RELATED REPORTS 2009

 REPORT 2008

ANGELS & AIRWAVES

AS I LAY DYING

BEHEMOTH

AVENGED SEVENFOLD

STRAIGHTOUT

PANIC AT THE DISCO

The USED

CALIBAN

JAKARTA JAM! (Day 1) [SIMPLE 

  PLAN, NEW FOUND GLORY, etc]

RUFIO

DISMEMBER (@ Jakarta Rock

  Parade)

MAGRUDERGRIND

WALLS OF JERICHO

STORY OF THE YEAR (feat. YOUR

  FAVORITE ENEMIES)

Sick of it All

KOIL

Sum 41

Comeback Kid

 

 REPORTASE

JAVA ROCKIN’LAND
7, 8, 9 Agustus 2009 @ Pantai Karnaval Ancol, Jakarta - Indonesia

Lautan Manusia di Festival Rock Terbesar Indonesia

 

EVENT

"Semoga Java Rockin'land bisa menjadi Woodstock-nya Indonesia", begitulah taksiran Peter F. Gontha mengenai festival rock terbesar di Indonesia yang menjadi proyek event terbarunya. Sebagai promoter memang tak ada yang salah berharap muluk walau hanya secercah, mengingat juga belum ada gebrakan acara musik di Indonesia. Namun, bila Woodstock terlahir membawa tema perdamaian, lantas misi apa yang dibawa dari Java Rockin'land? Akankah ini sekedar acara musik belaka?

JAVA FESTIVAL Production yang selama ini kredibel dengan festival jazz-nya (JAVA JAZZ-red) kini coba merambah ke genre lain/rock lewat JAVA ROCKIN'LAND (JRL). Konsep yang dihadirkan pun ngga tanggung-tanggung; 98 ben, 8 panggung, dan 3 hari berturut-turut. Seperti tagline acaranya: "Rock! Like never before!!!" Hakikinya, apa yang disajikan JRL memang bukan suatu hal yang baru, bahkan meniru. “Kami hanya meniru apa yang berhasil dari luar,” aku pak Peter.

Sedikit flashback tentang histori panggung musik Indonesia setahun ke belakang, kami teringat dengan festival JAKARTA ROCK PARADE dengan konsep yang hampir serupa; 100 ben, 4 panggung, 3 hari acara. Ekspektasinya pun sama, biar ada Woodstock-nya Indonesia. Sayangnya, festival tersebut anjlok dari nilai sukses juga esensi, dan tiket tambahan yang menyebalkan. Hal tersebut yang membuat beberapa pihak curiga akan terjadi hal yang sama di JRL nantinya.

Geger tragedi pemboman yang (kembali) menerpa JW Marriots-Ritz Carlton pada pertengahan Juli 2009 juga sempat menghawatirkan keberlangsungan JRL. Mengingat 10 ben (dari total 98 ben) adalah ben mancanegara, yaitu: Mr. Big, SeconDhand Serenade, Third Eye Blind, Vertical Horizon, Melee, Renaissance Blvd. (Amerika Serikat), MEW (Denmark), Joujouka Madskipper (Jepang), Motherjane (India), dan Bagga Bownz (Belanda). Perkara travel warning pun jadi alasan. Untungnya, pengalaman Java Festival dalam 'merayu' musisi luar berhasil meyakinkan jaminan keamanan di Indonesia sehingga prosedur acara tetap berjalan sesuai yang dijanjikan.

 

BAND

Pemilihan titel "JAVA ROCKIN’LAND" sempat dikritisi esensinya bila berkaitan dengan muatan ben-bennya. “Kalau namanya rock, kenapa masih ada genre ben di luar rock (seperti pop, dsb)?” Gunjingan senada tak sedikit terdengar. Namun, apakah padanan kata “rock” menjadi sebegitu formal & kakunya? Lagipula anda tak perlu heran bila mengkomparasi dengan festival Java lainnya. Seperti contoh; festival Java Jazz yang tidak sepenuhnya berisi musisi jazz kan?!

Eki Puradirdja sebagai pengkordinir ben mengakui kehadiran beberapa ben dari lintas genre lantaran apresiasi terhadap ben-ben lokal yang justru memiliki banyak prestasi di luar Indonesia. Dan menariknya, pemilihan ben-ben untuk JRL ini didominasi dari kalangan indie (baca: independen). Bahkan hanya 20% saja yang datang dari kawasan mainstream. Eki pun juga mengungkapkan bahwa jantung musik industri berasal dari ben-ben indie.

Meski pamflet resmi sempat tercetak, beberapa jadwal ben masih ada yang tentatif sehubungan wish list yang terus bertambah - baik ben lokal maupun luar. Namun adapula konfirmasi ben yang "gamang" alias gagal manggung, seperti: BOYS LIKE GIRLS, DEFTONES, dll. Sampai akhirnya jadwal fix acara sebagai berikut:

 

Jumat, 7 Agustus 2009:

VERTICAL HORIZON, MELEE, RENA-ISSANCE BOULEVARD, JOUJOUKA MADSKIPPER, AGRIKULTURE, ALEXA, ANDRA & The BACKBONE, BAGAIKAN, BUNGA, CANDIL & FRIENDS, DEAD SQUAD, DENIAL & VOX, DREW, GHAUST, MONKEY TO MILIONAIRE, KILLING ME INSIDE, KOIL, KRAYOLA, NAIF, NAVICULA, NETRAL, PURGATORY, SAINT LOCO, SAJAMA CUT, SUICIDAL SINATRA, SERINGAI, SIKSAKUBUR, The BORSTAL, SKALIE.

 

Sabtu, 8 Agustus 2008:

MR. BIG, SECONDHAND SERENADE, MOTHERJANE, /RIF, AIRPORT RADIO, ANDA WITH The JOINT, ARMADA RACUN, GRIBS, BANGKUTAMAN & SOUTHERN BEACH TERROR, BESIDE, BURGERKILL, CLOVER, RISKY SUMMERBEE & HONEYTHIEF, EFEK RUMAH KACA, EVERYBODY LOVES IRENE, ENDANG SOEKAMTI, KOMUNAL, KUNCI, MRA BAND (ROXX & BITE), PAPER GANGSTER, PURE SATURDAY, ROCK N ROLL MAFIA, SILENT FAREWELL, SHE, SUPERGLAD, The S.I.G.I.T, TIME BOMB BLUES, TRIBUTE TO IMMORTAL LAGENDS, WHITE SHOES & The COUPLES COMPANY, The ADAMS.

 

Minggu, 9 Agustus 2009:

MEW, THIRD EYE BLIND, BAGGA BOWNZ, AMAZING IN BED, CASSANOVA, DVD BOY, FRIENDS OF MINE, GIGI, HOLY CITY ROLLERS, GOODNIGHT ELECTRIC, INVICTUS, J-ROCKS, KILLED BY BUTTERFLY, LOCOMOTIF, MIKE'S APARTMENT, NOXA, OZOMATLI, PEEWEE GASKIN, RESPITO, SLANK, SORE, FALL, SPEEDKILL, The SABOTAGE, SUPERMAN IS DEAD, The BRANDALS, The FLOWERS, The MONOPHONES, TIKA & The DISSIDENTS, The UPSTAIRS, ZEKE & The POPO.

 

PENGUNJUNG

Festival JRL tidak membatasi umur & kalangan para pengunjung. Artinya, siapa saja dan darimana saja bisa menyaksikan festival rock (yang kabarnya) terbesar di Asia Tenggara ini. Sekitar 7000 orang mulai berdatangan di hari pertama JRL. Memang, masih jauh dari target perharinya yaitu 15.000 orang. Namun, siapa sangka jika hari kedua JRL pengunjung melonjak drastis hingga 3 kali lipat dari hari pertama. Menurut sumber desk tiket, hari kedua JRL terkumpul (sekitar) 21.000 tiket/orang. Itupun belum termasuk hitungan panitia, personil ben, kru, wartawan, tim keamanan, pedagang, dan yang lainnya.

Pertanyaan pun muncul, kira-kira apa yang membuat hari ke-2 JRL begitu membludak pengunjung? Ada beberapa indikasi versi kami yang membuat hari ke-2 JRL menyeruak: Pertama; headliner di hari tersebut (MR. BIG dan SECONDHAND SERENADE), Kedua; acara yang didominasi para pelajar momennya sedang liburan, Ketiga: acaranya malam minggu, Ke-empat; harga tiket cukup terjangkau.

Mengenai hal terakhir, normal tiket yang berbandrol Rp 200.000,- setiap harinya dirasa cukup fair sebagai nilai tukar untuk sebuah pertunjukan banyak ben (dari lokal hingga internasional). Bahkan pada periode awal presale harga tiket cuma Rp 75.000,- setiap harinya (belum termasuk pajak). Juga, khusus para pelajar tersedia harga tersendiri sehingga lebih kompromis dengan kantong.

Bila berdasarkan polling dari salah satu majalah musik franchise yang kami amati, lebih dari 70% penonton JRL ingin menyaksikan MR. BIG. Tingkat kedua oleh MEW yang mendapat suara 20% dan sisanya untuk para headliner yang lain. Maka, tak berlebihan bila kami anggap MR. BIG adalah poros pengunjung JRL saat itu.

 

PANGGUNG

Seorang panitia memancing pertanyaan pada Jurnallica; "Menurut 'lo, kalo ngga ada MR. BIG acara tetap rame 'ga?" Untuk hal ini, kami sendiri sulit memastikan jawaban 'ya' atau 'tidak'. Setidaknya beberapa indikasi di atas sudah cukup sebagai dalil. Namun, dengan yakinnya panitia tadi menjawab: "Acara tetap rame." Alasannya, karena konsep panggung yang disajikan JRL belum pernah ada di Indonesia.

Acara yang digelar di dataran pasir Pantai Karnaval Ancol ini membangun 8 panggung. Masing-masing panggung memiliki sebutannya dengan segi luas yang berbeda-beda. "GG Intermusic Stage" bisa disebut sebagai panggung utama, dengan ukuran paling lebar & megah disertai background layar raksasa. Ben yang menjajaki panggung ini pun khusus para headliner, seperti: MR. BIG, MEW, VERTICAL HORIZON, THIRD EYE BLIND, SECONDHAND SERENADE, MELEE, SLANK, /RIF, ANDRA & The BACKBONE.

Sementara "Gudang Garam Dome" yang terletak persis di belakang "GG Intermusic Stage" adalah satu-satunya panggung tertutup dan full AC. Posisi "Cutting Edge Stage" juga tak kalah menariknya yang berada di pesisir pantai tepat berhadapan luasnya lautan dengan hembusan semilir angin.

Namun banyaknya panggung bagi kami tidak membuat fokus penonton dan memperjelas konsep hirarki. Sempat kami menyaksikan sebuah ben dalam panggung besar yang hanya ditonton belasan orang. Rasanya itu menyedihkan dan bukan suatu kebanggan meski andil dalam festival rock terbesar ini. Bagaimanapun sebuah ben manggung tentu ingin disimak.

Hal ini terjadi tentu bentroknya jadwal antar ben. Sedangkan tendensi para penonton masih ingin menyaksikan ben-ben yang familiar. Maka, sejatinya identitas ben indie pun masih dalam garis marjinal. Namun ada strategi cerdas (atau culas-red) yang kami perhatikan, yakni setiap dimulai performance di "GG Intermusic Stage", semua panggung lainnya di non-aktifkan sehingga seluruh penonton melebur di satu arena. Itulah mengapa panggung "GG Intermusic Stage" selalu padat penonton.

 

KEAMANAN

Walau musik rock identik dengan musik keras dan penuh distorsi bukan berarti para pelakunya melakukan kekerasan dan tindak kriminal. Selama 3 hari berlalu lalang kami tidak mendapati kerusuhan sedikitpun, meski genre rock sendiri terdiri beberapa kubu. Tentu keamanan adalah elemen terpenting dalam menikmati pertunjukan musik. Tidak sedikit cerita akibat keributan membuat acara berhenti di tengah jalan. Dan siapa pun tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Namun untuk sektor keamanan pada kehilangan barang (seperti kehilangan kendaraan) agak sulit terdeteksi. Selama di TKP tidak terdengar hal tersebut sampai ke kuping kami. Seandainya ada, pasti sudah kami beberkan di sini.

 

Suatu gebrakan terkadang tak semuanya berhasil. Bilapun (tergolong) sukses, apakah konsisten melanjutkannya? Begitupun pertanyaan yang sama dengan nasib JRL, akankah event ini berkelanjutan atau sekali datang dan pergi? Namun berdasarkan parameter pengunjung, dapat dipastikan JRL akan hadir secara periodikal setiap tahunnya seperti proyek event Java Festival lainnya. Kalau sebelumnya festival Java Jazz sudah buat kebangaan promoter, sekarang tambah satu lagi, yaitu Java Rockin'land.

 

Report: Jurnallica | Photo: Jurnallica & IST (atas)