GRUNG FAIR 2009
Sabtu, 14 November 2009 @ Carburator
Springs, Rempoa - Jakarta
Dalam album terbaru MUSE merangkum semangat tahun ini dengan brilian:
perlawanan! Penegakan hukum sudah demikian payah. Keadilan menghilang
dari negeri ini. Kita, rakyat jelata yang senantiasa dijadikan keset
butut, yang hanya dijenguk ketika pemilu, untuk kemudian diinjak-injak
selama lima tahun berikutnya, sudah saatnya bangkit dan melawan!
Dan semalam, Carburator
Springs di bilangan Veteran menjadi saksi sebuah perlawanan. Perlawanan
yang boleh dibilang nekat, dari ratusan orang yang merindukan kembalinya
sebuah genre musik yang tenggelam bersama kematian para dewanya. Grunge.
Ratusan orang adalah
upil menjijikkan di hadapan jutaan audiens musik negeri ini. Sama
sekali tidak signifikan. Namun demikian, riak yang terjadi malam itu
laksana sebuah simbol. Simbol pergerakan arus bawah, yang sepanjang
sejarah terbukti selalu menghentak dan mengejutkan. Dan layaknya simbol,
yang dipuja sepenuh hati oleh Dan Brown dalam buku-buku
kontroversialnya, ia tak akan pernah mati. Selamanya.
Setengah sepuluh malam
Sidharta, band asal
Semarang, menghentak panggung dengan lagu-lagu karya mereka sendiri dan
sebuah cover milik The Doors, "Break on Through (To The Other
Side)". Di sudut-sudut yang
gelap, dimana "kaum kucel" (meminjam istilah Che) duduk dengan nyaman,
bisikan mengeras menjadi permintaan yang mendesak: Navicula! Navicula!
Navicula!
Grunge Fair, yang merupakan
kali pertama, ini dimulai sejak siang hari. Berbagai band dari berbagai
wilayah tampil silih berganti. Ada Sidharta dari Semarang, Mushafear
dari Sukabumi, Revenge The Painful, Bolong, Alien Sick, dan Besok Bubar
dari Jakarta, Zu dari Bandung, Navicula dari pulau dewata Bali, dan
masih banyak lagi. Entah berapa banyak dan berapa bagus, saya tidak
tahu. Yang saya tahu ini adalah pertunjukan yang saya nanti. Sisanya,
lihat nanti!
Untuk satu hari penuh, Carburator Springs, yang sejatinya adalah wilayah
kekuasaan anak-anak moge, dijajah oleh kaum kucel. Tua, muda, pria,
wanita, keren, kumal, jelek, ganteng, cantik, seksi, semua tumpah jadi
satu. Mereka duduk di sudut-sudut temaram. Tertawa bersama sahabat lama
dan baru. Menikmati penampilan band favorit mereka. Dan, tentu saja,
berfoto layaknya orang gila, menyalurkan semangat narsis yang memang
kian hari kian menjadi.
Jakarta, Bekasi, Depok,
Bogor, Sukabumi, Bandung, Purwokerto, Semarang, Malang, dan Bali adalah
tempat mereka berasal. Tidak semua punya cukup uang, memang. Juga tidak
semua punya tempat bermalam yang nyaman. Namun hari itu terlalu indah
untuk diisi gerutu dan keluh kesah. Semua tertawa dalam bahagia. Karena,
sebagaimana dinyanyikan oleh Robi sebagai penutup malam itu, menyadur
tembang Iwan Fals yang dimainkan dalam warna grunge, “Hey, sahabat yang
terbuang... Engkau sahabatku... Tetap sahabatku...”
Hari ini adalah harinya kaum
kucel. Penikmat musik yang terbuang dari peta industri. Tergusur oleh
roda jaman yang memang selalu berganti arah. Luluh lantak digilas
keinginan korporasi yang kian tak punya nurani. Hey, I’ve got a news
for you! Kami tidak akan terbuang, hanya karena harapan kami telah
terbuang. Karena kami saling memiliki. Disatukan dalam sebuah asa yang
sama. Melintasi sejuta perbedaan yang ada.
Sahabatku dalam grunge,
berderaplah bersamaku, menuju hari baru. Dimana kita semua bisa
menciptakan musik yang kita cintai, tanpa perlu khawatir dengan uang dan
kejayaan. Dimana kita bisa menikmati musik yang kita sukai, tanpa perlu
peduli dengan selera pasar. Dimana kita semua, tanpa kecuali, kembali
pada semangat rock yang paling dasar: perlawanan!
Kita punya Alien Sick yang
melintasi Jawa dengan tubuh luka. Kita punya Besok Bubar, Zu, dan
Respito yang akan segera menelurkan album tanpa kompromi. Ada Cupumanik
yang sedang tertidur lelap. Jangan lupakan belasan lainnya yang terus
berderap melawan kehendak jaman, meski harus terseok-seok dan setengah
mati. Dan, di atas segalanya, kita punya Navicula!
Semalam saya berulang tahun
untuk yang ke-31 kalinya. Cukup tua, untuk ukuran manusia. Tahun depan
grunge berusia dua puluh tahun. Pantas kiranya jika saya mengatakan
bahwa saya menghabiskan sebagian besar umur saya dengan grunge sebagai
musik latar.
Dalam hati saya masih
berharap untuk sekali lagi menyaksikan dewa-dewa kita semua berdiri.
Besar menjulang dengan karya-karya dari hati. Bukan demi uang. Bukan
atas nama pasar. Karena, sesungguhnya, kita semua ditakdirkan untuk
mengikuti kata hati. Dan melawan semua yang menghalangi. Tanyakan itu
pada Freud, pada Eddie, dan Robi.
Grunge Fair
adalah sebuah perlawanan. Dan saya menyambutnya dengan hati terbuka.
Meminjam lirik dari band favorit saya, Pearl Jam, mari kita lempar
kegusaran ini ke muka dunia dan meneriakkan kebangkitan grunge, sekali
lagi: “Fight to get it back again! Yeah! Yeah! Yeah!”