BOYS LIKE GIRLS "Live in Concert"
Senin, 25 Januari 2010 @ Tennis Indoor
Senayan, Jakarta, Indonesia
"Mabuk
Cinta dengan Boys Like Girls"
JAVA Musikindo kembali mencoba peruntungannya lewat konser musik di 2010
ini, setelah (hampir) sepanjang 2009 absen mengadakan events
musik
–
kecuali konser BULLET FOR MY VALENTINE
(4 Februari 2009),
yang itupun tak maksimal target pengunjung. Dalam 3 bulan
pertama tahun 2010, JAVA telah menyajikan 7 konser ben mancanegara dan diawali dengan kuartet power-pop/pop-rock BOYS LIKE GIRLS (BLG).
Meski tergolong ben pendatang baru, nama BLG langsung melambung berkat
debut album self-titled (2006, SONY BMG). Bahkan singles-nya
berformat digital terjual hingga 3 juta donlod. Itu pun yang membuat album
ini disebut-sebut sebagai "an album full of hit singles" atau
"the soundtrack to summer".
Beberapa bulan lalu, tepatnya 8 September 2009, BLG merilis album
sophomore”Love Drunk” dengan singgel perdana yang bertitel
sama. Lagu tersebut juga sempat menduduki chart #1 di beberapa
stasiun radio lokal. Meski perbandingan album pertama dengan kedua tak
terasa menonjol
–bahkan cenderung repetisi–
citra BLG kian memikat para pendengarnya yang mayoritas kalangan remaja.
Maka, tak heran bila konser BLG di Tennis Indoor, Jakarta kemarin malam
(25/01) yang dipenuhi (lebih) 3000 penonton terdominasi kaum ABG. Sejak
sore hari mereka sudah harus berbaris antri. Bahkan, demi mendapat posisi di
depan panggung (yang hampir seluruhnya diisi wanita) harus rela menunggu
sejak 6 sore, padahal konser baru berlangsung setengah 9 malam.
FrontmanMartin Johnson (vokal, gitar) muncul lebih dulu sambil
menyanyikan penggalan bait “I Gotta Feeling”-nya Black Eyed Peas
sebagai intro. Menyusul personil lainnya; Bryan Donahue (bas,
beking vokal), John Keefe (dramer), dan Paul DiGiovanni
(gitar) naik ke panggung, mulailah BLG membuka konser dengan lagu
”Love Drunk”. Serentak crowds pun ikut bernyanyi bersahutan
dengan jeritan-jeritan histeris. Singalong pun terus
membaha pada lagu-lagu selanjutnya, seperti: ”Five Minutes to
Midnight”, ”Hero/Heroine”, ”Two is Better Than One”, ”Heart Heart
Heartbreak”, ”Heels Over Head”, ”Thunder”, dll.
Bila kuping Anda berelasi dengan The All-American Rejects, We the Kings,
atau ben stereotipikal power-pop Amerika lainnya, maka materi BLG tak
jauh dari ranah tersebut. Karakter vokal Johnson yang tenor juga
sesekali mengeluarkan nada falseto. Sebagai peran vokalis, ia pun cukup
komunikatif hingga membuat para ABG (khususnya wanita) semakin gemas.
Secara performance, 4 tampan sekawan ini cukup menggoda walau tak
terlalu tebar pesona. Sayangnya, sound instrumen yang keluar kurang
menguasai ruangan, bahkan kalah saing dengan jeritan-jeritan histeris
tadi yang memekik indera pendengar. Terkadang, para ABG itu suka
menjerit tak beralasan dan berlebihan. Misalnya; bila Martin melempar
botol minuman, 'mereka' menjerit. Bila Donahue melempar handuk, 'mereka'
menjerit. Seakan setiap gerak-gerik tubuh personil BLG menjadi alasan
untuk menjerit.
Saya
pun jadi teringat dengan taksiran jurnalis dari
media segmen remaja wanita, kalau 'penonton' (baca: wanita remaja) bisa
jadi tertarik karena ketampanannya dan musik nomor ke-dua. Well,
mungkin ada benarnya. Bila melihat paras personil BLG, hampir tak
bedanya seperti para boys band tampan yang memegang instrumen.
Hingga klimaksnya, pada lagu terakhir ”The Great Escape” Johnson
meloncat ke penonton. Sayangnya, crowds seperti tak mengerti
bagaimana cara memperlakukan bodysurfing. Tubuh Johnson yang tak
tertopang akhirnya jatuh. Saat beranjak ke panggung, terlihat rambut
vokalis BLG itu sudah acak-acakan. Entah, apa saja yang telah mereka perbuat
hingga model rambut polem Johnson jadi semrawut. Sepertinya, para ABG
itu benar-benar cinta mabuk dengan Boys Like Girls.
(You also can watch
their live videos in Indonesia
here)