JAVA ROCKIN’LAND 7, 8, 9 Agustus 2009 @ Pantai Karnaval
Ancol, Jakarta - Indonesia
Lautan Manusia di
Festival Rock Terbesar Indonesia
EVENT
"Semoga
Java Rockin'land bisa menjadi Woodstock-nya Indonesia",
begitulah taksiran Peter F. Gontha mengenai festival rock terbesar di
Indonesia yang menjadi proyek event terbarunya. Sebagai promoter
memang tak ada yang salah berharap muluk walau hanya secercah, mengingat juga
belum ada gebrakan acara musik di Indonesia. Namun, bila Woodstock
terlahir membawa tema perdamaian, lantas misi apa yang dibawa dari Java
Rockin'land? Akankah ini sekedar acara musik belaka?
JAVA
FESTIVAL Production yang selama
ini kredibel dengan festival jazz-nya (JAVA JAZZ-red) kini coba
merambah ke genre lain/rock lewat JAVA ROCKIN'LAND (JRL). Konsep
yang dihadirkan pun ngga tanggung-tanggung; 98 ben, 8 panggung, dan 3
hari berturut-turut. Seperti tagline acaranya: "Rock! Like never
before!!!" Hakikinya, apa yang disajikan JRL
memang bukan suatu hal yang baru, bahkan meniru. “Kami hanya meniru apa
yang berhasil dari luar,” aku pak Peter.
Sedikit flashback
tentang histori
panggung musik Indonesia setahun ke belakang, kami teringat
dengan festival JAKARTA ROCK PARADE dengan konsep yang hampir
serupa; 100 ben, 4 panggung, 3 hari acara. Ekspektasinya pun sama, biar ada
Woodstock-nya Indonesia. Sayangnya, festival tersebut anjlok
dari nilai sukses juga esensi, dan tiket tambahan yang menyebalkan. Hal
tersebut yang
membuat beberapa
pihak curiga akan terjadi hal yang sama di JRL nantinya.
Geger
tragedi pemboman yang (kembali) menerpa JW Marriots-Ritz Carlton pada
pertengahan Juli 2009 juga sempat menghawatirkan keberlangsungan JRL. Mengingat
10 ben (dari total 98 ben) adalah ben mancanegara, yaitu:
Mr. Big, SeconDhand Serenade,
Third Eye Blind, Vertical Horizon, Melee, Renaissance Blvd. (Amerika
Serikat), MEW (Denmark), Joujouka
Madskipper (Jepang),
Motherjane (India), dan
Bagga Bownz (Belanda). Perkara travel
warning pun jadi alasan. Untungnya, pengalaman Java Festival dalam 'merayu'
musisi luar berhasil meyakinkan jaminan keamanan di Indonesia sehingga
prosedur acara tetap berjalan sesuai yang dijanjikan.
BAND
Pemilihan titel
"JAVA
ROCKIN’LAND" sempat dikritisi esensinya bila berkaitan dengan muatan
ben-bennya. “Kalau namanya rock, kenapa masih ada genre
ben di luar rock (seperti pop, dsb)?” Gunjingan senada tak sedikit
terdengar. Namun, apakah padanan kata “rock” menjadi sebegitu formal & kakunya?
Lagipula anda tak perlu heran bila mengkomparasi dengan festival Java
lainnya. Seperti contoh; festival Java Jazz yang tidak sepenuhnya berisi
musisi jazz kan?!
Eki Puradirdja
sebagai pengkordinir ben mengakui kehadiran beberapa ben dari lintas
genre lantaran apresiasi terhadap ben-ben lokal yang justru memiliki
banyak prestasi di luar Indonesia. Dan menariknya, pemilihan
ben-ben untuk JRL ini didominasi dari kalangan indie (baca: independen).
Bahkan hanya 20% saja yang datang dari kawasan mainstream. Eki
pun juga mengungkapkan bahwa jantung musik industri berasal dari ben-ben
indie.
Meski
pamflet resmi sempat tercetak, beberapa jadwal ben masih ada yang tentatif
sehubungan wish list yang terus
bertambah - baik ben lokal maupun luar. Namun adapula konfirmasi ben yang
"gamang" alias gagal manggung, seperti: BOYS LIKE GIRLS,
DEFTONES, dll. Sampai akhirnya jadwal fix acara sebagai berikut:
Jumat, 7 Agustus 2009:
VERTICAL HORIZON, MELEE, RENA-ISSANCE BOULEVARD, JOUJOUKA MADSKIPPER,
AGRIKULTURE, ALEXA, ANDRA & The BACKBONE, BAGAIKAN, BUNGA, CANDIL &
FRIENDS, DEAD SQUAD, DENIAL & VOX, DREW, GHAUST, MONKEY TO MILIONAIRE,
KILLING ME INSIDE, KOIL, KRAYOLA, NAIF, NAVICULA, NETRAL, PURGATORY,
SAINT LOCO, SAJAMA CUT, SUICIDAL SINATRA, SERINGAI, SIKSAKUBUR, The
BORSTAL, SKALIE.
Sabtu, 8 Agustus 2008:
MR. BIG, SECONDHAND SERENADE, MOTHERJANE, /RIF, AIRPORT RADIO, ANDA WITH
The JOINT, ARMADA RACUN, GRIBS, BANGKUTAMAN & SOUTHERN BEACH TERROR,
BESIDE, BURGERKILL, CLOVER, RISKY SUMMERBEE & HONEYTHIEF, EFEK RUMAH
KACA, EVERYBODY LOVES IRENE, ENDANG SOEKAMTI, KOMUNAL, KUNCI, MRA BAND (ROXX
& BITE), PAPER GANGSTER, PURE SATURDAY, ROCK N ROLL MAFIA, SILENT
FAREWELL, SHE, SUPERGLAD, The S.I.G.I.T, TIME BOMB BLUES, TRIBUTE TO
IMMORTAL LAGENDS, WHITE SHOES & The COUPLES COMPANY, The ADAMS.
Minggu, 9 Agustus 2009:
MEW,
THIRD EYE BLIND, BAGGA BOWNZ, AMAZING IN BED, CASSANOVA, DVD BOY,
FRIENDS OF MINE, GIGI, HOLY CITY ROLLERS, GOODNIGHT ELECTRIC, INVICTUS,
J-ROCKS, KILLED BY BUTTERFLY, LOCOMOTIF, MIKE'S APARTMENT, NOXA,
OZOMATLI, PEEWEE GASKIN, RESPITO, SLANK, SORE, FALL, SPEEDKILL, The
SABOTAGE, SUPERMAN IS DEAD, The BRANDALS, The FLOWERS, The MONOPHONES,
TIKA & The DISSIDENTS, The UPSTAIRS, ZEKE & The POPO.
PENGUNJUNG
Festival
JRL tidak membatasi umur & kalangan para pengunjung. Artinya, siapa saja
dan darimana saja bisa menyaksikan festival rock (yang kabarnya)
terbesar di Asia Tenggara ini. Sekitar
7000 orang mulai berdatangan di hari pertama JRL. Memang, masih jauh dari
target perharinya yaitu 15.000 orang. Namun, siapa sangka jika hari
kedua JRL pengunjung melonjak drastis hingga 3 kali lipat dari hari
pertama. Menurut sumber desk tiket, hari kedua JRL terkumpul (sekitar) 21.000 tiket/orang.
Itupun belum termasuk hitungan panitia, personil ben, kru, wartawan, tim
keamanan, pedagang, dan yang lainnya.
Pertanyaan pun muncul, kira-kira apa
yang membuat hari ke-2 JRL begitu membludak pengunjung? Ada beberapa indikasi versi
kami yang membuat hari ke-2 JRL menyeruak: Pertama;
headliner di hari tersebut (MR. BIG dan SECONDHAND SERENADE), Kedua;
acara yang didominasi para pelajar momennya sedang liburan, Ketiga: acaranya malam
minggu, Ke-empat; harga tiket cukup terjangkau.
Mengenai hal terakhir,
normal
tiket yang berbandrol Rp 200.000,-
setiap harinya dirasa
cukup fair
sebagai nilai tukar untuk sebuah pertunjukan banyak ben (dari lokal
hingga
internasional). Bahkan pada periode awal presale harga tiket cuma
Rp 75.000,- setiap harinya (belum termasuk pajak). Juga, khusus para pelajar tersedia
harga tersendiri sehingga lebih kompromis dengan kantong.
Bila
berdasarkan polling dari
salah satu majalah musik franchise yang kami amati, lebih
dari 70% penonton JRL ingin menyaksikan MR. BIG. Tingkat kedua oleh MEW
yang mendapat suara 20% dan sisanya untuk para headliner yang lain. Maka, tak
berlebihan bila kami anggap MR. BIG adalah poros pengunjung JRL saat itu.
PANGGUNG
Seorang
panitia memancing pertanyaan pada Jurnallica; "Menurut 'lo, kalo ngga ada
MR. BIG acara tetap rame 'ga?" Untuk hal ini, kami sendiri sulit memastikan
jawaban 'ya' atau 'tidak'. Setidaknya beberapa indikasi di atas sudah cukup
sebagai dalil.
Namun, dengan yakinnya panitia tadi menjawab:
"Acara
tetap rame." Alasannya, karena konsep panggung yang disajikan JRL belum pernah ada
di Indonesia.
Acara
yang digelar di dataran pasir Pantai Karnaval Ancol ini membangun 8 panggung. Masing-masing panggung memiliki sebutannya
dengan segi luas yang berbeda-beda. "GG Intermusic Stage" bisa disebut
sebagai panggung utama, dengan ukuran paling lebar & megah disertai
background layar raksasa. Ben yang menjajaki panggung ini pun khusus para
headliner, seperti: MR. BIG, MEW, VERTICAL HORIZON, THIRD EYE BLIND,
SECONDHAND SERENADE, MELEE, SLANK, /RIF,
ANDRA & The BACKBONE.
Sementara "Gudang Garam Dome" yang terletak persis
di belakang "GG Intermusic Stage" adalah satu-satunya panggung tertutup dan
full AC. Posisi "Cutting Edge Stage" juga tak kalah menariknya
yang berada di pesisir pantai tepat berhadapan luasnya lautan dengan
hembusan semilir angin.
Namun banyaknya panggung bagi kami tidak membuat fokus penonton dan memperjelas konsep hirarki. Sempat
kami menyaksikan sebuah ben dalam panggung besar yang hanya ditonton belasan orang.
Rasanya itu menyedihkan dan bukan suatu kebanggan meski andil dalam
festival rock terbesar ini. Bagaimanapun sebuah ben manggung tentu ingin
disimak.
Hal ini terjadi tentu bentroknya jadwal antar ben. Sedangkan tendensi para penonton masih ingin menyaksikan ben-ben
yang
familiar. Maka, sejatinya identitas ben indie pun masih dalam garis marjinal. Namun ada strategi cerdas
(atau culas-red) yang kami perhatikan, yakni setiap dimulai
performance di "GG
Intermusic Stage", semua panggung lainnya di non-aktifkan
sehingga seluruh penonton melebur di satu arena. Itulah mengapa panggung "GG
Intermusic Stage"
selalu padat penonton.
KEAMANAN
Walau musik rock identik dengan musik keras
dan penuh distorsi bukan berarti para pelakunya melakukan kekerasan dan
tindak kriminal. Selama 3 hari berlalu lalang kami tidak mendapati
kerusuhan sedikitpun, meski genre rock sendiri terdiri beberapa kubu.
Tentu keamanan adalah elemen terpenting dalam menikmati pertunjukan
musik. Tidak sedikit cerita akibat keributan membuat acara
berhenti di tengah jalan. Dan siapa pun tidak menginginkan hal tersebut
terjadi. Namun untuk sektor keamanan pada kehilangan barang (seperti
kehilangan kendaraan) agak sulit terdeteksi. Selama di TKP tidak
terdengar hal tersebut sampai ke kuping kami. Seandainya ada, pasti
sudah kami beberkan di sini.
Suatu gebrakan
terkadang tak semuanya berhasil. Bilapun (tergolong) sukses, apakah
konsisten melanjutkannya? Begitupun pertanyaan yang sama dengan nasib JRL,
akankah event ini berkelanjutan atau sekali datang dan pergi? Namun berdasarkan
parameter pengunjung, dapat
dipastikan JRL akan hadir secara periodikal setiap tahunnya seperti
proyek event Java Festival lainnya. Kalau
sebelumnya festival Java Jazz sudah buat kebangaan promoter, sekarang tambah satu
lagi, yaitu Java
Rockin'land.
Report: Jurnallica | Photo: Jurnallica
& IST (atas)