The Roundhouse di Camden, Inggris, pada 14 Juli 2009. Dan setlist konser dalam kompilasi tersebut hampir tak jauh beda dengan setlist konser Placebo di Jakarta pada 16 Februari 2010 kemarin. Separuh daftar lagu berisi materi-materi dari album terakhir “Battle for the Sun” (2009). Singgel perdana “For What It’s Worth” hadir membuka panggung dan dilanjuti lagu-lagu lainnya, seperti; “Ashtrey Heart”, “Battle for the Sun”, “Julien”, “Devil in the Details”, “Bright Lights”, dll.

Bagi penonton yang mengikuti perkembangan ben yang terbentuk sejak 1994 ini, tentu mengharapkan tembang-tembang lama. Setidaknya, buat ben yang baru pertama kali konser di Indonesia bisa menghadirkan romansa-romansa nostaljia. Sayangnya, dalam rangka tur “Battle for the Sun” –yang satu-satunya konser di Asia Tenggara– ben yang telah merampung 6 album ini lebih mengedapankan lagu-lagu barunya. Bahkan nihil dari album pertama Placebo ada yang dimainkan. Single-single terkenal seperti “Nancy Boy”, “Pure Morning”, “Without You I’m Nothing”, mereka tinggalkan sedang penonton hanya menunggu berharap. Tapi, bagi yang merasa kecewa, Molko cs. masih menyuguhkan hits lain, yaitu: “Every You Every Me”, “Meds”, “Special K”, hingga berakhir dengan lagu “Taste in Red”.

Seperti kebanyakan minus dari konser ben-ben internasional di negara-negara yang berbeda bahasa, adalah komunikasi dengan penonton yang pasif. Vokalis Molko tak banyak berkata-kata selain dalam berbiduan. Lagu demi lagu mereka mainkan bagai kereta laju. Bahkan jeda antar lagu tak Molko luangkan untuk berucap selain sibuk mengganti gitarnya. Atau (mungkin) Molko tak pandai berkonversasi walau sekedar basa-basi. Maka, tak banyak pesan pula yang dapat diceritakan selain pesona panggungnya. Selama pertunjukan, Placebo juga dibantu seorang gitaris audisional dan seorang wanita yang memainkan keyboardis, violin, dan theremin.

Pada beberapa lagu-lagu akhir Molko sedikit bermain-main feedback dengan mendekatkan gitarnya ke sound. Bagi beberapa orang, mendeskripsikan musikal Placebo sebagai versi glam-nya Nirvana. Sampai selepas “The Bitter End”, seluruh personil beranjak ke belakang panggung sambil mengucapkan "thank you" kepada seisi gedung Tennis Indoor. Lantas, apa pertanda konser telah berakhir? Meski audiens sempat memohon encore walau kurang menggema. Lagipula, bagaimana kami katakan konser ini ada encore, sedang dalam setlist mereka masih ada 4 lagu lagi yang harus diselesaikan. What a cheap trick.

Selama break, dari layar LED itu menghadirkan gambar seorang wanita bertelanjang dada –yang hanya memakai celana dalam dengan tempelan 'batangan' panjang yang pasti kalian mengerti maksudnya sambil berputar menari-nari. Mengingat kembali citra Molko sebagai sosok androgini. Kira-kira, saat konser itu, dia sedang ingin menjadi seorang pria atau wanita ya?!

Bisexuality immediately doubles your chances for a date on Saturday night

--Woody Allen.

 Klik gambar untuk perbesar

 

(You also can watch their live videos in Indonesia here)

 SONGLIST

01. For What It's Worth
02. Ashtray Heart
03. Battle for the Sun
04. Soulmates
05. Speak in Tongues
06. Follow the Cops Back Home
07. Every You Every Me
08. Special Needs
09. Breathe Underwater
10. Julien
11. The Never-Ending Why
12. Come Undone
13. Devil in the Details
14. Meds
15. Song to Say Goodbye
16. Special K
17. The Bitter End

--- break ---
18. Bright Lights
19. Trigger Happy
20. Infra-Red
21. Taste in Men

 TAUTAN

Report & photo: Jurnallica & Indra