TOTAL CHAOS
"Asian Tour 2009"
Minggu, 13 Desember 2009 @
Lapangan Saparua, Bandung - Indonesia
"Konser Total
Chaos RUSUH !!!"
Kerusuhan,
pencekalan, bahkan ancaman kematian pernah mewarnai show-show TOTAL
CHAOS (TC) di masa-masa awalnya. Pada akhirnya, corak memori kelam tersebut
terulang kembali. Pasalnya, konser TC di Bandung (13/12) dalam
rangka tur Asia 2009 kemarin berlangsung kacau balau. "Ini seperti kembali
ke
tahun 1996," singgung gitaris Shawn Smash dan vokalis Rob
Chaos di atas panggung.
Apa yang
menjadi muara permasalahan adalah, Lapangan
Saparua yang dikelilingi seng pembatas itu akhirnya dijebolkan oleh para
bajingan yang ingin masuk gratis. Sebagai resikonya, 'mereka' pun harus
berhadapan dengan represifnya polisi yang memegang pentungan.
Karena tidak kondusifnya massa, maka dengan
terpaksa
repertoar Rob (vokal), Shawn (gitar), Brian (dram), &
Ryan (bas) yang baru berlangsung (sekitar) 30 menit harus
dihentikan panitia.
Rasanya,
untuk mengadakan perhelatan atmosfir punk di negara ini masih perlu
keamanan ekstra ketat plus kuat demi menghindari kekhawatiran negatif
dari ulah punk bermental preman, atau sebaliknya, preman berjubah dekil
ala street punk. Ekspetasi ketidaknyamanan masih menghantui para
pengunjung.
Padahal konser ben punk
rock asing di negara dunia ketiga ini tergolong langka. Bahkan untuk
gigs punk di kota-kota sentral sendiri nampak meredup. Tiga tahun lalu
(2006), salah satu punk legendaris The EXPLOITED pernah menyambangi
beberapa kota Indonesia dan tercatat sebagai punk shows
terdahsyat saat itu. Harusnya konser TC kemarin juga mencatat sejarah yang sama tanpa ada
cacat cerita. Mengingat konser TC di Indonesia adalah konser penutup
akhir tahun 2009.
Dalam skena punk rock, TOTAL CHAOS memang
terbilang grup legendaris. Eksistensinya selama
20 tahun cukup mendominasi umat punk di dunia, termasuk Indonesia.
Mungkin hal itulah menimbulkan fanatisme
transedental
bagi yang ingin menonton tapi tak mampu membeli tiket. Alih-alih
menyinggung harga tiket sebesar Rp 125.000,- masih ternilai berat.
Namun
kalau alasan tersebut menjadikan massa di luar arena konser sebagai
perusak, sepertinya ulah pengunjung yang masuk juga tak beda kampringnya. Tak
sedikit penonton berusaha memanjat panggung
setinggi 2 meter itu agar bisa bersingalong dengan Rob. Bahkan, yang lebih konyolnya lagi,
penonton tanpa etis naik ke panggung hanya ingin foto bareng. Namun
dari rautan Rob tak terlihat risih, sebagai punk senior ia malah cukup memaklumi. Cool.
Seandainya
kondisi saat itu aman, tentu pengunjung bisa menyaksikan setlist
TC lebih lama lagi. Meski sempat menggeber belasan lagu seperti "Babylon", "Horrorvisions", "Lost
Boy", "Complete Control", "Fuck the Systems", "Running with the Youth",
dll panitia memberikan kompensasi 1 lagu terakhir. Penonton di sekeliling
saya terdengar menjerit-jeritkan judul lagu
"Riot
City" dan TC pun mengaminkan. Singkatnya, sebagai puncak acara,
baik crowds atau personil TC tampil makin tak terkendali.
[Pembaca bisa menyaksikan rekaman video amatirnya
di sini-red]
"Riot
City" adalah single yang merepresentasikan sosok TC.
Bahkan, lagu tersebut seolah menjadi anthem wajib di setiap
perhelatan TC. Juga, album
"Pledge of Defiance" (2004, Epitaph records)
yang menjadi tempat sumber lagu,
disebut-sebut sebagai album TC paling heavy sekaligus
kontroversial sampai saat ini.
Materi-materi TC memang
sarat dengan isu sosio-politikal dan resistensi.
Bila mengingat bait dari lirik "Riot City", justru agak timpang
dengan proteksi pasukan berlencana yang mengawas panggung. Bisa jadi kehadiran polisi seperti
tidak mengindahkan bagi personil
TC sendiri. Dan satu bukti nyata yang kami lihat, sebelumnya Shawn memainkan melodi sambil menggoyang-goyangkan pantatnya
di kepala polisi yang sedang duduk mengawas di bibir panggung.
Untungnya saja, polisi-polisi tersebut ngga sadar...
Ha!
Let's riot riot riot
today
Against the Police or
C.I.A.
Stand up and don't be
quiet
It's a total fucking
riot
(Riot City – Total
Chaos)
(You also can watch
their live videos in Indonesia
here)